Setelah rencana Mugen Tsukuyomi hancur, Madara Uchiha menemui ajalnya di Perang Dunia Ninja Keempat. Namun, bukannya pergi ke alam baka, ia justru terbangun di pesisir Grand Line yang ganas dalam wujud remajanya yang berusia 16 tahun. Kehilangan ambisi lamanya, sang "Hantu Uchiha" kini hanya ingin hidup bebas dan terlepas dari pertumpahan darah yang tak berarti.
Berbekal sebuah Sistem misterius yang memulihkan kekuatan dewanya secara bertahap, Madara memulai perjalanan barunya. Ironisnya, sikap Madara yang arogan, dingin, dan selalu menolak membunuh musuh lemah malah memicu rentetan kesalahpahaman yang konyol. Dunia dan para pengikutnya—mulai dari Nico Robin, Boa Hancock, hingga Enel—menyanjungnya sebagai sosok penyelamat agung sekaligus penguasa mutlak yang tak tertandingi.
Bersama Bajak Laut "Mugen", eksistensi Madara perlahan meruntuhkan alur takdir lautan. Mulai dari mempermalukan Angkatan Laut, membelah langit melawan Yonko, hingga diakui sebagai "Kaisar Kelima".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Rutinitas di Kapal dan Anomali Alam
Cahaya matahari pagi mulai menembus celah-celah awan tipis di ufuk timur.
Warna keemasan menyapu permukaan laut yang tenang, memantulkan kilauan yang menyilaukan mata. Angin berhembus pelan, membawa kesejukan sisa-sisa embun malam dan aroma garam yang selalu setia menemani setiap pelayaran di West Blue.
Kapal tanpa bendera itu membelah ombak dengan ritme yang konstan.
Layar putihnya yang kini bersih dari lambang tengkorak usang menggelembung terisi angin. Tidak ada suara teriakan mabuk atau nyanyian sumbang yang biasanya identik dengan kapal bajak laut.
Suasana di atas geladak kapal itu sangat hening.
Para kru kapal bergerak seperti bayangan. Mereka menarik tali layar dengan sangat pelan, memastikan tidak ada bunyi decit dari katrol kayu yang berkarat. Mantan kapten yang kini menjadi mandor kebersihan menggosok lantai kayu dengan gerakan teratur, sesekali melirik ke arah haluan kapal dengan tatapan penuh pemujaan.
Di ujung haluan, menghadap langsung ke arah hamparan laut tanpa batas, duduk seorang pemuda berambut hitam panjang.
Madara duduk dalam posisi teratai. Kedua matanya terpejam rapat. Pelindung dada merahnya memantulkan cahaya pagi yang hangat. Tubuhnya tidak bergerak sedikit pun, seolah-olah dia telah menyatu dengan kayu haluan kapal itu sendiri.
'Lingkungan yang sangat asing,' batin Madara sambil mengatur napasnya.
Bagi para kru, pemuda itu tampak sedang melakukan meditasi tingkat tinggi untuk menaklukkan lautan. Namun pada kenyataannya, Madara sedang berusaha keras untuk memahami struktur energi di dunia ini.
Dia telah berhasil meredam rasa mual akibat mabuk laut, sebagian besar karena kapasitas chakranya yang sedikit meningkat setelah insiden di Oohara. Namun, dia merasa tidak puas hanya dengan mengandalkan belas kasihan sebuah sistem tak kasatmata.
Seorang Uchiha tidak bergantung pada keajaiban eksternal. Seorang Uchiha menciptakan keajaibannya sendiri.
Madara mencoba meraih energi yang lebih besar dan lebih kuat daripada chakra fisiknya sendiri. Dia mencoba meraih energi alam. Senjutsu.
Sebuah kekuatan yang pernah dia kuasai dengan sempurna saat dia mengambil sel Hashirama di dunia asalnya. Kekuatan yang memungkinkannya untuk bertarung tanpa batas.
Dia memfokuskan kesadarannya, memperluas jangkauan kepekaannya melampaui batas fisiknya. Dia mencoba menarik energi dari udara, dari sinar matahari, dan dari laut di bawahnya.
Namun, tepat saat dia mencoba menyerap energi itu, sebuah penolakan keras terjadi.
Alis Madara berkerut tajam.
