Qin Mu, putra Patriark Keluarga Qin, dianggap sebagai sampah karena gagal membuka meridian meski telah berlatih selama satu tahun. Di tengah hinaan, tekanan keluarga, dan ancaman diusir pada Upacara Uji Spiritual, ia tetap bertahan dengan tekad kuat.
Namun, di balik kegagalannya, tersembunyi misteri besar dalam tubuhnya. Hingga suatu malam, ia akhirnya melihat energi spiritual untuk pertama kalinya, tanda awal kebangkitan yang akan mengubah nasibnya.
Dari kehinaan menuju kekuatan tertinggi, Qin Mu menantang takdir untuk menjadi Penguasa Agung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch 9 — Tamu Misterius
Fajar baru saja menyingsing, menyemburatkan warna emas di ufuk timur Kota Huzhou. Di dalam kamarnya, Qin Mu sudah duduk bersila dengan posisi meditasi yang sempurna.
Sejak mencapai Tahap Pembentukan Dantian Puncak, tidurnya menjadi lebih singkat namun berkualitas tinggi. Baginya, saat-saat bangun tidur adalah waktu terbaik di mana energi alam masih murni, belum tercemar oleh hiruk-pikuk aktivitas manusia.
Setelah merasa aliran spiritual di dalam tubuhnya stabil, ia membuka mata dan mengembuskan napas panjang yang membentuk uap putih tipis. Ia bangkit, merilekskan otot-ototnya dengan serangkaian gerakan peregangan cepat, lalu mulai melancarkan pukulan-pukulan bayangan di tengah ruangan.
Setiap gerakannya kini jauh lebih terkontrol, menciptakan tekanan udara yang rendah namun padat.
"Satu... dua..." gumamnya, menghitung ritme napas.
Srek.
Suara langkah kaki ringan di atas tumpukan daun Ginkgo di luar kamarnya membuat Qin Mu menghentikan gerakannya. Ia menoleh ke arah pintu tepat saat sosok anggun bergaun biru langit muncul di ambang pintu yang terbuka.
"Lian'er?" Qin Mu menghentikan latihannya, menyeka keringat tipis di dahi dengan punggung tangan.
"Tumben sekali kau datang pagi-pagi begini. Bukankah biasanya kau berlatih di Lapangan Utama saat jam seperti ini?"
Qin Lian terdiam sejenak, menatap Qin Mu dengan binar mata yang sulit diartikan. Ada sedikit guratan kesedihan namun juga tekad yang kuat di wajah cantiknya.
"Mu'ge," suaranya lembut namun terdengar serius.
"Aku kemari untuk berpamitan sebentar. Mulai hari ini hingga hari Upacara Uji Spiritual tiba, aku akan melakukan latihan tertutup."
Qin Mu menaikkan alisnya. "Latihan tertutup? Bersama siapa?"
"Tetua Pertama, Bibi Xuanyu," jawab Qin Lian.
"Beliau secara pribadi memintaku untuk mengasah teknik 'Embun Langit' milikku agar mencapai kesempurnaan sebelum ujian dimulai."
Qin Mu tertegun sejenak. Nama Qin Xuanyu bergaung di kepalanya. Wanita itu adalah praktisi wanita terkuat di keluarga mereka, sosok yang dingin dan perfeksionis. Qin Mu ingat betul, saat ia masih kecil, Bibi Xuanyu sering memberinya manisan. Namun, begitu tahun-tahun berlalu dan bakat Qin Mu tak kunjung muncul, tatapan hangat itu berubah menjadi dingin dan acuh tak acuh.
"Tentu saja," batin Qin Mu. "Bagi seseorang seperti Qin Xuanyu, hanya emas yang berkilau yang layak dipoles. Bakat Lian'er adalah permata bagi orang-orang seperti dia."
Meski ada sedikit rasa pahit di hatinya, Qin Mu tidak menunjukkannya. Ia tersenyum tulus.
"Itu kesempatan bagus, Lian'er. Tetua Pertama adalah ahli dalam bela diri halus. Kau akan menjadi jauh lebih kuat di bawah bimbingannya."
Qin Lian mengangguk, namun ia tampak ragu untuk pergi. "Tapi Mu'ge, aku tidak akan bisa menemuimu selama sembilan hari ke depan..."
"Tunggu sebentar," potong Qin Mu tiba-tiba.
Ia berbalik dan berjalan menuju laci kecil di samping tempat tidurnya. Ia mengambil sebuah benda kecil yang dibungkus kain sutra, lalu kembali ke hadapan Qin Lian.
"Ini. Aku membelinya kemarin saat jalan-jalan ke kota," ucap Qin Mu sambil menyerahkan benda itu.
Qin Lian membukanya dengan tangan gemetar. Di atas telapak tangannya, sebuah tusuk konde perak berbentuk bulan sabit berkilau indah. Ukirannya sederhana namun sangat elegan, mencerminkan kepribadian Qin Lian yang tenang.
"Ini... untukku?" tanya Qin Lian dengan mata yang berbinar-binar penuh antusias.
Qin Mu menggaruk tengkuknya, wajahnya memanas dan ia memalingkan wajah dengan malu-malu.
"Ya. Aku melihatnya di toko perhiasan dan berpikir itu cocok dengan rambutmu. Anggap saja sebagai jimat untuk latihan tertutupmu."
