Alena menikah dengan Hendra meski tak direstui keluarganya karena dianggap miskin. Selama lima tahun ia dihina, dianggap mandul, dan hanya diberi satu juta rupiah sebulan untuk kebutuhan rumah. Saat Alena mulai berusaha bangkit, tekanan ibu mertua membuat Hendra akhirnya berselingkuh. Alena memilih bertahan, hingga ia menemukan jalan untuk membuktikan dirinya dan membalas semua perlakuan yang menyakitkan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERKARA RUJAK
setelah beberapa menit Hendra kembali membawa tiga bungkus rujak buah segar yang aromanya langsung tercium begitu ia masuk ke rumah.
"Bu, Dinda... Aku beli rujak kesukaan kalian. Siapa tahu kalian juga mau makan bareng," kata Hendra sambil meletakkan bungkusan itu di meja makan.
Belum sempat Bu Sari dan Dinda mendekat, Siska langsung datang menghampiri dengan cepat. Ia menyambar ketiga bungkus itu sekaligus.
"Wah, kebetulan sekali! Ini kan rujak yang paling aku suka," seru Siska sambil tersenyum lebar.
"Lho, itu kan dibeli buat kita semua juga, Siska," kata Dinda pelan.
"Kalian mau juga? Maaf ya, aku memang paling suka rujak merek ini. Kalau kurang banyak nanti aku malah tidak puas makannya. Jadi semuanya buat aku saja ya," ujar Siska tanpa rasa bersalah, lalu duduk di kursi paling nyaman dan mulai membuka bungkusnya.
Ia makan dengan lahap, bahkan tidak sekalipun menoleh atau menawari sedikit pun kepada Bu Sari maupun Dinda yang hanya berdiri menatap dari pinggir meja.
Bu Sari mulai tidak terima melihat tingkah menantunya.
"Siska, kamu itu bagaimana sih? Hendra beli tiga bungkus itu maksudnya buat dibagi-bagi. Kamu malah ambil semuanya !" tegur Bu Sari dengan nada tinggi.
Siska berhenti mengunyah sebentar,kemudian menatap sinis ke arah Bu Sari.
"Bu, Ibu jangan cerewet sekali deh! Aku kan udah bilang kalau aku suka rujaknya, jadi harus sedia banyak. Kenapa Ibu harus ikut campur urusan perutku sih? Sudah tua-tua begitu masih saja mau berebut makanan dengan orang lain," jawab Siska ketus.
"Kamu Nggak ada ada tata kerama nya sama sekali kalau ngomong ?!" Bu Sari gemetar menahan marah. "Kamu ini tidak tahu sopan santun sama sekali!"
"Ah, menyebalkan sekali Ibu ini! bisanya cuman Cerewet terus dari tadi," gumam Siska pelan namun terdengar jelas. "Pusing aku dengar suara Ibu."
Hendra yang melihat dan mendengar semuanya langsung naik pitam. Ia melangkah cepat mendekati Siska, tangannya terangkat tinggi hendak menampar wajah istrinya.
"Kamu bilang apa?! Minta maaf sama Ibu sekarang!" bentak Hendra dengan wajah merah padam.
Siska tidak tampak takut sedikit pun. Ia justru mundur selangkah, lalu mendongakkan wajahnya menantang.
"Tampar saja kalau berani! Kamu kira aku takut?" tantang Siska sambil menempelkan pipinya sendiri.
Tangan Hendra bergetar hebat di udara. Ia menatap mata Siska yang penuh keberanian itu, lalu dengan kasar ia melemparkan tangannya ke arah lain hingga berdentang keras di meja.
Hendra berbalik membuang muka, napasnya memburu menahan emosi yang meluap-luap.
Siska tertawa kecil sinis, lalu bangkit berdiri. Ia langsung berjalan masuk ke kamar dengan santai, meninggalkan mereka yang masih kaget di ruang tengah.
Tak lama kemudian, Siska keluar lagi dengan penampilan rapi, memakai baju bagus dan tas sudah tersampir di bahu. Ia berjalan menuju dapur, mengambil ketiga bungkus rujak yang belum habis itu, lalu menyimpannya di dalam lemari es dengan rapat.
Setelah itu ia kembali ke ruang tengah.
"Kalian dengar ya, jangan ada yang berani menyentuh atau memakan rujak itu. Itu milikku," ucap Siska dingin, lalu berjalan menuju pintu keluar.
"Mau kamu kemana?" tanya Hendra pelan.
Siska hanya mendengus kasar, membuang muka tanpa menjawab sepatah kata pun. Ia membanting pintu keluar begitu saja.
Hendra menghela napas panjang, lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Rasanya lelah sekali menghadapi sikap istrinya belakangan ini.
"Aku berangkat kerja dulu," ucap Hendra pelan, lalu mengambil tasnya dan pergi meninggalkan rumah.
Begitu suara mesin mobil menghilang, Bu Sari langsung duduk di kursi dengan wajah kecewa.
"Dinda, kamu lihat sendiri kan tingkahnya? Ibu tidak pernah menyangka dia akan sejahat dan seegois itu," keluh Bu Sari dengan suara bergetar.
"Iya Bu... Dinda juga tidak menyangka. Dulu Kak Alena tidak pernah begini, kalau ada makanan enak pasti selalu dibagi-bagi sama Ibu sama Dinda," tambah Dinda tak kalah kesal.
Bu Sari mengusap dadanya yang terasa sesak. "Benar katamu, Nak. Andai saja waktu itu Hendra tidak menuruti kemauan Ibu... Mungkin sekarang hidup kita tidak akan serumit ini."
LANJUT NGGAK NIH. KOK SEPIH BANGET SIH YANG LIKE ADA YANG BACA NGGAK YAH, KOMENT DAN LIKE DONG.. HEHE MAKASI BIAR AUTHOR TAU KALAU ADA YANG BACA DAN SETIA NGIKUTIN ALURNYA