Dia merasakan energi alam di sekitarnya. Energi itu sangat melimpah, jauh lebih padat daripada energi alam di dunia shinobi. Tetapi bentuknya sangat aneh. Sangat liar dan tidak terkendali.
Energi itu didominasi sepenuhnya oleh elemen air. Lautan di dunia ini tidak hanya sekadar kumpulan air asin, melainkan sebuah entitas yang memiliki kehendaknya sendiri. Sebuah aura kebebasan yang terlalu buas dan agresif.
Setiap kali Madara mencoba menarik energi itu ke dalam tubuhnya, energi itu memberontak. Seolah-olah lautan menolak untuk dikendalikan oleh manusia.
'Dunia ini tidak seimbang,' batin Madara dengan rasa frustrasi yang tertahan.
Di dunia asalnya, energi alam adalah perpaduan harmonis antara bumi, angin, air, api, dan petir. Keseimbangan itu memungkinkan manusia yang memiliki tubuh wadah yang tepat untuk menyerap dan memanipulasinya.
Tetapi di sini, lautan menelan segalanya. Energi spiritual alam tertutup oleh aura dominasi air yang sangat absolut.
Madara menyadari bahwa dia tidak bisa memasuki Sage Mode di tempat ini. Setidaknya, tidak dengan tubuh remajanya yang masih lemah dan pemahamannya yang belum sempurna tentang hukum fisika di dunia ini.
Dia harus mencari cara lain. Atau, dengan sangat terpaksa, dia harus terus bermain mengikuti aturan Sistem tersebut hingga batas kekuatannya benar-benar terbuka.
Sebuah aroma samar yang tidak asing membuyarkan konsentrasinya.
Aroma itu bukan bau garam atau bau lumut laut. Itu adalah bau benda hangus. Lebih spesifik lagi, bau daging ikan yang dipanggang terlalu lama hingga menghitam.
Suara langkah kaki yang pelan dan ragu-ragu terdengar mendekat dari arah belakang. Langkah itu bukan milik salah satu dari kru bajak laut yang berbadan besar. Langkah itu sangat ringan.
Madara menghela napas dari hidungnya. Dia tidak membuka matanya.
“Berhenti di sana,” ucap Madara pelan. Nada suaranya datar dan dingin.
Langkah kaki itu terhenti seketika pada jarak dua meter di belakangnya.
Madara perlahan membuka sebelah matanya, melirik ke arah belakang melalui sudut pandangannya.
Nico Robin berdiri di sana dengan postur tubuh yang sedikit kaku. Gadis itu tidak lagi mengenakan mantel tebal yang basah kuyup seperti kemarin. Dia kini mengenakan sebuah kemeja putih lengan panjang yang ukurannya terlalu besar untuk tubuh rampingnya, dan celana kain berwarna gelap yang ujungnya digulung hingga ke pergelangan kaki. Pakaian pinjaman dari salah satu kru kapal.
Rambut hitamnya yang sudah mengering diikat rapi di belakang leher. Wajahnya terlihat jauh lebih segar setelah mendapatkan istirahat semalaman penuh, meskipun kantung mata tipis masih menghiasi wajah pucatnya.
Di kedua tangannya, Robin memegang sebuah nampan kayu bulat.
Di atas nampan itu terdapat sebuah piring keramik berisi seekor ikan panggang. Sisi luar ikan itu terlihat menghitam dan terkelupas. Di sebelah piring ikan, terdapat sebuah cangkir kayu berisi teh yang masih mengepulkan asap tipis.
Robin menundukkan kepalanya sedikit, menghindari kontak mata langsung dengan pemuda yang sedang menatapnya dari ujung haluan.
“Aku membuatkan sarapan,” kata Robin dengan suara pelan.
Dia melangkah maju satu langkah lagi dengan sangat hati-hati, seolah takut langkahnya akan memancing kemarahan pemuda itu. Dia meletakkan nampan kayu itu di atas lantai geladak tepat di samping tempat Madara duduk, lalu segera menarik tangannya kembali.
Madara memutar tubuhnya perlahan hingga menghadap gadis itu.
Dia menurunkan pandangannya ke arah nampan kayu tersebut. Matanya menatap ikan panggang yang warnanya lebih menyerupai arang dibandingkan makanan yang layak konsumsi. Bau gosong yang tajam kembali menyengat hidungnya.
