NovelToon NovelToon
Musuh Disekolah, Pasutri Dirumah

Musuh Disekolah, Pasutri Dirumah

Status: tamat
Genre:Ketos / Romantis / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Di luar pagar sekolah, Affan dan Monisha adalah sepasang suami istri karena perjodohan wasiat keluarga.

Di dalam kelas, mereka adalah dua kutub yang berpura-pura tidak kenal. Affan si ketua OSIS yang harus menjaga reputasinya, sementara Mona hanya ingin lulus dengan tenang.

Mereka sepakat merahasiakan pernikahan ini rapat-rapat. Namun, menyembunyikan status pernikahan di lingkungan SMA tidaklah mudah. Hanya dalam waktu satu minggu, kecemburuan merusak segalanya. Kecurigaan teman-teman, teror dari siswa yang menyukai Mona, hingga kecerobohan mereka sendiri meledakkan rahasia besar tersebut ke seluruh sekolah.

Kini, mereka harus menghadapi konsekuensi sosial, aturan ketat sekolah, di atas perasaan sayang yang sudah tumbuh di antara mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Protektif 23.

Suasana kantin SMA Pancasila yang biasanya bising oleh dentingan sendok dan tawa riuh, mendadak senyap. Atmosfer berganti mencekam saat langkah kaki Mona terhenti di depan meja nomor empat. Meja kekuasaan milik geng kecil yang dipimpin oleh Selly.

Sementara itu dipojokan meja lain terlihat ada dua sahabat nya Mona sedang memantau situasi, tapi untuk sekarang mereka belum berani dekat dengan Mona. Takut terseret masalah. Tapi mereka peduli.

"Oh, lihat siapa yang datang. Pengantin baru kita," sindir Selly, dengan suara sengaja dikeraskan. Ia melipat tangan di dada, menatap Mona dari atas ke bawah dengan pandangan menghina.

Mona meremas ujung seragamnya erat-erat. Jantungnya bertalu hebat. Ia berniat hanya membeli sebotol air mineral, namun kini ia terperangkap di tengah lingkaran setan.

"Saya masih nggak habis pikir ya," lanjut Selly, bangkit berdiri hingga kursi besi di belakangnya berdecit keras. Seluruh mata di kantin kini tertuju pada mereka. "Cowok sekelas Affan, yang jangankan disentuh, bisa-bisanya terikat sama cewek suka terlambat kayak kamu. Kamu tuh pakai pelet apa, Mon? Atau... emang benar kamu sengaja jebak dia malam itu biar bisa hidup enak?"

"Kalau gak tau faktanya gausah bacot Sel," Kata Mona.

"Halah, nggak usah belagu polos!" bentak Hanna menimpal, salah satu kaki tangan Selly, sambil menyenggol bahu Mona kasar hingga botol air mineral di tangan gadis itu terjatuh dan menggelinding. "Semua orang juga tahu, kamu tuh cuma parasit. Nggak tahu diri! Affan itu masa depannya cerah, dan kamu cuma sampah yang merusak karier dia!"

Bisik-bisik mulai menjalar ke seisi kantin. Beberapa siswi yang memuja Affan ikut melayangkan tatapan sinis.

Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Mona. Ia sedang sendirian. Affan lagi foto copy tugas kelas di ruang koperasi.

"Kenapa diam? Malu karena kedok binal kamu ketahuan?" Selly tersenyum iblis, melangkah maju dan mengangkat dagu Mona dengan ujung jarinya. "Dengar ya, Mona. Kamu nggak pantas buat Affan. Di sekolah ini, kamu tetap bukan siapa-siapa. Dan status murah kamu itu nggak akan bertahan lam—"

BRAK!

Suara hantaman keras pada meja di dekat pintu masuk kantin membuat ucapan Selly terputus. Keheningan yang lebih mencekam langsung menyelimuti ruangan.

Sesosok cowok tampan dengan seragam yang sengaja tidak dikancingkan rapi melangkah masuk. Affan. Wajahnya yang biasanya datar tanpa ekspresi, kini mengeras dengan rahang yang mengatup rapat. Matanya yang tajam bak elang menghunus langsung ke arah Selly.

