Ara Milano tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.
Ketika kakaknya menghilang sebelum pernikahan, keluarga Milano tidak memiliki pilihan lain. Demi menjaga perjanjian antara dua keluarga, Ara dipaksa mengenakan gaun pengantin dan menggantikan posisi kakaknya.
Pria yang menunggunya di altar adalah Dante Theo, pewaris keluarga mafia paling berkuasa, yang terkenal dingin, keras, dan tidak mengenal kata kompromi.
Dante tentu tahu wanita yang berdiri di hadapannya bukanlah pengantin yang seharusnya.
Sementara Ara merasa terjerat dalam pernikahan pengganti ini. Bahkan sejak di malam pernikahan, ia berulang kali mencoba kabur. Meskipun pada akhirnya usahanya seperti usaha menjaring angin.
Lama kelamaan keduanya terbiasa dengan kehadiran lainnya. Bagi Dante, gadis itu telah menjadi bagian dari perjanjian yang tidak boleh dilepaskan. Sekalipun harus ia akui, Ara bukan wanita yang mudah dikendalikan. Sayangnya ia juga tidak pernah sanggup kehilangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liza Navy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Jejak Yang Tertinggal
Setiap hari, sejak Ara menghilang, Dante tidak pernah tidur lebih dari dua jam. Selama sebelas hari ini, ruang kerja di lantai paling atas gedung De Theo Group berubah menjadi pusat perburuan. Peta kota digital ter-proyeksi ke dinding. Puluhan lampu pada layar menyala tanpa henti. Bandara. Stasiun. Terminal bus. Pelabuhan. Jalan tol. Hotel. Rumah sakit. Semua telah diperiksa dan semua kemungkinan ditelusuri. Namun, Ara tetap tidak ditemukan.
Dante berdiri di depan layar terbesar dengan wajah yang semakin dingin.
Analis intelijen yang bekerja pada nya berulang kali menelan ludah. Mereka juga sudah mencari ke berbagai hotel dan perlintasan perbatasan, sayang tetap tidak ditemukan jejak Ara. Bahkan mereka telah menyisir ribuan rekaman di dalam kota dan luar kota, tetap hasilnya nihil.
Dante memeras otak. Ia mencoba berpikir seperti Ara berpikir. Ia memejamkan mata. Jika dia adalah Ara, ia akan memilih pergi kemana.
***
Sementara itu, di sebuah rumah tua, Ara sedang menyiram tanaman. Ia bangun jam 8 pagi. Ia menanam beberapa sayur di halaman belakang. Dua hari setelah kedatangan nya ke rumah tua, ia pergi ke pasar untuk membeli beberapa sayur dan telur untuk mengisi kulkas. Ia juga membeli beras. Saat pulang, di gerbang pintu pasar, ia bertemu penjual bibit sayur. Terdorong oleh impulse buying, ia membeli beberapa bibit untuk ditanam di halaman belakang.
Ara tersenyum. Ia samar-samar mendengar suara burung dan desir angin melewati pepohonan tua.
Sudah sebelas hari tanpa Dante. Ini pelarian paling lama dimana ia bisa lolos dari tangan suami mafianya. Ia yakin Dante saat ini mungkin masih mengerahkan timnya untuk mencari istrinya.
Ara menggeliatkan badan sebelum masuk ke dalam rumah. Ia mau membuat omelet telur untuk sarapan. Usai sarapan, ia duduk membaca novel di dekat jendela.
Siangnya ia membersihkan rumah. Ia memasak sup sayur untuk makan siang. Ia mengelap meja dan mencuci piring.
Sore hari ia berolahraga ringan di dalam ruangan. Malamnya ia menonton film detektif. Hari demi hari berlalu, dalam sebelas hari ini, ia mulai terbiasa dengan rutinitas hariannya. Ia sungguh berharap dalam hati, Dante tak akan pernah menemukan dirinya.
Ia menikmati setiap moment yang ia lewati dan mulai percaya Dante mungkin sudah menyerah. Pikiran itu membuatnya tersenyum. "Mungkin kali ini aku benar-benar berhasil lolos dari Dante."
Keesokan paginya, suara motor berhenti di depan pagar. Ara langsung berhenti bergerak. Ia mematikan televisi. Rumah mendadak menjadi sunyi.
Suara mesin motor masih terdengar. Ara berjalan perlahan mendekati jendela. Ia mengintip dari balik tirai. Seorang kurir berdiri di depan gerbang. Jantung Ara sempat berdegup lebih cepat. Kurir itu membawa sebuah kardus kecil.
