NovelToon NovelToon
Jodohku Gadis BAR-BAR

Jodohku Gadis BAR-BAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dosen / Romansa Fantasi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Miss_Fey

Hanan mendekat perlahan ke arah istrinya. Senyum tipis namun tulus di wajahnya tak pernah hilang. “Alhamdulillah… sekarang kamu adalah istriku sepenuhnya, sah secara agama dan negara.” Kanza melirik suaminya itu dengan mata menyipit, berusaha menutupi rasa salting-nya yang luar biasa. “Iya, sudah sah secara dokumen, tapi kan belum sah secara dompet. Kado mana kadooo? Manaaa? Katanya dosen sukses!” Bella menepuk jidatnya sendiri. “Ya Allah, Kanza… baru semenit jadi istri sudah malak suami.” Hanan tertawa pelan, tawa yang jarang sekali ia tunjukkan di depan umum. Ia kemudian menyodorkan sebuah kotak kecil mungil yang manis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Fey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Malam telah turun dengan lembut, membungkus rumah kecil mereka dengan kehangatan.

Kanza sedang menggulung diri dalam selimut tebal seperti lumpia goreng yang kedinginan, masih sedikit trauma karena nyaris menjadi "Ibu Bohongan" di hadapan publik tadi siang.

Wajahnya terbenam di bantal, sesekali mendesis meratapi nasibnya yang harus melakukan demo membedong boneka di depan ibu-ibu.

Hanan Arkan keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil tersampir di leher. Rambutnya masih basah, meninggalkan aroma sabun yang segar dan menenangkan.

Pandangannya jatuh pada gumpalan selimut di atas ranjang yang tampak bergerak-gerak gelisah.

"Udah tidur, Kanza?" tanyanya sambil mendekat.

“Belom,” jawab Kanza dari balik selimut, suaranya teredam namun tetap terdengar cempreng.

“Mas... Kanza masih trauma berat. Kalau minggu depan Umah menyuruh kita mengisi kelas parenting, aku mau nyamar jadi gentong air saja biar nggak dikenali!”

Hanan Arkan terkekeh, lalu duduk di tepi ranjang. Tangannya menyibak sedikit selimut, menampakkan wajah istrinya yang merah padam.

“Tapi tadi kamu lucu sekali,” katanya lembut.

“Satu majelis tertawa... sampai Bu RT harus dicek tensinya karena tidak berhenti tertawa. Kapan lagi pengajian isinya stand-up comedy tentang kehamilan halu?”

Kanza berdecak. “Mas... lucu itu beda tipis sama aib. Entar aku viral jadi content creator tapi anaknya hasil CGI!”

Hanan Arkan tertawa pelan, namun tatapannya perlahan berubah serius. Ia mengusap pipi Kanza dengan ibu jarinya.

“Ngomong-ngomong soal parenting...,” ucapnya pelan dengan suara yang lebih rendah.

“Mas boleh minta hak Mas malam ini?”

Kanza langsung menyibak selimutnya secepat kilat, bangkit seperti hantu yang baru bangun tidur.

“HAK APA NIH? KALAU HAK PILIH, KANZA MILIH KABUR KE RUMAH Tasya!”

Hanan Arkan merangkul bahu istrinya.

“Yang halal. Yang biasanya Mas minta seminggu dua kali, atau lebih kalau cuacanya sedang mendukung seperti sekarang.”

Mata Kanza membulat sempurna.

“Mas... aku baru saja pulih dari guncangan mental gara-gara pura-pura hamil, masa sekarang langsung disuruh latihan bikin yang beneran?”

Hanan Arkan tersenyum penuh arti, menatap istrinya dengan tatapan yang sangat dalam.

“Mas tidak mengajak bikin tim futsal sekarang kok... cuma ingin... menyambung tali kasih kita sebagai pasangan suami istri yang penuh g4ir4h.”

Kanza langsung berguling ke pojok ranjang.

“KANZA MASIH MERASA KAYAK ANAK SD! Tadi siang saja aku dikira anak SMP sama ibu-ibu! MAS MAU DILAPORKAN KARENA MENIKAHI ANAK DI BAWAH UMUR?!”

Hanan Arkan menahan tawa sekuat tenaga.

“Kanza... Mas janji... pelan-pelan saja... penuh kelembutan... seperti di film-film romantis yang sering kamu tonton.”

