Tiga puluh tahun Liana Liem mengabdikan hidupnya untuk keluarga suaminya. Memasak, merawat mertua lumpuh, membesarkan anak — sampai tubuhnya aus dan hatinya kering.
Di usia lima puluh, ia menemukan kenyataan yang menghancurkan: suaminya, Albert Phua, telah berselingkuh selama sebelas tahun. Ada wanita lain. Ada anak lain.
Liana memilih cerai.
Tanpa uang, tanpa pengalaman kerja, tanpa tempat tinggal — Liana memulai hidup dari nol. Tapi takdir punya rencana lain. Sebuah kebaikan kecil membawanya masuk ke dunia Loh Group, konglomerat terbesar di Jakarta. Dan di sana, ia bertemu bosnya: Edwin Loh — pria yang ternyata sudah menunggunya selama tiga puluh tahun.
Tapi rahasia terbesar bukan soal cinta.Kevin, anak angkat Edwin yang selama ini memanggil Liana "Bu" — mungkinkah dia adalah. Lele, putra kandung Liana yang hilang dua puluh tahun lalu?
Siapa yang mencuri anaknya? Siapa yang merusak jodohnya? Dan apakah di usia lima puluh, takdir masih bisa memberikan keadilan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Bab 2
Tiga Puluh Tahun Terbuang
Kalimat Albert tidak selesai di kamar itu. Ia ikut turun bersama Liana ke pagi berikutnya, menempel di kulitnya seperti bau asap yang sulit hilang.
Semalaman Liana tidak tidur. Ia duduk di tepi ranjang tamu dengan ponsel di pangkuan, membuka ulang foto-foto itu, lalu menutupnya lagi ketika dadanya terlalu sesak. Di luar jendela, lampu jalan perumahan BSD City perlahan padam satu per satu. Rumah yang selama ini ia sebut rumah tetap berdiri rapi, tetapi di matanya semua sudutnya berubah asing.
Pukul enam pagi, ia tetap masuk dapur.
Bukan karena ia sudah memaafkan. Bukan karena ia menyerah. Tubuhnya hanya bergerak mengikuti kebiasaan tiga puluh tahun. Menanak nasi. Memanaskan lauk. Mengisi botol minum. Menyeka meja yang sebenarnya sudah bersih.
Albert keluar kamar pukul tujuh lewat sedikit. Kemejanya rapi, rambutnya tertata, tas kerja di tangan. Wajahnya tidak menunjukkan tanda penyesalan. Jika seseorang melihat dari luar, mereka mungkin mengira ini pagi biasa di rumah keluarga Phua.
Liana berdiri di dekat meja makan, menatap punggung laki-laki itu.
"Aku ke UI," kata Albert datar.
Tidak ada maaf. Tidak ada penjelasan. Bahkan tidak ada usaha berpura-pura menyesal.
"Kita belum selesai bicara," ujar Liana.
Albert berhenti di depan pintu, tetapi tidak berbalik. "Aku ada rapat."
"Tiga puluh tahun pernikahan kalah penting dari rapat?"
Barulah Albert menoleh. Matanya dingin. "Jangan mulai pagi-pagi. Aku tidak mau tetangga dengar."
Liana menatapnya lama. Dulu kalimat seperti itu cukup membuatnya menelan semua kata. Nama baik keluarga. Omongan tetangga. Malu di depan orang. Semua selalu lebih penting daripada luka yang ia bawa.
"Yang membuat malu bukan suaraku," kata Liana pelan. "Yang membuat malu adalah perbuatanmu."
Rahang Albert bergerak. Ia ingin membalas, tetapi memilih membuka pintu.
"Pikirkan baik-baik. Kalau kamu tetap keras kepala, kamu sendiri yang rugi."
Pintu tertutup.
Liana masih berdiri beberapa detik setelah mobil Albert keluar dari garasi. Suara mesin menjauh, meninggalkan rumah yang terlalu sunyi.
Di meja makan, bekal untuk Albert masih ada. Ia lupa membawanya. Atau memang sengaja meninggalkannya.
Liana menatap kotak makan itu. Tiga puluh tahun hidupnya terasa terkumpul dalam benda kecil itu. Nasi yang ditakar sesuai selera Albert. Lauk yang tidak terlalu pedas karena lambungnya sensitif. Semua pantangan orang rumah ia ingat, sementara tubuhnya sendiri jarang ditanya.
Ia duduk pelan.
Tangannya menyentuh permukaan meja. Di meja inilah Jason dulu belajar menulis. Di kursi sebelahnya, Kim Hwa pernah duduk dengan wajah muram, memerintahnya mengambil obat, air hangat, bubur tanpa garam. Selama sepuluh tahun, Liana mengangkat tubuh perempuan itu dari ranjang ke kursi roda, menyeka keringatnya, membersihkan muntahnya, mendengar makiannya.
