NovelToon NovelToon
Suami Super Cool Berseragam Loreng

Suami Super Cool Berseragam Loreng

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Menikahi tentara
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Sarif adalah lelaki yang diajukan sebagai calon suami Ratna dalam perjodohan keluarga, tetapi karena ia menolak, akhirnya dialihkan pada sepupunya Tara.

Gadis yang baru satu tahun lulus SMA itu menerima dengan suka cita sebab ia menghindari dikirim keluar kota untuk kuliah.

Tara: Jodoh itu misterius, dia yang tenang untuk aku yang darderdor

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21

Malam terakhir bulan madu, Sarif dan Tara duduk berdampingan di balkon kamar hotel. Angin malam berembus pelan, sementara lampu-lampu kota berkilauan di kejauhan. Setelah beberapa saat menikmati keheningan, Sarif memecah suasana. "Tara."

"Hm?"

"Aku mau kasih kamu hadiah pernikahan."

Tara langsung menoleh dengan mata berbinar. "Hadiah?"

"Iya. Mau apa?"

Tara berpikir sejenak. Sarif mengira istrinya akan meminta perhiasan, tas, atau mungkin liburan lagi. Namun, beberapa detik kemudian Tara justru tersenyum kecil. "Boleh minta apa saja?"

"Boleh."

Tara mengangguk mantap. "Kalau gitu...Aku mau dibuatkan warung di samping rumah Nenek. Itu tanahnya ayah."

Sarif mengernyit. "Warung?"

"Iya. Buat Ibu." Tara melanjutkan dengan suara pelan. "Selama ini Ibu capek sekali. Pagi bikin kue. Siang masak katering. Sore belanja lagi. Malam kadang masih menyelesaikan pesanan. Kalau lagi sakit pun tetap memaksakan diri bekerja." Tara menunduk. "Aku ingin Ibu punya tempat usaha sendiri. Nggak usah besar. Warung kecil saja. Biar beliau nggak perlu muter kampung menawarkan dagangan kalau sedang nggak ada orderan."

Sarif memandangi wajah istrinya tanpa berkedip. Ia benar-benar tidak menyangka. "Tidak mau emas?"

Tara menggeleng. "Tidak."

"Perhiasan? Atau Mobil?"

"Nggak juga."

Sarif tersenyum tipis, lalu menggenggam tangan istrinya. "Permintaan itu kita wujudkan."

Mata Tara langsung membesar. "Serius?"

"Iya. Bukan hanya warung, kita bangun pelan-pelan, dan kita bantu Ibu sampai usahanya berjalan."

Tara spontan memeluk suaminya. "Terima kasih, Bang."

Sarif membalas pelukan itu sambil tersenyum. "Mulai hari ini, ibumu juga ibuku. Kebahagiaan beliau adalah tanggung jawab kita berdua."

Untuk pertama kalinya sejak menikah, Tara menangis bukan karena sedih, melainkan karena rasa syukur. Ia merasa Allah bukan hanya menghadiahkan seorang suami yang baik, tetapi juga seorang teman hidup yang memahami bahwa cinta kepada pasangan tidak pernah mengurangi bakti kepada orang tua. Di bawah langit malam yang tenang, mereka pun bersepakat bahwa rumah tangga yang sedang mereka bangun harus menjadi jalan untuk membahagiakan lebih banyak orang, dimulai dari ibu yang telah berjuang tanpa lelah.

Usai membicarakan rencana membangun warung untuk Bu Nina, suasana kembali hening. Tara masih menggenggam tangan Sarif dengan senyum yang tak kunjung hilang. Baginya, hadiah itu sudah lebih dari cukup.

Namun rupanya, Sarif belum selesai..Ia merogoh dompetnya, lalu mengeluarkan sebuah kartu ATM..Tanpa banyak bicara, kartu itu diletakkan di telapak tangan Tara.

Tara berkedip bingung. "Bang, ini?"

"Kartu ATM."

"Aku tahu ini kartu ATM, Maksudku, kenapa dikasih ke aku?"

Sarif menatap istrinya dengan tenang. "Mulai hari ini, kamu yang mengatur keuangan rumah tangga kita."

Tara langsung menggeleng cepat. "Lho, jangan. Aku takut salah."

Sarif tersenyum tipis. "Aku percaya sama kamu. Dari pertama kali bertemu, aku melihat satu hal yang jarang dimiliki orang. Kamu pandai merasa cukup."

Kalimat itu membuat Tara terdiam.

"Kamu tidak pernah meminta yang berlebihan. Bahkan hadiah pernikahanmu bukan untuk dirimu sendiri. Tapi untuk ibumu. Orang yang lebih memikirkan keluarganya daripada dirinya sendiri biasanya akan berhati-hati menggunakan amanah." Sarif tersenyum hangat. "Itu rezeki kita."

Tangan Tara sedikit gemetar saat menggenggam kartu ATM tersebut.

