Selama lima tahun, Vincent Huang tidak pernah berhenti mengejar Stella Mo.
Namun, Stella selalu menolaknya dan memilih menjaga jarak tanpa pernah menjelaskan alasannya.
Ketika rahasia masa lalu Stella akhirnya terungkap, Vincent harus menghadapi pilihan sulit. Tetap menggenggam tangan wanita yang dicintainya, atau menjauh setelah mengetahui luka yang selama ini Stella sembunyikan.
Apakah cinta Vincent cukup kuat untuk menerima seluruh masa lalu Stella?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Club malam.
Vincent sedang meneguk minumannya ditemani asistennya, Willy. Beberapa gelas sudah kosong di atas meja, tetapi Vincent masih terus menuangkan minuman ke dalam gelasnya.
"Tuan, apa yang sedang Anda pikirkan? Sejak tadi Anda sudah minum beberapa gelas," tanya Willy dengan khawatir.
Vincent terdiam sejenak sebelum meneguk minumannya.
"Setiap kali aku memikirkan apa yang dialami Stella, hatiku terasa sangat sakit. Aku mencintainya, tetapi aku tidak pernah benar-benar mencari tahu tentang masa lalunya. Aku selalu mengira dia masih mencintai Steve."
Vincent mengepalkan tangannya.
"Ternyata Steve juga telah menyakitinya. Di saat dia sedang terpuruk, dia harus menghadapi semuanya seorang diri. Saat itu usianya baru tujuh belas tahun."
Tatapan Vincent dipenuhi kesedihan.
"Kalau aku berada di posisinya, mungkin aku tidak akan sanggup bertahan hidup. Sepuluh tahun... dia harus membawa mimpi buruk itu selama sepuluh tahun."
"Tuan, Anda sudah membalas dendam kepada orang-orang yang menyakitinya. Kenapa tidak memberitahukan semuanya kepada Nona Mo?" tanya Willy.
Vincent tersenyum tipis, tetapi senyum itu tidak mengandung kebahagiaan.
"Aku tidak ingin kehadiranku justru membuatnya semakin tertekan. Yang bisa kulakukan sekarang hanyalah bersabar dan membuatnya menerimaku dengan hati yang tulus."
Ia menghabiskan minumannya dalam sekali teguk.
"Aku juga tidak ingin dia merasa berutang budi kepadaku."
Apartemen Stella.
Stella sedang duduk di depan meja besar. Selembar kertas putih berukuran besar terbentang di hadapannya.
Tangannya terus bergerak menggambar dengan penuh konsentrasi.
Di atas kertas itu mulai terlihat rancangan sebuah gedung besar dengan bentuk yang elegan dan modern. Beberapa garis detail bahkan sudah memenuhi bagian halaman.
Stella mengamati hasil gambarnya dengan serius.
Gedung itu terlihat seperti sebuah proyek besar yang sedang ia rancang.
Di saat tangannya sedang sibuk menggambar, mata Stella tanpa sengaja tertuju pada tujuh vas bunga pemberian Vincent.
Ketujuh vas itu masih tertata rapi di tempatnya.
Tanpa disadari, sudut bibir Stella terangkat membentuk senyuman kecil.
Ting tong...
Bunyi bel terdengar dari luar.
Stella menghentikan aktivitasnya, kemudian bangkit dan melangkah menuju pintu.
Saat pintu dibuka, Stella langsung terkejut melihat siapa yang berdiri di hadapannya.
Vincent.
Pria itu berdiri dengan tubuh sedikit sempoyongan. Wajahnya memerah dan aroma alkohol begitu jelas tercium dari tubuhnya.
"Stella..." panggil Vincent dengan suara berat.
"Vincent?"
Tanpa mengatakan apa pun lagi, Vincent melangkah maju dan langsung memeluk Stella.
"Vincent, apakah kau mabuk?" tanya Stella sambil menahan tubuh pria itu agar tidak terjatuh.
Melihat Vincent hampir kehilangan keseimbangan, Stella akhirnya menyerah dan membiarkannya masuk. Ia menutup pintu, kemudian memapah Vincent menuju sofa.