"Paketan!" seru kurir itu berteriak. Kurir itu menunggu sebentar. Tetapi karena tetap tidak ada respon, kurir itu melempar paketnya ke balik pagar. Ia kemudian menyalakan mesin motornya dan pergi.
Sebelum pergi, kurir itu mengangkat ponsel dan mengambil foto. Sebuah foto yang menangkap gerbang tua, tanaman rambat, dan nomor rumah yang hampir tertutup dedaunan.
Foto itu otomatis tersimpan dalam sistem perusahaan ekspedisi sebagai bukti pengiriman.
Ara menunggu sepuluh menit, baru ia keluar mengambil paketan itu. Ia sudah mengganti SIM cardnya dan menyalakan ponsel. Karenanya ia bisa memesan barang melalui market online. Setidaknya ini sudah hari kedua belas dan ia masih aman dari jangkauan Dante.
***
Tiga hari kemudian, di pusat keamanan De Theo Group, salah seorang analis intelijen masih menatap layar. Ia sudah memeriksa hampir semua data yang bisa ditemukan. Sampai akhirnya ia berhenti.
"Tunggu..." Tangannya bergerak cepat di atas keyboard. Ia membuka daftar transaksi digital yang sebelumnya dianggap tidak berhubungan. Ia sepertinya telah menemukan sesuatu.
Dante yang sedang membaca laporan mengangkat kepala.
"Kami menemukan akun belanja baru."
Dante mendekat.
"Atas nama nyonya?"
"Anonim."
"Lalu kenapa kau mencurigainya?" tanya Dante mengernyit.
Analis itu membuka riwayat transaksi.
"Karena akun ini baru dibuat sehari setelah nyonya menghilang."
Dante memperhatikan layar. Pembelian pertama: air mineral, makanan kering dan lampu. Pembelian kedua: novel dan baju. Pembelian berikutnya: alat-alat kebersihan. Dan terakhir pembelian baru terjadi. Ia membeli novel lagi.
Dante meminta memperjelas novel jenis apa yang dibeli.
"Detektif," jawab analisis intelijen itu lagi. Itu memang genre novel yang disukai oleh Ara--batin Dante.
Dante lalu meminta kepala pelayan di rumah memfotokan beberapa novel nyonya di mansion. Ia kemudian mengirim foto itu ke analisis. Yang mengejutkan novel yang dibeli si anonim adalah kelanjutan serinya. Itu yang membuat mereka makin yakin si anonim adalah Ara.
Dante perlahan menyandarkan tubuhnya ke meja. "Dia tidak pergi dari kota ini. Dia ternyata masih ada di kota ini."
Analis intelijen itu mengangguk.
Dante menatap layar. "Alamatnya?"
"Tidak tercatat sebagai alamat pribadi."
"Temukan!"
"Kami sedang mencoba."
Beberapa detik kemudian, analis itu membuka satu file. Sebuah foto muncul di monitor. Gerbang tua. Rumput liar. Tanaman rambat. Nomor rumah yang hampir tidak terlihat.
Dante membeku. Matanya menyipit. "Perbesar."
Gambar diperbesar. Nomor rumah masih samar. Tetapi bentuk gerbang itu, Dante merasa pernah melihatnya.
"Metadata?"
"Sedang diperiksa."
"GPS?"
"Nonaktif."
Dante mengumpat pelan. "Dia sudah memikirkan semuanya."
Namun analis intelijen itu masih terus memeriksa. "Foto ini diambil oleh kurir."
Dante menoleh. "Cabang pengirimannya?"
Analis intelijen menyebutkan nama cabang ekspedisi.
Dante langsung mengambil jasnya. "Siapkan mobil."
***
Sementara itu, Ara sedang memasak makan malam. Radio kecil menyala di sudut dapur. Ia bahkan sempat bernyanyi mengikuti lagu yang diputar. Wajahnya jauh lebih cerah daripada ketika masih tinggal di mansion Dante. Ia membuka jendela sedikit. Angin sore masuk.
Ara tersenyum. Rumah tua ini bukan sekedar tempat persembunyian. Rumah tua ini sudah menjadi tempat tinggalnya.
Sore itu ia ingin membuat roti lagi. Ia sudah membeli microwave kemarin. Ia sudah membeli tepung, telur dan baking soda. Ia hanya lupa membeli butter dan gula. Karena hari belum terlalu malam, ia mengeluarkan sepeda dan mengayuhnya ke pertokoan yang tak jauh dari rumah.
