NovelToon NovelToon
PENAKLUK SEMESTA

PENAKLUK SEMESTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Arman A

Di benua tempat langit dan bumi saling menyatu, kekuatan sejati bukanlah tentang seberapa tajam pedang yang kau genggam atau seberapa tinggi tingkatan kultivasimu melainkan seberapa murni hatimu dan seberapa tulus kasih sayang yang kau berikan kepada dunia.

Lin Mo seorang pemuda yang lahir tanpa bakat istimewa di mata orang lain memulai perjalanan panjangnya menembus kabut tebal yang menyelimuti langit dan bumi. Ia menghadapi petir surgawi yang menggetarkan jiwa saat menerobos setiap tingkat kekuatan. Ia menembus hutan purba yang dijaga makhluk purba yang tak pernah menampakkan wujudnya kepada siapa pun. Ia mendaki puncak salju abadi yang membekukan jiwa bahkan sebelum membekukan tubuh.

Dengan hati yang tetap murni dan rendah hati meskipun kekuatan di tangannya semakin dahsyat Lin Mo mengumpulkan kembali empat kekuatan suci yang telah terpisah ribuan tahun. Cahaya api yang membakar kejahatan. Cahaya kehidupan yang menyembuhkan luka. Cahaya keheningan yang melatih kesabaran. Cahaya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20 KEHIDUPAN BARU DAN PANDANGAN YANG BERBEDA

 

Lin Mo diterima menjadi murid Sekte Pedang Cahaya. Berdasarkan hasil ujian yang luar biasa itu, ia seharusnya langsung masuk ke jajaran murid inti. Namun Lin Mo sendiri menolaknya dengan sopan. Ia memohon agar ditempatkan sebagai murid biasa saja. Ia tidak mencari kemewahan dan perlakuan istimewa. Ia hanya ingin memiliki tempat tinggal yang tenang, sumber latihan yang cukup, dan waktu untuk belajar serta memahami segala hal yang belum diketahuinya. Para penilai dan pengurus sekte saling berpandangan tak percaya. Banyak orang rela mati demi menjadi murid inti, namun pemuda itu justru menolaknya dengan tenang. Namun melihat ketulusan dan keteguhan di mata Lin Mo, akhirnya mereka pun menyetujui permohonan itu.

Lin Mo ditempatkan di kediaman murid biasa di bagian belakang bukit sekte. Kamar yang diberikan sederhana namun bersih dan kering. Terdapat sebuah tempat tidur kayu, meja tulis, rak buku kosong, dan sebuah jendela yang menghadap ke arah lembah hijau yang luas. Udara di sini jauh lebih segar dan jauh lebih murni dibandingkan di pinggir kota. Setiap kali menarik napas, hawa murni yang terserap masuk ke dalam tubuh terasa pekat dan nyaman. Lautan Qi di dalam perut bawahnya seketika berdenyut lembut dan senang seakan menyambut lingkungan yang baik untuk berkembang.

Hari-hari pertama di dalam sekte berlalu dengan tenang. Setiap pagi sebelum fajar menyingsing, Lin Mo sudah bangun dan membersihkan halaman serta jalanan di sekitar kediamannya. Setelah itu ia akan duduk bermeditasi di tepi lembah yang sepi. Batu hitam peninggalan leluhurnya terus bekerja membersihkan dan memperlebar meridian di dalam tubuhnya. Lautan Qi-nya perlahan namun pasti semakin meluas dan semakin dalam. Setiap kali energi Qi mengalir keluar dan berubah menjadi energi spiritual, cahayanya bersinar lembut namun kokoh berwarna putih keemasan yang murni dan hangat.

Setelah sarapan pagi, Lin Mo akan pergi ke aula pengajaran untuk mendengarkan penjelasan para pengajar sekte. Di sana ia mempelajari nama-nama tingkatan lautan Qi, cara memelihara keseimbangan energi di dalam tubuh, serta pengetahuan umum tentang dunia kultivasi yang luas dan penuh keajaiban. Dari penjelasan itu Lin Mo memahami bahwa lautan Qi yang baru saja terbangun dan belum meluas sepenuhnya berada di tingkatan tingkat pertama yang disebut Tingkat Pembibitan. Setelah lautan Qi meluas dan meridian terbuka sepenuhnya, maka akan naik ke Tingkat Penyatuan. Di atasnya masih ada tingkatan-tingkatan yang jauh lebih tinggi dan jauh lebih luar biasa yang sulit dibayangkan oleh akal pikiran biasa.

