Lin Mo adalah seorang penjual angkringan dengan bakat tersembunyi yang amat sangat luar biasa, yaitu kendali api tingkat mistik untuk memanggag sate kikil dan usus hingga sempurna. Sayangnya, sebuah ledakan tabung gas nyasar mengakhiri hidupnya dan melempar jiwanya ke dunia fantasi sebagai Dewa Api Pengelana bersama Sistem Angkringan Ilahi. Kini berbekal gerobak terbang dan jurus sate ajaib, Lin Mo harus menjelajahi Kerajaan Aethelgard yang penuh intrik politik demi mengumpulkan Poin Arang, membuka cabang angkringan baru, dan menyelesaikan konflik kuno di negeri tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sugesti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lin Mo Masuk Penjara
Langit sore bersemburat jingga keemasan ketika iring-iringan kavaleri Pasukan Pelindung Mahkota yang mengawal gerobak terbang Lin Mo akhirnya tiba di puncak bukit terakhir. Di hadapan mereka, membentang megah [Ibu Kota Kerajaan Aethelgard].
Tembok benteng batu hitam setinggi puluhan meter melingkupi kota raksasa tersebut. Menara-menara sihir yang memancarkan pendaran cahaya biru berdiri megah di setiap sudut benteng, sementara di pusat kota, Istana Agung Aethelgard berdiri dengan megah menembus awan tipis sore hari.
Namun, suasana di Gerbang Utama Ibu Kota sama sekali tidak memancarkan kehangatan sebuah kota metropolitan.
Barikade besi berujung tombak terpasang rapat menutup jalan masuk utama. Ratusan prajurit zirah hitam yang dikenal sebagai Garda Merah Istana pasukan khusus di bawah kendali langsung Perdana Menteri berdiri berbaris dengan panah dan tombak terarah langsung ke rombongan Jenderal Valerie.
Jenderal Valerie menahan tali kekang kudanya, keningnya berkerut tajam melihat barikade tersebut.
"Ada apa ini? Mengapa Garda Merah menutup gerbang utama?!" seru Valerie dengan nada tegas, melompat turun dari kuda Mistiknya dan melangkah maju.
Dari balik barikade prajurit zirah hitam, melangkah keluar seorang pria gemuk bertubuh pendek yang mengenakan jubah sutra ungu berhias benang emas. Wajahnya yang licin dan berminyak menyunggingkan senyuman dingin yang sangat menyebalkan.
Dialah Perdana Menteri Vane, sosok penguasa bayangan yang memegang kendali pemerintahan Aethelgard selama Raja Utama terkulai sakit.
Di samping Perdana Menteri Vane, berdiri seorang koki tua bertubuh jangkung yang mengenakan topi koki tinggi bertabur permata Chef Bernard, Kuki Utama Istana Kerajaan Aethelgard yang terkenal sangat sombong dan iri hati.
"Selamat kembali, Jenderal Valerie," sapa Perdana Menteri Vane dengan suara melengking nan culas.
"Namun sayang sekali, Anda dan pasukan Anda tidak diperkenankan memasuki Ibu Kota membawa manusia biasa yang mencurigakan ini," lanjut Vex sambil menunjuk gerobak melayang Lin Mo dengan tongkat peraknya.
Jenderal Valerie menggeram, tangannya menggenggam erat gagang pedangnya. "Perdana Menteri Vane! Pemuda ini adalah Master Lin Mo, Koki Ilahi yang saya jemput langsung atas Titah Agung Kerajaan untuk menyembuhkan Yang Mulia Raja Utama!"
"Hahaha!" Chef Bernard mendengus tertawa mengejek dari balik bahu Vane.
"Koki Ilahi? Jenderal Valerie, apakah akal sehat Anda sudah terganggu di perjalanan?" cemooh Chef Bernard menunjuk gerobak kayu Lin Mo.
"Lihat panggangan besi berjelaga itu! Lihat pakaian lusuh pemuda manusia itu! Bagaimana mungkin seorang penjual sate kaki lima kotor dari luar wilayah sanggup menyembuhkan 'Kutukan Jiwa Hitam' yang bahkan tidak bisa disembuhkan oleh seluruh Penyihir Agung Istana?!" tambah Bernard dengan raut wajah menghina.
