"Dikhianati istri, diperas mertua, membesarkan anak yang bukan darah dagingnya.
Raka Pratama hidup bak budak — sampai ia terlahir kembali dengan Sistem Cashback 10x. Sekarang, setiap rupiah yang ia habiskan kembali sepuluh kali lipat.
Perceraian? Ia yang memulai. Konglomerat yang mengancam? Hancur. Pejabat korup? Ditangkap hidup-hidup. Dari nol menuju jajaran orang terkaya dunia — ini bukan dongeng. Ini balas dendam.
"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galih Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 30 - Tak Gentar
"Cari tahu semua kelemahan si Raka itu. Aku mau dia hancur."
Perintah Kevin menyebar lebih cepat daripada undangan bisnis.
Dua hari setelah ia datang ke Garuda Shield, beberapa vendor yang sebelumnya ramah mendadak meminta penjadwalan ulang. Satu calon klien yang sudah hampir menandatangani kontrak pengamanan gudang tiba-tiba berkata perlu "persetujuan keluarga". Seorang kenalan Adi dari dunia properti mengirim pesan pendek: hati-hati, nama Raka mulai disebut di beberapa meja yang tidak terlihat.
Adi membaca semua itu di ruang kerja villa, wajahnya makin lama makin muram.
"Kevin tidak menyerang dari depan dulu," katanya. "Dia bikin orang ragu. Kalau orang ragu, kontrak mundur. Kalau kontrak mundur, reputasi kita belum sempat tumbuh."
Raka menuang kopi tanpa tergesa. "Berarti dia tahu Garuda Shield masih muda."
"Dan dia mencoba menekan titik itu."
"Bagus," kata Raka.
Adi menatapnya. "Bos, kadang cara berpikir Anda bikin saya ingin cek tekanan darah."
Raka tersenyum tipis. "Kalau dia menyerang terlalu cepat, berarti dia merasa terganggu. Kita cukup muncul di tempat yang membuat rumor tidak punya ruang."
Tempat itu datang lewat undangan dari Sari.
Malam amal dan jejaring bisnis di sebuah hotel bintang lima Surabaya: pengusaha properti, pemilik pabrik, pemimpin komunitas bisnis, beberapa pejabat daerah, dan media lokal. Nama acaranya terdengar lembut, Forum Sinergi UMKM dan Investasi Kota. Namun semua orang tahu, di tempat seperti itu, senyum lebih bernilai daripada brosur, dan siapa berdiri di samping siapa bisa menjadi berita tanpa ditulis.
Sari menelepon langsung.
"Mas Raka, saya dengar ada yang mencoba membuat orang menjauh dari Anda."
"Kabar bergerak cepat."
"Di dunia bisnis, kabar bergerak lebih cepat daripada invoice," jawab Sari. "Datanglah malam ini. Jangan datang sembunyi-sembunyi. Kalau Mas Raka memang ingin Garuda Shield naik kelas, biarkan orang melihat Anda tidak takut."
Raka melihat undangan digital di layar.
"Kamu yakin mau berdiri dekat saya?"
Di seberang telepon, Sari tertawa pelan. "Saya biasanya berdiri dekat peluang. Bedanya, kali ini peluangnya bisa membalas telepon dengan suara tenang."
Malam itu, Raka datang bersama Adi. Ia tidak membawa rombongan besar. Hanya satu pengemudi dan satu anggota keamanan di luar hotel. Di ballroom, cahaya hangat jatuh dari lampu kristal. Meja-meja bundar tersusun rapi. Pria berjas dan wanita bergaun berbicara sambil menimbang nilai satu sama lain dari jam, sepatu, cara berdiri, dan nama yang disebut.
Begitu Raka masuk, beberapa percakapan melambat.
Ia melihatnya jelas. Ada orang yang ingin mendekat, tetapi menahan langkah. Ada yang tersenyum dari jauh, lalu pura-pura memeriksa ponsel. Ada pula yang berbisik setelah melihat Adi di sampingnya.
Kevin tidak hadir di tengah ruangan, tetapi bayangannya sudah lebih dulu menyewa beberapa sudut.
Adi berbisik, "Efeknya nyata."
"Biarkan."
Raka berjalan ke meja registrasi, menandatangani daftar tamu, lalu menyumbang secara resmi untuk program pelatihan UMKM yang menjadi tema acara. Nilainya cukup besar untuk membuat panitia menoleh dua kali: Rp 2 miliar melalui rekening yayasan acara, tercatat, diumumkan, dan diarahkan untuk pelatihan keamanan toko kecil, literasi keuangan, serta bantuan sertifikasi usaha.
Panel biru muncul sekejap.