Lin Mo mendengarkan setiap penjelasan dengan saksama dan penuh perhatian. Ia tidak banyak bertanya dan tidak pula berbicara dengan siapa pun. Ia hanya duduk diam di barisan paling belakang sambil mencatat setiap hal penting di dalam hatinya. Banyak murid lain yang melihatnya dengan pandangan merendahkan. Mereka merasa aneh melihat pemuda yang berpakaian sederhana dan tampak miskin itu duduk diam mendengarkan seakan tidak memiliki kemampuan apa pun. Namun tak ada yang tahu bahwa di antara semua murid yang hadir di ruangan itu, kemurnian lautan Qi milik pemuda itu mungkin adalah yang tertinggi dari semuanya.

Suatu hari, setelah selesai mendengarkan penjelasan tentang cara melatih energi Qi agar tidak meluap-luap dan merusak tubuh, Lin Mo berjalan sendirian menuju halaman latihan yang luas di tengah bukit. Di sana banyak murid sedang berlatih gerakan tangan dan langkah kaki yang beriringan dengan aliran energi Qi di dalam tubuh. Sebagian besar sedang melatih teknik dasar yang diberikan sekte. Teknik itu cukup bagus dan rapi namun aliran energinya terasa kaku dan kasar seakan dipaksakan mengalir melewati jalan yang sempit.

Lin Mo berdiri diam di bawah pohon rindang di pinggir halaman. Ia memperhatikan setiap gerakan dengan pandangan yang jernih dan tenang. Ia tidak ikut berlatih. Ia hanya berdiri diam dan membiarkan hatinya tenang. Di dalam perut bawahnya lautan Qi berdenyut lembut dan teratur. Ia membandingkan cara mereka melatih energi dengan pesan yang tertulis di gulungan kain peninggalan leluhurnya. Semakin lama ia memperhatikan, semakin ia menyadari satu hal. Cara latihan yang diajarkan di sekte ini memang bagus dan sistematis. Namun mereka terlalu terburu-buru memperluas lautan Qi dan terlalu memaksakan kekuatan keluar tanpa cukup memperhatikan kemurnian dan keseimbangan. Itulah sebabnya energi mereka tampak kuat namun cepat habis dan mudah ternoda oleh hawa nafsu serta keserakahan.

Lin Mo memahami bahwa ia tidak boleh mengikuti cara latihan itu sepenuhnya. Ia harus tetap memegang pesan leluhurnya. Menjaga kemurnian lautan Qi dan keseimbangan aliran energi adalah hal yang paling utama. Jika lautan Qi murni dan seimbang, maka kekuatan akan tumbuh dengan sendirinya secara alami dan kokoh. Jika sebaliknya, maka secepat apa pun kemajuannya pada akhirnya akan rapuh dan mudah hancur seketika.

Saat Lin Mo sedang berdiri diam di bawah pohon itu, tiba-tiba muncul beberapa orang pemuda berjalan mendekat dengan wajah yang penuh keangkuhan dan ketidaksukaan. Di antaranya berdiri seorang pemuda berwajah tajam yang mengenakan lambang pedang emas di dada tanda murid inti. Pemuda itu bernama Gao Feng. Ia adalah pengikut setia Murong Hao dan dikatakan memiliki kemampuan tertinggi di antara murid-murid tingkat pertama.

Gao Feng berhenti tepat di depan Lin Mo. Ia menatap Lin Mo dari atas hingga ke bawah dengan tatapan merendahkan dan penuh kebencian. Ia mengenali wajah Lin Mo. Murong Hao pernah menyebutkan nama pemuda itu dan memperingatkan agar tidak terlalu menindasnya secara terbuka. Namun Gao Feng tidak dapat menerima kenyataan bahwa orang yang berpakaian lusuh dan tampak miskin itu ternyata mampu menaiki sembilan ratus empat puluh anak tangga saat ujian masuk. Hal itu membuat banyak orang memuji-muji Lin Mo dan membandingkannya dengan murid-murid lain yang sudah berlatih bertahun-tahun. Hal itu membuat Gao Feng merasa terhina dan cemburu buta.

