Cuma niat periksa batu ginjal, si komandan dingin malah "salah dibuka celananya" oleh dokter magang sok berani.
Satu kalimat "saya tanggung jawab", dan Keisha resmi jadi istri kontrak Sang Komandan Meriam—pewaris konglomerat Prawira yang paling ditakuti.
Perjanjiannya: tidak boleh saling sentuh.
Kenyataannya: komandan berhati es itu **tak pernah tahan semalam pun**.
"Katanya kontrak, Pak?"
"Kontraknya," bisiknya sambil menariknya mendekat, "mulai malam ini kita tulis ulang."
Yang mereka kira dokter miskin, ternyata putri konglomerat Wijaya yang hilang.
Yang dikira pernikahan palsu, ternyata jerat paling manis.
**Nyonya Meriam sudah pulang—dan sang serigala tak akan melepasnya lagi.**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 10
Kesepakatan di Tengah Hujan
Keisha berhenti, tetapi tidak langsung berbalik.
Hujan jatuh semakin rapat. Saat ia akhirnya menoleh, Arya sudah berdiri beberapa langkah di belakang dengan rambut basah dan kartu identitas biru di tangan.
"Apa lagi?" tanyanya.
Arya mendekat. "Kartu Anda tertinggal."
Keisha meraihnya, tetapi Arya belum melepaskan.
"Saya juga menarik kembali penolakan saya."
"Saya tidak menerima keputusan bekas pakai."
"Lima menit lalu Anda menawarkan pernikahan."
"Lima menit lalu saya belum dihina."
Hujan mulai menembus jas putih tipisnya. Arya melihat bahunya bergetar, lalu melepas jaket dan menyodorkannya.
"Pakai."
"Tidak perlu."
"Kalau Anda sakit, urusan ini tertunda. Jangan salah paham."
"Saya tidak mungkin salah paham pada keramahan sebesar itu."
Namun Keisha tetap menerima jaket tersebut. Kainnya hangat dan membawa aroma kayu yang pernah ia cium di ruang periksa. Ia membenci fakta bahwa tubuhnya langsung berhenti menggigil.
Arya menunjuk deretan toko. "Kita bicara di bawah atap."
Mereka berdiri di teras toko yang sudah tutup. Air mengalir dari ujung kanopi, membentuk tirai di depan jalan. Tidak ada meja, tidak ada kopi, hanya dua orang basah yang hendak membahas pernikahan seperti negosiasi keadaan darurat.
"Kenapa berubah pikiran?" tanya Keisha.
"Karena saya salah menilai alasan Anda."
"Itu bukan permintaan maaf."
Arya menatapnya. "Saya minta maaf karena mengatakan Anda sedang mencari pelampung."
Keisha tidak menduga kata-kata itu akan keluar begitu mudah. Amarahnya belum hilang, tetapi ujungnya tidak lagi setajam tadi.
"Saya tidak mau dikasihani."
"Saya juga tidak mengasihani Anda." Arya bersandar pada pilar. "Pernikahan resmi memang menyelesaikan tekanan Bunda dan menutup pintu bagi Vanya lebih kuat daripada pacar bohongan. Bagi Anda, status itu menghentikan lamaran Sugiarto. Dana kontrak memberi waktu untuk perawatan Bu Anin dan pemeriksaan Griya Anindita."
"Jadi sekarang ide saya masuk akal?"
"Masih gila. Tapi efisien."
Keisha mendengus. "Anda benar-benar tidak tahu cara membujuk perempuan."
"Eyang sudah menyampaikan hal yang sama."
Untuk sesaat mereka hampir tersenyum. Lalu Keisha mengingat berat keputusan itu.
"Kalau kita melakukan ini, semuanya harus resmi," katanya. "Tidak ada nikah siri. Akad dicatat melalui KUA. Sebelum akad, perjanjian pranikah harus selesai di notaris."
"Setuju."
"Harta dan utang terpisah. Saya tidak menyentuh milik Anda. Anda tidak mengambil hak saya atas apa pun yang ditinggalkan Mama."
"Setuju."
"Kamar terpisah. Tidak ada hubungan fisik tanpa persetujuan jelas."
Tatapan Arya turun sekilas ke bibirnya sebelum kembali ke mata. Gerakan itu sangat cepat, tetapi panas merayap ke telinga Keisha.
"Setuju," katanya lebih pelan.
"Jangan lihat saya begitu."
"Begitu bagaimana?"
"Seolah sedang memeriksa apakah klausul itu perlu."
"Saya hanya memastikan Anda memahami kalimat sendiri."
Keisha memeluk jaket lebih rapat. "Saya dokter. Saya sangat memahami persetujuan."
"Bagus. Saya juga tidak menyentuh orang yang menolak."
Nada tegas itu menghapus sisa gurauan. Keisha mengangguk.
"Masa pernikahan satu tahun," lanjutnya. "Setelah tujuan selesai, kita berpisah secara baik melalui prosedur yang sah."
