NovelToon NovelToon
One Piece: Puppet System

One Piece: Puppet System

Status: tamat
Genre:Sistem / Anime / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: RabilMuhammadTahir

Muzan Kibutsi, seorang remaja dari Bumi, meninggal akibat kecelakaan dan bereinkarnasi ke dunia One Piece beberapa bulan sebelum perjalanan Luffy dimulai. Sebagai orang biasa tanpa kekuatan apa pun, ia memperoleh Puppet System, sebuah sistem yang memungkinkannya melakukan gacha menggunakan Belly untuk mendapatkan boneka karakter dari berbagai dunia anime.

Setiap boneka memiliki penampilan, kemampuan, dan gaya bertarung seperti karakter aslinya, tetapi sepenuhnya dikendalikan oleh Muzan dan setia tanpa syarat.

Dengan mengumpulkan Belly, membangun koleksi boneka, dan bergerak dari balik bayang-bayang, Muzan perlahan mengukir namanya di lautan. Sementara sejarah One Piece terus berjalan, seorang dalang misterius mulai memainkan perannya di balik panggung, siap mengubah keseimbangan dunia dengan pasukan boneka dari berbagai dimensi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RabilMuhammadTahir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Tangan Iblis Ohara dan Pertemuan di Ladang Pembantaian

Angin malam Grand Line berhembus dingin, menyapu sisa-sisa asap mesiu dan bau anyir darah yang menggenang di jalanan berbatu Whiskey Peak. Di tengah alun-alun yang telah berubah menjadi kuburan massal bagi para agen Baroque Works, ketegangan baru kembali merajut udaranya.

​Nico Robin—yang saat ini dikenal sebagai Miss All Sunday, Wakil Presiden Baroque Works—duduk dengan anggun di tepi atap bata merah. Kaki panjangnya disilangkan dengan santai. Topi koboi putihnya sedikit menutupi mata birunya yang menatap penuh perhitungan ke arah kelompok Erebus di bawah sana.

​Vivi menelan ludah, seluruh tubuhnya menegang. "M-Miss All Sunday..." bisiknya dengan suara bergetar. Kehadiran wanita itu di sini berarti identitas Vivi sebagai mata-mata Alabasta telah sepenuhnya terbongkar oleh petinggi organisasi.

​Muzan Kibutsi, yang berdiri diapit oleh Giyu Tomioka dan Roy Mustang, tidak menunjukkan sedikit pun keterkejutan. Di balik tudung jubah hitamnya, mata sang Dalang menatap Robin dengan ketenangan yang membekukan.

​"Anak-anak yang bermain perang-perangan, katamu?" Muzan mengulangi perkataan Robin. Suaranya datar, namun memancarkan otoritas yang membuat udara di sekitarnya terasa lebih berat. "Sebuah penilaian yang sangat berani dari seseorang yang menghabiskan seluruh hidupnya melarikan diri dan bersembunyi di balik bayang-bayang pria lain, Nico Robin."

​Senyum misterius di bibir Robin mendadak kaku. Udara di sekitarnya seolah membeku sesaat. Mata birunya menyipit tajam, menembus bayangan tudung Muzan.

​Bagaimana dia tahu nama asliku? batin Robin, detak jantungnya meningkat sepersekian detik sebelum ia berhasil menguasai dirinya kembali. Selama dua puluh tahun sejak insiden Buster Call di Ohara, ia telah mengganti lusinan identitas dan mengkhianati puluhan organisasi untuk bertahan hidup. Identitasnya sebagai 'Anak Iblis' bernilai 79 Juta Belly adalah rahasia tergelapnya.

​"Fufufu..." Robin tertawa pelan, tawanya terdengar sedikit dipaksakan, berusaha mempertahankan fasad ketenangannya. "Kau sepertinya memiliki sumber informasi yang sangat menarik, Tuan Pemimpin Erebus. Mengetahui nama itu di lautan ini... kau benar-benar bukan anak kecil biasa."

​Robin menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Bunga-bunga ilusioner bermekaran di udara.

​"Seis Fleur (Enam Bunga)."

​Dalam sekejap mata, dua pasang tangan ramping muncul dari punggung dan bahu Roy Mustang, dua pasang lagi muncul di tubuh Giyu Tomioka, dan dua tangan terakhir bermekaran tepat di bahu Muzan, bersiap untuk mengunci leher mereka dalam teknik clutch (patahan tulang) yang mematikan.

