NovelToon NovelToon
SISI LAIN SUAMIKU, DEAN GALANG WIJAYA

SISI LAIN SUAMIKU, DEAN GALANG WIJAYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Park ha

Sinta Aniswari (23) dulunya adalah mahasiswi kedokteran paling ceria dan cerewet se-FK.
Sampai ayahnya bangkrut dan satu-satunya cara menyelamatkan rumah sakit keluarga adalah dengan menikahi Dean Galang Wijaya (30).

Pengusaha muda, perfeksionis, kaku seperti robot, dan sedingin kulkas dua pintu.

Dua tahun menikah tanpa cinta. Sinta berubah menjadi Nyonya Wijaya yang anggun dan penurut. Dari luar, semua orang mengira ia adalah istri yang tidak disayang. Pernikahan yang kaku seperti dua orang asing yang tinggal di rumah yang sama.

Sampai mereka tau sisi lainnya.

Bahwa Dean yang kaku itu ternyata menjadwalkan segalanya. Bahkan untuk menyentuh istrinya. Satu bulan empat kali. Setiap tanggal 5, 12, 19, dan 26. Jam 21.00 tepat.
Dan selalu diawali dengan kalimat yang sama, dengan wajah datar yang sama:

"Apa mau main?"

Sinta pikir pernikahan ini hanya soal peran. Sampai Dean yang kaku itu mulai membuatnya bingung, berubah menjadi lebih aktip.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 - Tatapan Bermusuhan di Atas Karpet Merah

Bab 6 - Tatapan Bermusuhan di Atas Karpet Merah

Hari Rabu Sore itu, sebelum bersiap-siap menuju Grand Ballroom Hotel Mulia, Sinta menyempatkan diri mengirim pesan singkat melalui WhatsApp kepada Dean.

Sinta: Pak Dean, malam ini saya pulang terlambat. Saya harus menghadiri acara amal tahunan asosiasi medis bersama perwakilan Rumah Sakit Santika.

Pesan itu dibalas lima menit kemudian dengan gaya khas Dean yang super singkat dan kaku:

Dean: Diterima. Konfirmasi waktu kepulangan kamu jika sudah selesai, agar Rian bisa menjemput tepat waktu. Semoga acaranya berjalan efisien.

Sinta hanya bisa memutar bola matanya pelan membaca balasan tersebut, lalu kembali fokus pada cermin besar di ruang ganti rumah sakit. Malam ini, Sinta tampil luar biasa cantik. Dia mengenakan gaun malam berbahan satin halus berwarna soft pink pastel yang sangat anggun dan sopan [Sinta]. Warna pastel itu membuat kulitnya tampak semakin cerah dan memancarkan aura kelembutan seorang Nyonya Wijaya. Rambut sebahunya disanggul modern dengan menyisakan beberapa helai anak rambut yang membingkai wajahnya dengan manis. Topeng "Nyonya Wijaya yang anggun dan penurut" kembali dia pasang dengan sempurna.

Di lobi hotel yang mewah, Sinta berjalan beriringan dengan Dokter Reza. Sebagai dua dokter anak yang menjadi perwakilan resmi RS Santika, mereka harus menyapa beberapa direktur rumah sakit lain dan kolega bisnis senior. Sepanjang acara berjalan, Dokter Reza bersikap sangat perhatian. Pria ramah itu beberapa kali mengambilkan minuman untuk Sinta, atau menuntun punggung Sinta dengan sopan saat melewati kerumunan tamu yang padat.

Sinta tidak menyadari, bahwa di sudut lain ballroom, sebuah aura sedingin kutub utara mendadak menguar dengan sangat masif.

Dean Galang Wijaya berdiri di dekat pilar besar bersama tim legalnya. Dia mengenakan setelan tuksedo hitam premium yang membuatnya terlihat berkali-kali lipat lebih tampan dan gagah. Namun, wajahnya malam ini jauh lebih lempeng dan kaku daripada biasanya. Mata hitamnya yang tajam terkunci mutlak pada sosok Sinta—lebih tepatnya pada tangan Dokter Reza yang sesekali menyentuh lengan atau punggung istrinya.

Di pergelangan tangan kiri Dean, cincin berlian hitamnya tampak berkilau tajam saat dia meremas gelas wiski kosongnya dengan tekanan yang cukup kuat untuk memecahkan kaca. Di balik wajah manekinnya, sistem pertahanan mental Dean kembali mengalami malfungsi parah untuk kedua kalinya.

