Di sebuah hotel mewah, Alyssa dipaksa menunggu "pembelinya".
"Aku sudah bayar mahal! Mana gadisnya?"
bentak pria bertubuh tambun sambil membanting gelas.
Mariska tersenyum licik.
"Tenang saja, Tuan. Dia memang keras kepala, tapi malam ini dia pasti jadi milik Anda."
"Aku tidak mau! Lepaskan aku!" teriak Alyssa sambil berusaha melepaskan diri.
"Diam!" hardik Mariska sembari menampar pipi Alyssa. "Kalau bukan karena aku membesarkanmu, kau sudah mati kelaparan! Sekarang giliranmu membalas budi."
Air mata Alyssa jatuh, tetapi keberaniannya tidak ikut runtuh.
Saat para pria lengah, ia mendorong salah seorang dari mereka hingga terjatuh, lalu berlari sekuat tenaga menyusuri lorong hotel.
"Kejar dia!" teriak pria hidung belang itu murka.
"Jangan sampai gadis itu lolos!"
Suara langkah kaki bergema di sepanjang koridor.
Dengan napas memburu, Alyssa membuka pintu sebuah kamar yang tidak terkunci dan segera menguncinya dari dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MHKaylid_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
Keputusan Alyssa untuk memanfaatkan rasa bersalah Ariana akan menjadi awal dari rangkaian peristiwa baru yang kembali menguji kepercayaan di Mansion Laurent.
Malam di Mansion Laurent kembali tenang.
Setelah pertemuan panjang dengan Ariana berakhir, satu per satu penghuni mansion kembali ke kamar masing-masing.
Koridor lantai dua menjadi lengang.
Hanya terdengar langkah pelayan yang sesekali berlalu membawa nampan berisi teh hangat.
Di kamarnya...
Alyssa sudah melepas infus.
Meski tubuhnya masih sedikit lemas, dokter memperbolehkannya berjalan pelan asal tidak terlalu banyak bergerak.
Namun pikirannya sejak tadi tidak bisa tenang.
Ucapan Lucas terus terngiang di kepalanya.
"Aku akan melindungimu."
"Aku akan menemukan Isabel."
Alyssa menggenggam ujung selimut.
"Aku harus bicara..."
"Aku tidak bisa hanya diam."
Ia akhirnya turun dari tempat tidur.
Maria yang kebetulan baru masuk membawa semangkuk sup langsung terkejut.
"Nona Alyssa!"
"Astaga..."
"Kenapa sudah turun?"
Alyssa tersenyum kecil.
"Aku sudah jauh lebih baik."
Maria menggeleng.
"Dokter menyuruh Nona istirahat."
"Aku hanya sebentar."
"Mau ke mana?"
Alyssa tampak ragu.
"Aku..."
"...ingin bicara dengan Lucas."
Maria tersenyum tipis.
"Tuan masih di kamar pribadinya."
"Sepertinya baru selesai bekerja."
"Kalau begitu aku hanya sebentar."
Maria akhirnya mengangguk.
"Tapi jangan terlalu lama."
"Iya."
Koridor menuju kamar Lucas cukup panjang.
Lampu dinding berwarna keemasan membuat suasana terasa hangat.
Alyssa berjalan perlahan.
Sesekali ia masih memegang dinding karena tubuhnya belum sepenuhnya pulih.
Begitu sampai di depan pintu besar berwarna cokelat tua...
Ia menarik napas panjang.
Tok.
Tok.
Tok.
Suara ketukan pelan terdengar.
Di dalam kamar...
Lucas baru saja selesai mandi.
Air masih menetes dari rambut hitamnya yang basah.
Ia hanya mengenakan handuk putih yang melilit pinggangnya.
Tubuh bagian atasnya masih terbuka.
Bahu bidang.
Lengan berotot hasil latihan bertahun-tahun.
Beberapa bekas luka lama tampak samar di dada dan bahunya—jejak dari berbagai pertempuran dan latihan keras di masa lalu.
Lucas sedang mengeringkan rambut dengan handuk kecil ketika mendengar ketukan pintu.
"Masuk."
Ia mengira yang datang adalah Adrian.