​"Meskipun informasimu mengesankan," ucap Robin dingin dari atas atap, "tapi membuat musuh dari Baroque Works di pintu masuk Grand Line adalah tindakan bunuh diri. Selamat ti—"

​Kalimat Robin terputus oleh suara retakan yang mengerikan.

​Bukan tulang leher Muzan atau pasukannya yang patah.

​Di bawah, Mustang bahkan tidak berkedip. Ia hanya memanaskan suhu tubuhnya secara instan melalui pori-pori seragamnya, membuat tangan-tangan yang menempel di bahunya melepuh dan menghilang menjadi kelopak bunga. Giyu hanya mengalirkan energi pernapasan air yang sangat padat, memutar bahunya dengan presisi mikro yang mematahkan cengkeraman tangan ilusi tersebut seolah mematahkan ranting kering.

​Namun, yang paling mengerikan adalah respons Muzan.

​Muzan tidak bergerak. Ia hanya mengedipkan matanya perlahan.

​Haoshoku Haki.

​Sebuah tekanan mental yang sangat padat, tajam, dan dikonsentrasikan murni pada tangan-tangan yang tumbuh di bahunya, meledak keluar. Tekanan itu mengalir melalui tangan ilusi tersebut, langsung menyerang saraf sensorik Nico Robin yang terhubung dengan kekuatan Buah Iblis Hana Hana no Mi.

​"Ugh!" Robin tersentak keras di atas atap. Ia mencengkeram lengan aslinya sendiri, wajahnya memucat. Rasa sakit yang menjalar bukan sekadar rasa sakit fisik, melainkan teror absolut yang menekan langsung ke dalam jiwanya, seolah-olah ia baru saja mencoba mencekik leher seekor naga tidur.

​Kelopak bunga di sekitar Muzan layu dan hancur menjadi debu.

​Muzan mendongak, menatap Robin yang kini bernapas dengan sedikit tidak teratur.

​"Aku menyarankanmu untuk tidak menumbuhkan tangan itu di tubuhku lagi, Robin," ucap Muzan dengan nada yang sangat tenang, namun dipenuhi ancaman yang tak terbantahkan. "Jika aku ingin kau mati, Kolonel Mustang di sebelahku ini sudah membakar atap itu, dan paru-parumu, menjadi abu sebelum kau sempat menyilangkan tangan."

​Mustang menyeringai, mengangkat tangannya yang berbalut sarung tangan pyrotex, siap menjentikkan jari kapan saja.

​Robin menatap ketiga monster di bawahnya. Firasatnya yang tajam—yang telah membuatnya selamat selama puluhan tahun dari kejaran Pemerintah Dunia—menjeritkan satu peringatan mutlak: Jangan melawan mereka. Mereka berada di dimensi kekuatan yang sama sekali berbeda dari agen Baroque Works.

​"Begitu ya," Robin menurunkan tangannya, mengembalikan senyum tenangnya dengan susah payah. "Kalian memang monster. Kalau begitu, apa yang kalian inginkan? Crocodile tidak akan membiarkan penghancuran markas pendanaannya berlalu begitu saja."

​"Crocodile tidak lebih dari sekadar kadal pasir yang merasa dirinya naga karena bersembunyi di padang pasir," balas Muzan dingin. "Kami tahu dia sedang mencari senjata kuno Pluton di Alabasta. Dan kami juga tahu kau hanya memanfaatkannya untuk membaca Poneglyph yang ada di makam kerajaan, bukan?"

​Kali ini, fasad Robin benar-benar runtuh. Matanya terbelalak lebar. Dia... dia bahkan tahu tentang Pluton dan Poneglyph?! Siapa mereka sebenarnya?! Apakah mereka agen Cipher Pol?! Tidak, Cipher Pol tidak bergerak seperti ini.