Tanpa diduga, Qin Lian maju dan memeluk lengan Qin Mu singkat sebelum berbalik pergi dengan wajah yang merah padam.
"Terima kasih, Mu'ge! Aku akan memakainya setiap hari!"
Qin Mu terpaku menatap punggung Qin Lian yang menjauh hingga menghilang di tikungan koridor. Ia menghela napas, merasa hatinya sedikit lebih ringan. Namun, perasaan damai itu hanya bertahan beberapa detik.
"Tentu saja Tuan Muda kita sangat berwawasan, bukan? Memberikan perhiasan pada seorang gadis cantik, berbakat dan jenius adalah langkah strategi yang manis."
Suara itu asing—merdu, namun dingin seperti es dan mengandung tekanan yang membuat bulu kuduk Qin Mu berdiri.
Qin Mu tersentak hebat. Ia segera berputar ke sumber suara berada, jantungnya berdegup kencang karena ia sama sekali tidak merasakan kehadiran orang lain di kamarnya.
Di sudut ruangan, bersandar pada pilar kayu, berdiri seorang wanita cantik yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Wanita itu mengenakan pakaian serba hitam yang melekat ketat, menonjolkan lekuk tubuhnya yang matang. Rambutnya disanggul tinggi, dan yang paling mencolok adalah sebuah tahi lalat kecil di bawah bibirnya yang memberikan kesan misterius sekaligus menggoda.
"Siapa kau?!" Qin Mu mengambil posisi waspada, tangan kanannya merogoh batangan besi meteor yang tak ada di pundaknya.
"Bagaimana kau bisa masuk ke sini tanpa terdeteksi?"
Wanita itu tidak menjawab secara langsung. Matanya yang tajam mengamati Qin Mu dari atas ke bawah dengan tatapan yang sulit dibaca—ada sedikit kejutan, namun lebih banyak kedengkian yang tersembunyi di balik senyum tipisnya.
"Siapa aku?" Wanita itu berjalan mendekat dengan langkah yang seolah melayang di atas lantai.
"Kau akan mengetahuinya suatu hari nanti, Tuan Muda Qin Mu. Tapi untuk saat ini, aku hanya seorang pembawa pesan." ucapnya dengan senyuman tipis yang menggoda.
Ia mengeluarkan sebuah kotak hitam kecil dari kehampaan dan meletakkannya di atas meja latihan Qin Mu.
"Seseorang ingin kau memiliki ini. Gunakan dengan bijak, atau jangan gunakan sama sekali," ucapnya dingin.
Qin Mu terpaku, matanya beralih sejenak ke arah kotak misterius itu. "Siapa yang mengirimmu? Ayahku? Atau faksi yang membenci ayah?"
Wanita itu tidak menjawab. Ia hanya menatap Qin Mu sekali lagi, seolah sedang menilai apakah pemuda di depannya ini benar-benar 'sampah' seperti yang dikatakan rumor atau sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Saat Qin Mu hendak mendesaknya lagi dengan pertanyaan, wanita itu bergerak.
Zzap!
Hanya dalam sekejap mata, sosok wanita itu memudar seperti asap yang ditiup angin. Qin Mu berlari ke arah jendela, namun tidak ada siapapun di sana. Halaman kamarnya kosong melompong.
"Hilang... begitu saja?" Qin Mu bergumam, keringat dingin membasahi punggungnya.
"Tingkat kultivasi macam apa itu? Dia mengeluarkan barang dari udara? Bukan cincin ruang? Lalu tiba-tiba menghilang begitu saja? Bahkan Ayah mungkin tidak bisa melakukannya."
Ia berbalik dan menatap kotak hitam yang tergeletak di atas meja.
"Siapa sebenarnya wanita barusan?"
Qin Mu berdiri mematung di depan meja kayunya, menatap kotak hitam yang diletakkan wanita misterius tadi. Aroma wangi yang dingin tercium dari kotak itu, bercampur dengan sensasi energi yang sangat tipis namun menusuk.
"Kekuatannya... benar-benar di luar nalar," bisik Qin Mu pada kesunyian kamar.
Sebagai seseorang yang baru saja merasakan sensasi Dantian, ia bisa merasakan sisa tekanan yang ditinggalkan wanita itu. Itu bukan sekadar kekuatan fisik atau kabut spiritual biasa; itu adalah tekanan mental yang begitu padat, seolah-olah wanita itu bisa menghancurkan jantungnya hanya dengan niat saja.
Qin Mu mengulurkan tangan, namun jarinya berhenti tepat satu inci di atas tutup kotak. Logika bertarung di dalam kepalanya.
"Jika dia ingin aku mati, dia tak perlu racun atau jebakan di dalam kotak. Dia cukup menjentikkan jarinya."
Namun, kewaspadaan yang ia pupuk selama setahun menjadi sampah membuatnya menarik kembali tangannya. Ia memutuskan untuk tidak membuka kotak itu sekarang. Ia membungkus kotak hitam tersebut dengan kain lusuh dan menyembunyikannya di bawah papan lantai yang longgar.
"Pesan itu... 'Gunakan dengan bijak, atau jangan gunakan sama sekali.' Apa maksudnya?"
Pertanyaan itu ia simpan rapat-rapat. Fokusnya kini kembali pada satu hal: Sembilan hari menuju Upacara Uji Spiritual.