Dan sebelum semua itu, ia pernah punya mimpi. Ia pernah hampir masuk universitas, menyimpan brosur jurusan bahasa di laci, membayangkan dirinya bekerja sebagai penerjemah dan pulang dengan uang hasil usahanya sendiri.
Lalu ia menikah dengan Albert.
Sedikit demi sedikit, semua mimpinya dilipat dan disimpan, sampai ia sendiri lupa pernah memilikinya.
Ponselnya bergetar.
Nama Jessy muncul di layar.
Liana menatap nama itu seperti melihat pintu darurat di ruangan yang terbakar.
"Lia?" suara Jessy langsung terdengar cemas begitu panggilan tersambung. "Kamu kenapa? Semalam aku lihat kamu online sampai subuh. Aku chat, kamu nggak balas."
Untuk pertama kalinya sejak tadi malam, sesuatu di dada Liana goyah.
"Jess," ucapnya. Suaranya pecah sedikit. "Aku boleh ke rumahmu?"
"Sekarang?"
"Kalau kamu tidak sibuk."
"Gila kamu, pakai tanya. Datang sekarang. Aku tunggu."
Rumah Jessy hanya beberapa blok dari rumah Phua, masih di kawasan perumahan yang sama. Liana berjalan kaki karena tidak ingin mengambil mobil. Setiap pagar rumah dan suara ibu-ibu menyapu halaman membuatnya sadar betapa mudah hidup orang lain terlihat normal dari luar.
Jessy membuka pintu bahkan sebelum Liana menekan bel.
Perempuan itu memakai daster rumah dan rambutnya dijepit asal. Begitu melihat wajah Liana, ia tidak bertanya apa-apa. Ia hanya menarik Liana masuk, menutup pintu, lalu menggenggam bahunya.
"Duduk dulu."
Liana duduk di sofa ruang tamu. Di meja ada dua gelas teh hangat dan sepiring pisang goreng yang jelas dibuat tergesa-gesa.
"Sekarang cerita," kata Jessy. "Pelan-pelan."
Liana mengeluarkan ponselnya. Tangannya sudah tidak terlalu gemetar, tetapi ketika ia membuka folder bukti, napasnya tetap terasa pendek.
Ia menunjukkan pesan pertama. Foto Yuni. Foto Jayden. Transfer bulanan. Apartemen Golden Crown. Percakapan yang sudah berjalan bertahun-tahun.
Jessy tidak langsung bicara. Wajahnya berubah dari bingung, terkejut, lalu marah. Marah yang tidak dibuat-buat. Marah yang membuat Liana hampir menangis karena akhirnya ada seseorang yang tidak menyuruhnya sabar.
"Sebelas tahun?" Jessy mengulang, suaranya rendah.
Liana mengangguk.
"Dan anak itu sepuluh tahun?"
"Iya."
Jessy menutup mulut, lalu memukul bantal sofa. "Kurang ajar. Albert itu benar-benar kurang ajar."
Air mata Liana akhirnya jatuh satu. Hanya satu. Ia cepat menghapusnya dengan punggung tangan.
"Dia bilang kalau aku cerai, aku tidak akan dapat apa-apa."
"Dia pikir negara ini punya bapaknya?" Jessy mendengus. "Lia, dengar aku. Cerai. Kamu harus cerai."
Kata itu terdengar berbeda dari mulut Jessy. Bukan seperti ledakan emosi, melainkan seperti tali yang dilemparkan ke orang yang hampir tenggelam.
Liana menunduk. "Aku takut."
"Takut itu wajar."
"Aku sudah lima puluh. Aku tidak punya pekerjaan. Aku tidak tahu harus mulai dari mana."
Jessy menggenggam tangannya. "Mulai dari keluar dari rumah yang membunuh kamu pelan-pelan."
Kalimat itu membuat Liana diam.
Rumah yang membunuh pelan-pelan.
Ia teringat kamar Dede.
Kamar kecil di dekat tangga yang sekarang menjadi gudang. Dulu dindingnya penuh stiker bintang. Di lemari paling atas, Liana masih menyimpan satu foto lama, foto Dede ketika berusia enam tahun, memakai baju biru yang ia rajut sendiri. Anak itu tersenyum memperlihatkan gigi susu, satu tangan memegang mobil-mobilan murah dari pasar malam.
Hari ketika Dede hilang, hujan turun deras.