​Muzan mengangkat tangannya, menghentikan kebingungan Robin. "Tenang saja. Kami tidak peduli dengan Pemerintah Dunia, dan kami tidak tertarik menyerahkanmu kepada Angkatan Laut. Seperti yang kukatakan pada Tuan Putri ini..." Muzan melirik ke arah Vivi yang masih mematung ketakutan. "...kami ada di sini untuk mengendalikan bayangan. Jika Crocodile jatuh, kau akan kehilangan perlindunganmu. Tapi jika kau bersikap kooperatif dengan kami... kau mungkin akan menemukan sejarah sejati yang kau cari selama ini."

​Kalimat terakhir Muzan adalah umpan pamungkas. Sejarah sejati (Rio Poneglyph) adalah kelemahan mutlak Nico Robin.

​Robin terdiam lama, menimbang-nimbang setiap kata yang keluar dari mulut remaja berjubah itu. Akhirnya, ia merogoh saku mantel kulitnya dan melemparkan sebuah benda kecil ke arah Muzan.

​Muzan menangkapnya dengan mudah. Sebuah Eternal Pose.

​"Itu adalah Eternal Pose menuju Alabasta," ucap Robin dari atas atap. "Jalan pintas melewati berbagai pulau di Grand Line. Jika kalian memang berencana menghadapi Crocodile, silakan gunakan itu. Tapi berhati-hatilah. Pasir Alabasta telah menelan banyak orang sombong sebelum kalian."

​Muzan melirik kompas kaca di tangannya. Ia tahu Crocodile menggunakan Robin untuk memberikan Eternal Pose palsu atau menjebak musuhnya. Namun, Muzan memiliki rencananya sendiri.

​Muzan meremukkan Eternal Pose itu dengan satu remasan tangannya. Pecahan kaca dan cairan jatuh berhamburan ke tanah berbatu.

​Vivi menjerit tertahan melihat satu-satunya jalan pintas menuju kerajaannya dihancurkan. "A-Apa yang kau lakukan?!"

​"Aku tidak suka mengambil jalan pintas yang disiapkan oleh musuh," jawab Muzan, membersihkan sisa kaca dari sarung tangan kulitnya. Ia menatap Robin. "Simpan trik kecilmu. Kami akan berlayar mengikuti Log Pose biasa. Masih ada beberapa pion Crocodile di Little Garden yang bernilai jutaan Belly. Aku tidak akan melewatkan panen di sana."

​Mata Robin sedikit melebar melihat sikap pragmatis Muzan. Ia tersenyum, kali ini sebuah senyum yang lebih tulus. "Kalian benar-benar gila. Terserah kalian. Semoga beruntung, Erebus."

​Dengan putaran kelopak bunga, sosok Nico Robin menghilang dari atap, meninggalkan kota Whiskey Peak untuk kembali melaporkan anomali ini kepada atasannya.

​Muzan menoleh kembali ke arah Vivi dan Mr. 9.

​"Nah, Tuan Putri," Muzan berkata dengan nada final. "Negosiasi kita telah disahkan. Kau dan pelayanmu ini akan ikut ke kapal kami. Tunjukkan arahnya, dan kami akan meruntuhkan Baroque Works untukmu."

​Vivi menundukkan kepalanya dalam-dalam. "B-Baik... Saya mengerti. Terima kasih... Tuan." Ia tidak memiliki pilihan lain. Organisasi di depannya ini terlalu menakutkan, namun mereka adalah satu-satunya harapan bagi Alabasta saat ini.

​Namun, sebelum Muzan bisa memerintahkan mereka untuk bergerak menuju pelabuhan, suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari arah jalan utama yang mengarah ke alun-alun.

​"Hei! Katanya ada pesta selamat datang?! Di mana dagingnya?! Kenapa semuanya gelap begini?!"

​Suara cempreng yang sangat khas dan penuh semangat itu memecah ketegangan malam.

​Dari ujung jalan, berlarilah sosok pemuda bertopi jerami, Monkey D. Luffy. Di belakangnya, menyusul Roronoa Zoro yang berjalan dengan tangan bertumpu pada gagang pedang, Sanji yang menghisap rokok dengan wajah kesal, Nami yang memegang tongkatnya dengan waspada, dan Usopp yang bersembunyi di belakang Nami.

​Kelompok Topi Jerami rupanya telah menambatkan kapal Going Merry di sisi lain pulau dan berjalan kaki mencari keramaian yang Nami lihat dari kejauhan sebelumnya.