[POV Dean]

Detak jantung saya melonjak ke angka seratus tiga puluh denyut per menit. Ini bukan lagi anomali, ini adalah ancaman hipertermia psikologis. Parameter visual saya menangkap objek pria asing bersetelan jas biru itu berada dalam radius kurang dari tiga puluh sentimeter dari Nona Sinta selama empat puluh tujuh menit terakhir. Pria itu menyentuh punggung istri saya sebanyak empat kali dan tertawa bersama dengan intensitas yang tidak efisien bagi sebuah acara formal. Ada desakan masif di dalam dada saya untuk melangkah ke sana, memisahkan mereka dengan paksa, lalu mendeklarasikan hak kepemilikan legal saya atas Nona Sinta di depan seluruh tamu undangan. Namun, komitmen tertutup pernikahan kami dan jadwal operasional domestik melarang saya melakukan tindakan impulsif tersebut. Saya terpaksa berdiri di sini, mempertahankan muka lempeng saya, sembari mengirimkan tatapan intensitas tinggi bermuatan permusuhan mutlak pada pria asing itu.

Saat kerumunan tamu mulai bergeser, Dean dan Sinta akhirnya tidak sengaja berpapasan di dekat meja prasmanan. Sinta mendadak membeku saat matanya bertemu dengan mata hitam pekat milik suaminya. Jantungnya berdegup kencang, takut setengah mati jika penyamarannya terbongkar.

Namun, Dean hanya menatapnya lurus dengan wajah sedatar papan triplek. Tidak ada sapaan, tidak ada senyuman, dan tidak ada kedipan mata. Sinta yang paham betul posisi mereka langsung menundukkan kepalanya sedikit, tersenyum formal seolah-olah Dean hanyalah kolega bisnis asing berkedudukan tinggi yang tidak sengaja dia temui. Mereka berdua bersikap seolah-olah tidak saling kenal sama sekali dengan sangat rapi. Dean kemudian melangkah tegap melewati Sinta tanpa menoleh lagi, diikuti oleh beberapa asistennya.

Setelah Dean menjauh, Dokter Reza yang sejak tadi memperhatikan interaksi dingin namun aneh tersebut perlahan mendekatkan tubuhnya ke arah Sinta. Dia terkekeh pelan sebelum berbisik dengan nada menggoda yang sangat peka.

"Apa dia suami rahasiamu, Dokter Sinta?"

Sinta langsung tersentak kaget. Matanya membelalak sempurna, topeng anggunnya hampir saja jebol karena panik. Dia menoleh ke arah seniornya dengan wajah pucat. "B-bagaimana... bagaimana Dokter Reza bisa tahu?"

Dokter Reza tertawa renyah, menggelengkan kepalanya melihat ekspresi panik Sinta yang menggemaskan. "Soalnya... sejak kita masuk ke ruangan ini, pria kaku itu terus-menerus menatapku dengan permusuhan mutlak. Tatapannya tajam sekali, seolah-olah kalau pandangan mata bisa membunuh, tubuh saya sudah terpotong-potong di lantai ini."

Mendengar penjelasan Dokter Reza, Sinta refleks menoleh sekilas ke arah punggung tegap Dean yang mulai menjauh di seberang ruangan. Sinta membayangkan wajah lempeng suaminya yang ternyata sedang menahan cemburu buta sampai mengirim aura permusuhan pada Dokter Reza, dan mendadak rasa ingin tertawanya meledak di dalam dada.

Ya Tuhan, Pak Robot! Jadi dari tadi dia cemburu?! Mukanya lempeng begitu tapi matanya melototin Dokter Reza sampai mau keluar?! Lucu banget sih suamiku kalau lagi sirik! batin Sinta tertawa heboh, kegirangan sendiri di dalam kepalanya.

Sinta kembali menatap Dokter Reza, lalu menangkupkan kedua tangan di depan dada dengan wajah memelas yang dibuat se-anggun mungkin. "Aduh, Dokter Reza... tolong dihitung sebagai rahasia medis dan dirahasiakan ya, Dok. Tolong jangan bilang siapa-siapa di rumah sakit."

Dokter Reza mengangguk ramah sambil tersenyum maklum. "Tenang saja, Dokter Sinta. Rahasiamu aman bersama saya. Tapi saran saya... sebaiknya kamu segera menghampirinya sebelum saya beneran habis di tangannya besok pagi."

Sinta tertawa kecil, menganduk patuh. Di balik kepanikannya, ada rasa hangat yang manis yang mendadak memenuhi dada Sinta. Ternyata, suaminya yang sekaku kanebo kering itu bisa cemburu juga—walaupun caranya menunjukkannya sangat aneh dan tidak biasa.