Kim Hwa berkata Liana lengah. Katanya, seorang ibu yang benar-benar mencintai anaknya tidak mungkin kehilangan anak sendiri. Kalimat itu mengejar Liana selama dua puluh tahun. Setiap malam ia bertanya pada Tuhan, di bagian mana tangannya terlepas, di detik mana ia gagal.
"Lia?" Jessy memanggil pelan.
Liana mengangkat wajah. "Aku kehilangan Dede. Aku bertahan karena kupikir setidaknya aku masih harus menjaga keluarga yang tersisa. Tapi ternyata selama aku menghukum diriku sendiri, Albert membangun keluarga lain."
Jessy menarik napas panjang. Matanya memerah, tetapi suaranya tegas. "Kamu tidak pantas dihukum seumur hidup."
Ponsel Liana berdering sebelum ia sempat menjawab.
Nama Kim Hwa muncul di layar.
Tubuh Liana menegang. Jessy ikut melihat, lalu wajahnya mengeras.
Dari latar panggilan terdengar suara perawat panti jompo memanggil nama pasien lain.
"Angkat," kata Jessy. "Pakai speaker."
Liana menekan tombol terima.
Suara Kim Hwa langsung meledak tanpa salam. "Liana! Kamu ini perempuan tidak tahu diri! Albert bilang kamu minta cerai. Otakmu masih waras?"
Liana memejamkan mata sebentar.
"Aku waras, Mama."
"Jangan panggil aku Mama kalau kamu mau menghancurkan anakku!"
Jessy menegakkan punggung, tetapi Liana mengangkat tangan, memberi tanda ia akan menjawab sendiri.
"Yang menghancurkan rumah tangga ini bukan aku."
"Laki-laki di luar punya godaan itu biasa! Kamu sudah tiga puluh tahun makan dari keluarga Phua. Sekarang, setelah Albert capek sedikit, kamu mau kabur? Kamu pikir siapa yang mau perempuan tua sepertimu?"
Dulu, kata-kata itu akan membuat Liana ciut.
Hari ini, ia hanya merasa lelah.
"Kim Hwa," katanya pelan.
Di seberang sana, suara Kim Hwa berhenti. Mungkin karena untuk pertama kalinya Liana tidak memanggilnya Mama dengan patuh.
"Apa kamu bilang?"
"Aku bilang, Kim Hwa. Aku sudah cukup lama menjadi menantumu. Kalau Albert boleh berhenti menjadi suamiku sejak sebelas tahun lalu, aku juga boleh berhenti menjadi menantu yang kamu injak."
Jessy menatapnya, mata melebar bangga.
Kim Hwa menjerit, "Kurang ajar! Setelah semua yang keluarga ini beri ke kamu, kamu membalas begini? Dulu Dede hilang juga karena kamu tidak becus jadi ibu. Sekarang kamu mau gagal jadi istri juga?"
Nama itu menghunjam.
Dede.
Liana menggenggam ponsel lebih kuat, tetapi suaranya tetap tenang. "Jangan pakai Dede untuk membungkam aku."
"Itu kenyataan!"
"Kalau memang kenyataan, kenapa setiap kali aku bertanya detail hari itu, kamu selalu marah?"
Kesunyian jatuh sekejap di ujung telepon.
Sangat singkat. Tetapi cukup untuk membuat darah Liana berdesir.
Kim Hwa cepat-cepat membentak lagi. "Jangan memutar balik! Pulang sekarang. Kita bicara di rumah. Jangan curhat ke orang luar seperti perempuan murahan."
Liana memandang Jessy. Lalu ia menatap layar ponsel, seolah bisa melihat wajah perempuan tua yang selama ini menguasai hidupnya.
"Tidak."
"Apa?"
"Aku tidak pulang untuk dimaki."
"Liana!"
"Aku akan pulang kalau aku siap. Dan mulai hari ini, jangan telepon aku untuk menghina."
Liana memutus panggilan.
Tangannya gemetar setelah itu. Bukan karena takut, melainkan karena sesuatu yang lama terkunci akhirnya bergerak.
Jessy duduk di sebelahnya, lalu memeluk bahunya.
"Lia," katanya pelan, "kamu tahu tidak, dari dulu aku merasa ada yang aneh dengan kejadian Dede."
Napas Liana tertahan.
Jessy menatapnya serius.
"Kamu benar-benar yakin hari itu Dede hilang karena kamu lengah?"
Halo kakak2, jangan lupa mampir dikarya pertamaku.
Judul : cinta di balik gerobak gorengan
Terimakasih 🙏
Temen2, dukung dan baca karya pertamaku.
Judul : cinta di balik gerobak gorengan
Terimakasih 🙏
/Pray/