Perdana Menteri Vane mengelus janggut tipisnya, matanya menyipit licik.
"Sesuai dengan [Hukum Darurat Istana] yang baru saja saya sahkan tadi pagi," tegas Perdana Menteri Vane menaikkan suaranya.
"Siapapun yang membawa bahan makanan tidak terdaftar dan sihir tidak dikenal ke dalam wilayah Ibu Kota saat Raja Utama dalam keadaan kritis, akan dianggap sebagai [Penyusup dan Pengkhianat Kerajaan]!"
" Tangkap manusia pedagang sate itu beserta gerobaknya dan masukkan ke Penjara Bawah Tanah Istana!" perintah Perdana Menteri Vane melambaikan tangannya.
"Siap!" ratusan prajurit Garda Merah Istana langsung menarik pedang mereka dan merangsak maju mengepung gerobak Lin Mo!
"Berani-beraninya kalian!" teriak Jenderal Valerie menarik pedang panjangnya. Sret! "Pasukan Pelindung Mahkota, bersiap bertarung!"
Suasana di gerbang kota mendadak menjadi sangat tegang, siap meletus menjadi pertempuran berdarah antara dua faksi militer!
Namun, di tengah kepanikan itu—
Krik... Krik... Krik...
Suara kipas bambu yang dikibaskan berirama terdengar santai dari atas gerobak melayang.
Lin Mo yang sejak tadi duduk bersandar sambil mengunyah sebatang bambu tipis, melompat ringan turun dari gerobaknya. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan rasa takut atau panik, justru terpancar binar ketertarikan yang sangat jenaka.
"Aduh, aduh... Paman Pakaian Ungu dan Paman Topi Tinggi," tegur Lin Mo ramah mengibaskan kipas bambunya ke udara.
"Malam-malam begini bukannya menyambut tamu dengan ramah, kok malah ramai-ramai mau ajak saya main ke penjara sih?" goda Lin Mo menaikkan sebelah alisnya.
Chef Bernard membelalak murka. "Bocah Kaki Lima Kurang Ajar! Kamu tidak tahu sedang berbicara dengan siapa?! Aku adalah Chef Bernard, Kepala Dapur Agung Istana! Masakanku adalah satu-satunya masakan yang berhak disajikan di meja Raja!"
Lin Mo melirik pakaian Chef Bernard, lalu menatap panggangan emas di gerobaknya sendiri.
"Oho... Kepala Dapur Agung toh," kata Lin Mo terkekeh pelan. "Pantas saja aroma bajumu cuma wangi mentega basi dan gengsi kotor. Sama sekali tidak ada wangi bumbu karamel murni."
"A-APA KAMU BILANG?!" jerit Chef Bernard mukanya memerah padam karena dihina.
Jenderal Valerie mendekati Lin Mo dengan cemas. "Master Lin Mo, jangan layani mereka! Tetap di belakang saya, pasukan saya akan membukakan jalan secara paksa untuk Anda!"
Namun, Lin Mo justru menepuk bahu zirah emas Jenderal Valerie dengan lembut.
"Tenang saja, Jenderal Valerie," kata Lin Mo tersenyum tenang. "Tidak usah pakai pertempuran berdarah segala. Kasihan prajuritmu baru jalan jauh, pasti pada capek dan lapar."
"Tapi Master... Penjara Bawah Tanah Istana itu adalah sel sihir paling ketat di seluruh benua! Sekali Anda dimasukkan ke sana, Perdana Menteri Vane akan dengan mudah melenyapkan Anda!" bisik Valerie penuh rasa khawatir.
Lin Mo memutar kipas bambunya lincah di jemari tangannya, lalu berbisik balik pada Valerie.
"Jenderal... Penjara itu kan ada di bawah Istana Utama, kan?" tanya Lin Mo mengedipkan sebelah matanya.
Valerie mengangguk bingung. "Iya, tepat di bawah bangunan istana..."
"Nah! Berarti kalau saya di penjara, jarak saya malah makin dekat dong sama kamar Raja Utama yang sakit itu?" kata Lin Mo terkekeh licik.