......................

Acara amal akhirnya selesai menjelang pukul sebelas malam. Sinta berpamitan pada Dokter Reza di lobi hotel setelah memastikan supir pribadi kiriman Dean—Rian—sudah memarkir sedan BMW hitamnya tepat di depan lobi.

Sepanjang perjalanan pulang menembus jalanan Jakarta yang mulai lengang, jantung Sinta berdegup dengan ritme yang tidak keruan. Bayangan mata tajam Dean yang mengirimkan sinyal permusuhan mutlak pada Dokter Reza terus berputar di kepalanya. Sinta cemas, penasaran, sekaligus ingin tertawa gemas.

Begitu melangkah masuk ke dalam penthouse, keheningan langsung menyambut Sinta. Namun, lampu ruang tamu utama masih menyala temaram. Sinta melepas sepatu hak tingginya dengan hati-hati, lalu berjalan pelan melintasi lantai marmer.

Di sana, di atas sofa kulit abu-abu gelap, Dean Galang Wijaya sedang duduk tegak sempurna. Tuksedo hitamnya sudah dilepas, menyisakan kemeja putih yang dua kancing teratasnya kini terbuka dan lengan baju yang digulung hingga siku. Di atas meja kaca di depannya, sebuah laptop perak terbuka menampilkan grafik saham, tetapi pandangan Dean sama sekali tidak tertuju ke sana. Mata hitam pekatnya langsung terkunci pada Sinta yang baru saja masuk dengan gaun satin soft pink-nya.

Wajahnya? Kembali lempeng. Tetap sekaku triplek proyek seperti biasa.

Sinta buru-buru menegakkan punggung, memasang senyum paling anggun dan selembut sutra untuk menutupi rasa gugupnya. "Selamat malam, Pak Dean. Maaf saya pulang terlambat. Acaranya baru selesai."

Dean tidak langsung menjawab. Dia melirik jam dinding mewah di ruangan itu yang menunjukkan pukul 23.32 tepat, lalu mengalihkan tatapannya kembali ke arah Sinta.

"Selamat malam, Nona Sinta," balas Dean. Suaranya berat, dalam, kaku, dan datar tanpa intonasi naik turun. "Kedatangan kamu terlambat tiga puluh dua menit dari estimasi efisiensi waktu yang saya perkirakan berdasarkan kondisi lalu lintas malam ini."

Sinta menahan napas, menahan diri agar tidak kelepasan memutar bola matanya heboh. Ya Tuhan, baru pulang langsung dihitung menit keterlambatannya! Gak ada nanya capek apa enggak gitu, Pak Robot?!

Sinta maju dua langkah, meremas tas tangan kecilnya dengan canggung. "Iya, Pak Dean. Tadi ada sesi ramah tamah tambahan di akhir acara, jadi agak mengulur waktu."

Dean menutup laptop peraknya dengan bunyi klik yang mantap. Dia menyandarkan punggungnya ke sofa, menyilangkan kakinya yang panjang dengan angkuh, lalu menatap Sinta lurus-lurus.

"Saya mengerti," ucap Dean lempeng. "Namun, parameter visual saya mencatat bahwa sesi ramah tamah kamu malam ini didominasi oleh interaksi dengan satu objek pria yang sama."

UHUK! Sinta mendadak salah tingkah. Jantungnya berdisko liar lagi. Objek pria katanya?! Dia beneran cemburu gara-gara Dokter Reza!

"Maksud Pak Dean... Dokter Reza?" tanya Sinta selembut mungkin, berpura-pura polos sambil mengerjap bingung, padahal hatinya sudah menari-nari girang melihat suaminya yang kaku ini mulai terganggu fokusnya.

Dean berdeham pendek, mempertahankan muka papan pengumumannya dengan sangat tangguh.

[POV Dean]

Detak jantung saya saat ini kembali stabil di angka delapan puluh denyut per menit, tetapi tingkat kejengkelan di hipotalamus saya masih berada di level tertinggi sejak malam ini dimulai. Nona Sinta menyebut nama pria itu dengan sangat lancar: Dokter Reza. Berdasarkan analisis kedokteran dasar, kedekatan interpersonal antara mereka berdua berpotensi mengganggu stabilitas operasional emosi dalam komitmen legal pernikahan kami. Saya ingin meminta klarifikasi, tetapi jika saya mengatakannya secara terang-terangan, itu akan menurunkan wibawa manajerial saya sebagai CEO. Saya harus mengajukan interogasi ini dalam bentuk evaluasi efisiensi kerja rekan medis demi menjaga integritas sistem rumah tangga.