Bagi Sarif, kartu ATM itu hanyalah selembar benda kecil. Namun kepercayaan yang ia titipkan melalui kartu tersebut adalah simbol bahwa sejak hari itu mereka tidak lagi berjalan sendiri-sendiri. Semua rezeki, semua perjuangan, dan semua impian akan mereka kelola bersama sebagai pasangan yang saling percaya dan saling menguatkan.

Tara masih membolak-balik kartu ATM yang baru saja diberikan Sarif. Matanya menyipit penuh rasa ingin tahu, seolah sedang meneliti benda berharga peninggalan zaman kerajaan. "Bang, Ngomong-ngomong, Abang ini nasabah prioritas, ya?"

Sarif mengangkat alis. "Kok tahu?"

Tara menunjuk kartu ATM di tangannya. "Soalnya warnanya beda. Setahuku kartu kayak gini buat nasabah prioritas." Meski ATM Tara isinya keluar masuk terus alias kosong, tapi ia juga tahu ada yang namanya nasabah prioritas. Bahkan Bibi Ani sering membahas itu dengan pamannya. Keinginan terbesar bibinya itu agar bisa menjadi nasabah prioritas sebuah bank.

Ia lalu menatap Sarif dengan mata berbinar. "Berarti,"

Sarif sudah bisa menebak ke mana arah pikiran istrinya. "Berarti apa?"

"Berarti uangnya banyak dong?"

Sarif tertawa pelan. "Yang kamu pikirin itu, ya?"

"Hehe." Tara nyengir tanpa rasa bersalah. "Kan aku cuma memastikan."

"Memastikan apa?"

"Kalau nanti aku belanja, ATM ini ada isinya, nggak kayak ATM aku yang nggak ada isinya, saking kosongnya sampai minus kepotong biaya admin."

Sarif menggeleng geli. "Kamu lucu."

"PIN ATM-nya tanggal lahir aku bukan?"

Sarif menatapnya sambil menahan senyum. "Belum."

Tara langsung mendengus kecil. "Yah, berarti romantisnya masih perlu ditingkatkan."

Sarif tertawa, lalu mengambil kembali kartu ATM itu sejenak. "Kalau begitu, besok kita ke bank."

"Buat apa?"

"Ganti PIN."

Mata Tara langsung berbinar. "Jadi pakai tanggal lahir aku?"

Sarif menggeleng. "Bukan. Pakai kombinasi yang aman. Mulai sekarang nggak boleh sembrono, sayang. Demi keamanan kita."

"Ih, Bapak Perwira." Tara langsung mengangkat kartu ATM itu tinggi-tinggi sambil tersenyum lebar. "Siap! Bendahara resmi keluarga Sarif mulai bertugas. Semoga saldo, rezeki, dan keberkahannya sama-sama terus bertambah."

Keduanya pun tertawa bersama. Bagi mereka, kebahagiaan malam itu bukan terletak pada warna kartu atau besar kecilnya saldo, melainkan pada rasa saling percaya yang menjadi fondasi awal rumah tangga mereka.

***

Beberapa hari setelah bulan madu berakhir, Sarif mengundang seorang pemborong untuk melakukan pembangunan di atas tanah ayahnya Tara. Dari desain yang akan dibangun nanti, ternyata tak hanya sebuah warung sederhana, tetapi ruko yang cukup untuk sekalian tempat tinggal.

"Rencananya, nanti ibu bisa mempekerjakan karyawan sehingga ibu tidak perlu terlalu lelah bekerja. Makanya kita sediakan beberapa kamar untuk karyawan. Dapurnya juga kita buat lega agar yang memakainya betah." Sarif menjelaskan.

Tara hanya mengangguk. Seumur hidup belum pernah terpikirkan akan membangun sebuah ruko. Ia hanya berani bermimpi punya warung kecil.

Sarif mengusap pelan kepala istrinya. "Aku hanya ingin Ibu tidak terlalu lelah lagi."

Tak lama kemudian mereka mengajak Bu Nina untuk bergabung membicarakan masalah desain yang sudah disiapkan Sarif. "Semoga bisa menjadi tempat usaha yang membawa keberkahan."

Bu Nina tak mampu berkata-kata. Tangannya gemetar saat menerima map berisi dokumen tersebut. Ia memandang menantunya berkali-kali, seolah masih belum percaya. Sementara Tara hanya memeluk ibunya sambil ikut menangis bahagia.

Kabar itu tentu menyebar sangat cepat ke seluruh keluarga besar. Di ruang tamu rumah Nenek Bani, semua orang membicarakannya.

"Katanya Sarif membangunkan ruko. Bukan cuma warung?"

"Iya, ruko."

"Masya Allah," Nenek Bani hanya tersenyum tipis. Dalam hati ia bersyukur karena pilihannya dulu ternyata tidak salah.

1
Inde Hara
Inde Hara
InshaAllah ✓
Inde Hara
🤣🤣🤣🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!