Kaelen—seorang pendekar dengan pedang besi berkarat yang menyimpan misteri dimensi lain—bersama Lyra, seorang alkemis cerdas berdarah dingin, nekat menerobos reruntuhan kuil kuno peninggalan Mazhab Pedang Purba.
Diintai oleh bayangan mematikan dari Faksi Tengkorak Darah dan desakan ancaman dari pengkhianat faksi lokal bernama Vance, perjalanan mereka bukan sekadar pelarian, melainkan perburuan berbahaya demi menemukan Jiwa Artefak Reruntuhan Langit. Menghadapi entitas Qi gelap, formasi penjara kuno, dan bisikan purba yang menguji jiwa, Kaelen dan Lyra harus mempertaruhkan nyawa untuk mengungkap kebenaran di balik masa lalu yang terkubur, sebelum perangkap pengkhianatan merenggut nyawa mereka di ujung lorong yang sunyi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liam Harrison, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Arus Bawah Tanah dan Janji yang Terikat
Gelap yang pekat menyambut Kaelen begitu ia mendarat di dasar lubang rahasia. Udara di bawah sana terasa lembap, padat, dan dipenuhi aroma khas air bawah tanah yang bercampur dengan bau besi purba. Di hadapannya, suara aliran air yang deras menggempa di dalam dinding batu yang sempit, menciptakan gema berulang-ulang yang memekakkan telinga. Kakek Mo sudah berdiri di sana, memegang sebuah batu pendar yang memancarkan cahaya biru redup untuk menerangi jalan setapak berbatu yang licin di tepi saluran air.
"Kemarilah, lewat sini. Jangan terlalu banyak bersuara, karena gema di dalam gorong-gorong ini bisa merambat sampai ke permukaan kota," bisik Kakek Mo dengan nada serak, memberi isyarat agar Kaelen dan Lyra mengikutinya menyusuri jalan setapak kecil yang membentang di sisi kiri aliran air.
Lyra merapikan jubahnya yang basah oleh keringat dan cipratan air. Bahu kanannya, yang sempat terluka akibat sabetan bayangan beberapa waktu lalu, masih terasa berdenyut ngilu, namun ramuan penawar racun yang ia minum sebelum melompat tadi berhasil meredam rasa sakitnya secara signifikan. Gadis itu menatap sekeliling dengan mata safirnya yang tajam, memperhatikan struktur dinding terowongan yang dibangun dari blok-blok batu hitam raksasa tanpa menggunakan semen perekat—sebuah ciri khas arsitektur peradaban kuno yang mustahil dikerjakan oleh manusia di era modern saat ini.
"Tempat ini benar-benar peninggalan era Sekte Langit," gumam Lyra pelan, menjaga agar suaranya tidak memantul terlalu keras di lorong sempit itu. "Lihat ukiran di dinding itu, Kaelen. Polanya sama persis dengan yang ada di lembaran kulit kuno yang kita temukan di reruntuhan kuil sebelumnya."
Kaelen melirik sekilas ke arah dinding batu yang ditunjuk Lyra. Ukiran relief bergambar rasi bintang dan aliran energi spiritual terpatri rapi di sana, seolah menjadi saksi bisu dari sejarah panjang yang terkubur di bawah tanah. Tangan kanannya tetap siaga di atas gagang pedang baja gelap, bersiap menghadapi segala kemungkinan buruk, termasuk kemungkinan bahwa Kakek Mo memiliki niat tersembunyi di balik bantuannya. Orang tua misterius itu muncul terlalu kebetulan di saat mereka terdesak, dan di dunia kultivasi yang penuh pengkhianatan, kewaspadaan adalah harga mati untuk bertahan hidup.
"Kakek Mo," panggil Kaelen dengan nada datar namun penuh tekanan. "Sebelum kita berjalan lebih jauh ke dalam labirin ini, ada beberapa hal yang harus kau jelaskan secara jujur. Siapa sebenarnya dirimu? Dan mengapa kau begitu membenci Faksi Sekte Kuno sampai-sampai bersedia mempertaruhkan nyawamu untuk membantu kami?"
Kakek Mo berhenti melangkah. Ia memutar tubuhnya perlahan menghadap Kaelen dan Lyra. Cahaya biru dari batu pendar di tangannya menyoroti wajah tua yang dipenuhi keriput dan guratan luka bakar di sisi lehernya—luka yang tampak seperti bekas sambaran api spiritual tingkat tinggi. Pria tua itu tersenyum pahit, sebuah senyuman yang menyiratkan kepedihan bertahun-tahun yang dipendam rapat di dalam hatinya.
