Demi menyelamatkan keluarganya, Alina terpaksa menerima pernikahan kilat dengan pria asing yang bahkan belum sempat ia kenal. Ia mengira pernikahan itu hanya formalitas, hingga hari pertama bekerja di perusahaan impiannya mengubah segalanya.
Pria dingin yang duduk di kursi CEO itu ternyata adalah suaminya sendiri.
Di depan semua orang, pria itu bersikap seolah mereka orang asing. Namun diam-diam, ia selalu melindungi Alina dari setiap fitnah dan bahaya yang mengintainya. Saat identitas mereka akhirnya terbongkar, rahasia besar, perebutan kekuasaan, dan pengkhianatan mulai mengancam rumah tangga mereka.
Mampukah cinta tumbuh di balik pernikahan yang dipenuhi rahasia? Atau justru semuanya akan berakhir sebelum benar-benar dimulai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan Berkas
Pagi itu, suasana di divisi Pemasaran terasa sedikit lebih tegang dari biasanya. Minggu pertama Alina bekerja berlalu cepat, dan ia mulai terbiasa dengan ritme kerja korporasi yang serba cepat. Namun, kehadiran sosok baru di kubikel eksekutif di ujung ruangan mengubah atmosfer kerja menjadi jauh lebih intimidatif.
Clara melangkah masuk dengan senyum lebar yang memancarkan kepuasan. Di belakangnya, dua orang petugas kurir tampak kerepotan membawa tiga karangan bunga papan berukuran besar yang dihiasi bunga teratai putih dan mawar impor. Bunga-bunga itu diletakkan tepat di area penerima tamu divisi Pemasaran.
"Wah, selamat ya, Mbak Clara!" seru Siska yang baru saja datang membawa cangkir kopinya. "Karangan bunganya bagus-bagus banget. Dari siapa nih?"
Clara merapikan rambut bergelombangnya yang terurai sempurna, menepuk-nepuk tangannya pelan dengan gaya yang dibuat-buat. "Oh, itu ucapan selamat dari para kolega dan mitra bisnis atas keberhasilanku memenangkan tender promosi untuk proyek perumahan mewah Dirgantara Estate kemarin. Sebenarnya biasa saja, tapi mereka memaksa ingin mengirimkannya ke kantor."
"Hebat banget! Memang cuma Mbak Clara yang bisa menangani klien kelas atas," puji pegawai lain yang ikut berkumpul.
Clara tersenyum tipis, tetapi sorot matanya memancarkan kebanggaan yang nyaris berubah menjadi kesombongan. Ia melangkah perlahan mengelilingi karangan bunga itu, seolah sengaja memberi kesempatan kepada semua orang untuk mengaguminya.
"Memang tidak semua orang bisa menangani klien sekelas Dirgantara Estate," ucapnya sambil menyilangkan tangan di dada. "Butuh pengalaman, relasi, dan kemampuan negosiasi yang tinggi. Bukan sekadar semangat kerja."
Beberapa karyawan mengangguk, sementara yang lain hanya saling berpandangan. Clara menikmati setiap tatapan kagum yang mengarah kepadanya.
"Aku sudah berkali-kali dipercaya mengurus proyek bernilai miliaran. Jadi, saat klien meminta namaku secara langsung, aku juga tidak terlalu terkejut," lanjutnya dengan nada penuh percaya diri. "Mereka tahu kualitas kerjaku tidak mengecewakan."
Ia kemudian melirik ke arah meja Alina yang sedang sibuk memeriksa dokumen. Senyum tipis muncul di bibirnya, tetapi tatapannya dipenuhi sindiran.
"Makanya, bekerja di perusahaan sebesar ini bukan cuma soal diterima. Bertahan dan diakui itu yang sulit. Banyak karyawan baru datang dengan semangat tinggi, tapi akhirnya menyerah karena tidak sanggup mengikuti standar perusahaan."
Beberapa pegawai tertawa kecil, memahami ke mana arah ucapan itu.
Clara kembali mengangkat dagunya. "Kalau mau sukses di sini, jangan hanya mengandalkan keberuntungan. Prestasi harus dibuktikan. Lihat saja bunga-bunga ini. Semua ini bukan hadiah biasa, melainkan bukti bahwa namaku sudah dikenal di dunia bisnis."
Ia mengusap pita emas yang melilit salah satu karangan bunga dengan ekspresi puas.
"Jujur saja, aku sudah terbiasa mendapat perlakuan seperti ini. Bahkan beberapa mitra bisnis sering bilang, kalau proyek tidak ditangani Clara, mereka jadi ragu untuk melanjutkan kerja sama."
Ucapan itu membuat sebagian rekan kerja semakin mengaguminya, sementara sebagian lain mulai merasa risih. Cara Clara memuji dirinya sendiri terdengar berlebihan.
Namun, Clara sama sekali tidak peduli. Baginya, perhatian, pujian, dan rasa kagum dari orang-orang di sekitarnya adalah sesuatu yang memang pantas ia terima. Ia berdiri dengan kepala tegak, menikmati setiap detik dirinya menjadi pusat perhatian, seolah seluruh divisi Pemasaran hanya berputar mengelilingi kesuksesannya.
Alina hanya menyaksikan pemandangan itu dari balik layar komputernya. Ia tidak berniat ikut campur atau bergabung dalam lingkaran kekaguman tersebut. Fokusnya pagi ini adalah menuntaskan berkas evaluasi anggaran Pemasaran Kuartal II yang harus diserahkan kepada Mbak Maya sebelum jam makan siang.