[POV Dean Selesai]

"Betul. Pria bersetelan jas biru itu," lanjut Dean dengan nada sekaku dosen pembimbing yang sedang menguji skripsi akhir. "Berdasarkan pengamatan saya dari jarak sepuluh meter, pria tersebut menunjukkan gestur tubuh yang terlalu dekat dengan radius privasi kamu. Dia menyentuh lengan kamu sebanyak empat kali dan terus berada di sebelah kamu dengan intensitas yang tidak efisien bagi seorang rekan kerja."

Sinta menundukkan kepalanya dalam-dalam—bukan karena takut atau merasa bersalah, melainkan karena dia sedang berjuang mati-matian menahan senyum lebar dan kedutan di bibirnya agar tawa hebohnya tidak meledak di depan Dean. Sifat aslinya yang "toa masjid" berteriak puas di dalam kepala: 'Ya ampun, Pak Robot! Ternyata dari tadi di ballroom dia ngitungin berapa kali Dokter Reza nyentuh aku?! Detil banget cemburunya, kayak audit keuangan!'

Sinta mengatur napasnya agar suaranya tetap terdengar kalem dan penurut. Dia mendongak, menatap mata hitam Dean yang jujur namun kaku. "Dokter Reza adalah dokter spesialis senior saya di poli anak, Pak Dean. Beliau mendampingi saya malam ini murni karena tuntutan profesional rumah sakit agar kami bisa berinteraksi dengan mitra medis lain. Tidak ada maksud lain."

Dean menatap Sinta selama beberapa detik dalam keheningan yang mencekam, seolah sedang menganalisis apakah jawaban istrinya valid atau tidak. Setelah memastikan tidak ada kebohongan di mata cokelat Sinta, ketegangan tak kasat mata di bahu tegap Dean perlahan mengendur, meski wajahnya tetap lempeng tanpa dosa.

"Baik. Penjelasan kamu diterima secara rasional," kata Dean lempeng, lalu berdiri dari sofanya dan merapikan kemeja putihnya yang tidak berkerut sama sekali. Dia melangkah tegap menuju kamar utama. "Hari ini hari Rabu. Bukan jadwal agenda berkala kita. Kamu bisa segera membersihkan diri dan istirahat agar tidak mengganggu produktivitas fisik kamu di rumah sakit besok pagi."

Sinta hanya bisa melongo menatap punggung tegap suaminya yang melangkah pergi dengan langkah terukur. Begitu pintu kamar utama tertutup pelan, Sinta langsung memegangi dadanya, melepaskan tawa tertahan yang sejak tadi menyiksa tenggorokannya.

"Hahaha! Ya ampun... bener-bener gak kuadrat anehnya!" Sinta membatin heboh, wajah anggunnya luruh digantikan muka gemas yang luar biasa heboh. "Muka lempeng begitu tapi kelakuannya kayak bos yang lagi mengaudit karyawannya sendiri! Cemburu bilang cemburu, Pak CEO! Pake bawa-bawa 'jadwal agenda berkala hari Rabu' segala!"

Sinta mengambil sepatu hak tingginya, mendengus geli dengan senyuman tulus yang merekah manis di bibirnya. Pernikahan ini memang kaku, dingin, dan penuh dengan aturan operasional aneh buatan Dean, tetapi malam ini Sinta tahu satu hal pasti: kulkas dua pintu rakitan Jepang miliknya ini... ternyata sudah mulai memiliki rasa memiliki terhadap dirinya.

1
falea sezi
🤣🤣malu yeee q kirim hadiah biar up makin banyak🤣
falea sezi: lah kenapa libur thor🤭
total 2 replies
mamah fitri
🤣🤣🤣🤣🤣
Park ha
🤭🤭🤭
falea sezi
lanjut q krim hadiah
falea sezi
🤣🤣 lempeng amat pakk dean🤭
falea sezi
nyimak bagus q kirim hadiah nih
Lea
Lanjut 🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳
mamah fitri
🤣🤣🤣🤣🤣
Park ha: 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
mamah fitri
wkwkwkw... asli ngakak dengan karakter pak Dean.. lucu banget sih ya🤣🤣🤣🤣
Park ha: 🤭🤭🤭🤭🤭 jangan lupa like ya kak oh ya boleh kasih ulasan hehehe ... tar aku update sehari 1 bab dulu.. soalnya masih nulis yang Toxic and control juga...hehehe
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!