Kisah Pendekar Pedang Langitan, merupakan petualangan Bagaga di Jawa Dwipa bersama Ngo Cian, gadis cantik yang mungil dari negeri Champa.
Bagaga di Jawa Dwipa lebih dikenal dengan Pendekar Pedang Langitan, karena itulah senjata yang selalu dia gunakan.
Bagaga dan Ngo Cian terlibat dalam upaya menyelamatkan kelahiran bayi suci yang membawa takdir langit atas tanah Jawa Dwipa dan Nusantara.
Semua berawal dari Bagaga mengalami peristiwa barasihan dan menerima wangsit dari Maharesi Pawitra alias Maharesi Semeru Anakan.
Banjir darah melanda Jawa Dwipa bagian timur karena perbedaan cara pandang para Maharesi dan juga para Penguasa.
Mari nikmati kisah Pendekar Pedang Langitan Bagaga dan Dewi Pengendali Api Ngo Cian menjelang kelahiran Ken Arok, bayi suci yang akan membawa takdir langit atas tanah Jawa Dwipa.
Seperti biasa. Pendekar Pedang Langitan adalah sekelumit kisah fiksi dengan latar belakang sejarah.
Terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heryando Palar Vinkoert, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Hancurnya Markas Gerombolan Rawa Belong
Ni Kirana menghela nafas. Dia memperbaiki pegangan gagang pedang nya. Gadis cantik itu mulai menata ulang kuda-kuda tempurnya. Dia membuka posisi kuda-kuda sederhana, namun sangat kuat.
Pedang Ni Kirana menunjuk lurus kedepan. Tangan kiri merentang dengan telapak tangan terbuka menghadap keluar. Walaupun terlihat sederhana, itu adalah kuda kuda pembukaan dari jurus jurus Pedhang maot.
Ini tidak akan mudah, saatnya mencoba jurus dua belas langkah ajaib dengan jurus Pedhang maot. Pikir Ni Kirana dalam hati.
"Tidak tahu malu. Enam orang pendekar bumi menyerang seorang gadis lemah. Apa kata orang rimba hijau dunia persilatan jika mereka tahu..." Ni Kirana berucap dengan nada satire.
Enam orang tingkat pendekar bumi itu tertegun sejenak. Namun salah seorang dari mereka kemudian berkata dengan nada penuh ejekan.
"Aku tahu kau mulai takut gadis kecil. Harusnya kau tidak ikut datang bersama yang lain. Sekarang bersiaplah untuk menerima kematian mu..."
"Yaa... Jika kau tewas disini siapa yang peduli dengan cara matimu ?" Rekan pria itu menambahkan.
"Hi hi hii hiii... Makhluk rendahan. Kalian majulah biar tuan putri ini mengantar mu bertemu maut."
"Banyak cincong...." Pria itu kembali berkata sambil menerjang ke arah Ni Kirana.
Ni Kirana menggunakan jurus dua belas langkah ajaib. Dengan sangat mudah Ni Kirana bisa menghindari. Dua serangan lain datang berturut turut. Kembali dengan mudah Ni Kirana menghindar.
Merasakan jurus dua belas langkah ajaib sangat luar biasa. Kepercayaan diri Ni Kirana meningkat. Dia mulai melakukan serangan balasan.
Enam anggota Gerombolan Rawa Belong menjadi sangat penasaran. Mereka menyerang dengan lebih intens. Namun jurus dua belas langkah ajaib memang sangat luar biasa.
Meskipun baru tingkat dasar. Tapi telah membantu Ni Kirana untuk mengimbangi enam orang lawannya. Bahkan disaat menghindar Ni Kirana bisa melakukan serangan balasan. Meski tidak mematikan. Namun empat orang dari lawannya telah dia lukai.
"Kawan kawan, robah pola serangan kita." Salah seorang dari anggota Gerombolan Rawa Belong yang mengerubuti Ni Kirana berseru.
Mereka langsung mundur dua langkah dan mengatur ulang kuda-kuda tempur mereka. Setelah itu mereka mulai melakukan serangan. Setiap kali menyerang, selalu tiga orang dari tiga sisi yang berbeda.
Awalnya Ni Kirana masih bisa menghadapi serangan dari lawan lawannya. Namun lama kelamaan tenaga Ni Kirana mulai berkurang. Secara bertahap dia mulai ditekan oleh enam orang itu.
Dari jauh Bagaga Alam tetap mengawasi pertarungan dari dua orang. Adipati Muncak Gede dan Ni Kirana.
Adipati pangeran Muncak Gede terlihat diatas angin. Dia mampu menekan lawan lawannya. Tapi berbeda dengan Ni Kirana. Gadis itu mulai terdesak, dia lebih banyak menghindar, menangkis dan mundur. Bahkan beberapa luka kecil sudah ada di tubuhnya.
Bagaga juga melihat Danang Wesi, Pati Maung Sakti dan Pati Muda Rajung Malapir sibuk dengan lawan lawannya.
Bagaga secara perlahan mengatur jarak pertarungannya dengan Ranggau Manusuk mendekati posisi pertarungan Ni Kirana.
Ketua Ranggau Manusuk terus mencecar Bagaga dengan serangan ganas yang sangat mematikan. Kujang pusaka darah terus berkelebat menghujam kearah Bagaga Alam.
Tiba-tiba satu serangan beruntun yang kuat dan cepat dilakukan oleh Ranggau Manusuk. Tusukan tajam ke ulu hati dan tebasan kilat kearah leher.