Kanza menyipitkan mata penuh selidik.

“Mas... jangan samakan aku dengan adegan film. Ini dunia nyata.”

Hanan Arkan mengangguk khidmat.

“Iya, iya. Tapi Mas janji, malam ini tidak ada yang bakal kaget... kecuali kamu sendiri.”

Kanza terdiam, menatap langit-langit kamar sejenak, lalu menunjuk Hanan Arkan dengan gaya dramatis.

“Baiklah! Tapi kalau aku menjerit... atau tiba-tiba aku memukul Mas... itu murni refleks! Mas tidak boleh marah!”

Hanan Arkan mengangguk mantap.

“Deal. Tapi kalau kamu menendang... minimal kasih kode dulu, biar Mas bisa ambil ancang-ancang.”

"Em." jawab Kanza mengangguk polos.

Hanan Arkan hanya membalas dengan seringai tipis yang jarang ia perlihatkan di depan umum.

Ia perlahan merangkak mendekat, mengikis jarak hingga aroma maskulin dari tubuhnya yang baru saja mandi benar-benar menguasai indra penciuman Kanza.

"Sudah siap, Nyonya Arkan?" bisik Hanan tepat di depan wajah istrinya.

Kanza menelan ludah dengan susah payah.

"Siap nggak siap, Mas. Tapi ingat ya, jangan pakai tenaga kuda dosen killer! Pakai tenaga... tenaga kapas saja!"

Hanan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia mulai mendaratkan kecupan lembut di dahi Kanza, turun ke kedua kelopak matanya, hingga berakhir di leher jenjang istrinya.

Sentuhan itu terasa sangat berbeda dari biasanya lebih intens, lebih menuntut, namun tetap menjaga kelembutan yang ia janjikan.

“Aduh, Mas… tunggu!” pekik Kanza tertahan saat jemari Hanan mulai bergerak lincah.

“Ini… ini rasanya seperti ada ribuan semut lagi pawai di punggung Kanza! Geli tapi… tapi kok enak?”

Hanan terkekeh rendah, suara baritonnya bergetar di dekat telinga Kanza.

“Itu namanya desiran g4ir4h, Sayang. Nikmati saja.”

Seiring berjalannya waktu, protes-protes absurd Kanza yang biasanya meledak-ledak mulai mereda.

Ocehan tentang "anak SD" atau "refleks memukul" perlahan digantikan oleh napas yang memburu dan cengkeraman erat tangan Kanza di bahu bidang Hanan.

Ternyata, Hanan benar-benar memegang janjinya; setiap sentuhannya dilakukan dengan ritme yang penuh perasaan, seolah sedang memuja setiap inci tubuh istrinya.

“Mas…” gumam Kanza lirih, matanya kini terpejam rapat dengan wajah yang memerah padam.

Kali ini bukan lagi karena malu, melainkan karena sensasi panas yang mulai menjalar hebat ke seluruh tubuhnya.

“Ya, Sayang?” sahut Hanan serak.

“Ternyata… Mas nggak bohong soal film romantis itu,” bisik Kanza dengan napas tersengal.

“Tapi ini lebih… lebih bikin Kanza mau pingsan.”

Hanan tersenyum penuh kemenangan melihat pertahanan "bar-bar" istrinya telah runtuh sepenuhnya.

Penyatuan mereka malam itu tidak lagi diwarnai dengan ketakutan atau keluhan menyakitkan seperti malam pertama yang traumatis bagi Kanza.

Kali ini, ada irama yang saling bersahutan, sebuah harmoni antara ketegasan seorang Hanan dan kepasrahan Kanza yang mulai menemukan dunianya di dalam pelukan sang suami.

Kanza yang biasanya pemberontak, kini justru semakin menarik Hanan mendekat, seolah tidak ingin ada jarak sekecil pun yang memisahkan mereka.

Di bawah temaram lampu kamar, api amarah cemburu yang beberapa hari lalu membakarnya, kini telah bermutasi menjadi api asmara yang jauh lebih membara.

Malam itu, Kanza benar-benar belajar satu hal penting: bahwa di balik sosok dosen kaku yang sering ia ejek, Hanan Arkan adalah pemilik kunci yang paling ahli dalam membuka sisi lain dari dirinya yang belum pernah ia kenal sebelumnya.