"Pertanyaan yang bagus, pendekar muda," ujar Kakek Mo pelan. Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan ceritanya. "Kalian mengira aku hanya sekadar penduduk kota kumuh yang mencari perlindungan? Puluhan tahun lalu, sebelum faksi-faksi besar menghancurkan keseimbangan dunia barat, aku adalah kepala penjaga perpustakaan agung di Sekte Langit. Namaku yang sebenarnya adalah Mo Xingchen."
Mendengar nama tersebut, Lyra sedikit terperanjat. Matanya melebar tak percaya. "Mo Xingchen? Bukankah kau dilaporkan tewas dalam tragedi pembantaian malam berdarah ketika Sekte Langit runtuh dari dalam?"
"Aku memang seharusnya mati malam itu," jawab Mo Xingchen dengan suara gemetar, matanya menerawang jauh ke dalam kegelapan terowongan. "Para pengkhianat dari dalam sekte—yang kini mendirikan Faksi Sekte Kuno—membakar seluruh gedung arsip dan membunuh siapa saja yang mencoba menyelamatkan pusaka leluhur. Aku berhasil selamat karena terjebak di ruang bawah tanah rahasia ini saat sedang merawat naskah-naskah kuno. Selama puluhan tahun, aku hidup di dalam kegelapan, merencanakan pembalasan, menyaksikan bagaimana anak cucu dari para pengkhianat itu menguasai tanah leluhur kami dan menindas orang-orang tak berdosa."
Mo Xingchen menatap tajam ke arah Kaelen. "Ketika aku mendengar bahwa ada seorang pemuda yang berhasil membangkitkan Jiwa Artefak Reruntuhan Langit dan menghabisi Liliyana, aku tahu bahwa ramalan para leluhur tentang kebangkitan kembali keadilan akhirnya menemukan jalannya. Aku tidak punya kekuatan besar lagi untuk melawan mereka secara langsung, tubuhku sudah renta dan meridianku hancur akibat racun spiritual di masa lalu. Tapi aku tahu setiap inci jalur bawah tanah ini, setiap jebakan yang dipasang leluhur kami untuk melindungi inti bumi. Itulah sebabnya aku membantumu."
Kaelen merespons penjelasan itu dengan keheningan sesaat. Ia mengamati mata sebelah Kakek Mo yang tertutup katarak, membaca ketulusan dan kepedihan yang terpancar nyata tanpa ada kepalsuan. Kaelen tahu, seseorang yang menderita luka spiritual separah itu tidak mungkin berbohong tentang masa lalunya. Rasa curiga di dalam hatinya perlahan-lahan mencair, digantikan oleh rasa hormat yang mendalam kepada pria tua yang telah mendedikasikan seluruh sisa hidupnya untuk sebuah sumpah yang belum tertunai.
"Baiklah, Mo Xingchen," ucap Kaelen dengan suara yang lebih lembut namun tetap berwibawa. "Kami menerima bantuanmu. Mari kita selesaikan apa yang telah mereka mulai, dan hancurkan altar kekejaman itu sampai ke akar-akarnya."
Mo Xingchen mengangguk puas, rasa terima kasih tampak jelas di wajahnya yang keriput. "Kalau begitu, kita harus bergerak cepat. Lorong ini terbagi menjadi tiga cabang di depan. Jika kita salah memilih jalur, kita akan terjebak di dalam zona tekanan gravitasi konstan yang bisa meremukkan tulang manusia dalam hitungan detik. Ikuti langkahku dengan tepat. Jangan menginjak ubin batu yang berwarna sedikit lebih gelap di lantai."
Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Suasana di dalam Gorong-Gorong Air Mata Naga terasa semakin dingin seiring dengan semakin dalamnya mereka menyusup ke dalam perut bumi. Air di saluran samping mengalir semakin deras, mengeluarkan suara gemuruh yang kian memekakkan telinga. Bau belerang mulai tercium lebih pekat, menandakan bahwa mereka sedang mendekati kawasan vulkanik aktif tempat Pusaran Kabut Abadi berada.
Setelah berjalan hampir dua jam lamanya menyusuri labirin bawah tanah yang rumit, Mo Xingchen akhirnya menghentikan langkahnya di depan sebuah pintu perunggu besar yang tertutup rapat. Pintu itu dipenuhi oleh karat hijau kebiruan dan dihiasi oleh ukiran gambar ular melingkar yang menelan ekornya sendiri—simbol kuno dari kutukan abadi.