​Langkah Luffy terhenti tiba-tiba saat ia memasuki alun-alun. Matanya yang bulat mengerjap beberapa kali melihat pemandangan di depannya. Ratusan orang terkapar di tanah, bersimbah darah, luka bakar, dan beberapa dinding bangunan hancur lebur.

​"Are?" Luffy memiringkan kepalanya. "Kenapa semuanya tidur di tanah? Di mana pestanya? Hei, Paman Api!" Luffy menunjuk ke arah Roy Mustang yang berdiri tegak. "Kau yang menidurkan mereka semua? Kau curang! Aku juga mau ikut pesta!"

​Zoro melangkah maju melewati Luffy. Wajah pendekar pedang itu seketika mengeras. Tangan kirinya mencengkeram erat Wado Ichimonji hingga buku-buku jarinya memutih. Mata tunggalnya yang tajam menatap lurus ke arah Mustang, lalu beralih ke Giyu Tomioka yang masih berdiri diam.

​"Oi, oi. Jangan bercanda," geram Zoro, suaranya berat dan dipenuhi kewaspadaan tingkat tinggi. "Luka di dadaku bahkan belum kering, dan kalian sudah muncul lagi di pulau ini?"

​Sanji mengerutkan kening, membuang asap rokoknya. Matanya memindai tingkat kerusakan di alun-alun dengan insting seorang petarung. "Luka tebasan yang sangat bersih... dan luka bakar yang mengerikan. Ini bukan perkelahian bar biasa, Marimo. Ini adalah pembantaian sepihak."

​"Aku tahu, Koki Alis Keriting," desis Zoro. "Mereka adalah monster yang mengalahkan Don Krieg dan menahan serangan Mihawk di East Blue. Erebus."

​Mendengar nama itu, Nami seketika pucat pasi. Ia mengingat api hitam yang meluluhlantakkan Arlong Park. "M-Mereka... mereka yang ada di desa Cocoyasi?! Apa yang mereka lakukan di sini?!"

​Luffy yang akhirnya menyadari ketegangan teman-temannya, berhenti tersenyum. Ia menatap Mustang dengan serius. "Kalian ini... orang jahat, ya?"

​Mustang mendengus pelan, sebuah senyuman arogan terukir di wajahnya. Ia melirik ke arah Muzan, meminta instruksi tanpa harus berbicara.

​Muzan, yang masih menyembunyikan wajahnya di balik tudung jubah, tidak ingin membuang waktu bertarung melawan kru Topi Jerami. Mereka tidak memiliki nilai buronan yang cukup tinggi untuk saat ini (Luffy baru saja mendapat bounty 30 juta, tapi Muzan sedang fokus pada Baroque Works), dan memusnahkan mereka akan merusak banyak alur masa depan yang bisa Muzan eksploitasi.

​Muzan melangkah maju, melewati Mustang.

​"Kami bukanlah pahlawan yang mengadakan pesta, Monkey D. Luffy," ucap Muzan. Suaranya diatur sedemikian rupa hingga terdengar dalam, dingin, dan bergema di alun-alun yang sepi. "Orang-orang yang terkapar di sini adalah sarang pembunuh bayaran yang berniat menyembelih kalian saat kalian tertidur. Kami hanya... membersihkan sampah sebelum baunya menyengat."

​Zoro menyipitkan matanya. "Jangan bertingkah seperti malaikat pelindung kami. Kalian bergerak demi tujuan kalian sendiri."

​"Tentu saja, Roronoa Zoro," jawab Muzan santai. Ia menatap luka perban di dada Zoro. "Dan sepertinya kau masih hidup setelah menerima pelajaran dari Sang Mata Elang. Tumbuhlah menjadi lebih kuat. Lautan di depan sana tidak akan memberimu belas kasihan kedua."

​Muzan kemudian berbalik, menoleh ke arah Vivi dan Mr. 9 yang masih terpaku. "Jalan. Kapal kita menunggu."

​Vivi menunduk, dengan cepat berjalan mengikuti Muzan dan kelompoknya.

​"Tunggu!" teriak Luffy tiba-tiba. Ia melihat ke arah Vivi. "Gadis berambut biru itu... dia sepertinya ketakutan pada kalian. Kalian memaksanya ikut, ya?!"

​Luffy meregangkan lengannya, bersiap meluncurkan pukulan karetnya. "Gomu Gomu no—"

​WUSHH!