Semua orang menahan napas. Mereka mengira Affan akan ikut memaki Mona karena telah menjebaknya ke dalam pernikahan ini. Sellly bahkan langsung mengubah ekspresinya menjadi manis, bersiap menyambut mantan ketos itu.

"Affan... tolong kamu sadar, Mona cewek—"

Ucapan Selly terhenti total saat Affan berjalan melewati dirinya begitu saja, seolah gadis itu hanyalah udara kosong.

Affan berhenti tepat di depan Mona. Tanpa berkata apa-apa, cowok itu membungkuk, memungut botol air mineral Mona yang menggelinding di lantai, lalu menegakkan tubuhnya kembali.

Secara tak terduga, Affan meraih tangan kanan Mona yang gemetar. Ia menyatukan jari-jemari mereka, menggenggamnya dengan sangat erat di depan ratusan pasang mata yang menyaksikan.

Affan memutar tubuhnya, menghadap Selly dan seluruh isi kantin dengan tatapan yang sanggup membekukan darah siapa pun yang melihatnya.

"Siapa yang tadi sebut istri saya sampah?" tanya Affan. Suaranya rendah, berat, dan sarat akan ancaman.

Satu kantin senyap. Tidak ada yang berani bernapas keras. Affan yang dingin dan tidak pernah peduli pada sekitar, kini menyebut Mona dengan sebutan 'istri saya' dengan begitu tegas.

Selly mendadak gagap. "A-Afan, tapi dia udah jebak kamu! pasti kamu terpaksa kan, iya—"

"Saya nggak pernah terpaksa," potong Affan cepat, suaranya menggema di langit-langit kantin.

Genggaman tangannya pada Mona justru semakin mengerat, menyalurkan kehangatan dan rasa aman yang belum pernah Mona rasakan sebelumnya. "Saya nikah sama Mona karena saya yang mau. Dan mulai hari ini, siapa pun yang berani menyentuh, menyindir, atau bikin istri saya nangis..."

Affan menggantung kalimatnya, menatap Selly dan antek-anteknya satu per satu dengan kilat kemarahan yang nyata. "...artinya urusan sama saya. Dan kamu tahu apa yang bisa saya lakuin, Selly."

"..."

"Papah saya punya pengacara terbaik, saya akan bawa kamu ke meja pengadilan, tak hanya kamu, tapi untuk kalian semua yang ada disini kalau berani hina istri saya secara terang-terangan!" Amuk Affan tak terbendung. "Selain Rendy, orang gak waras di sekolah ini nambah satu"

Wajah Selly mendadak pias, kehilangan seluruh raut amarahnya. Ancaman Affan bukan main-main. Keluarga Pradipta emang bukan sembarangan, selain penyumbang dana terbesar di yayasan sekolah ini, mereka juga punya pengacara hebat.

Tanpa menunggu balasan lagi, Affan menarik lembut tangan Mona, menuntun gadis itu keluar dari kantin yang masih membeku.

Sepanjang koridor sekolah, Affan tidak melepaskan genggamannya sama sekali. Ia berjalan tegap, memblokir setiap tatapan penasaran dari siswa-siswi yang berpapasan dengan mereka.

Hingga Mona benar-bener di tempel oleh Affan satu hari ini disekolah, sesuai perkataan tadi malam. Affan melindungi istrinya, apapun yang terjadi ia akan bersamanya. Hingga saat mereka pulang sekolah pun bersama.

Terang-terangan naik motor berboncengan keluar gerbang, sebagian murid masih sindir-sindir dan menjelekan. Ada sebagian yang sudah memilih tidak mau ikut campur, karena takut sama kuasa hukum milik papanya Affan.

......................

...****************...

To be continue,

1
Shabrina Darsih
keahuan juga sm sahabat mona
jujur aja mona sm sahabatnya
klo sudah menikah sm afan
Shabrina Darsih
mona. mennding jujir aja sm sahabat nya andini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!