"Kita sudah sampai di batas wilayah terlarang," kata Mo Xingchen, menunjuk ke arah pintu perunggu tersebut dengan tongkatnya. "Di balik pintu ini terletak ruang kendali utama reruntuhan, sekaligus jalur pintas terakhir yang akan membawa kita langsung ke bibir kawah Pusaran Kabut Abadi. Namun, pintunya disegel oleh formasi alkimia tingkat tinggi. Tanpa kunci darah dari garis keturunan Sekte Langit, pintu ini tidak akan pernah bisa dibuka dengan kekerasan fisik biasa."
Lyra maju mendekati pintu perunggu itu. Ia menyentuh permukaannya yang dingin dengan ujung jarinya, lalu menutup matanya sejenak untuk merasakan denyutan energi yang mengalir di balik logam tersebut. Sebagai seorang alkemis jenius, ia langsung mengenali pola formasi yang melindungi pintu itu.
"Ini bukan sekadar segel biasa," ucap Lyra menganalisis. "Formasi ini menggunakan prinsip penyeimbang elemen api dan air. Jika kita salah memasukkan frekuensi Qi ke dalam celah ukirannya, seluruh mekanisme pertahanan di dalam ruangan ini akan memicu ledakan racun sulfur yang bisa membunuh kita seketika."
Kaelen melangkah maju menggantikan posisi Lyra. Ia menempatkan telapak tangannya pada bagian tengah ukiran ular di pintu perunggu tersebut. Alih-alih menggunakan energi kasar, Kaelen memejamkan mata dan membiarkan esensi dari Jiwa Artefak Reruntuhan Langit yang bersemayam di dalam dantiannya merespons. Energi biru keperakan mengalir lembut dari telapak tangannya, menelusuri setiap lekuk ukiran kuno di pintu itu bagaikan air yang menemukan saluran alaminya.
Resonansi langsung tercipta. Ukiran ular melingkar di pintu perunggu itu tiba-tiba bercahaya terang, mengeluarkan suara decitan logam tua yang bergesekan seiring dengan terlepasnya segel purba yang telah membeku selama ribuan tahun. Perlahan namun pasti, pintu perunggu raksasa itu bergeser membuka ke dalam, menyemburkan uap panas bercampur cahaya putih menyilaukan yang langsung menerangi wajah ketiganya.
"Luar biasa..." gumam Mo Xingchen takjub, menggelengkan kepalanya tidak percaya. "Hanya wadah sejati dari artefak itu yang bisa membuka segel leluhur kami tanpa pertumpahan darah."
Di balik pintu perunggu yang terbuka, terhampar sebuah ruangan luas berbentuk lingkaran dengan lantai marmer putih yang masih bersih dari debu. Di tengah ruangan tersebut, sebuah jembatan batu melayang di atas jurang tak berdasar, menghubungkan sisi tempat mereka berdiri menuju sebuah platform batu hitam yang melayang di tengah pusaran kabut kelabu yang berputar liar—Pusaran Kabut Abadi yang legendaris.
Namun, pemandangan paling mencengangkan bukanlah jembatan atau jurang tersebut, melainkan sosok-sosok bayangan berjubah emas yang sudah berdiri menanti di ujung jembatan seberang. Mereka bukanlah prajurit biasa atau pembunuh bayaran rendahan seperti yang ditemui di Kota Lumina. Mereka adalah para Tetua Bayangan dari Faksi Sekte Kuno—para kultivator tingkat puncak yang menguasai teknik terlarang dan memegang kendali penuh atas wilayah barat daratan.
Di antara para tetua berjubah emas itu, berdiri sesosok pria paruh baya bertubuh tinggi tegap dengan rambut putih panjang tergerai rapi. Pria itu mengenakan jubah sutra putih bersulam benang perak bergambar naga bermata seribu. Matanya yang tajam bagai elang menatap langsung ke arah Kaelen, Lyra, dan Mo Xingchen dengan senyum penuh kemenangan yang mengerikan.
"Selamat datang di ujung takdir kalian, cucu-cucu pemberontak," suara pria itu menggema memenuhi ruangan luas tersebut, membawa tekanan spiritual yang begitu dahsyat hingga membuat Mo Xingchen terhuyung mundur beberapa langkah dan memuntahkan setetes darah segar dari bibirnya. "Aku adalah Penatua Agung Xuan Ming. Sudah lama aku menantikan saat di mana wadah dari Jiwa Artefak itu mengantarkan dirinya sendiri langsung ke altar persembahan kami."
Kaelen merangkul bahu Mo Xingchen untuk menopang tubuh pria tua itu, sementara tangan kirinya perlahan meraba gagang pedang baja gelap di pinggangnya. Aura pembunuh yang dingin dan pekat mulai memancar dari tubuh Kaelen, membuat udara di sekitar jembatan batu mendadak terasa membeku. Pertempuran terbesar dalam hidup mereka kini resmi dimulai di ambang gerbang keabadian.