Madara menatap kembali ke arah Robin. Gadis itu menundukkan wajahnya semakin dalam. Kedua tangannya bertaut gelisah di depan perutnya yang tertutup kemeja kebesaran.
Seumur hidupnya, Robin belum pernah benar-benar belajar memasak dengan benar. Sebagai seorang buronan yang selalu dalam pelarian sejak usia delapan tahun, dia hanya memakan apa pun yang bisa dia temukan. Roti kering, buah liar, atau sisa makanan dari dapur kapal dagang yang dia susupi.
Pagi ini, dia ingin menunjukkan rasa terima kasih dan membuktikan bahwa dia bisa berguna di atas kapal ini. Namun, saat dia mencoba menggunakan dapur kapal yang kotor, hasil akhirnya jauh dari kata memuaskan.
Dia sudah bersiap menerima hinaan. Dia sudah bersiap jika pemuda itu akan menendang nampan tersebut ke laut dan memerintahkannya untuk tidak pernah lagi mendekati dapur.
Hening sejenak.
Hanya ada suara deru angin yang memainkan layar kapal.
“Kau menyebut ini makanan, Wanita?”
Suara Madara keluar dengan nada merendahkan yang sangat menusuk. Kata-katanya diucapkan dengan pelan, tetapi setiap suku katanya terasa tajam.
Robin menggigit bibir bawahnya. Dia memejamkan mata rapat-rapat. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat, mengantisipasi hukuman fisik atau usiran paksa dari kapal ini.
“Bahkan prajurit terendah di klanku bisa memanggang ikan lebih baik dari ini,” lanjut Madara. Dia menatap ikan hitam itu dengan ekspresi wajah penuh penghinaan. “Membuang bahan makanan yang masih layak ke dalam api hingga menjadi arang adalah tanda ketidakmampuan yang paling memalukan.”
Sindiran itu sangat tajam dan tepat sasaran.
Robin menahan napasnya. Dia tidak membantah. Dia tidak membela diri. Dia sudah terbiasa menerima makian dan pukulan ketika dia gagal melakukan pekerjaan saat masih menjadi budak di keluarga angkatnya dulu.
Dia hanya menunduk diam, menunggu pemuda itu mengakhiri omelannya dengan sebuah tendangan ke arah piring.
Namun, suara bantingan keramik atau pecahan piring yang dia tunggu-tunggu tidak pernah terdengar.
Sebaliknya, sebuah suara gesekan kayu halus memecah keheningan.
Robin membuka matanya sedikit dan mengintip dari balik poni rambutnya.
Matanya terbelalak lebar.
Madara telah mengangkat nampan kayu itu dari atas lantai geladak. Pemuda berarmor merah itu kini memegang piring keramik di tangan kirinya, dan menggunakan tangan kanannya untuk mengambil ikan gosong tersebut secara langsung.
Tanpa mengatakan sepatah kata pun lagi, Madara memasukkan potongan ikan hitam itu ke dalam mulutnya.
Dia mengunyahnya dengan tenang. Wajahnya sama sekali tidak berkerut. Dia tidak memuntahkannya. Dia tidak menunjukkan ekspresi jijik saat rasa pahit dari daging ikan yang hangus itu menyentuh lidahnya.
Dia mengunyah, menelan, dan kemudian mengambil suapan kedua. Semuanya dilakukan dengan keheningan yang sangat elegan.
Robin terpaku di tempatnya berdiri.
Mulut gadis itu sedikit terbuka, tidak mampu memercayai apa yang sedang dia lihat. Pemuda yang baru saja menghancurkan pasukan elit Pemerintah Dunia dan menyebut masakannya sebagai sesuatu yang memalukan, kini sedang memakan makanan itu tanpa protes lanjutan.
Di kepala Robin yang sudah terlalu sering dikhianati, tindakan sederhana ini kembali diterjemahkan dengan narasi yang sangat berbeda.
'Dia memakannya,' batin Robin, suaranya di dalam hati terdengar bergetar.
'Dia tahu makanan ini buruk. Dia tahu ini gosong. Dia bahkan memakiku karena ini. Tapi... dia tetap memakannya. Dia tidak membuangnya.'