"Lagipula..." Lin Mo menoleh ke belakang menatap Vex, Kaelen, dan Lilia. "Saya belum pernah nyobain jualan sate di dalam sel penjara kerajaan. Siapa tahu narapidana dan penjaganya pada haus bumbu juga, kan?"
Jenderal Valerie melotot terperanjat mendengar jalan pikiran Lin Mo yang sangat tidak masuk akal namun luar biasa jenius itu!
"Vex! Kaelen! Lilia! Masukkan semua bahan baku ke dalam kulkas es! Kita mau pindah tempat jualan sementara!" perintah Lin Mo gembira.
"Siap Master!" jawab Vex dan Kaelen penuh semangat tanpa ragu sedikit pun.
Perdana Menteri Vane dan Chef Bernard yang melihat Lin Mo secara sukarela menyerahkan diri justru merasa heran dan bingung.
"Perdana Menteri... Bocah itu... kenapa dia malah kelihatan gembira mau dimasukin ke penjara?" bisik Chef Bernard ragu-ragu.
Perdana Menteri Vane mendengus sombong. "Hmph! Paling cuma sok berani untuk menutupi rasa takutnya! Tangkap dia dan rantai gerobaknya dengan [Rantai Penahan Mana Mistik]!"
Para prajurit Garda Merah melilitkan rantai-rantai besi hitam berukir sihir ke sekeliling gerobak terbang Lin Mo.
Namun, bukannya berat atau terkunci, panggangan Besi Emas Mistik [Panggangan Otomatis Level 3] milik Lin Mo justru menyerap sihir hitam dari rantai tersebut secara diam-diam, mengubahnya menjadi cadangan energi pemanas tambahan!
PING!
[Sistem Angkringan Ilahi: Menyerap Energi Rantai Penahan Mana!]
[Poin Arang Tambahan: +1.000 Poin]
[Suhu Panggangan Otomatis: Optimal & Siap Digunakan Kapan Saja]
Lin Mo tersenyum makin lebar membaca notifikasi Sistem di kepalanya. "Terima kasih rantai gratisnya ya, Paman Perdana Menteri!"
"Bawa mereka pergi!" teriak Perdana Menteri Vane melambaikan tangannya gusar.
Jenderal Valerie hanya bisa mengepalkan tangannya rapat-rapat saat menyaksikan Lin Mo, Lilia, Vex, Kaelen, dan gerobak terbang mereka digiring masuk menembus pintu gerbang batu menuju kompleks Penjara Bawah Tanah Istana.
Sebelum menghilang di balik kegelapan lorong penjara, Lin Mo sempat menoleh dan melambaikan kipas bambunya ke arah Jenderal Valerie.
"Jenderal Valerie! Tunggu kabar wangi sate saya dari bawah tanah ya!" teriak Lin Mo santai.
Jenderal Valerie menatap punggung Lin Mo yang menghilang di kegelapan, lalu menoleh ke arah Perdana Menteri Vane dengan tatapan mata yang sangat dingin dan penuh ancaman.
"Vane... Kamu tidak tahu ancaman jenis apa yang baru saja kamu masukkan ke dalam istanamu sendiri," gumam Jenderal Valerie berbisik dingin sebelum berbalik pergi bersama pasukannya.
Beberapa saat kemudian...
[Penjara Bawah Tanah Agung Istana Aethelgard.]
Suasana di lorong-lorong batu bawah tanah terasa sangat dingin, lembap, dan gelap. Dinding-dinding batu tebal dilapisi oleh segel sihir penahan mana berwarna biru redup.
Di sepanjang lorong, berjejer sel-sel besi raksasa yang dihuni oleh berbagai jenis narapidana kelas berat—mulai dari penyihir hitam terlarang, monster Mistik tangkapan, hingga mantan pejabat kerajaan yang dipenjara karena intrik politik.
Bau apak, busuk, dan lembap menyeruak di mana-mana.
Di bagian pusat lorong, berdirilah sebuah meja kayu besar tempat berkumpulnya para penjaga penjara.
Kepala Penjara Utama—seorang pria bertubuh kekar berotot dengan mata satu berlapis kain hitam bernama Kapten Boris sedang duduk bersandar sambil menekuni cawan anggurnya yang sudah hambar.