Pintu perlahan terbuka.
Alyssa melangkah masuk sambil menundukkan kepala.
"Maaf mengganggu..."
"Aku ingin bicara..."
Kalimat Alyssa langsung terputus.
Ia spontan mengangkat wajah.
Dan...
Matanya langsung membelalak.
Lucas juga membeku.
Mereka saling menatap selama beberapa detik.
Alyssa baru menyadari...
Lucas hanya mengenakan handuk.
"Eh...!"
Refleks...
Ia langsung memutar badan secepat kilat.
"Ma-maaf!"
"Aku tidak tahu..."
Wajah Alyssa memerah hingga ke telinga.
Ia buru-buru menutup kedua matanya dengan kedua tangan.
"Aku benar-benar tidak sengaja!"
Lucas sendiri tampak sedikit terkejut.
Namun beberapa detik kemudian...
Sudut bibirnya justru sedikit terangkat.
"Alyssa."
"Aku..."
"Aku tidak melihat apa-apa!"
Lucas mengangkat sebelah alis.
"Kau bahkan belum kuberi kesempatan menjelaskan."
Alyssa semakin panik.
"Bukan!"
"Maksudku..."
"Aku memang melihat..."
"Eh..."
"Bukan!"
"Aduh..."
Ia malah semakin bingung dengan ucapannya sendiri.
Lucas hampir tertawa melihat kepanikan itu.
Ia berdeham pelan.
"Tunggu sebentar."
"Iya!"
"Aku tidak akan menoleh."
Lucas mengambil kaus hitam dan celana santai yang tergantung di kursi.
Tak sampai satu menit kemudian...
"Sudah."
Alyssa masih menutup matanya.
"Benar?"
"Benar."
"Aku boleh lihat?"
Lucas mengangguk.
"Boleh."
Perlahan Alyssa membuka matanya.
Begitu memastikan Lucas sudah berpakaian rapi...
Ia langsung mengembuskan napas lega.
"Syukurlah..."
Lucas duduk di sofa kecil.
"Lalu..."
"Apa yang ingin kau bicarakan?"
Alyssa masih tampak malu.
Tatapannya bahkan tidak berani mengarah ke Lucas.
Lucas memperhatikan tingkahnya.
"Kau masih malu?"
Alyssa langsung menjawab cepat.
"Tentu saja!"
Lucas tersenyum tipis.
"Padahal yang malu seharusnya aku."
Alyssa langsung menggeleng kuat.
"Tidak!"
"Ini salahku."
"Aku masuk tanpa memastikan."
Lucas mengangguk pelan.
"Itu benar."
Alyssa langsung mengangkat kepala.
"Hah?"
Lucas sengaja memasang wajah serius.
"Kau memang masuk terlalu cepat."
Alyssa langsung menunduk lesu.
"Maaf..."
Melihat ekspresi bersalah itu...
Lucas akhirnya tertawa kecil.
Suara tawanya pelan, tetapi jelas terdengar.
Alyssa membelalakkan mata.
"Kau..."
"...tertawa?"
Lucas mengangguk.
"Sedikit."
Alyssa cemberut.
"Aku sedang malu."
Lucas tersenyum.
"Justru karena itu."
Alyssa mendengus pelan.
"Jangan ditertawakan."
"Baik."
Lucas berusaha menahan senyumnya.
Beberapa detik suasana kembali hening.
Lalu Lucas memperhatikan wajah Alyssa.
"Kondisimu sudah lebih baik?"
Alyssa mengangguk.
"Jauh lebih baik."
"Masih pusing?"
"Sedikit."
Lucas menghela napas lega.
"Syukurlah."
Alyssa duduk di kursi yang berhadapan dengannya.
Namun begitu duduk...
Ia baru sadar satu hal.
Di kamar Lucas ternyata terdapat banyak medali, piala, dan busur panah yang dipajang rapi di salah satu sisi ruangan.
Matanya membulat.
"Itu..."
"Semua milikmu?"
Lucas mengikuti arah pandang Alyssa.
"Iya."
"Banyak sekali."
Lucas tersenyum tipis.