[Pengeluaran legal terdeteksi: Rp 2.000.000.000.]
[Cashback 10x diproses.]
[Rp 20.000.000.000 telah masuk ke rekening host.]
[Saldo saat ini: Rp 492.354.633.900.]
Raka menutup ekspresinya seperti menutup pintu. Di luar, pembawa acara sudah menerima catatan donasi dari panitia.
"Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Pak Raka dari Garuda Shield atas dukungan untuk pelatihan keamanan UMKM."
Nama itu menggema lewat speaker.
Beberapa kepala menoleh.
Sari muncul dari sisi panggung, memakai kebaya modern berwarna biru tua. Ia berjalan mendekati Raka tanpa ragu, seolah semua bisikan tidak memiliki harga. Di tangannya ada gelas air mineral, bukan wine, dan senyumnya tajam seperti orang yang tahu persis permainan ruangan.
"Mas Raka," katanya cukup keras untuk didengar sekitar, "terima kasih sudah datang. Program UMKM ini memang butuh orang yang tidak cuma bicara soal perlindungan, tapi berani membiayai pelatihan nyata."
Kalimat itu halus, tetapi efeknya keras.
Orang-orang yang tadi ragu mulai menghitung ulang. Jika Sari, yang dikenal selektif dan punya koneksi bersih, berdiri terbuka di samping Raka, berarti rumor Kevin tidak cukup untuk membuat semua orang mundur.
Seorang pemilik jaringan minimarket kecil mendekat pertama. "Pak Raka, Garuda Shield fokus ke pengamanan usaha kecil juga?"
"Kami mulai dari audit risiko, pelatihan staf, dan pendampingan saat ada ancaman," jawab Raka. "Tidak semua masalah perlu pengawal besar. Kadang toko kecil hanya butuh prosedur yang membuat preman kehilangan celah."
Pria itu mengangguk, tertarik.
Lalu datang pemilik gudang, pengurus asosiasi pedagang, dan seorang wanita yang mengelola pusat kuliner. Percakapan yang tadinya tertahan mulai mengalir. Adi segera masuk dengan bahasa operasional: paket layanan, kontrak, batas hukum, jadwal audit.
Dari balkon lantai dua, Kevin memperhatikan.
Ia tidak turun. Ia berdiri bersama dua pria muda, memegang gelas, wajahnya dingin. Ratna berada tidak jauh darinya, mencoba tersenyum, tetapi matanya tidak bisa lepas dari Sari yang berbicara akrab dengan Raka.
Kevin mengira orang akan menjauh.
Sebagian memang menjauh.
Namun ruang kosong itu justru membuat orang yang berani mendekat terlihat lebih jelas.
Seorang pengusaha logistik yang tadinya hanya mengangguk dari jauh akhirnya menghampiri Adi dan meminta jadwal audit gudang. Pemilik pusat kuliner menanyakan paket pelatihan karyawan perempuan untuk menghadapi pemerasan. Bahkan seorang pejabat asosiasi, yang biasanya memilih aman, menyelipkan kartu nama sambil berkata pelan bahwa kota butuh pemain keamanan yang tidak menjual rasa takut. Semua itu kecil, tetapi dalam bisnis, kecil yang tercatat bisa menjadi pintu besar.
Sari menoleh ke Raka. Suaranya lebih pelan sekarang. "Anda tahu kan, setelah malam ini tekanan tidak berhenti?"
"Tentu."
"Lalu kenapa wajah Anda seperti orang baru selesai makan enak?"
"Karena saya akhirnya tahu siapa yang ragu, siapa yang menunggu, dan siapa yang berani jalan duluan."
Sari menatapnya beberapa detik. Ada sesuatu yang melunak di matanya. Tatapan itu mengandung minat yang lebih personal daripada bisnis.
"Mas Raka, Anda berbahaya kalau terlalu tenang."
"Saya anggap itu pujian."
"Memang."
Di ujung ruangan, kamera media lokal mengambil gambar Sari dan Raka berdiri berdampingan di dekat banner program UMKM. Bukan pose intim. Bukan sensasi murahan. Hanya dua orang dewasa yang tampak seperti sedang membangun sesuatu.
Malam itu, rencana isolasi Kevin tidak gagal dengan ledakan.
Ia gagal dengan tepuk tangan.
Saat Raka meninggalkan hotel, ponselnya bergetar. Panel biru muncul lagi, lebih stabil daripada sebelumnya.
[Ambang misi khusus tercapai. Misi akan dibuka setelah validasi aset selesai.]
mungkin sepertinya, baru kali ini aku baca cerita di platform online yang punya alur, bahasa dan kekuatan cerita kaya gini.
terimakasih untuk cerita luarbiasa nya Gan....