Brak!
Pintu besi lorong terbuka keras. Puluhan prajurit Garda Merah memicu masuk gerobak terbang Lin Mo dan mengunci Lin Mo beserta timnya di dalam sebuah sel raksasa paling ujung—sel khusus yang biasanya digunakan untuk menampung monster raksasa!
"Kapten Boris!" teriak komandan Garda Merah. "Ini adalah tahanan khusus perintah langsung Perdana Menteri Vane! Jangan biarkan dia keluar atau menyentuh panggangan kayunya sampai ada perintah eksekusi!"
Kapten Boris mengusap janggut kasarnya, menatap Lin Mo dan gerobak terbangnya dengan pandangan malas.
"Terserah lah. Yang penting jangan bikin kehebohan di sel saya," gumam Boris dingin lalu kembali meminum anggur murahnya.
Ctek! Pintu sel raksasa dikunci rapat dengan lima lapis gembok sihir. Para prajurit Garda Merah kemudian pergi meninggalkan area penjara.
Suasana lorong bawah tanah kembali menjadi hening dan suram.
Para narapidana di sel-sel sebelah mulai menjulurkan kepala mereka dari balik jeruji besi, menatap Lin Mo dan timnya dengan pandangan mengejek dan kasihan.
"Kasian sekali... Masih muda sudah dimasukin ke Sel Khusus Eksekusi..." bisik seorang penyihir tua berambut acak-acakan dari sel sebelah.
"Lihat itu, dia malah bawa gerobak kayu kotor. Mau jualan di dalam sel apa?" cemooh seorang petualang pemberontak berbadan kekar di sel lainnya.
Lilia yang duduk di sudut sel memeluk lututnya, telinga kelincinya terkulai sedikit. "Tuan Lin Mo... Tempat ini baunya apak sekali dan gelap..."
Vex mendengus pelan, mengepalkan tangannya. "Master... Kalau Master izinkan, saya bisa menghancurkan pintu sel besi ini dalam satu pukulan!"
Kaelen juga mengangguk setuju. "Benar Master! Dengan kekuatan penuh saya, kita bisa langsung melesat naik ke kamar Raja!"
Namun, Lin Mo justru menepuk-nepuk panggangan Besi Emas Mistiknya yang memancarkan pendaran hangat.
"Eits, jangan buru-buru, Anak-Anak," kata Lin Mo terkekeh ramah.
"Setiap tempat baru adalah peluang pasar baru. Coba kalian cium aroma udara di penjara ini—busuk, lembap, dan dingin, kan?"
"Iya Master, apak banget," sahut Kaelen memegangi hidungnya.
Lin Mo menyunggingkan senyuman paling percaya diri yang pernah ada.
"Artinya... Orang-orang di dalam penjara ini sudah berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun tidak pernah mencium wangi masakan enak dan hangat!" tegas Lin Mo bersemangat.
Lin Mo melompat naik ke atas gerobak kayunya. Ia memutar Kipas Bambu Ilahinya lincah di udara.
"Vex! Nyalakan panggangan Level 3!" perintah Lin Mo.
"Siap, Master!" Vex langsung memasukkan seikat kayu arang Mistik murni ke dalam tungku ganda.
"Kaelen! Keluarkan stok Daging Maranggi Lembu Surgawi dan Daging Naga Hitam Bumbu Kecap Karamel!"
"Siap dilaksanakan, Master!" Kaelen dengan lincah membuka kulkas es dan menyodorkan puluhan tusuk daging berkualitas tinggi yang sudah dimarinasi sempurna.
"Lilia! Nyalakan lentera sihir gerobak! Kita buka lapak malam ini!" seru Lin Mo mengacungkan kipasnya.
BZZZZZZT!
Lentera sihir di atas gerobak Lin Mo menyala terang benderang berwarna keemasan, menerangi seluruh lorong penjara bawah tanah yang gelap gulita!
Panggangan Besi Emas Mistik meledak dalam pancaran cahaya hangat yang sangat menenangkan, mengusir rasa dingin dan lembap di dalam sel secara instan!
Lin Mo meletakkan lima puluh tusuk Sate Maranggi Lembu Surgawi dan lima puluh tusuk Sate Naga Hitam Karamel di atas jeruji emas.
