Satu jalan keluar dari balik jeruji besi, namun berujung pada labirin tanpa pintu keluar.
Ketika Dorris Gate menawarkan kunci kebebasan, La Bonna De Luca tidak pernah menduga bahwa harga yang harus dibayar adalah jiwanya sendiri.
Terlempar ke dalam gemerlap remang Velvet Noir, Bonna dipaksa menari di atas benang tipis antara penyamaran dan kehancuran. Targetnya adalah Ezequiel Nolan Ashford—pria dingin bernapas racun yang tak pernah terpeleset oleh hukum.
Bonna menyadari satu hal: ini bukanlah misi penyelidikan, ini adalah eksekusi yang tertunda.
Ezequiel tidak hanya sulit dibaca; ia memegang kendali atas hidup dan mati siapa pun di wilayah kekuasaannya. Bagi Ezequiel, Bonna hanyalah mainan baru yang sewaktu-waktu bisa dihancurkan.
Untuk bertahan hidup di tangan pria yang memperlakukan manusia tak ubahnya properti, Bonna hanya punya satu senjata tersisa: memainkan sandiwara paling berbahaya. Berpura-pura menyerahkan hatinya pada sang iblis, atau menjadi bidak yang ditumbalkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#20
La Bonna De Luca paham betul satu kebenaran pahit di dunia ini: nyawa adalah sesuatu yang amat mahal. Untuk mempertahankan nyawanya agar ia tidak mati secara mengenaskan di tempat ini, ia harus bisa membuktikan bahwa dirinya berguna.
Sejak awal, Bonna sudah menduga akan ada hal-hal buruk yang menimpa dirinya. Dugaan itu muncul sejak ia memutuskan untuk menerima tawaran dari Dorris—menjalankan apa pun yang diperintahkan oleh pria penuh tipu daya tersebut.
Pilihan hidupnya sejak awal memang hanya menyisakan dua opsi yang sama-sama tragis: Bonna mati di dalam sel penjara akibat perlakuan brutal para tahanan dan sipir penjara yang secara terang-terangan melindas serta menginjak-injak harga dirinya, atau mati saat menjalankan perintah bahaya dari Dorris.
Jika Bonna memilih mati membusuk di penjara, ibunya yang juga mendekam di sana pasti akan berakhir tragis dengan cara yang sama persis sepertinya. Sedangkan jika ia memilih mati karena menuruti perintah Dorris, setidaknya hanya Bonna seorang yang akan gugur di tengah jalan.
Dengan begitu, ibunya akan mendapatkan kebebasan yang dijanjikan. Ibunya bisa kembali berkumpul dengan saudara-saudaranya—Laura, atau juga adik bungsunya yang masih sangat membutuhkan sosok seorang ibu. Empat bersaudara dari keluarga De Luca yang teramat menyedihkan.
Bonna jujur mengakui di dalam lubuk hatinya bahwa ia sangat kecewa pada ibunya. Ia membenci kenyataan bahwa sang ibu rela masuk penjara hanya demi melindungi orang yang paling Bonna benci di dunia ini. Bonna merasa hancur karena dulu, saat ayahnya beserta wanita selingkuhannya menyiksa fisik dan batin Bonna secara brutal, ibunya tidak pernah melakukan tindakan apa pun untuk melindunginya.
Sejak dulu, ibunya hanya bisa menangis dan menangis. Ibunya tak pernah sekali pun berdiri tegap di hadapan Bonna untuk membela putrinya dari tindakan kejam sang ayah. Namun, ketika adik laki-lakinya yang paling kecil dipukuli oleh ayahnya, sang ibu tidak akan berpikir dua kali untuk memasang tubuhnya sendiri sebagai tameng hidup agar putra kesayangannya itu tidak tersentuh pukulan.
Saat ibunya akhirnya masuk penjara, Bonna merasa terkhianati secara telanjang. Hatinya hancur berkeping-keping melihat sang ibu rela membuang hidupnya di balik terali besi demi menolong orang yang paling Bonna benci.
Sedangkan selama Bonna hidup dan bernapas, ibunya tidak pernah sekalipun berdiri memeluk atau melindunginya dari segala sesuatu hal yang menyakitinya—baik secara fisik maupun mental.
Ia kecewa.
Ia hancur.
Ia teramat marah.
Namun, di atas segala rasa benci dan kekecewaan itu, La Bonna tidak bisa memungkiri kenyataan bahwa ia tetap tidak sanggup melihat ibunya mengenakan seragam tahanan yang kusam dan menjadi bulan-bulanan di dalam sel penjara seperti dirinya.
