Tidak menyangka Aisyah mendapatkan kehidupan yang lebih baik daripada ketika dulu di SMP atau di SD yang tidak diperlakukan baik oleh teman teman barunya itu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ervina Dwiyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19.
Batas Tegas dan Kebaikan yang Tertunda
Sore itu sinar matahari mulai miring menyelinap lewat jendela aula sekolah, menerangi debu-debu halus yang melayang di udara. Ruangan itu kini mulai tertata rapi berkat bantuan Laras yang tak henti bergerak dari satu sudut ke sudut lain. Ia baru saja selesai menyusun deretan bangku penonton, lalu berjalan tergesa mengambil tumpukan naskah yang tergeletak di meja panjang. Keringat halus membasahi pelipisnya, rambutnya sedikit berantakan, namun tak satu pun keluhan keluar dari bibirnya. Ia berusaha sekuat tenaga agar tidak menyia-nyiakan kesempatan yang baru saja didapatnya.
Saat Laras hendak meletakkan naskah di atas meja, tangannya tak sengaja menyenggol gelas berisi air putih yang diletakkan di pinggir meja. Gelas itu miring, airnya tumpah sedikit membasahi ujung lembaran naskah yang paling atas. Laras langsung pucat pasi, tangannya gemetar hebat. Ia segera menyambar tisu di saku seragamnya, lalu berusaha mengelap bagian yang basah dengan gerakan panik.
"Ah sial! Kenapa bisa gini sih!" gerutunya pelan, matanya berkaca-kaca membayangkan kemarahan Rara yang pasti akan datang sebentar lagi.
Belum sempat ia selesai membersihkannya, suara langkah kaki Rara terdengar mendekat. Rara melihat naskah yang basah itu, wajahnya langsung berubah masam. Ia melangkah cepat mendekat, menatap tajam ke arah Laras yang membeku di tempat.
"Lo ini bisa nggak sih hati-hati dikit?!" bentak Rara dengan suara cukup keras. "Baru aja masuk udah bikin rusak barang! Itu naskah penting tau, kalau tulisannya luntur gimana? Lo emang nggak pernah bisa ngerjain sesuatu dengan bener ya? Udah dibilangin pelan-pelan, tetep aja ceroboh!"
Laras menunduk dalam, bahunya terguncang menahan tangis. "Gue... gue nggak sengaja Ra. Tadi tangan gue licin. Gue janji bakal gantiin naskah ini, gue tulis ulang semuanya malam ini sampai bersih kayak semula," jawabnya lirih, suaranya nyaris tak terdengar.
"Tulis ulang? Gampang banget ngomongnya! Waktunya udah mepet begini lo malah bikin masalah baru! Mulai dari tadi kelakuan lo bikin gue nggak nyaman liatnya, sok sibuk tapi hasilnya malah berantakan!" Rara masih melanjutkan omelannya, tangannya menunjuk tajam ke arah meja. "Lo pikir dengan sekadar angkat bangku terus lo udah hebat? Buktinya masih aja nggak becus!"
Suasana di ruangan itu seketika menjadi hening. Aisyah, Arga, dan Bima yang tadinya sibuk di sudut lain kini berhenti bergerak, menatap ke arah mereka berdua dengan canggung. Dimas yang baru saja datang membawa alat tulis dari ruang guru pun ikut berhenti di ambang pintu, melihat kejadian itu dengan wajah serius.
Laras tak berani membela diri lagi. Ia hanya diam membiarkan air matanya jatuh membasahi pipi, tangannya meremas tisu yang sudah basah kuyup. Ia merasa sangat malu dan kecewa pada dirinya sendiri karena memang baru sebentar bergabung sudah menyusahkan orang lain.
Rara hendak menegur lagi, tapi tiba-tiba tangan Dimas menahan bahunya perlahan. Dimas menggeleng pelan, lalu mengajak Rara melangkah menjauh sedikit ke sudut ruangan yang agak sepi.
"Ra, tunggu dulu sebentar," ucap Dimas dengan nada tenang namun tegas. "Kamu kenapa galak banget sama dia? Lihat deh kondisinya, dia udah kelihatan takut setengah mati dan udah berusaha sebaik mungkin lho."
Rara menarik napas kasar, masih terlihat emosi. "Terus gimana lagi Dim? Dia emang dasar ceroboh! Udah banyak salah sama gue, sekarang malah bikin rusak naskah yang udah kita susun capek-capek! Gue nggak mau percuma kasih kesempatan kalau kelakuannya tetep aja begini!"