Kau ternyata benar-benar masuk ke dalam sekte ujar Gao Feng dengan suara yang kasar dan penuh nada mengejek. Aku kira kau hanya beruntung saja saat ujian masuk. Ternyata kau hanya tahu berdiri diam di bawah pohon seakan patung batu yang tak berguna. Apa yang kau lakukan di sini? Mengapa tidak ikut berlatih bersama kami? Apakah kau takut terlihat lemah dan dipermalukan di depan semua orang?

Murid-murid yang berdiri di belakang Gao Feng serentak tertawa mengejek. Mereka menatap Lin Mo dengan pandangan merendahkan seakan Lin Mo hanyalah semut kecil yang dapat mereka injak sesuka hati kapan saja. Beberapa orang yang sedang berlatih di halaman pun perlahan berhenti dan menoleh ke arah mereka sambil berbisik-bisik memperbincangkan apa yang sedang terjadi.

Lin Mo berdiri diam di tempatnya. Ia tidak menunduk dan tidak pula marah. Ia hanya menatap Gao Feng dengan pandangan yang jernih dan tenang tanpa sedikit pun kebencian atau kemarahan. Lautan Qi di dalam perut bawahnya berdenyut lembut dan stabil. Energi Qi belum mengalir keluar dan belum berubah menjadi energi spiritual. Lin Mo tidak ingin menimbulkan keributan di hari-hari awal tinggal di sekte ini. Namun ia juga tidak akan membiarkan dirinya dipermalukan tanpa alasan yang benar.

Aku hanya sedang memperhatikan dan memahami apa yang dilihat ujar Lin Mo dengan suara yang tenang dan jelas. Aku belum memahami sepenuhnya segala hal yang diajarkan di sini. Oleh karena itu aku ingin memahaminya terlebih dahulu sebelum melakukannya. Jika aku salah memahami dan melakukannya dengan terburu-buru, maka yang ada justru akan merusak diriku sendiri.

Mendengar jawaban itu, Gao Feng tertawa semakin keras dan penuh penghinaan. Ia melangkah maju selangkah dan menatap tajam ke arah wajah Lin Mo.

Alasan yang indah sekali! teriak Gao Feng dengan suara yang keras. Kau takut saja! Kau takut terlihat lemah dan kalah oleh kami! Karena kau tahu bahwa meskipun kau beruntung saat ujian masuk, kemampuan aslimu sebenarnya jauh di bawah kami! Hari ini aku akan memberimu pelajaran agar kau tahu tempatmu yang sebenarnya!

Sambil berkata demikian, Gao Feng mengangkat tangan kanannya dan mengepalkan tangan erat. Energi Qi yang luas namun keruh mengalir deras menyusuri lengannya dan berubah menjadi energi spiritual yang berwarna abu-abu terang. Tanpa peringatan apa pun, ia langsung melesat maju dan mengepalkan tangannya kuat-kuat mengarah ke dada Lin Mo dengan niat jelas melukai pemuda itu hingga terluka parah di depan semua orang.

Para murid yang melihat serangan itu serentak berteriak kaget. Mereka yakin Lin Mo pasti akan terhempas jatuh dan terluka parah. Namun hal yang tak terduga pun terjadi. Saat kepalan tangan Gao Feng hampir menyentuh dada Lin Mo, lautan Qi di dalam perut bawah Lin Mo berdenyut lembut namun kokoh. Energi Qi mengalir perlahan menyusuri lengan kanannya tanpa terburu-buru dan tanpa berlebihan. Energi Qi itu menembus pori-pori kulit dan berubah menjadi energi spiritual yang berwarna putih keemasan yang murni dan padat. Lin Mo perlahan mengangkat tangan kanannya dan menangkis kepalan tangan itu dengan sisi lengannya secara sederhana dan tenang.

Dua kekuatan yang berbeda sifat dan asalnya bertemu di udara. Energi spiritual yang keruh dan kasar milik Gao Feng seketika terpecah dan terdorong mundur saat bersentuhan dengan energi spiritual yang murni dan jernih milik Lin Mo. Gao Feng terhuyung mundur beberapa langkah hingga akhirnya terpaksa menginjakkan kaki berkali-kali agar tidak jatuh terbalik. Wajahnya memucat seketika. Matanya terbelalak menatap Lin Mo dengan pandangan penuh ketakutan dan ketidakpercayaan. Ia merasakan dengan jelas bahwa energi yang baru saja menangkis serangannya itu jauh lebih murni dan jauh lebih dalam dibandingkan dengan energi yang ia miliki meskipun lautan Qi miliknya belum seluas miliknya.