Selama di sel, Bonna terpaksa memasang topeng dingin. Ia bersikap liar, siap memukul dan membalas siapa saja yang merendahkan dirinya maupun ibunya. Ia melakukan itu semata-mata agar mereka selamat, agar para bajingan penjara tidak semakin sepele terhadap keberadaan mereka.
Bohong jika Bonna bilang ia tidak merasa takut pada tahanan-tahanan gila dan para sipir penjara yang sama sekali tidak profesional itu.
Tubuh Bonna cenderung kecil; proporsi fisiknya jauh lebih kurus dibandingkan tahanan wanita lainnya. Namun, setiap kali mereka mencoba meremehkan atau dengan sengaja menindasnya, Bonna tidak akan pernah ragu untuk langsung menghajar mereka duluan.
Walaupun pada akhirnya, Bonna akan selalu berakhir dikerubungi dan dikeroyok hingga babak belur. Bagi Bonna, melawan saja sudah diperlakukan seperti binatang, apalagi jika ia hanya diam pasrah.
Itulah garis pikiran yang menuntunnya saat masih mendekam di penjara. Keputusannya sudah bulat dan final ketika ia melangkah keluar dari penjara untuk mati saat menjalankan perintah Dorris.
Namun, setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana dua kepala anak buah yang membantunya menyusup ditindas dan ditembak mati tanpa ampun di hadapannya, Bonna menyadari satu hal yang teramat mendasar.
Sebenarnya, La Bonna sangat takut mati.
Bukan takut karena akan ada orang yang menangisi kematiannya kelak. Bonna tahu betul, tidak akan ada satu orang pun di dunia ini yang mau meneteskan air mata bahkan jika melihat mayatnya tergeletak membusuk di pinggir jalanan kotor.
Rupanya, Bonna hanya teramat takut dengan rasa sakitnya.
Seumur hidupnya, dari kecil hingga detik ini, hal utama yang paling sering ia rasakan hanyalah rasa sakit yang tak kunjung usai. Dan Bonna sungguh tidak ingin mengakhiri hidupnya dengan cara yang menyakitkan pula.
Hal itu terasa benar-benar tidak adil baginya.
"Hahaha..."
Bonna tertawa kecil, menertawakan ketidakberdayaan dirinya sendiri di dalam keheningan kamar.
Berani sekali seorang penjahat dan wanita rusak seperti dirinya bicara soal keadilan? Padahal Bonna sendiri yang telah menyeret dirinya ke dalam lingkaran neraka ini.
Kalau saja... kalau saja waktu itu Bonna tidak termakan oleh amarah yang membakar dada, kalau saja ia tidak dibutakan oleh rasa benci yang mendalam terhadap Laura adiknya, dan andai saja Bonna tidak mencoba merusak wajah serta tubuh cantik adiknya yang selalu membuatnya merasa iri setengah mati, Bonna tidak akan pernah berakhir mendekam di dalam penjara.
Jika Bonna tidak masuk penjara, maka ia juga mungkin bisa mencegah ibunya melakukan pembunuhan terhadap ayahnya.
Jika ia tidak dipenjara, Dorris tidak akan pernah bisa memanfaatkan kelemahannya untuk menuruti segala kemauannya. Dorris tidak akan bisa datang bersikap layaknya malaikat penolong yang membawa tawaran bantuan, padahal kenyataannya Dorris tak lebih dari iblis licik yang menjerumuskannya lurus ke dalam neraka.
Neraka yang dimiliki oleh seorang Ezequiel Nolan Ashford.
Bonna terduduk di pinggir ranjang kamar 101 yang bernuansa gelap. Usai menyelesaikan tariannya di panggung bawah tadi, Bonna kembali diperintahkan oleh anak buah tempat itu untuk langsung masuk ke kamar ini seperti kemarin.
Tiba-tiba, engsel pintu kamar berderit. Pintu ruangan itu terbuka.
Nolan muncul dari balik kegelapan lorong. Pria itu masuk dan langsung menutup pintu rapat-rapat di belakang tubuhnya. Namun, sebelum Nolan mengayunkan langkahnya lebih jauh, ia berdecak keras sembari melangkah mendatangi Bonna.
Raut wajahnya menunjukkan raut kecewa dan muak yang teramat jelas—seolah menunjukkan bahwa Bonna lagi-lagi gagal memenuhi ekspektasinya.
Entah apa lagi kemauan pria gila di hadapannya ini. Bonna sudah mematuhi perintah dengan masuk ke ruangan ini tanpa membantah. Bonna bahkan telah duduk menunggunya di kamar ini selama hampir satu jam penuh dalam keheningan, meskipun isi pikirannya sangat kacau dan berbisik liar.
Nolan berhenti dua langkah di depan Bonna, lalu melipat kedua tangannya di depan dada. "Kupikir kau sudah belajar banyak dari kejadian kemarin... tapi rupanya kau ini memang wanita yang teramat bodoh."