"Sebagian besar sudah lama."
Alyssa berdiri mendekati rak pajangan.
"Ada medali memanah."
"Piala bela diri."
"Penghargaan akademik."
Ia menoleh.
"Kau benar-benar belajar semuanya?"
Lucas mengangguk.
"Ayahku cukup keras."
"Beliau ingin aku mampu menjaga diri."
Alyssa mengangguk pelan.
"Pantas..."
"Pantas apa?"
"Pantas tubuhmu..."
Kalimat Alyssa kembali terhenti.
Lucas menatapnya.
"Tubuhku?"
Alyssa baru sadar apa yang hampir ia katakan.
Wajahnya kembali memerah.
"Bukan apa-apa!"
Lucas kali ini benar-benar tidak bisa menahan tawanya.
Alyssa langsung memegang kedua pipinya.
"Kenapa hari ini aku terus salah bicara..."
Lucas menggeleng sambil masih tersenyum.
"Alyssa."
"Iya?"
"Kau terlalu jujur."
"Aku tidak sedang jujur."
"Aku sedang gugup."
"Itu sama saja."
Alyssa menghela napas panjang.
"Mulai sekarang..."
"Aku akan mengetuk pintu dua kali."
Lucas mengangkat alis.
"Dua kali?"
"Iya."
"Lalu aku tunggu sampai benar-benar ada jawaban."
Lucas mengangguk setuju.
"Itu ide yang bagus."
Mereka berdua akhirnya saling tersenyum.
Suasana canggung yang tadi memenuhi ruangan perlahan berubah menjadi lebih ringan.
Untuk pertama kalinya sejak berbagai masalah datang bertubi-tubi...
Baik Lucas maupun Alyssa sama-sama bisa tertawa kecil karena kesalahpahaman sederhana.
Dan tanpa mereka sadari...
Di balik pintu kamar yang sedikit terbuka, sepasang mata kecil sedang mengintip.
Leonardo memegang boneka dinosaurusnya sambil berbisik pelan kepada dirinya sendiri.
"Hmm..."
"Untung Daddy sudah pakai baju."
Kalimat polos itu membuat Ranty, yang baru datang untuk menjemputnya, spontan menutup mulut agar tidak tertawa keras.
"Tuan kecil," bisik Ranty sambil menarik pelan tangan Leonardo, "menguping itu tidak baik."
Leonardo mengangguk dengan wajah serius.
"Aku bukan menguping."
"Lalu?"
"Aku memastikan Daddy tidak bikin Kak Alyssa nangis lagi."
Ranty hanya bisa menggeleng sambil menahan tawa, lalu mengajak bocah itu pergi meninggalkan koridor dengan langkah kecil yang riang.
Suasana di kamar Lucas perlahan kembali tenang setelah kesalahpahaman yang membuat Alyssa salah tingkah beberapa menit sebelumnya.
Jendela besar yang menghadap taman masih dipenuhi butiran air hujan.
Sesekali terdengar suara angin yang berembus pelan.
Lucas mempersilakan Alyssa duduk di sofa dekat perapian elektrik.
"Kau bilang ingin membicarakan sesuatu."
Alyssa mengangguk pelan.
"Iya."
Malam itu ia sudah berganti pakaian.
Ia mengenakan piyama sederhana berwarna merah muda dengan potongan tanpa lengan, dipadukan celana panjang yang senada. Rambut bergelombangnya yang panjang dibiarkan terurai begitu saja hingga menutupi sebagian bahunya.
Wajahnya memang masih sedikit pucat karena baru pulih.
Namun justru tanpa riasan apa pun, ia terlihat segar dan alami.
Lucas menarik kursi di depannya.
"Duduklah."
Alyssa duduk perlahan.
Beberapa detik mereka hanya saling diam.
Lucas memperhatikan Alyssa yang tampak memainkan jemarinya sendiri.
"Ada yang mengganggumu?"
Alyssa mengangguk pelan.
"Banyak."
Lucas menunggu.
"Aku tidak tahu harus mulai dari mana."
"Mulailah dari yang paling membuatmu gelisah."
Alyssa menghela napas panjang.
"Lucas..."