Saat Alina sedang sibuk memindahkan data ke dalam sistem lembar kerja, sebuah bayangan tinggi melingkupi meja kerjanya. Alina mendongak dan menemukan Clara sedang berdiri tegak, menyilangkan kedua tangan di dada dengan pandangan mata yang meremehkan.
"Alina," panggil Clara dengan nada perintah yang tidak bisa dibantah.
"Iya, Mbak Clara? Ada yang bisa saya bantu?" sahut Alina ramah, menghentikan ketikannya.
Clara meletakkan sebuah map tebal berwarna merah menyala di atas meja Alina dengan bunyi "thud" yang lumayan keras. "Ini berkas proyeksi biaya kampanye media untuk peluncuran unit bisnis baru bulan depan. Aku mau kamu merekap ulang semua angka di dalamnya, cetak tiga rangkap, dan pastikan sudah siap sebelum pukul dua siang."
Alina mengerutkan dahi, menatap tumpukan lembaran di dalam map merah tersebut. "Maaf, Mbak Clara, tapi Mbak Maya tadi minta saya menyelesaikan rekapitulasi anggaran Kuartal II dulu sebelum jam sembilan belas. Apakah berkas ini sudah dikonfirmasi oleh Mbak Maya?"
Mata Clara menyempit, kilatan kekesalan melintas sejenak di balik riasan matanya yang tebal. "Kamu mempertanyakan tugasku, Alina? Aku ini Senior Marketing Executive di sini. Maya itu cuma kepala administrasi, sementara berkas yang kupegang ini langsung berkaitan dengan rapat direksi sore nanti bersama Pak Devan. Kalau sampai rapat itu berantakan karena kamu lambat, kamu mau bertanggung jawab?"
Mendengar nama Devan disebut, Alina terdiam. Ia tidak ingin memicu drama atau menarik perhatian yang tidak perlu di hari-hari pertamanya bekerja.
"Baik, Mbak Clara. Saya akan kerjakan sekarang," ucap Alina akhirnya, memilih untuk mengalah.
"Bagus. Ingat, angka-angkanya harus presisi. Jangan bikin malu divisimu di depan Pak Devan," cetus Clara sebelum berbalik pergi dengan langkah angkuh, melintasi karangan bunga teratai miliknya yang harum menyorot.
Alina menarik napas panjang dan mulai membuka map merah itu. Namun, baru membaca lembar pertama, firasatnya langsung merasa ada yang janggal. Format penyusunan angka dividen dan beban biaya operasional di dalamnya tampak sangat acak-acakan.
Ada beberapa ketidaksesuaian tajam antara penjumlahan di kolom kiri dan total neraca di bagian bawah. Ini bukan sekadar berkas kasar, melainkan draf yang penuh dengan kesalahan fatal.
("Apakah Mbak Clara sengaja tidak memeriksanya, atau ... ini sengaja diserahkan padaku?") bisik batin Alina ragu.
Ia menggelengkan kepala, mencoba membuang pikiran buruk. Alina memilih untuk bersikap profesional. Jika ada kesalahan angka, tugasnya adalah mengoreksinya berdasarkan dokumen induk yang tersimpan di server internal perusahaan. Dengan tekun dan teliti, Alina memeriksa baris demi baris, mencocokkan setiap kode transaksi, dan memperbaiki formula perhitungan yang salah.
Selama hampir tiga jam penuh, Alina membenamkan diri dalam tumpukan angka tanpa memedulikan rasa pegal di lehernya maupun panggilan istirahat makan siang dari Siska. Baginya, ketelitian adalah satu-satunya benteng pertahanan yang ia miliki di tempat kerja yang penuh intrik ini.
Pukul satu siang lewat empat puluh lima menit. Alina selesai mencetak tiga set dokumen yang telah dirapikan dan dijilid dengan sangat rapi. Ia melangkah menuju meja Clara untuk menyerahkan hasil kerjanya.
"Mbak Clara, ini berkas proyeksi media yang diperintahkan tadi. Sudah saya rekap ulang dan koreksi beberapa kesalahan penjumlahannya," ujar Alina sambil menyerahkan folder tebal itu.
Clara yang sedang memoles lipstik di depan cermin kecilnya melirik berkas itu sekilas tanpa mengucapkan terima kasih. "Taruh saja di sana. Nanti aku bawa ke ruang rapat."
"Baik, Mbak."
Ketika Alina kembali ke kursinya, ia tidak menyadari bahwa begitu ia membalikkan badan, Clara meraih salah satu jilid dokumen tersebut dan tersenyum licik. Wanita itu membuka selipan tengah halaman, mencabut tiga lembar lembaran kalkulasi anggaran utama yang telah dikoreksi Alina, lalu menggantinya kembali dengan lembaran draf lama yang masih berisi angka kesalahan fatal.
Clara kemudian mengancingkan kembali map tersebut dan berdiri dengan anggun.
("Kita lihat sejauh mana kamu bisa bertahan di sini, gadis kampung,") batin Clara penuh dengki.
Bagi Clara, kehadiran Alina yang tenang, polos, namun terampil telah menyita sedikit perhatian yang biasanya terpusat padanya. Apalagi, Clara sempat melihat Devan secara tidak sengaja menatap ke arah kubikel Alina pada kunjungan singkat kemarin, sebuah tatapan yang tak pernah Devan berikan padanya selama dua tahun bekerja di sana.