Lin Mo tidak menyerang balik. Ia hanya berdiri diam di tempatnya. Tangan kanannya perlahan turun ke sisi tubuh. Energi Qi yang tadi mengalir keluar dan berubah menjadi energi spiritual perlahan kembali masuk ke dalam tubuh dan menyatu kembali dengan lautan Qi yang berdenyut tenang di perut bawahnya. Seakan tidak terjadi apa-apa selain angin yang lewat sebentar dan kemudian pergi kembali.

Aku tidak bermaksud melukaimu ujar Lin Mo dengan suara yang tenang namun tegas. Namun jika kau menyerangku tanpa alasan yang benar... aku terpaksa membela diriku sendiri. Aku tidak mencari musuh. Aku hanya ingin hidup tenang dan belajar. Katakan padaku... apakah belajar dan memahami terlebih dahulu sebelum melakukannya itu adalah hal yang salah?

Gao Feng menatap Lin Mo dengan napas yang memburu. Ia menatap telapak tangan kanannya yang terasa kesemutan dan nyeri hingga ke bahu. Ia menatap wajah Lin Mo yang tetap tenang dan damai tanpa sedikit pun tanda kemarahan atau kesombongan. Semua murid yang berdiri di halaman itu pun terdiam serentak. Mereka menatap Lin Mo dengan pandangan yang bercampur rasa heran dan rasa hormat yang baru saja muncul di dalam hati mereka. Tidak ada yang menyangka bahwa pemuda yang tampak lemah dan pendiam itu ternyata memiliki kekuatan yang begitu luar biasa dan ketenangan yang begitu menakutkan.

Gao Feng menggertakkan giginya kuat-kuat menahan rasa sakit dan rasa malu yang membakar dadanya. Ia menatap Lin Mo dengan pandangan penuh kebencian dan ancaman yang tak terucapkan. Namun ia tidak berani menyerang lagi. Ia tahu bahwa jika ia menyerang sekali lagi dan kalah, maka ia akan kehilangan seluruh kehormatannya di depan semua murid sekte. Dengan wajah yang merah padam karena amarah yang tertahan, Gao Feng akhirnya berbalik dan pergi meninggalkan tempat itu dengan langkah tergesa-gesa. Pengikut-pengikutnya pun segera berlari mengikutinya tanpa berani menatap mata Lin Mo sedikit pun.

Lin Mo berdiri diam di bawah pohon itu. Ia menatap punggung mereka yang pergi menjauh. Ia tidak merasa bangga dan tidak pula merasa puas. Ia hanya merasa sedih di dalam hatinya. Ia tidak ingin berkelahi dengan siapa pun. Namun tampaknya meskipun ia telah masuk ke dalam sekte yang besar ini, kedamaian yang ia cari masih belum mudah didapat. Selama orang-orang seperti Gao Feng dan Murong Hao masih menyimpan kebencian kepadanya, masalah pasti akan terus datang satu demi satu.

Namun Lin Mo tidak takut. Ia menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Cahaya matahari pagi menyinari tubuhnya yang berdiri tegak dan tenang. Di dalam perut bawahnya lautan Qi yang murni dan jernih terus berdenyut lembut dan abadi. Selama ia menjaga hatinya tetap jernih dan lautan Qi-nya tetap murni, maka ia siap menghadapi apa pun yang akan datang. Ia akan terus belajar, terus melatih diri, dan terus melangkah maju perlahan namun pasti menuju puncak yang jauh di atas sana.

 

1
Predi Siswanto
katanya mau memahami kekuatan yg baru di dpat kan kok malah prgi lagi ...AQ jadi curiga jangan jangan kepala Ator nya lagi eror🤣🤣
Arman: maaf jika ada cerita/alur yg kurang memuaskan tapi ini cerita yg bertahap kakak baru baca awal bab jadi wajar jika tokoh utama Masi lemah
total 1 replies
Predi Siswanto
tu kan makin letoy
Predi Siswanto
tambah letoy
Predi Siswanto
tu kan mulai letoy
Predi Siswanto
Alang kah hebat nya oi..jangan jangan begitu keluar langsung keok keok🤣🤣🤣
Alia Chans
ceritanya keren thor/Smile/
Arman: terima kasih pujian mu semangat ku💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!