Dimas menatap mata Rara dalam-dalam, mencoba menyampaikan maksudnya dengan sabar. "Gue ngerti kenapa kamu masih kesal sama dia. Gue juga tau kalau dulu sikap dia ke kamu jahat banget dan nggak adil. Tapi Ra, kita ngasih kesempatan itu kan tujuannya supaya dia bisa berubah, bukan buat kita balas dendam atau nyiksa dia terus kan?"
"Gue nggak nyiksa dia! Gue cuma ngasih tau biar dia nggak sembarangan!" bantah Rara cepat.
"Ngasih tau boleh, tapi nggak perlu sekasar tadi," potong Dimas lembut namun tegas. "Lihatlah usahanya dari tadi. Dia nggak nuntut dihargai, dia nggak manja, dia juga nggak malas. Dia cuma khilaf dikit, bener-bener nggak sengaja. Kalau kita malah marah berlebihan begitu, nanti dia malah takut buat berubah lagi. Bukankah tema pertunjukan kita itu 'Jejak Langkah Belajar Mengerti'? Masa kita sendiri yang nggak bisa mengerti orang lain yang lagi berusaha belajar?"
Kata-kata Dimas seolah menampar kesadaran Rara. Ia terdiam, menatap ke arah Laras yang masih terisak pelan sambil memperbaiki naskah itu. Rasa kesalnya perlahan luntur berganti rasa malu. Ia sadar benar apa yang dikatakan Dimas. Ia terlalu terbawa perasaan masa lalu sehingga lupa melihat usaha nyata yang sedang ditunjukkan Laras hari ini.
"Iya... gue sadar Dim. Gue kebawa emosi aja tadi. Gue takut kecewa lagi," ucap Rara pelan, suaranya melembut.
"Gue ngerti perasaanmu Ra. Wajar kalau kamu belum langsung percaya. Tapi ketegasan nggak harus dibarengi dengan kekasaran ya. Kita berikan dia bimbingan, bukan ancaman. Kalau dia salah, kasih tau baik-baik, beri dia ruang buat memperbaiki kesalahannya. Itu baru namanya memberi kesempatan," nasihat Dimas sambil menepuk bahu Rara pelan.
Rara mengangguk pelan, lalu berjalan mendekati Laras dengan langkah yang jauh lebih tenang. Ia berdiri di samping Laras yang masih menunduk.
"Lar..." panggilnya pelan.
Laras mendongak kaget, matanya sembab menatap Rara dengan takut-takut. "Iya Ra... gue beneran nggak sengaja. Nanti malam gue tulis ulang semuanya, janji gue bawa besok pagi-pagi banget," ucapnya buru-buru.
Rara menggeleng pelan, lalu mengambil tisu lain dan ikut membantu mengelap sisa air di meja. "Udah nggak usah nangis. Gue tadi emang kelewatan kasar, maaf ya. Gue cuma khawatir naskahnya rusak, tapi gue nggak bermaksud ngehina usaha lo dari tadi," ucap Rara tulus. "Bener juga kata Dimas, khilaf dikit nggak apa-apa. Yang penting hati-hati lagi lain kali ya. Naskah ini nggak sampai rusak kok, cuma basah dikit aja nanti kita keringin bareng-bareng."
Laras tertegun tak percaya. Ia mengira akan dimarahi habis-habisan, tapi justru mendengar permintaan maaf dari Rara. Air matanya kembali menetes, tapi kali ini karena rasa haru.
"Makasih ya Ra... makasih banget," ucapnya terisak. "Gue janji bakal lebih hati-hati lagi. Gue nggak bakal ngecewain lo dan yang lain lagi."
"Iya, gue percaya kok lo bisa," jawab Rara sambil tersenyum tipis. "Udah ayo kita rapikan bareng-bareng."
Melihat pemandangan itu, Dimas dan teman-teman lain ikut tersenyum lega. Mereka tahu perubahan besar tidak terjadi dalam satu malam, tapi setidaknya hari ini mereka telah belajar satu hal penting: memberi maaf berarti juga memberi ruang bagi orang lain untuk tumbuh menjadi lebih baik.
Sore itu latihan berjalan jauh lebih tenang dan menyenangkan. Tidak ada lagi ketakutan yang berlebihan, tidak ada lagi prasangka yang menumpuk. Mereka menyadari bahwa pertunjukan ini bukan sekadar tampil di panggung, melainkan tentang bagaimana mereka sendiri menjalani kisah itu di kehidupan nyata setiap harinya.