Bagaga Alam membuat langkah mundur dan menyerong ke kiri. Pusaka Pedang Langitan berkelebat menyambut tebasan kujang.
Traaaaaaang....!!
Ketua Ranggau Manusuk terdorong mundur tiga langkah. Bagaga Alam berputar, pada saat itu seorang lawan Ni Kirana menebas kearah dada Ni Kirana. Ni Kirana kaget dia baru saja menghindar dan menahan dua serangan. Tidak ada waktu lagi untuk mengatasi serangan yang datang. Tiba-tiba pria yang menyerang itu meledak dan hancur diawali dengan ledakan yang keras.
Blaaaaarrr....!!
Lima orang yang tersisa tertegun. Mereka bingung karena rekan mereka yang hampir berhasil membunuh Ni Kirana meledak begitu saja.
Ketua Ranggau Manusuk yang sempat melihat Bagaga Alam melakukan gerakan aneh sesaat sebelum anggota nya meledak. Dia terpana dan berkata dalam hati. Apakah itu pukulan tanpa ujud ?
Ni Kirana juga terkejut melihat orang yang menyerangnya tiba-tiba meledak. Tanpa sadar dia melirik kearah pertarungan Bagaga Alam. Namun saat itu Bagaga sudah kembali melihat kearah Ranggau Manusuk.
"Ranggau Manusuk, mari kita lanjutkan. Bersiaplah karena aku tidak akan segan segan lagi."
Usai berkata Bagaga Alam melesat dengan sangat cepat. Pusaka Pedang Langitan melesat berkelebat dalam jurus pedang awan bararak. Suara mengaum terdengar menggetarkan jiwa.
Ketua Ranggau Manusuk bersiap menyambut kedatangan serangan Bagaga Alam.
Traaaaaaang...! Traaaaaaang...!!
Suara benturan logam padat terdengar berulang kali. Setiap kali terjadi benturan, tangan ketua Ranggau Manusuk bergetar dan terasa kebas.
Secara bertahap Bagaga Alam menaikan persentase energi mendalam lewat Pusaka Pedang Langitan. Ranggau Manusuk heran. Setelah pertarungan berjalan lebih dari lima puluh jurus. Bukannya melemah, Pendekar Suling Perak malah semakin kuat.
Sehingga pada satu ketika, pusaka Pedang Langitan meliuk dan merobek paha Ranggau Manusuk. Ketua Gerombolan Rawa Belong itu terdorong mundur. Dia tidak lagi bisa berdiri dengan baik.
Luka yang sebenarnya tidak seberapa. Kini terasa panas seperti terbakar. Rasa sakit yang sangat menusuk terasa sangat menggangu. Bagian luka mulai membusuk karena racun aneh yang ada pada pusaka Pedang Langitan.
Ketua Ranggau Manusuk berdiri agak terpincang-pincang. Bagaga Alam tiba-tiba menghilang dan muncul persis didepan Ranggau Manusuk. Pusaka Pedang Langitan bagaikan kilat menembus dada Ketua Gerombolan Rawa Belong, Ranggau Manusuk.
Ranggau Manusuk tertegun dan menatap tidak puas kepada Bagaga Alam. Perlahan cahaya kehidupan hilang dari matanya. Wajahnya menunjukkan rasa sakit yang tidak tertahankan.
Tiba-tiba seseorang berteriak dengan keras. Suaranya terdengar bergetar dengan rasa putus asa.
"Ketua Ranggau telah tewaaass...!"
Semua anggota Gerombolan Rawa Belong tertegun. Semangat tempur mereka semua langsung hilang.
"Aku menyerah..."
"Kami menyerah..."
Semua membuang senjata dan langsung berlutut. Bagaga Alam menyerahkan semua urusan orang orang itu kepada Adipati Muncak Gede. Diperjalanan mendekati Ni Kirana.
"Telan ini Kirana." Bagaga Alam memberikan satu pil tanchi. Lalu menyuruh Ni Kirana untuk lakukan meditasi untuk menyerap khasiat pil.
Tanpa banyak bicara Ni Kirana langsung menerima dan menelan pil tanchi yang diberikan oleh Bagaga Alam. Dia mencari posisi yang cukup nyaman untuk melakukan meditasi.
Bagaga menemani Ni Kirana sejenak, kemudian dia ikut meditasi dekat gadis itu.
Waktu terus berjalan. Sore harinya semua bangunan markas Gerombolan Rawa Belong dibakar habis. Rombongan Adipati Muncak Gede kembali ke tenda mereka.
Malam itu Adipati Muncak Gede merayakan kemenangan mereka. Mereka mengadakan pesta menikmati tuak dan daging bakar.
Bagaga Alam mengeluarkan tiga kati arak tiochu yang ada dalam cincin semesta miliknya.
Semua orang bergembira. Semua orang merasa puas.
"Arak apa ini Tuan. Rasanya enak sekali." Danang Wesi bertanya kepada Bagaga Alam setelah menyesap arak tiochu satu teguk.
"Arak manis tiochu, ini aku bawa dari daratan Tionggoan. Kamu tidak mau mencoba Ni Kirana ?"
Ni Kirana tersenyum senang, dia meraih segelas arak manis tiochu yang diulurkan oleh Bagaga Alam.
"Tuan, anda ke negeri Tionggoan ? Bukankah itu negeri yang sangat jauh dan dikenal dengan negeri Atap Dunia ?"
\=\=\=\=\=***\=©