Adrian Wijaya hanya ingin mendapatkan uang tambahan sebelum kuliah dimulai. Namun sebuah sistem misterius tiba-tiba memberinya akses ke berbagai pekerjaan dengan bayaran luar biasa.
Setiap pekerjaan memberinya uang, kemampuan, dan pengalaman baru.
Dari pekerjaan biasa hingga tugas berbahaya di berbagai penjuru dunia, Adrian perlahan menyadari bahwa sistem ini bukan sekadar alat untuk mencari uang.
Ini adalah awal dari kehidupan yang jauh lebih besar dari yang pernah dia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bulu-Halus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 — Kendaraan Lapis Baja Datang?, akanku ledakan
Suara mesin berat menggelegar dari balik bukit pasir.
Sebuah kendaraan lapis baja beroda enam menerobos gundukan pasir, menghamburkan debu ke segala arah. Lambungnya dilapisi baja tambahan, sementara sebuah meriam otomatis terpasang di bagian atas.
Moncong meriam perlahan berputar.
Kemudian berhenti tepat mengarah kepada Adrian.
Sienna langsung pucat.
“Adrian! Menyingkir!”
Adrian tidak langsung menjawab.
Matanya justru tertuju pada motornya.
Sebuah pecahan batu akibat ledakan tadi menghantam tangki bensin motor bekasnya.
Krek.
Cat yang sudah kusam itu kini memiliki goresan panjang.
Adrian terdiam.
Ia berjalan mendekat dan mengusap bekas goresan tersebut dengan ujung jarinya.
“...Motorku.”
Sienna menatapnya dengan wajah tidak percaya.
Dalam situasi seperti ini, kendaraan lapis baja sedang membidik mereka, tetapi yang dipikirkan Adrian justru sebuah motor tua seharga lima ratus dolar.
Adrian menarik napas panjang.
“Baru dua jam dipakai.”
Ia perlahan menoleh ke arah kendaraan lapis baja.
“Sudah berani merusaknya.”
Sienna berkedip.
Kenapa nada bicaranya terdengar lebih menakutkan daripada sebelumnya?
DUAR!
Meriam kembali meledak.
Sebuah proyektil menghantam tanah beberapa meter di samping Adrian.
Gelombang ledakan melemparkan pasir ke udara.
Adrian langsung bergerak.
Prediksi Krisis Tingkat Dasar aktif.
Dalam sepersekian detik, pikirannya menangkap arah datangnya serangan berikutnya.
Kiri.
Adrian melangkah.
BOOM!
Ledakan kedua menghantam tempat ia berdiri sesaat sebelumnya.
Ia berguling di balik batu.
Sienna berteriak dari kejauhan.
“Jangan mendekat! Itu kendaraan lapis baja! Senjatanya bisa menghancurkan mobil dalam satu tembakan!”
Adrian mengintip dari balik batu.
“Begitu?”
“Ya!”
Adrian mengangguk pelan.
“Berarti harganya mahal.”
Sienna terdiam.
Dia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa.
Kendaraan lapis baja itu kembali bergerak.
Roda besarnya menggiling pasir dengan suara berat.
Beberapa anggota Blood Viper membuka pintu samping dan mulai menembak.
DOR! DOR! DOR!
Peluru menghantam batu tempat Adrian berlindung.
Adrian tidak membalas.
Ia menunggu.
Satu detik.
Dua detik.
Ketika rentetan tembakan berhenti, ia langsung berpindah.
Dari satu batu ke batu lainnya.
Kemudian ke sebuah cekungan pasir.
Lalu kembali bergerak ketika musuh menembak.
Sienna menatap dengan napas tertahan.
Gerakannya terlihat santai.
Namun setiap kali peluru datang, Adrian selalu berpindah beberapa saat sebelum tembakan mencapai tempatnya.
Seolah-olah dia sudah tahu ke mana peluru akan pergi.