Dan untuk pertama kalinya, Kanza tidak merasa keberatan jika harus "menyerah" berkali-kali di tangan monster favoritnya itu.

Beberapa jam kemudian…

Kanza terkapar di ranjang seperti habis melakukan adegan laga di film kolosal. Napasnya masih satu-satu.

“MAS... KATANYA PELAN... KATANYA SOPAN... INI MAH... RASA-RASANYA AKU KEINJEK SEMESTA!” keluh Kanza yang kembali dengan sikap protesnya, walaupun beberapa saat yang lalu ia sangat menikmatinya.

Hanan Arkan, dengan sabar mengelus punggung istrinya yang tampak lelah lahir batin, membalas dengan nada kalem yang sangat menyebalkan bagi Kanza.

“Kan kamu sendiri yang bilang... kalau menjerit itu refleks. Mas kira itu bagian dari ekspresi kebahagiaanmu yang meluap-luap.”

Kanza mendesis tajam. “EKSPRESI DARI MANA! INI NAMANYA ROLEPAIN, MAS. ROLEPAINNN!!!”

Pagi itu, Hanan Arkan sedang duduk di ruang dosen, jemarinya lincah mengetik revisi bahan ajar untuk pertemuan siang nanti.

Kemeja birunya tampak rapi tanpa cela, meski rambutnya sedikit acak-acakan terkena angin pagi, memberikan kesan maskulin yang alami.

Matanya fokus menatap layar laptop, sementara suasana di sekitarnya cukup tenang dengan beberapa dosen lain yang sibuk dengan urusan masing-masing.

Tiba-tiba, suara ketukan lembut di pintu kayu jati itu menginterupsi konsentrasinya.

"Assalamualaikum, Pak Hanan."

Hanan Arkan menoleh. Zahira berdiri di ambang pintu dengan senyum manis yang tersusun rapi, dibalut jilbab warna pastel yang membuatnya tampak anggun.

Hanan mengangguk sopan, meski tatapannya tetap profesional.

"Waalaikumsalam. Ada perlu apa, Zahira?"

Zahira melangkah masuk dengan anggun. Tangannya membawa map berisi tugas kuliah, tapi auranya bukan aura mahasiswi yang datang untuk bimbingan biasa.

Ada senyum yang tertahan terlalu lama di bibirnya, dan tatapan yang terasa terlalu hangat untuk ukuran seorang murid kepada gurunya.

“Saya tadi habis isi mentoring, terus kepikiran mau diskusi soal tugas Etika Profesi... Boleh sekarang, Pak?”

Hanan sedikit bingung karena jadwal bimbingan bukan saat ini, tapi ia tetap menjaga etos kerjanya.

“Boleh, duduk saja.”

Zahira duduk... namun jaraknya terasa terlalu dekat, melampaui batas formalitas antara dosen dan mahasiswi.

Hanan refleks menggeser kursinya mundur beberapa sentimeter.

“Tugasnya yang bagian mana?”

“Yang bagian tentang etika relasi dosen dan mahasiswi,” jawab Zahira cepat, sambil menatap dalam ke netra Hanan, seolah ada pesan tersirat di balik kata-katanya.

Hanan langsung merasakan atmosfer yang tidak nyaman.

“Oke... itu sebenarnya bahasan pekan depan. Tapi kalau mau diskusi sekarang, tidak apa-apa,” katanya dengan nada bicara yang dibuat seformal mungkin.

Zahira menyodorkan map tersebut, namun saat melakukannya, ujung jemarinya sengaja menyentuh punggung tangan Hanan.

Hanan langsung menarik tangannya dengan gerakan cepat namun halus.

“Maaf, Mas... refleks,” ucap Zahira lirih.

Kata "Mas" yang keluar dari mulutnya terasa seperti undangan yang tidak sopan.

Matanya menatap Hanan dengan cara yang membuat siapa pun sadar: ini bukan sekadar diskusi akademik. Ini adalah sebuah pernyataan rasa.

Hanan segera menutup pembahasan, berdiri, dan mengambil jarak.

“Sepertinya kamu sudah cukup paham. Kalau masih ada yang mengganjal, silakan kirim lewat email saja ya.”

Zahira ikut berdiri.

“Mas Hanan…”

Hanan menoleh singkat.

“Ya?”

Zahira ragu sejenak, lalu berkata dengan suara yang ditekan lembut.