Bagi Robin, hal ini bukanlah sebuah penerimaan biasa. Ini adalah sebuah bentuk kebaikan hati yang disembunyikan di balik sikap arogan. Pemuda ini menghargai usaha yang telah dia lakukan. Pemuda ini tidak ingin membuang hasil jerih payahnya, meskipun hasilnya sangat buruk.
Sebuah perasaan hangat kembali menjalar di dalam dada gadis itu. Rasa kagum dan kesetiaan yang baru saja tumbuh semalam, kini semakin mengakar kuat.
Tentu saja, interpretasi melankolis Robin sangat jauh dari alasan pragmatis yang sebenarnya.
Madara tidak peduli pada perasaan gadis itu. Dia tidak bermaksud untuk menghargai usaha siapa pun.
Alasannya memakan ikan gosong itu sangat sederhana. Dia membutuhkan kalori. Tubuhnya membutuhkan energi fisik untuk mempercepat regenerasi sel-selnya setelah kelelahan chakra. Dan bagi seorang veteran shinobi yang pernah terjebak di dalam gua gelap selama berbulan-bulan tanpa makanan yang layak dan hanya mengandalkan air rembesan batu, memakan ikan panggang yang sedikit gosong bukanlah sebuah siksaan.
Rasa makanan tidak memiliki arti baginya selama makanan itu bisa dikonversi menjadi energi pembunuh.
Madara menghabiskan seluruh ikan itu dalam waktu singkat. Dia tidak menyisakan tulang yang lunak. Setelah selesai, dia mengambil cangkir kayu dan meminum teh hangat itu dalam dua kali tegukan.
Teh itu rasanya terlalu encer dan hambar, tetapi cairan hangat itu cukup membantu membersihkan rasa pahit di tenggorokannya.
Madara meletakkan piring dan cangkir yang telah kosong kembali ke atas nampan kayu. Dia menggeser nampan itu kembali ke arah Robin dengan gerakan santai.
Dia menatap gadis yang masih berdiri mematung di depannya.
“Bersihkan itu,” perintah Madara datar.
Dia kembali menyilangkan kakinya dan bersandar pada sisi haluan kapal. Matanya kembali terpejam, bersiap untuk melanjutkan eksplorasi internalnya yang sempat terganggu.
Robin tidak segera bergerak. Dia menatap piring bersih di atas nampan dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.
Gadis itu segera membungkukkan badannya, meraih nampan kayu itu dengan kedua tangannya.
“Terima kasih,” bisik Robin pelan. Suaranya terdengar sangat tulus.
Madara tidak membuka matanya. Dia tidak merespons ucapan terima kasih tersebut. Baginya, percakapan ini sudah selesai.
Robin membalikkan badan dan berjalan kembali menuju arah dapur kapal. Langkah kakinya kini terasa jauh lebih ringan dibandingkan sebelumnya. Dia merasa telah menemukan tempat di mana dia benar-benar bisa membuktikan nilai dirinya. Dia bertekad di dalam hatinya bahwa dia akan belajar memasak dengan lebih baik. Dia tidak akan membiarkan penguasanya memakan makanan yang buruk lagi di kemudian hari.
Madara kembali fokus pada aliran chakra di dalam tubuhnya.
Dia menyadari bahwa jalan untuk kembali ke puncak kekuatannya di dunia ini akan memakan waktu yang tidak sebentar. Energi alam menolaknya, dan tubuh fisiknya masih memiliki batasan yang harus dia hancurkan satu per satu.
Tetapi dia tidak terburu-buru.
Waktu adalah sesuatu yang dia miliki dalam jumlah yang sangat banyak sekarang. Dia akan membangun fondasi kekuatannya perlahan-lahan. Dia akan memanfaatkan setiap orang yang menganggapnya sebagai dewa penyelamat. Dia akan menggunakan rasa takut dan kekaguman mereka sebagai anak tangga untuk memanjat kembali menuju posisinya yang pantas.
Kapal Bajak Laut Taring Berkarat terus berlayar membelah ombak pagi.
Keheningan di atas kapal itu bukanlah keheningan karena kedamaian. Itu adalah keheningan yang tegang, keheningan dari sekelompok orang yang menyadari bahwa mereka sedang membawa sebuah bencana yang sedang tertidur di ujung haluan kapal mereka.
Sebuah bencana bernama Uchiha Madara, yang sedang bersiap untuk membakar seluruh lautan.