Setelah duduk, Vincent menyandarkan tubuhnya ke sofa dan memejamkan mata.
Stella berdiri di hadapannya dengan ekspresi bingung.
"Kenapa kau minum sampai mabuk seperti ini? Seharusnya kau pulang ke rumahmu. Jangan-jangan kau salah masuk ke apartemen?"
Stella menggelengkan kepalanya.
Melihat Vincent sama sekali tidak menjawab, Stella mengambil ponselnya lalu menelepon nomor asistennya.
Tak lama kemudian, panggilan tersambung.
"Halo, Nona Mo," sahut Willy dari seberang.
"Willy, Vincent sudah mabuk. Dia ada di rumahku. Tolong datang dan jemput dia."
"Nona Mo, maaf. Aku sedang berada di luar kota. Bagaimana kalau malam ini Anda tolong menjaga Tuan Huang terlebih dahulu? Besok, kalau aku sempat, aku akan datang menjemputnya."
Stella terdiam sejenak.
"Baiklah."
Ia kemudian mengakhiri panggilan.
Di luar gedung apartemen, Willy yang berada di dalam mobil menghela napas lega.
"Maaf, Nona Mo. Aku terpaksa berbohong."
Willy melirik ke arah gedung apartemen tempat Vincent berada.
"Tuan, semuanya sekarang tergantung padamu."
Di dalam apartemen, Stella sama sekali tidak mengetahui bahwa alasan Willy berada di luar kota hanyalah sebuah kebohongan.
Sementara itu, Vincent masih memejamkan mata di sofa.
Namun, sudut bibirnya perlahan terangkat.
Dia tahu rencananya berhasil.
Malam ini, untuk pertama kalinya, dia memiliki alasan untuk tetap berada di sisi Stella.
Beberapa saat kemudian.
Stella membantu Vincent berbaring di sofa, kemudian menutupi tubuh pria itu dengan selimut. Ia juga mengambil handuk kecil yang sudah dibasahi air dan meletakkannya di dahi Vincent untuk membantu meredakan rasa tidak nyaman akibat mabuk.
Stella menatap wajah Vincent dalam diam.
"Vincent, bukan berarti aku tidak memiliki perasaan terhadapmu. Hanya saja, aku tidak bisa mencintaimu. Aku sudah berusaha mendorongmu jauh-jauh dariku. Tapi kenapa kau harus kembali lagi?" batin Stella.
Tatapan Stella dipenuhi keraguan.
Tiba-tiba, kedua tangan Vincent bergerak dan menarik tubuh Stella ke dalam pelukannya.
"Vincent!"
Stella terkejut dan berusaha melepaskan diri, tetapi pelukan Vincent begitu erat.
"Jangan pergi, Stella..." gumam Vincent dengan suara berat.
Tangannya menahan bagian belakang kepala Stella. Dalam keadaan setengah sadar, Vincent mengecup bibir wanita itu.
Stella membeku.
Beberapa detik kemudian, ia segera menjauhkan wajahnya dari Vincent.
"Vincent, kau sedang mabuk."
Stella menatap pria itu dengan perasaan campur aduk. Ia tidak tahu apakah Vincent akan mengingat apa yang terjadi malam ini ketika dirinya sudah sadar nanti.
"Temani aku..." kata Vincent pelan sambil memeluk erat tubuh Stella.
Stella yang awalnya masih berusaha melepaskan diri akhirnya berhenti meronta. Ia hanya bisa menghela napas panjang dan membiarkan Vincent memeluknya.
"Apa kau sadar dengan apa yang kau lakukan? Kau seharusnya tidak datang ke sini dalam keadaan seperti ini," ucap Stella dengan nada kesal.
Vincent tidak menjawab. Ia hanya semakin mengeratkan pelukannya, seolah takut Stella akan pergi begitu saja.
Stella menatap wajah pria itu yang kini tampak tenang.
"Pria ini kenapa sulit sekali dijauhi?" gumam Stella dalam hati.