Amir adalah seorang pemuda yatim piatu yang selama bertahun-tahun hidup menderita sebagai menantu yang sama sekali tidak dianggap oleh keluarga istrinya, meskipun ia sudah bekerja keras banting tulang dari pagi hingga larut malam setiap harinya. Kesabarannya diuji hingga batas maksimal ketika ibu mertua dan adik iparnya dengan kejam menendangnya ke dalam danau saat ia sedang memancing, hanya demi memaksanya menceraikan istrinya yang hendak dijodohkan dengan pria kaya. Namun, di saat Amir tenggelam dan hampir kehilangan nyawanya, ia justru membangkitkan [Sistem Check-in Memancing] yang akan mengubah jalan hidupnya yang menyedihkan menjadi seorang legenda yang bergelimang harta dan kekuatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Jam dinding di ruang tamu rumah Bu Rina sudah menunjukkan pukul delapan malam.
Waktu mereka hanya tersisa dua jam lagi sebelum ancaman Bang Toyib menjadi kenyataan berdarah.
Bu Rina terus menangis tersedu-sedu sambil bergulingan di atas lantai marmer rumahnya.
"Bagaimana ini Siska, adikmu bisa mati malam ini juga!"
"Cepat telepon polisi Siska, biar polisi yang menangkap preman-preman gila itu!"
Bu Rina berteriak panik memberikan ide yang sangat gegabah.
Siska yang wajahnya sudah sembab karena menangis langsung menggelengkan kepalanya dengan kuat.
"Jangan Bu, kalau kita lapor polisi Bang Toyib pasti akan membunuh Rendy sebelum polisi sampai di sana."
"Jaringan preman mereka itu sangat luas dan punya banyak mata-mata di jalanan."
Siska menggigit kuku jarinya yang dicat merah hingga catnya terkelupas berantakan.
Ia ingat ucapan teman-temannya bahwa berurusan dengan lintah darat bawah tanah sama saja dengan menantang maut.
"Lalu kita harus bagaimana Siska, Kevin sang penyelamatmu itu sudah kabur entah ke mana!"
"Ibu tidak mau kehilangan Rendy, dia anak laki-laki ibu satu-satunya pelanjut marga keluarga!"
Bu Rina meratap menyalahkan Siska dan tunangan bodongnya itu.
Siska menelan ludahnya dengan susah payah saat sebuah bayangan wajah melintas di kepalanya.
Wajah pria tampan yang keluar dari Mercedes G-Class seharga tujuh miliar rupiah siang tadi.
"Hanya ada satu orang yang bisa menyelamatkan kita malam ini Bu."
"Kita harus membuang jauh-jauh harga diri kita dan memohon pada Amir."
Mendengar nama Amir disebut, Bu Rina seketika berhenti menangis dan mendongak menatap Siska.
"Amir? Gembel yang kita usir pakai surat cerai itu?"
"Mana mungkin dia punya uang tiga puluh lima juta kontan malam ini juga Siska!"
Bu Rina masih belum sepenuhnya percaya bahwa mantan menantunya itu sudah berubah nasib.
"Ibu harus percaya padaku, siang tadi aku melihatnya turun dari mobil seharga tujuh miliar dan makan di restoran fine dining!"
"Rendy juga bilang ada pemuda menang ratusan juta di kolam galatama kan, itu pasti Amir Bu!"
Siska menjelaskan dengan suara bergetar dan nafas terengah-engah.
Bu Rina terbelalak lebar seolah nyawanya baru saja ditarik keluar dari ubun-ubunnya.
"Ya ampun, jadi menantu yang selalu ibu hina itu sekarang sudah jadi miliarder sungguhan?"
"Cepat telepon dia Siska, rayu dia pakai kenangan manis kalian waktu masih menikah dulu!"
Bu Rina langsung mendorong-dorong tubuh Siska dengan penuh harap.
Siska mengambil ponselnya yang layarnya sedikit retak akibat ia banting tadi.
Ia mencari nomor Amir di kontak yang sebelumnya sudah ia ganti namanya menjadi Parasit Sialan.
Drrrtt drrrtt.
Nada sambung berbunyi panjang di telinga Siska membuat jantungnya berdegup sangat kencang.
Di saat yang sama, di dalam istana mewah Bukit Permata.
Amir sedang duduk santai di meja makan marmernya menikmati hidangan penutup berupa puding cokelat.
Maria si pelayan biologis berdiri dengan sopan di sudut ruangan siap melayani kebutuhan tuannya.
Ponsel Amir yang tergeletak di atas meja tiba-tiba bergetar menampilkan nama Siska memanggil.
Amir melirik layar ponsel itu dan tersenyum sangat dingin menyerupai iblis.