“Saya... masih tetap berharap. Meskipun Mas sudah menikah dengan Kanza.”

Hening menyelimuti ruangan itu selama beberapa detik.

Hanan Arkan menghela napas panjang, sorot matanya menajam.

“Zahira, saya menghormati kamu sebagai mahasiswi berprestasi. Tapi tolong jaga batas. Jangan rusak martabat yang sudah kamu bangun sebagai santri dan mahasiswi yang saya percaya.”

Zahira menunduk, namun bukannya terlihat menyesal, bibirnya justru melengkung membentuk senyum tipis yang penuh misteri.

“Maaf, Mas. Tapi rasa itu tidak punya rem, dan tidak bisa dilarang.”

Dan sebelum Hanan sempat membalas, Zahira keluar dari ruangan dengan langkah yang sangat tenang. Jelas sekali, misinya baru saja dimulai.

Beberapa hari setelah pertemuan di ruang dosen, Zahira mulai melancarkan strategi barunya.

Ia tahu, cara frontal hanya akan membuat Hanan membentengi diri. Maka, ia memilih jalur halus: infiltrasi melalui keluarga.

Pagi itu, Zahira datang ke ndalem mengenakan gamis sederhana namun berkelas, membawa sebakul getuk lindri warna-warni yang menggugah selera.

"Assalamualaikum, Umah... Zahira boleh mampir sebentar?"

Umah yang sedang menyiram bunga di halaman langsung menoleh dan wajahnya berseri-seri.

"Waalaikumsalam, lho, Ndok! MasyaAllah... bawa apa itu?"

"Getuk, Mah... buatan sendiri. Pengen silaturahmi saja sama Umah, sudah lama kita tidak ngobrol panjang."

Umah sumringah. Ia memang sudah lama menyukai kepribadian Zahira yang tampak santun.

“Sini masuk, Ndok. Kamu tahu saja Umah lagi ingin yang manis-manis!”

Zahira duduk di ruang tamu, mengobrol dengan tata krama yang sempurna, bahkan sesekali membantu Umah menyusun toples di dapur dengan cekatan.

Ia tahu betul Umah sangat mudah luluh pada gadis yang rajin dan berwibawa.

“Umah... kalau boleh jujur, Zahira tuh kagum sekali dengan keluarga Mas Hanan. Adem, islami, dan sangat berilmu. Zahira sering berpikir... betapa beruntungnya wanita yang bisa benar-benar menyatu dengan keluarga ini.”

Umah tersenyum simpul, mengusap bahu Zahira.

“MasyaAllah, Ndok... kamu itu sudah seperti anak sendiri buat Umah.”

Zahira pura-pura tersipu malu, menundukkan wajahnya agar terlihat tulus.

“Aamiin, Umah... semoga suatu hari nanti doa itu dikabulkan dan Zahira benar-benar bisa jadi bagian dari keluarga ini…”

Umah tidak menjawab secara gamblang, namun dari raut wajahnya yang teduh, Zahira tahu bahwa benih keraguan terhadap Kanza mungkin bisa mulai ditabur.

Zahira mulai sering muncul di tempat Aisah belajar. Ia membawakan camilan favorit dan menawarkan bantuan untuk skripsi Aisah.

Hingga suatu hari, saat suasana sedang santai, ia menyelipkan kalimat yang mematikan:

“Mbak Aisah, Mas Hanan itu dosen teladan ya... sabar, tegas, tapi sebenarnya lembut sekali hatinya. Istrinya pasti harus punya kesabaran setingkat bidadari.”

Aisah menoleh, tertawa kecil tanpa curiga.

“Iya, benar. Tapi juga harus kuat mental. Mas Hanan itu kalau sudah punya prinsip, keras kepala sekali.”

Zahira berpura-pura membenahi letak bukunya, lalu tersenyum penuh arti.

“Kalau Zahira sih... insyaAllah siap lahir batin. Asal bersama Mas Hanan... rasanya semua beban jadi ringan.”

Tawa Aisah perlahan memudar. Ia mengernyitkan dahi, menatap Zahira dengan pandangan menyelidik.

Dan di saat itulah, untuk pertama kalinya, Aisah mencium aroma persaingan yang tidak sehat di balik keramahtamahan Zahira.

~~~NEXT~~~

1
partini
tau agama tapi hati penuh iblis no good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!