Sementara itu, kendaraan lapis baja terus mendekat.
Jarak mereka semakin pendek.
Adrian melihat jam digital murah di pergelangan tangannya.
Waktu terus berjalan.
“Kalau terus begini, waktuku habis.”
Ia menghela napas.
“Dapat lima belas miliar, tapi malah sibuk mengejar kendaraan.”
Kemudian Adrian berdiri.
Sienna langsung menyadarinya.
“Adrian?”
Adrian menatap kendaraan lapis baja di depan.
“Aku akan menyelesaikannya.”
“Apa?”
Adrian langsung berlari.
“Adrian! Jangan!”
Meriam otomatis berputar.
DOR! DOR! DOR!
Ledakan berturut-turut menghantam jalur Adrian.
Satu proyektil jatuh di depan.
Adrian berhenti mendadak.
Ledakan mengguncang tanah.
Sebelum asap menghilang, tubuh Adrian sudah bergerak ke samping.
Proyektil berikutnya melewati tempat ia berada.
Adrian melompat melewati sebuah batu.
Kemudian berguling.
Sandal jepitnya nyaris terlepas.
Ia bahkan sempat menoleh sebentar.
“Jangan sampai hilang.”
Sienna yang melihatnya hampir tidak percaya.
Orang ini sedang dikejar meriam, tetapi masih sempat mengkhawatirkan sandal.
Adrian terus bergerak.
Jaraknya dengan kendaraan lapis baja semakin dekat.
Lima belas meter.
Sepuluh meter.
Lima meter.
Kendaraan itu mencoba mengubah arah.
Namun terlambat.
Adrian sudah berada di sisi belakangnya.
Ia menarik sebuah benda dari dalam tas.
Sebuah paket bahan peledak yang diperolehnya dari markas Black Fox.
Kondisinya tidak terlalu bagus.
Lakban kuning membungkus permukaannya.
Adrian menatapnya.
“Semoga masih berfungsi.”
Sienna melihat benda itu.
Wajahnya langsung berubah.
“Jangan bilang itu bahan peledak?”
Adrian tidak menjawab.
Ia berlari mendekati kendaraan.
Salah satu anggota Blood Viper melihatnya.
“Dia di belakang!”
Rentetan tembakan langsung diarahkan ke arahnya.
Adrian menunduk.
Peluru menghantam pasir.
Ia meluncur ke bawah bagian belakang kendaraan.
Tubuhnya hampir menyentuh tanah.
Kemudian tangannya bergerak cepat.
Satu paket ditempelkan.
Lalu paket kedua.
Adrian segera berguling keluar.
“Sudah.”
Ia berlari menjauh.
Kendaraan lapis baja mulai berputar.
Meriam kembali mengarah kepadanya.
Adrian mengeluarkan alat pemicu dari sakunya.
“Semoga tidak meledak di tangan.”
Ia menekan tombol.
DUUUUAR!
Ledakan besar mengguncang gurun.
Bagian bawah kendaraan lapis baja langsung dihantam gelombang ledakan.
Salah satu roda terangkat.
Kendaraan itu miring keras.
KRAAAK!
Suara logam patah terdengar dari dalam.
Asap hitam menyembur dari bagian bawah.
Kendaraan seberat beberapa ton itu akhirnya kehilangan tenaga dan berhenti.
Meriamnya masih bergerak beberapa kali.
Kemudian mati.
Hening.
Adrian berdiri beberapa meter dari kendaraan.
Debu perlahan turun di sekelilingnya.
Ia menepuk-nepuk celana pendeknya.
Kemudian menoleh ke arah motor.
Motornya masih berdiri.
Adrian tersenyum lega.
“Untung tidak kena lagi.”
Sienna hanya bisa menatap kosong.
Dia baru saja menyaksikan seorang pemuda menghentikan kendaraan lapis baja menggunakan bahan peledak bekas.
Namun perhatian pemuda itu justru kembali kepada motornya.
