NovelToon NovelToon
Setelah Taksi Itu Berlalu

Setelah Taksi Itu Berlalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Perjodohan / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:12.2k
Nilai: 5
Nama Author: Selie Noris

Diabaikan oleh Arka—suaminya yang dingin—Kirana terbiasa menelan rasa sakit sendirian. Namun, sebuah kecelakaan tragis yang merenggut janinnya mengubah segalanya. Kirana yang manja dan cengeng mati di hari itu, berganti menjadi sosok wanita dingin dan mandiri yang membangun usahanya sendiri dari nol.

Saat Kirana mengembalikan fasilitas rumah tangga dan mengajukan perceraian, Arka baru tersadar dari kesalahannya. Pria yang dulu acuh kini harus meruntuhkan egonya dan mempertaruhkan segalanya demi mendapatkan kembali maaf serta cinta dari sang istri.




#NikahPaksa
#Penyesalansuami
#WanitaMandiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10 : Harapan Baru dalam Perut

Pagi-pagi sekali, aroma kopi hitam pekat kembali menguar samar di udara rumah besar keluarga Pratama, menandakan dimulainya rutinitas harian yang dingin dan kaku.

Di dalam kamar tamunya di lantai bawah, Kirana terbangun tanpa dilanda rasa panik atau mual hebat seperti hari-hari sebelumnya. Ia meregangkan otot-otot tubuhnya perlahan, lalu menyeka sisa kantuk dari matanya. Dengan gerakan hati-hati, tangan kanannya terulur meraba permukaan perut ratanya yang masih tertutup selimut katun.

Di tempat tersembunyi itu, di dalam ruang kecil di dalam tubuhnya, kini bersemayam sebuah denyut kehidupan mungil yang berusia sepuluh minggu.

Semenjak kunjungannya ke klinik beberapa hari lalu, dunia Kirana seolah bergeser porosnya. Rasa sakit hati akibat pengabaian Arka, sindiran pedas keluarga besar, hingga dinginnya aturan rumah tangga yang mengekang tidak lagi menjadi pusat gravitasi dalam hidupnya. Semua penderitaan itu kini meluruh, tersapu oleh kehadiran malaikat kecil yang memberikan arti baru bagi eksistensinya.

Namun, di balik kehangatan yang mulai merayap di dadanya, Kirana tetap seorang wanita yang rasional dan penuh perhitungan. Ia sadar betul siapa suaminya. Arka adalah pria yang terjebak dalam pernikahan paksa, seorang CEO perfeksionis yang memandang kelemahan dan ketergantungan sebagai sebuah beban. Jika ia mendadak melompat kegirangan dan mengatakan pada Arka bahwa dirinya sedang mengandung sekarang, apa reaksi suaminya?

Apakah Arka akan menyambutnya dengan pelukan hangat? Apakah pria itu akan mengelus perutnya dan mulai belajar mencintainya?

Hati kecil Kirana langsung menjawab dengan kepahitan yang realistis: *Tidak.*

Arka mungkin akan curiga. Pria itu bisa saja menganggap kehamilan ini sebagai taktik murahan seorang wanita manja untuk mengikatnya lebih erat, atau memandangnya sebagai beban tambahan yang semakin merusak kebebasan pribadinya. Arka tidak siap, dan rumah tangga mereka terlalu rapuh untuk menanggung beban emosional sebesar ini sekarang.

Karena itulah, di pagi yang tenang itu, Kirana membuat sebuah keputusan besar.

Ia memutuskan untuk merahasiakan kehamilannya. Ia akan menyimpan rahasia besar ini seorang diri sampai usia kandungannya menginjak tiga bulan—masa-masa krusial di mana kondisi janin telah benar-benar kuat dan stabil. Selama kurun waktu tersebut, ia ingin merawat dirinya sendiri, belajar berdiri di atas kakinya sendiri, dan melihat apakah kehadiran bayi ini perlahan-lahan bisa melunakkan hati Arka secara alami, atau setidaknya, memberikannya kekuatan untuk menghadapi badai apa pun di masa depan.

 

Hari-hari berikutnya berjalan dengan dinamika yang sunyi namun mengalami perubahan tak terlihat dari sisi Kirana.

Di meja makan, saat mereka berdua duduk berhadapan dalam keheningan pagi, Kirana tidak lagi memandang Arka dengan binar kekecewaan atau menuntut perhatian. Ia melayani suaminya dengan sikap sopan, tenang, dan sangat berjarak—layaknya seorang sekretaris profesional yang mengurus kebutuhan rumah tangga majikannya.

Arka, yang biasanya menikmati keheningan itu karena membuatnya merasa bebas dari drama, justru mulai merasa ada sesuatu yang janggal.

Pagi ini, saat Arka sedang menyesap kopi hitamnya sambil membaca sekilas laporan bisnis di tablet miliknya, ia tanpa sengaja melirik ke seberang meja. Kirana sedang menikmati semangkuk bubur gandum hangat dengan tambahan buah segar di piringnya. Tidak ada lagi roti panggang berat atau kopi manis; porsi makan pagi istrinya tampak jauh lebih sehat, diatur sedemikian rupa dengan vitamin-vitamin kehamilan yang diletakkan rapi di sebelah cangkir teh hangat.