"Rupanya karma berjalan jauh lebih cepat dari yang aku perkirakan."
Amir bergumam pelan lalu menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
"Ada apa Nyonya Siska, apakah daging steak siang tadi kurang membuatmu kenyang sampai kau meneleponku malam-malam begini?"
Amir membuka percakapan dengan nada ejekan yang sangat menusuk dan dominan.
Di seberang sana, Siska langsung menangis tersedu-sedu mendengar suara berat mantan suaminya itu.
"Amir, hiks hiks, aku mohon maafkan semua kesalahanku siang tadi Amir."
"Aku memang wanita bodoh yang buta harta, tolong ampuni mulut kasarku ini."
Siska merendahkan dirinya sehina mungkin, sesuatu yang belum pernah ia lakukan seumur hidupnya.
"Simpan saja air mata palsumu itu Siska, aku tidak punya waktu mendengarkan sandiwaramu."
"Katakan apa maumu dengan cepat atau aku matikan telepon ini sekarang juga."
Amir mengancam dengan nada mutlak tanpa basa-basi sedikit pun.
"Tunggu Amir jangan dimatikan!"
"Rendy disandera oleh Bang Toyib rentenir judi online, dia punya utang tiga puluh lima juta yang harus dibayar jam sepuluh malam ini!"
"Kalau tidak dibayar, Rendy akan dibunuh dan organ tubuhnya dijual ke pasar gelap!"
Siska menceritakan semuanya dengan panik dan napas terputus-putus.
Amir tertawa pelan mendengar penderitaan yang menimpa adik ipar kurang ajarnya itu.
"Hahaha, itu adalah berita paling indah yang pernah kudengar hari ini Siska."
"Lalu kenapa kau tidak minta uang tebusan pada Kevin sang konglomerat tunanganmu itu?"
Amir sengaja menaburkan garam di atas luka hati Siska yang menganga lebar.
"Kevin itu penipu Amir, keluarganya bangkrut dikorupsi dan dia sekarang jadi buronan polisi."
"Aku mohon Amir, hanya kau satu-satunya pria kaya yang bisa menyelamatkan nyawa adikku."
"Pinjami aku uang tiga puluh lima juta saja, aku akan jadi pelayanmu seumur hidup untuk membayarnya!"
Siska menawarkan dirinya sendiri sebagai jaminan utang dengan nada putus asa.
Amir menatap tajam ke arah dinding ruang makannya yang megah.
"Kau pikir rumahku ini tempat penampungan barang rongsokan yang sudah dibuang?"
"Tapi baiklah, kalau kau mau memohon padaku, datanglah ke gerbang utama perumahan elite Bukit Permata sekarang juga."
"Aku beri waktu tiga puluh menit, telat satu menit saja maka adikmu akan jadi potongan daging malam ini."
Klik.
Amir langsung memutus sambungan telepon itu secara sepihak.
"Sebastian, siapkan mobil di depan, aku mau jalan-jalan mencari udara segar di luar gerbang perumahan."
Amir memberikan perintah pada kepala pelayannya.
"Baik, Tuan Besar Amir, mobil Anda akan siap dalam satu menit."
Sebastian membungkuk hormat dan segera berjalan cepat menuju garasi bawah tanah.
Sementara itu Siska dan Bu Rina berlari terburu-buru keluar dari rumah mereka.
Mereka menyetop sebuah taksi pinggir jalan karena mobil Siska bensinnya sudah habis dan tidak ada uang untuk mengisinya.
"Pak sopir, tolong ngebut ke perumahan Bukit Permata sekarang juga, ini masalah nyawa!"
Bu Rina berteriak panik dari kursi belakang membuat sopir taksi itu langsung menginjak gas dalam-dalam.
Perjalanan yang biasanya memakan waktu empat puluh lima menit berhasil ditempuh dalam waktu dua puluh lima menit.
Ciiit.
Taksi kuning itu berhenti tepat di depan gerbang besi raksasa perumahan Bukit Permata yang dijaga ketat.
Siska dan Bu Rina turun dari taksi dan berlari menuju pos satpam.
"Maaf Ibu-ibu, kalian tidak bisa masuk sembarangan ke kawasan VVIP ini tanpa undangan dari penghuni."
Seorang satpam bertubuh besar langsung menahan langkah mereka berdua dengan wajah tegas.
"Pak, kami ini keluarga dari Tuan Amir, tolong izinkan kami masuk mencarinya!"
Bu Rina berbohong dengan sangat tidak tahu malu menyebut dirinya keluarga Amir.
Satpam itu mengerutkan kening karena tidak percaya melihat penampilan berantakan dua wanita di depannya ini.