Sienna akhirnya tidak tahan.
“Kamu sebenarnya siapa?”
Adrian menoleh.
“Pekerja musiman.”
“Pekerja musiman?”
“Iya.”
“Pekerjaanmu apa?”
Adrian menunjuk kendaraan lapis baja yang terbakar.
“Kurang lebih seperti ini.”
Sienna terdiam.
Jawaban itu sama sekali tidak membantu.
Sebelum dia sempat bertanya lagi, suara radio terdengar dari dalam kendaraan.
“Unit patroli empat! Jawab!”
Tidak ada respons.
“Unit patroli empat, laporkan keadaan!”
Adrian mengangkat alis.
“Wah.”
Dia melihat ke arah kendaraan.
“Sudah ketahuan.”
Sienna langsung memahami maksudnya.
“Kalau mereka kehilangan kontak, markas akan mengirim pasukan lain.”
“Bagus.”
Adrian berjalan menuju motornya.
“Biar tidak perlu mencari mereka satu per satu.”
Sienna menatap punggungnya.
“Adrian, tunggu!”
Adrian berhenti.
Sienna menunjuk kakinya.
“Kamu kehilangan sandal.”
Adrian melihat ke bawah.
Sandal sebelahnya memang sudah tidak ada.
Wajahnya langsung berubah.
“...Astaga.”
Dia berbalik dan berjalan kembali.
Sienna menatapnya dengan ekspresi aneh.
Beberapa saat kemudian, Adrian menemukan sandal itu setengah tertanam di pasir.
Ia membersihkannya, lalu memakainya kembali.
“Untung ketemu.”
Sienna menutup wajah dengan telapak tangan.
Entah kenapa, pemuda yang beberapa menit lalu terlihat seperti monster di medan perang itu sekarang terlihat seperti orang yang baru saja kehilangan sandal di pasar.
Di tempat lain, alarm darurat mulai berbunyi di markas Blood Viper.
Seorang operator berlari menuju ruang komando.
“Komandan!”
“Ada apa?”
“Patroli luar kehilangan kontak!”
Komandan itu langsung berdiri.
“Berapa personel?”
“Lebih dari dua puluh.”
“Dan kendaraan lapis baja?”
Operator menelan ludah.
“Tidak ada respons.”
Ruangan mendadak sunyi.
“Siapa yang menyerang mereka?”
Operator menampilkan rekaman kamera pengintai.
Sosok seorang pemuda muncul di layar.
T-shirt putih.
Celana pendek bermotif mencolok.
Sandal jepit.
Dan helm anak-anak berwarna merah muda.
Beberapa orang di ruangan itu saling menatap.
Komandan Blood Viper mengerutkan kening.
“Siapa dia?”
“Belum diketahui.”
“Senjata?”
“Belum diketahui.”
“Jumlah pasukan?”
Operator terdiam sesaat.
“Sendirian.”
Ruangan kembali sunyi.
Komandan menatap layar.
Untuk pertama kalinya, ekspresi santainya menghilang.
“Cari tahu siapa orang itu.”
Sementara itu, jauh di luar sana...
Adrian sudah menaiki motor tuanya.
Mesinnya kembali mengeluarkan suara berisik.
Tuk... tuk... tuk...
Asap hitam mengepul dari knalpot.
Adrian memutar gas.
“Lima belas miliar rupiah.”
Tatapannya tertuju pada cakrawala.
“Semoga pekerjaan berikutnya tidak merusak motorku lagi.”
Motor tua itu melaju menuju markas Blood Viper.
Di belakangnya, kendaraan lapis baja yang baru saja dihancurkan masih mengepulkan asap.
Dan di kejauhan...
puluhan orang sedang bersiap menyambut kedatangan seorang pekerja musiman yang sama sekali tidak tahu cara bekerja dengan normal.
Hari pertama Adrian di Darsen baru saja memasuki babak sebenarnya.