​Sebelum lengan Luffy melesat, Giyu Tomioka telah bergerak. Dengan kecepatan yang melampaui refleks mata manusia normal, Giyu muncul tepat di depan Luffy. Sarung pedangnya (saya) ditekankan dengan presisi absolut ke ulu hati pemuda karet tersebut, tidak untuk melukai, namun cukup kuat untuk menghentikan momentum serangannya dan mendesak udara keluar dari paru-parunya.

​Luffy tersedak, matanya terbelalak karena terkejut. Zoro dan Sanji seketika bergerak untuk menyerang Giyu, namun Muzan melepaskan sebagian kecil dari Haoshoku Haki-nya.

​Hanya sepersekian detik. Sebuah denyut aura raja penakluk yang sangat pekat menyapu alun-alun.

​Zoro dan Sanji membeku. Tubuh mereka seolah tertimpa jangkar seberat sepuluh ton. Keringat dingin meledak dari pori-pori mereka. Insting bertahan hidup mereka menjerit, menahan otot-otot mereka untuk tidak mengambil satu langkah pun lebih maju.

​"Jangan ikut campur dalam urusan yang bukan porsimu, Topi Jerami," suara Muzan terdengar berat, memotong udara yang tegang. "Gadis ini memiliki kesepakatan denganku untuk menyelamatkan negaranya. Kalian terlalu lemah untuk memikul beban kerajaan di pundak kalian saat ini."

​Giyu menarik sarung pedangnya dan melangkah mundur, kembali ke sisi Muzan dalam sekejap.

​Muzan, Mustang, Giyu, dan Zenitsu—yang sedari tadi berdiri mematung di atas kaktus batu—kemudian berbalik dan berjalan menjauh menuju dermaga pelabuhan tempat kapal Tartarus berlabuh. Vivi dan Mr. 9 mengikuti di belakang mereka dengan kepala tertunduk.

​Luffy terengah-engah, memegangi ulu hatinya, matanya menatap tajam ke arah punggung kelompok Erebus yang menghilang di balik kabut dermaga.

​"Zoro... Sanji..." gumam Luffy, nada suaranya berubah menjadi sangat serius, sebuah nada yang jarang sekali ia gunakan. "Mereka sangat kuat. Hawa yang barusan... rasanya seperti saat paman Shanks marah."

​Zoro menyarungkan kembali pedangnya perlahan. Giginya bergemeretak. "Ya. Dalang berjubah hitam itu... dialah pemimpin aslinya. Dan dia baru saja membuktikan bahwa kita masih belum siap menghadapi Grand Line."

​Di dermaga Whiskey Peak, kapal hitam legam Tartarus membentangkan layarnya. Tanpa ada suara komando pelaut atau derit kerekan manual, kapal itu membelah perairan kabut, meninggalkan pulau tersebut di bawah sinar rembulan.

​Di ruang kapten, Muzan Kibutsi berdiri di depan roda kemudi otomatis. Panel sistemnya menyala terang, memantulkan cahaya biru di wajahnya.

​Ia baru saja mengamankan kunci menuju Alabasta. Little Garden dan Crocodile telah menunggu. Namun, dengan 33 Juta Belly di sakunya dan satu slot boneka yang masih bisa diisi, Muzan merencanakan strategi yang jauh lebih gila.

​"Sistem," perintah Muzan dalam kesunyian kabin. "Saatnya membuka kotak pandora yang baru. Kita butuh petarung udara."

1
variable of ancient
batu gravitasi bukanya udah dipasang thor
Bintang Surya
lanjutttt
Bintang Surya
upp terus thor
Jane R.S
lanjut upp
Axel
thor sebaiknya pakai kalimat dewa, jangan pakai kalimat tuhan
Rabil Muhammad Tahir: terimakasih saran nya dan saya sudah revisi ya 🙂‍↕️
total 1 replies
Bintang Surya
uppp thor
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Blue Lock München Gaiden
MP
gas
Bintang Surya
uppppp
Rabil Muhammad Tahir: makasih komennya 😭😭 jadi terharu ada yang semangat sama novel saya
total 1 replies
Bintang Surya
lanjut plisss
Bintang Surya
bagus
Bintang Surya
pliss upp
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!