Ia segera pulang begitu mendapat bahan yang diperlukan. Ia pergi ke dapur dan mulai menguleni adonan untuk membuat roti.
***
Langit sudah hampir sepenuhnya gelap ketika tiga mobil hitam memasuki wilayah foto itu diambil.
Mobil pertama melaju perlahan. Mobil kedua berada beberapa meter di belakang. Sementara mobil ketiga menjaga jarak di belakang mereka.
Di kursi belakang mobil pertama, Dante duduk diam dengan wajah yang sulit dibaca. Lima belas hari pencarian akhirnya membawanya ke tempat ini. Semua berawal dari sebuah foto gerbang tua dan sebuah akun belanja anonim.
Ketiga mobil hitam berhenti di depan kantor cabang ekspedisi.
Dante turun dari mobil. Ia tidak banyak bicara. Ia langsung menemui supervisor.
"Saya ingin menemui kurir yang mengantar paket ini," ujar Dante datar dan berat.
Supervisor menyerahkan data. Ia juga memanggil kurir pengantar paket itu.
Dante meletakkan foto gerbang tua itu di atas meja. Kurir itu mengangkat foto itu.
"Di mana tepatnya?" tanya Dante dingin.
Kurir itu menatap gambar rumah tua itu lagi. Sekarang ia ingat. Ia memang baru mengantar paket kesana tiga hari lalu.
"Saya tidak terlalu hafal alamatnya, tapi saya tahu jalannya." Kurir itu kelihatan gugup.
Dante menatapnya tajam. "Tunjukkan jalannya!" Ia kemudian meminta Luca untuk memberi kurir itu sejumlah uang sebagai upah jalan.
Tak berapa lama, motor kurir sudah melaju di jalanan. Ketiga mobil hitam mengikuti dari belakang dengan jarak cukup jauh.
Dante duduk di kursi belakang mobil pertama. Wajahnya tanpa ekspresi. Namun kedua tangannya mengepal. Lima belas hari mengejar bayangan Ara. Akhirnya ada petunjuk keberadaannya. Jauh di lubuk hatinya, ada suara yang mengatakan Ara ada di tempat ini.
Kurir berbelok ke jalan kecil. Mobil Dante mengikuti. Jalanan semakin sepi. Lampu jalan semakin jarang. Kemudian mereka memasuki kawasan tua.
Dante menatap keluar jendela. "Berapa lama lagi?" Mobil Dante mendekat ke motor kurir itu.
"Sebentar lagi, Pak." Kurir menunjuk ke depan. "Setelah tikungan itu, kita akan sampai," imbuhnya.
Dante menegakkan tubuh. Di ujung jalan tampak pagar tua yang tertutup tanaman liar. Mobil melambat. Motor kurir itu sudah berhenti. Kurir menunjuk sembari berseru, "Itu rumahnya."
Dante tidak langsung menjawab. Matanya terpaku pada bangunan tua di balik pagar. Semua terasa sunyi.
Ia mengangkat pandangan sekali lagi. Di balik pagar besi berkarat berdiri sebuah mansion tua dua lantai. Cat dindingnya mengelupas. Tanaman liar menjalar hingga menutupi sebagian pagar. Beberapa jendela ditutup papan kayu. Rumah itu tampak seperti bangunan yang telah lama ditinggalkan.
"Matikan lampu!!" perintah Dante pada ketiga mobil hitam miliknya.
Ketiga mobil itu pun mematikan lampu. Mobil-mobil itu berhenti beberapa meter dari rumah tua.
Dante membuka pintu mobil. Luca juga turun, ia menemui kurir itu untuk berterimakasih. Ia meminta kurir itu pergi meninggalkan mereka.
Dante melihat sebuah tirai di lantai dua bergerak. Ia melihat siluet bayangan Ara.
Di balik jendela dapur, Ara tiba-tiba berhenti menguleni adonan. Entah kenapa ia meremang. Ia mengintip keluar jendela. Tidak ada apa-apa. Hanya ada halaman gelap, dan rumput liar tinggi.
Ia menghela napas. Ia hendak menutup tirai ketika—samar-samar sepertinya ia melihat sebuah bayangan bergerak di balik pepohonan.
Ara membeku. Matanya membesar. Ia menatap lebih saksama. Tidak ada siapa-siapa. Hanya angin. Ia mengabaikan. Tangannya kembali sibuk melanjutkan membuat adonan roti.
***