Kali ini, Nolan datang tanpa cerutu menyala di tangannya. Meski begitu, bekas luka burnt dari sundutan cerutu Nolan kemarin masih terasa teramat pedih dan menyengat setiap kali tersentuh air mandi atau terkena usapan keringatnya sendiri.
Jangankan luka sundutan cerutu di selangkangan dan bahunya, luka robek di sudut bibir Bonna saja masih terasa amat sakit setiap kali ia mencoba membuka mulut untuk berbicara.
Dan Bonna sangat yakin, luka-luka itu tidak akan pernah sembuh dalam waktu cepat karena sebelum sempat pulih sedikit pun, luka baru akan kembali terbuka akibat ulah kejam pria iblis ini.
"Kau seharusnya sudah menanggalkan seluruh pakaianmu tanpa perlu kusuruh," ucap Nolan dengan nada suara yang teramat sinis dan dingin. "Kau seharusnya paham saat diperintahkan masuk ke dalam kamar ini. Tujuan utamamu diperintahkan masuk ke kamar ini adalah untuk dipakai. Seharusnya kau mempersiapkan dirimu dengan benar."
Bajingan ini benar-benar membuat Bonna membenci cara bicaranya. Nolan begitu sombong, angkuh, dan selalu memandang orang lain tak lebih dari sekadar sampah tak berharga.
Dulu, Bonna juga seorang wanita yang sombong. Dulu Bonna begitu angkuh sampai sering bersikap semena-mena terhadap orang-orang yang status sosialnya berada di bawahnya. Namun sekarang, dirundung dan dipandang seperti sampah oleh pria di hadapannya terasa begitu menjengkelkan.
Dan apa kata Nolan barusan? Dipakai?
Cara Nolan berbicara seolah-olah La Bonna ini bukanlah seorang manusia yang memiliki nyawa dan perasaan, melainkan cuma sebuah benda mati yang bisa dipakai, dirusak, dan dibuang kapan saja saat pemiliknya merasa bosan.
"Kau sama sekali tidak menguntungkan," lanjut Nolan merendahkan Bonna dengan pandangan menghina. "Membiarkanmu tetap bernapas di tempat ini tidak membawa hasil apa-apa bagiku. Kau bahkan tidak berhasil mendapatkan satu pun pelanggan malam ini. Tidak ada satu pria pun di bawah sana yang sudi menyewa barang rusak sepertimu."
Tiba-tiba, Bonna berdecih pelan.
Di tengah ketakutannya akan rasa sakit, sisa-sisa keberanian dan rasa benci di dalam dada Bonna mendadak mencetuskan perlawanan. Bonna mendongakkan kepalanya, menatap lurus ke dalam manik mata hitam milik Nolan.
"Memang tidak ada pria yang sudi mengeluarkan uangnya untuk tidur denganku..." bisik Bonna dengan senyum tipis yang sarat akan sinisme. "Tapi Tuan Nolan... pemilik utama rumah hiburan yang megah ini, justru datang untuk kedua kalinya kemari hanya untuk meniduriku. Padahal tubuhku ini jelas-jelas tidak seindah pelacur-pelacur lain di luar sana."
Bonna jeda sejenak, mengamati perubahan raut di wajah pria itu.
"Hal itu membuatku bertanya-tanya..." lanjut Bonna dengan nada berani. "Apa jangan-jangan selera Tuan Besar di rumah hiburan ini ternyata tidak sebagus itu? Atau... kau sebenarnya terus-terusan terbayang oleh wajah mendiang kekasihmu yang teramat mirip denganku?"
Tatapan mata Nolan seketika menajam bagai bilah pisau yang siap menggorok leher. Aura di dalam kamar 101 mendadak mendingin secara drastis. Namun, bukannya bungkam ketakutan, Bonna justru makin melancarkan serangannya.
"Kau sengaja memakai alasan bahwa Alena akan bunuh diri jika aku mati..." desis Bonna menantang. "Padahal pada kenyataannya, kau sendiri yang tidak ingin aku mati. Kau tidak ingin kehilangan wajah ini... wajah yang teramat mirip dengan mendiang kekasihmu, Electra."
Mendengar nama itu terucap dari bibir Bonna, Nolan memiringkan kepalanya sedikit.
Raut wajah pria mafia itu tetap datar dan tak berubah sedikit pun. Keheningan yang menakutkan menyelimuti seluruh sudut ruangan, membuat Bonna sama sekali tidak bisa menebak apakah Nolan saat ini sedang berada di puncak amarahnya atau tidak.
Ezequiel Nolan Ashford memang sesosok iblis yang teramat sulit untuk ditebak.