Arka mengernyitkan dahi tipis. "Kamu tidak sarapan roti lagi?" tanya Arka tiba-tiba, suaranya terdengar datar namun memecah keheningan pagi untuk pertama kalinya setelah sekian minggu.

Kirana mendongak. Ia menatap Arka dengan tatapan tenang, tanpa ada binar gugup sedikit pun.

"Aku sedang ingin makan yang lebih sehat, Mas," jawab Kirana dengan nada suara yang sangat tenang dan terukur. "Pencernaan akhir-akhir ini sedikit sensitif."

Arka terdiam sejenak. Ia mengamati wajah Kirana lekat-lekat. Ada sedikit perubahan yang sulit dijelaskan—pipi istrinya tampak sedikit lebih berisi, dan ada rona kemerahan alami yang sehat di kulit wajahnya, jauh berbeda dari penampilan pucat pasi saat ia kehujanan di mal beberapa waktu lalu. Namun, karena tersita oleh kesibukan pikirannya tentang ekspansi perusahaan, Arka memilih untuk tidak memperpanjang obrolan itu.

"Terserah kamu," balas Arka dingin, lalu kembali menatap layar tabletnya. "Asalkan kamu tidak membuat keributan atau merepotkan Bi Inah di dapur."

"Tenang saja, Mas. Aku mengurus semuanya sendiri," jawab Kirana ringan.

Jawaban itu, yang diucapkan dengan senyuman tipis tanpa beban, justru membuat Arka merasa ada duri kecil yang menusuk dadanya. Dulu, Kirana pasti akan memanfaatkan kesempatan itu untuk merengek, meminta ditemani, atau mencari perhatian lebih. Tapi sekarang, wanita di hadapannya ini tampak begitu mandiri, begitu tertutup di dalam dunianya sendiri, hingga Arka merasa dirinya tersingkir sepenuhnya dari kehidupan istrinya.

 

Seminggu berganti menjadi sebulan, dan bulan pun mulai berjalan menuju penghujung trimester pertama.

Di dalam kamar tamunya, Kirana menjalani hari-hari kehamilannya dengan penuh ketekunan. Setiap malam, setelah memastikan rumah benar-benar sunyi dan Arka berada di ruang kerjanya di lantai atas, Kirana membuka buku-buku panduan kehamilan yang dibelinya secara daring. Ia membaca tentang perkembangan janin minggu demi minggu, mencatat apa saja makanan yang baik untuk pertumbuhan bayinya, dan rajin meminum vitamin yang diberikan dokter.

Perutnya yang tadinya rata kini mulai memperlihatkan sedikit perubahan—sebuah lengkungan kecil yang sangat lembut di balik pakaian longgar berpotongan longgar yang kini menjadi pilihan gaya ber busananya sehari-hari.

Setiap kali rasa mual atau lelah mendera, Kirana tidak lagi mengeluh kepada siapa pun. Ia mengelus perutnya lembut di dalam kamar yang terkunci rapat, membisikkan kata-kata penuh cinta kepada janin di dalam rahimnya.

"Sebentar lagi, Nak..." bisik Kirana malam itu, menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi sambil tersenyum tipis. "Sebentar lagi usia kandungan kita masuk tiga bulan. Ibu akan menjaga kamu, dan kita akan tunjukkan pada dunia—terutama pada ayahmu—bahwa kita bisa kuat berdiri sendiri."

Di balik tembok-tembok megah rumah keluarga Pratama, Kirana tengah merajut sebuah harapan baru. Kehamilan itu bukan lagi sekadar rahasia medis, melainkan sebuah benteng pertahanan jiwa. Ia berharap, ketika saatnya tiba nanti—ketika rahasia ini akhirnya terungkap di hadapan Arka—kehadiran bayi ini mampu merobohkan dinding es yang memisahkan mereka, mengubah kebencian dan ketidakpedulian menjadi kehangatan sebuah keluarga yang utuh.

Namun, Kirana belum tahu, bahwa takdir memiliki jalan ceritanya sendiri—jalan terjal yang harus dilalui lewat sebuah tragedi mematikan sebelum es di hati sang CEO benar-benar hancur lebur.

1
putmelyana
semangat thor 💪
Selie Noris: Kak, terima kasih ya.... ♥️
total 1 replies
Selie Noris
♥️♥️♥️
Sulicungliieee
ડɑ𝗍υ ƙɑ𝗍ɑ υ𐓣𝗍υƙოυ ɑ𝗋ƙɑ.......ડυ𝗈𝗈ƙ𝗈𝗋𝗋𝗋𝗋𝗋.....
Selie Noris: Kak, makasih sudah mampir....
total 1 replies
Yusria Mumba
seorang wanita kalau sudah sakit hatiny, susah d, obati,
Selie Noris: Kak, terima kasih sudah mampir. ♥️
total 1 replies
Yusria Mumba
nyesalkan sudah terlambat,
Selie Noris: Kak, terima kasih sudah mampir. ♥️
total 1 replies
Yusria Mumba
ti galon ajasumi kaya gitu,
Selie Noris: Kak, terima kasih sudah mampir. ♥️
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!