"Detail tanggal dan penyelesaian kita bahas dengan notaris."
"Semua biaya Mama dan bantuan hukum soal wali harus tertulis. Saya tidak mau suatu hari Anda menyebutnya hadiah lalu meminta balasan lain."
"Tertulis sebagai kewajiban kontrak. Saya akan menyediakan pengacara terpisah untuk Anda memeriksa dokumen."
Keisha mengangkat alis. "Kenapa terpisah?"
"Agar orang saya tidak menjadi satu-satunya pihak yang menjelaskan hak Anda. Bu Sukma juga boleh membaca semuanya."
Lagi-lagi, Arya memberi jalan keluar sebelum Keisha memintanya. Ini bukan kehangatan, katanya pada diri sendiri. Ini manajemen risiko dari pria yang menyukai prosedur.
"Ada satu lagi," ujar Arya. "Selama terikat, tidak ada pasangan lain."
"Saya tidak punya waktu mencari pasangan."
"Itu bukan jawaban."
"Setia selama pernikahan," kata Keisha. "Berlaku untuk Anda juga. Vanya tidak boleh masuk di antara kita, meski hubungan ini kontrak."
"Vanya tidak punya tempat dalam hidup saya."
Jawabannya datang tanpa jeda. Hujan memukul aspal, tetapi Keisha mendengar kepastian itu dengan jelas.
Arya mengeluarkan ponsel. "Ada hal yang perlu Anda pahami. Menikah dengan saya tidak otomatis memindahkan hak wali Bu Anin dari Herman kepada Anda."
"Saya tahu. Saya bukan sedang mencari suami untuk mencuri tanda tangan wali."
"Bagus. Yang bisa kita lakukan adalah memastikan biaya tidak terputus, meminta rumah sakit menunda perubahan layanan, dan memakai jalur hukum bila keputusan Herman membahayakan pasien atau bertentangan dengan rekomendasi dokter."
"Saya butuh pengacara yang memahami sengketa medis dan keluarga."
"Saya siapkan beberapa pilihan. Anda yang menunjuk. Semua komunikasi penting ditembuskan kepada Bu Sukma kalau Anda setuju."
Keisha mengangguk. "Dan Pak Herman tidak boleh tahu sumber bantuan sebelum lamaran kita diumumkan. Kalau dia tahu terlalu cepat, dia bisa memindahkan Mama."
"Besok pagi dana layanan tambahan dibayar langsung ke administrasi rumah sakit. Bukan melalui Herman. Tim hukum mengirim permintaan tertulis agar tidak ada pemindahan sebelum evaluasi medis lengkap dan pemberitahuan kepada Anda sebagai anak yang merawat sehari-hari. Itu belum mengganti wali, tapi menciptakan catatan keberatan."
Keisha menatapnya. Rencana itu jauh lebih nyata daripada semua kalimat `kita cari jalan` yang ia ucapkan kepada diri sendiri selama empat tahun.
"Anda sudah memikirkan itu sejak di kedai?"
"Sejak melihat formulir yang Anda bawa."
"Tapi Anda tetap menolak saya."
"Saya kadang mengambil keputusan benar dengan cara yang salah."
"Itu pengakuan yang sangat murah hati."
"Jangan terbiasa."
"Kapan kita ke notaris?"
"Dua hari lagi. Besok tim saya menyiapkan draf awal. Anda dan pihak pilihan Anda memeriksanya."
"Tim Anda?"
"Orang yang mengurus dokumen."
Keisha menatapnya curiga. Cara Arya bicara tentang notaris, pengacara, dan dana setahun seolah semua sumber daya tersedia hanya dengan satu panggilan. Rumah besar tadi juga belum terjelaskan.
"Sebenarnya Anda bekerja sebagai apa?"
"Pekerjaan yang sering membuat saya pergi dinas."
"Itu bukan jawaban."
"Belum perlu untuk kesepakatan malam ini. Identitas lengkap ada di dokumen notaris."
Keisha tidak menyukai rahasia, tetapi waktunya terlalu sempit untuk memaksa semua pintu terbuka. Setidaknya dokumen resmi akan memakai nama dan identitas asli.
Suara azan Isya terdengar samar dari kejauhan, bercampur hujan. Keduanya terdiam sejenak. Keisha merasa keputusan itu semakin nyata, lebih berat daripada kertas dan angka.
Arya mengulurkan tangan. "Deal?"
Keisha menatap telapak tangannya. Tangan yang pernah menghentikan pemeriksaan memalukan, memotret dada tempat kartu identitasnya tergantung, lalu malam ini mengembalikan kartu yang sama bersama sebuah pilihan.
Ia menepuk telapak itu, berniat hanya melakukan tos singkat.
Kulit Arya panas meski kehujanan. Jemari mereka bersentuhan sepersekian detik lebih lama dari seharusnya.
"Deal," kata Keisha.
Ia menarik tangan terlalu cepat. Telinganya kembali panas.
Ini cuma bisnis, katanya dalam hati.