Breeessshhh!
[Api Murni Pemanggang Arang] menyambar tusukan sate tersebut!
Lin Mo mengibaskan kipas bambunya lincah di udara.
"Jurus Angkringan Bawah Tanah: Asap Harum Penembus Segel Mistik!"
FWOOOOOOOOSHHHHH!
Gumpalan asap merah keemasan yang sangat tebal, wangi, dan memancarkan pendaran pualam membumbung tinggi dari panggangan Lin Mo!
Asap harum itu tidak tertahan oleh segel sihir sel, melainkan meluncur deras menyusuri setiap sudut lorong, menembus celah-celah jeruji besi seluruh sel penjara!
Sssttt... Sssttt...
Minyak gurih dari lemak lembu surgawi dan daging naga meleleh berdesir pelan di atas bara api arang.
Aroma manis ketumbar, gurih pekat bawang putih ilahi, kelezatan karamel terbakar, dan sensasi renyah gurih daging kelas atas menyatu menjadi satu gelombang aroma dahsyat yang menyapu seluruh Penjara Bawah Tanah Agung!
BUMMMMM!
Aroma tersebut menghantam hidung ratusan narapidana dan para penjaga penjara secara bersamaan!
"A-Aroma apa ini?!" jerit penyihir tua di sel sebelah mendadak melompat dari tempat tidurnya, matanya membelalak lebar bagaikan melihat hantu.
"Uwooooogh! Harum sekali! Gurih sekali! Hidungku! Hidungku mendadak mencium wangi surga!" jerit petualang kekar di sel depan, air liurnya mendadak menetes deras bagaikan keran bocor di atas lantai batu!
Seluruh narapidana dari puluhan sel yang tadinya lemas dan sekarat mendadak berdiri menempelkan wajah mereka erat-erat ke jeruji besi, menatap ke arah gerobak bercahaya emas milik Lin Mo dengan pandangan liar penuh gairah lapar!
"Bau sate! Itu bau sate bakar!"
"Tolong! Siapapun di sel ujung! Beri aku setusuk sate itu! Aku kasih tongkat sihir pusakaku!"
"Aku kasih seribu koin emas! Tolong lemparkan setusuk ke selku!" teriak ratusan narapidana histeris, membuat seluruh lorong penjara berguncang hebat oleh teriakan lapar mereka!
Bahkan Kapten Boris Kepala Penjara bermata satu yang terkenal sangat dingin dan kejam mendadak tersentak berdiri dari kursinya!
Cangkir anggur di tangannya jatuh terhempas ke lantai hingga pecah berkeping-keping.
Hidung kasarnya bergetar hebat saat menyerap aroma gurih manis karamel yang menusuk langsung ke saraf penciumannya!
"M-Mustahil..." gumam Kapten Boris dengan suara gemetaran, dadanya naik turun menahan gairah lapar yang tidak pernah ia rasakan selama puluhan tahun.
"Aroma ini... Aroma ini sanggup membangunkan jiwa yang mati!" jerit Batis batinnya histeris.
Dengan langkah kaki gemetaran bagaikan tersihir, Kapten Boris berjalan mendekati sel khusus Lin Mo. Kunci sel di genggamannya bergemerincing keras karena tangannya yang bergetar tak terkontrol.
Boris berdiri di depan jeruji sel Lin Mo, matanya melotot menatap piring pualam putih di tangan Lin Mo yang berisi puluhan tusuk sate daging naga berkilau karamel emas yang mengepulkan uap panas.
Lin Mo melangkah mendekati jeruji besi, mengibaskan kipas bambunya santai sambil menyunggingkan senyuman ramah paling memikat.
"Selamat malam, Paman Kapten Penjara," sapa Lin Mo halus.
"Sate Daging Naga Hitam Bumbu Kecap Karamel hangatnya kakaaak! Mumpung masih panas-panasnya, Paman Kapten mau coba setusuk tidak?" tawar Lin Mo menaikkan sebelah alisnya.
Kapten Boris menelan ludahnya secara kasar—suara tegukan ludahnya bergema nyaring di tengah keheningan lorong penjara.