—-
Mereka pun kembali berkumpul di tengah ruangan setelah semua barang tertata rapi. Dimas membagikan naskah yang sudah dikeringkan, lalu mulai menjelaskan pembagian peran terakhir.
"Karena naskahnya udah lengkap, gue mau kasih peran yang paling pas buat kalian semua," ucap Dimas sambil menatap satu per satu wajah teman-temannya. "Rara jadi tokoh utama yang pendiam dan sering disalahpahami, Aisyah jadi sahabat setia yang selalu menenangkan. Arga sama Bima jadi pengamat yang perlahan mulai mengerti. Dan Lar..."
Dimas berhenti sejenak, menatap Laras yang menahan napas ragu. "Gue kasih lo peran tokoh yang awalnya keras dan penuh prasangka, tapi akhirnya sadar dan berani minta maaf. Ini peran yang paling dekat sama pengalaman lo sebenernya, jadi gue yakin lo bisa mainin ini dengan hati."
Laras terbelalak kaget, tangannya menekan dadanya. "Beneran Dim? Lo percaya gue bisa?"
"Pasti bisa," jawab Dimas mantap. "Cukup keluarkan apa yang lo rasain aja, nggak perlu dibuat-buat."
Latihan pun dimulai. Awalnya Laras masih kaku, suaranya kecil dan matanya sering menunduk tak berani menatap lawan bicara. Saat adegan di mana tokohnya harus menuduh salah paham, Laras malah berhenti di tengah kalimat.
"Gue... gue nggak enak ngomong kasar gitu ke lo Ra," akunya pelan. "Rasanya kayak ngulang lagi kesalahan gue yang dulu."
Rara tersenyum tipis, lalu mengangguk meyakinkan. "Gapapa Lar. Ini cuma cerita, tapi ini juga cara lo ngeluarin apa yang dulu pernah lo rasain. Anggap aja ini kayak minta maaf buat diri lo sendiri. Lakuin aja sepenuh hati."
Mendengar itu, Laras menarik napas panjang. Ia memejamkan mata sejenak, membayangkan perasaannya beberapa minggu lalu: cemburu, takut, dan selalu menutup diri. Saat matanya terbuka kembali, tatapannya berubah tegas namun menyimpan kesedihan yang dalam.
"Kenapa lo selalu ada di mana-mana sih?!" ucap Laras dengan suara yang bergetar namun lantang, matanya menatap lurus ke mata Rara. "Lo pikir lo paling baik? Lo pikir semua orang salah dan cuma lo yang bener? Gue benci kalau harus selalu merasa kalah sama lo!"
Suaranya terdengar begitu nyata, penuh emosi yang selama ini dipendam. Rara yang menjawab balik pun ikut terbawa suasana.
"Gue nggak pernah mau bersaing sama lo! Gue cuma mau damai, mau berteman kayak orang lain. Tapi kenapa lo selalu menutup telinga dan hati lo?" balas Rara dengan nada yang menyayat hati.
Saat adegan berlanjut ke bagian permintaan maaf, air mata Laras tumpah begitu saja. Ia berlutut pelan, suaranya pecah namun jelas terdengar.
"Gue sadar gue salah... gue terlalu takut kehilangan sampai malah kehilangan kesempatan buat jadi teman yang baik. Maafin gue ya... gue mau belajar ngerti, sama kayak tema kita: Jejak Langkah Belajar Mengerti."
Suasana ruangan seketika hening. Tak ada yang bertepuk tangan dulu, karena semua masih terhanyut dalam perasaan yang baru saja tercurah. Dimas tersenyum bangga, Aisyah menyeka sudut matanya, sementara Rara perlahan mendekat dan mengulurkan tangan membantu Laras berdiri.
"Itu luar biasa Lar," puji Rara tulus. "Lo nggak cuma mainin tokoh itu, tapi lo beneran hidup di dalamnya. Gue bisa ngerasain ketulusan lo."
Laras tersenyum di antara isaknya, menyeka air matanya dengan punggung tangan. "Makasih ya Ra, makasih semuanya. Rasanya lega banget kayak beban di dada gue udah hilang."
Sore itu latihan berjalan begitu lancar. Tidak ada lagi rasa canggung, tidak ada jarak di antara mereka. Mereka menyadari bahwa pertunjukan ini bukan sekadar tugas sekolah, melainkan perjalanan hati yang menyatukan mereka sebagai satu keluarga besar.