Huo Li hidup sebagai murid pelayan kasta terendah di Sekte Pedang Mendalam. Diperlakukan bak sampah, dan hampir mati, ia kehilangan seluruh harapan hingga diselamatkan oleh seorang pria misterius.
Pria itu memberinya sebuah teknik kultivasi terlarang dan sebuah artefak yang mampu mengubah seluruh harta dunia menjadi sumber kekuatan. Sebagai gantinya, Huo Li menerima satu syarat yang mustahil: meruntuhkan langit.
Dengan dendam yang membara namun hati yang tetap terkendali, ia bersumpah akan bangkit dari dasar dunia kultivasi, membalaskan dendamnya dan meruntuhkan langit.
Bagaimanakah kisah Huo Li? Saksikan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 24 — Parasit
"Kau menebaknya dengan baik, Senior Yun," balas Huo Li tenang, sama sekali tidak merasa terancam rahasiaya terbongkar. Ia mengambil satu langkah maju. "Jadi... apakah kau akan memberitahukannya kepada Aula Penegak Hukum?"
Nada bicara Huo Li terdengar ringan, namun ada aura ancaman tak kasat mata yang sengaja ia lepaskan. Itu hanya sebuah candaan gelap untuk menguji mental kakak seperguruannya.
Yun Bing terdiam menatap mata gelap pemuda itu. Ia kemudian menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya pelan, seolah tak habis pikir.
"Junior... kau ternyata berani juga!" desis Yun Bing.
Membunuh murid dalam dari keluarga Zhao dan memalsukan tempat kejadian perkara. Jika ketahuan, bukan hanya Gubang yang akan turun tangan, tapi seluruh klan Zhao akan memburunya. Namun, melihat wajah tenang Huo Li, Yun Bing tahu pemuda ini sudah memikirkan semuanya matang-matang.
"Lupakan saja," lanjut Yun Bing, kembali mengangkat pedangnya. "Apa yang terjadi di hutan, biarlah tertinggal di hutan. Zhao Feng juga bukan orang suci. Sekarang, kembali fokus! Serang sisi kiriku!"
Huo Li tersenyum lebar. "Sesuai keinginanmu, Senior!"
Trang!
Srash!
Trang!
Latih tanding itu berlanjut selama beberapa saat. Kali ini, Yun Bing dengan cepat menyadari kesalahannya setiap kali Huo Li mematahkan serangannya. Ia mengoreksi aliran energi spiritualnya secara tepat waktu.
Beberapa saat kemudian, matahari mulai tergelincir turun. Keduanya menghentikan pertarungan dengan peluh membasahi dahi.
"Terima kasih, Junior," ucap Yun Bing, menyarungkan pedangnya dengan napas sedikit tersengal namun wajahnya memancarkan kepuasan. "Berkatmu, kelemahan pada Seni Pedang 24 Aliran Badai Angin milikku berhasil kuperbaiki hanya dalam waktu sesingkat ini. Kau benar-benar jenius dalam memahami teknik bertarung yang bahkan tidak kau latih sendiri."
Huo Li hanya mengangguk sopan menerima pujian itu.
'Jenius?' gumamnya dalam hati. 'Itu malah lebih tepat dikatakan kalau aku dibantu oleh Lempengan Dewa Surgawi yang telah menyatu dengan jiwaku. Pemahamanku melampaui batasan karena fondasi tubuhku bukan lagi manusia biasa.'
Setelah saling bertukar salam pamit, keduanya kembali ke tempat masing-masing untuk beristirahat.
.....
Malam harinya, kegelapan kembali menyelimuti Puncak Pedang Kedua.
Di dalam guanya yang dingin, Huo Li duduk bersila di atas ranjang batu giok. Matanya terpejam erat, kesadarannya tenggelam sepenuhnya ke dalam tubuhnya.
Di pusat dantiannya, lautan kabut emas Energi Surgawi berputar dengan anggun dan agung. Namun, di salah satu sudut lautan emas itu, sebuah kepompong energi tampak bergetar pelan.
Di dalamnya, Benih Parasit milik Tetua Gubang mulai bergeliat aktif. Benih gelap itu seolah kelaparan, mencoba meronta mencari nutrisi dari energi di sekitarnya.
"Menjijikkan," desis Huo Li di alam bawah sadarnya.
Huo Li sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghancurkannya sekarang, karena jika benih itu lenyap, Gubang akan langsung menyadarinya dan datang mencabut nyawanya malam ini juga.
Untung saja, Dantian Emasnya memiliki otoritas mutlak yang dengan mudah dapat mengurung benih parasit tersebut, mencegahnya memakan akar potensi kultivasinya yang sesungguhnya.
"Monster Tua itu menungguku untuk memberinya makan agar parasit ini tumbuh," gumam Huo Li, senyum sinis perlahan mekar di bibirnya. "Baiklah, jika dia ingin makan, aku akan memberinya makan."
Huo Li tidak mengalirkan kemurnian inti Energi Surgawinya. Sebaliknya, ia memutar sirkulasi energinya untuk mengumpulkan sisa-sisa kotoran, kerak kultivasi, dan ampas energi yang tercipta saat ia bernapas atau menyerap kristal surgawi.
Bagi Huo Li, itu adalah 'sampah' dari tubuhnya. Namun, karena itu berasal dari Energi Surgawi, kerak sisa tersebut jika dilepaskan ke dunia luar masih jauh lebih murni dan padat daripada energi spiritual kualitas terbaik dengan ranah yang sama dengan tingkatan kultivasi umumnya saat ini.
Huo Li dengan sengaja membuka sedikit celah pada kepompong emas itu, membiarkan kerak energi sisa itu menetes masuk dan diserap oleh lintah gelap tersebut.
Benih Parasit itu langsung menyerapnya dengan rakus, bergetar kegirangan seolah baru saja disuguhi nektar keabadian. Di paviliun utama, Gubang yang sedang bermeditasi pasti sedang tersenyum lebar merasakan kualitas energi yang diserap benihnya.
Melihat parasit itu mengonsumsi sampah tubuhnya dengan rakus, Huo Li hanya mencibir dingin.
"Makanlah sepuasmu."