Gengsi dan tugas militernya menuntutnya untuk menolak, namun aroma gurih ajaib dari piring di hadapannya bertindak bagaikan sihir hipnotis mutlak yang memaksa tangannya bergerak sendiri membuka gembok sel!
Ctek! Ctek! Ctek!
Lima lapis gembok sihir sel terbuka seketika!
Kapten Boris melangkah masuk ke dalam sel Lin Mo, menyambar satu tusuk *Sate Naga Hitam Karamel* dengan tangannya yang gemetaran, lalu memasukkannya ke dalam mulutnya!
Nyuttt! Juicccy!
Kerenyahan karamel manis di luar bercampur kelembutan luar biasa dari daging naga yang kaya lemak gurih murni meledak seketika di atas lidahnya!
Bzzzzzzt! BUMMMMM!
Sensasi kelezatan tingkat Ilahi meledak hebat di dalam tubuh sang Kepala Penjara!
"UWOOOOOOOOOOGH!"
Kapten Boris pria garang bermata satu yang ditakuti seluruh penjahat kerajaan mendadak berlutut di atas lantai batu penjara yang dingin!
Air mata kebahagiaan menetes deras dari mata satunya, membasahi pipi kasarnya yang penuh bekas luka pertempuran!
"L-Lezat sekali! Dagingnya begitu empuk! Bumbu karamelnya... bumbu karamelnya meresap sampai ke dalam Inti Mana saya yang macet selama sepuluh tahun!" jerit Kapten Boris histeris tanpa sadar meraung bahagia.
Tanpa memedulikan pangkat dan wibawanya, Kapten Boris menyambar seluruh tusukan sate di piring Lin Mo dan melahap lima tusuk sekaligus!
Nyam! Nyam! Nyam!
"Luar biasa! Ini bukan makanan tahanan! Ini adalah Mahakarya Suci dari Dewa Kuliner Surgawi!" teriak Kapten Boris histeris sambil terus mengunyah dengan wajah merona merah bahagia.
Ia mendongak menatap Lin Mo dengan mata berbinar-binar penuh pengabdian tulus.
"Master Lin Mo!" teriak Kapten Boris bersujud merapatkan dahinya ke sepatu Lin Mo.
"Mulai detik ini, Penjara Bawah Tanah Agung Aethelgard sepenuhnya berada di bawah komando Anda!"
"Sebutkan siapa yang ingin Anda bebaskan atau siapa yang ingin Anda hukum! Hamba dan seluruh penjara ini siap melayani Angkringan Dewa Mo!" seru Kapten Boris tulus dari lubuk hatinya.
PING!
[Sistem Angkringan Ilahi: PENUNDUKAN KEPALA PENJARA SELESAI!]
[Hasil: Kemenangan Kuliner Bawah Tanah Mutlak!]
[Menerima Hadiah Misi:]
[Poin Arang +5.000]
[Kendalikan Penuh Penjara Bawah Tanah Aethelgard]
[Akses Jalur Rahasia Bawah Tanah Menuju Kamar Raja Utama Terbuka!]
[Total Poin Arang Saat Ini: 48.950 Poin!]
Lin Mo tersenyum lebar menatap notifikasi Sistem dan Kepala Penjara yang bersujud di depannya.
Ia mengibaskan kipas bambunya santai.
"Nah begitu dong Paman Kapten," kata Lin Mo ramah.
"Sekarang, bagikan sate ini ke semua sel tahanan. Terus habis itu, tunjukkan ke saya jalur rahasia menuju kamar Raja Utama yang sakit itu!" seru Lin Mo mengacungkan kipas bambunya ke udara.
"Siap dilaksanakan, Master Lin Mo!" jerit Kapten Boris penuh semangat.
Seluruh Penjara Bawah Tanah Agung yang tadinya merupakan tempat paling menyeramkan di Ibu Kota, kini mendadak berubah menjadi cabang angkringan paling meriah dan penuh gelak tawa di seluruh benua!
Di atas sana, Perdana Menteri Vane dan Chef Bernard sama sekali tidak menyadari bahwa rencana mereka untuk mengurung Lin Mo justru menjadi pemicu awal dari kehancuran takhta korup mereka sendiri!