Rizky Pratama adalah lambang kegagalan; hidup miskin, sering dipecat, dan selalu sial, sampai sebuah kecelakaan tragis merenggut segalanya. Namun, maut justru membawakannya keajaiban berupa Liontin Dewi yang menyatu dengan tubuhnya, memulihkan lukanya secara instan dan melambungkan kecerdasannya di atas rata-rata manusia. Lebih gila lagi, liontin itu memberinya kemampuan mengendalikan tanaman, dari mempercepat pertumbuhan, menemukan herba langka, hingga menciptakan varietas obat ajaib yang belum pernah ada sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Tubuh Rizky melayang pelan setinggi dada orang dewasa di atas altar batu pualam yang dingin.
Cahaya keemasan yang sangat terang memancar dari seluruh pori-pori kulitnya dan menerangi seluruh sudut gua.
"Aaaargh, panas sekali rasanya, seolah-olah darahku digantikan dengan lahar gunung berapi," erang Rizky dengan suara serak.
Rizky menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga berdarah untuk menahan rasa sakit yang luar biasa.
Urat-urat nadi di leher dan lengannya menonjol keluar berwarna keemasan berdenyut seirama dengan detak jantungnya.
TING.
[Peringatan Sistem: Proses sinkronisasi Pecahan Liontin Kedua telah mencapai lima puluh persen.]
[Pengguna diharapkan menjaga kesadaran mental agar proses penyatuan energi tidak gagal di tengah jalan.]
"Menjaga kesadaran katamu? Kau pikir ini mudah saat kepalaku rasanya mau pecah berkeping-keping," rutuk Rizky menjawab suara mekanis itu di dalam pikirannya.
"Berikan aku semacam obat bius atau penawar rasa sakit dari sistemmu itu sekarang juga," perintah Rizky mulai merasa putus asa.
[Sistem menolak permintaan. Pengguna harus menahan rasa sakit murni ini untuk membentuk ulang struktur seluler tubuh dasar.]
"Dasar sistem tidak berguna, kau hanya pandai menyiksaku di saat-saat kritis seperti ini," balas Rizky dengan napas tersengal-sengal.
Rizky memusatkan seluruh sisa tekadnya dan mengepalkan kedua tangannya hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangannya sendiri.
Cairan emas dari pecahan batu kuno itu terus merayap masuk, menyatu secara sempurna dengan tato daun zamrud di tengah dadanya.
Tato yang awalnya hanya berupa sehelai daun hijau kini mulai berubah bentuk menjadi pola akar bercabang yang melingkari dada bidangnya.
WUSH.
Gelombang energi terakhir meledak keluar dari tubuh Rizky menyapu permukaan air kolam hingga menciptakan ombak kecil.
Cahaya keemasan yang menyilaukan mata itu perlahan meredup dan kembali terserap habis ke dalam pori-pori kulitnya.
Tubuh Rizky jatuh perlahan dan mendarat dengan aman di atas altar batu pualam dalam posisi berlutut.
HAAAH.
Rizky menarik napas panjang dengan sangat rakus seperti orang yang baru saja selamat dari tenggelam di laut dalam.
Keringat dingin membasahi seluruh pakaiannya yang sudah kotor dan robek di beberapa bagian akibat pertarungan melawan monster akar tadi.
TING TING TING.
Suara notifikasi yang jauh lebih jernih dan merdu dari biasanya berbunyi beruntun di dalam kepalanya.
[Selamat. Proses sinkronisasi Pecahan Liontin Kedua telah selesai seratus persen tanpa penolakan seluler.]
[Tingkat kekuatan pengguna telah berhasil dinaikkan ke tahap menengah.]
[Kemampuan baru terbuka: Alkimia Tubuh Tingkat Dasar.]
Rizky perlahan membuka matanya dan menatap kedua telapak tangannya dengan pandangan yang sulit dipercaya.
Rasa lelah dan sakit tulang yang tadi nyaris membunuhnya kini lenyap tak berbekas digantikan oleh tenaga fisik yang meluap-luap.
"Alkimia Tubuh? Sistem, jelaskan secara singkat apa fungsi utama dari kemampuan baruku ini," pinta Rizky sambil berdiri tegak di atas altar.
[Alkimia Tubuh memungkinkan pengguna untuk memproses, menyintesis, dan mengekstrak bahan obat langsung di dalam aliran darah sendiri.]
[Pengguna tidak lagi memerlukan alat laboratorium luar atau energi manual untuk mengubah racun menjadi obat atau sebaliknya.]
Mata Rizky terbelalak lebar mencerna informasi gila yang baru saja dijelaskan oleh sistem kesayangannya tersebut.
"Maksudmu, tubuhku sendiri sekarang adalah sebuah pabrik laboratorium farmasi berjalan yang hidup?" tanya Rizky tersenyum sangat lebar.
[Benar sekali. Tubuh pengguna kini kebal terhadap semua racun level menengah dan bisa mengeluarkan senyawa obat melalui keringat atau darah.]
"Ini benar-benar kekuatan dewa yang sangat curang, aku menyukainya," tawa Rizky bergema memantul di dinding gua yang basah.
Rizky melompat dari atas altar dan mendarat di pinggir kolam dengan sangat ringan tanpa membuat percikan air sedikit pun.
Ia merasa tubuhnya seringan bulu namun otot-ototnya memendam daya ledak yang setara dengan tenaga monster golem tadi.
Tiba-tiba, pendengaran Rizky yang kini jauh lebih tajam menangkap suara langkah kaki berat dari arah lorong pintu masuk gua.
TAP TAP TAP.
Suara kokangan senjata api otomatis juga terdengar sangat jelas menembus keheningan lorong batu yang gelap.
"Hei siapa pun yang ada di dalam sana, keluar sekarang juga dengan tangan di atas kepala," teriak sebuah suara parau dari luar gua.
Rizky memiringkan kepalanya sedikit dan tersenyum miring mendengar ancaman klasik dari para penjahat bayaran tersebut.
"Sepertinya masih ada sisa sampah dari Kartel Taring Beruang yang tidak ikut gila karena serbuk halusinasiku tadi," gumam Rizky pada dirinya sendiri.
"Kalian di luar sana tidak perlu repot-repot menjemputku, aku akan keluar menyapa kalian sekarang," balas Rizky berteriak santai menanggapi ancaman mereka.
Rizky berjalan santai menyusuri lorong gua yang diterangi lumut biru sambil menguji setiap langkah barunya yang terasa sangat bertenaga.
Begitu ia melangkah keluar dari mulut gua, pemandangan di depannya tidak kalah menegangkan dari pertarungannya di dalam.
Kekacauan akibat halusinasi massal tadi rupanya sudah mereda karena banyak tenda yang hangus terbakar.
Mayat-mayat tentara bayaran berserakan di tanah akibat saling tembak membunuh rekan mereka sendiri.
Namun di depan mulut gua, sekitar belasan tentara bayaran elit berseragam loreng hitam masih berdiri tegap membentuk barisan setengah lingkaran.
Mereka menodongkan senapan serbu laras panjang yang dilengkapi dengan lampu sorot langsung ke arah wajah Rizky.
Di tengah barisan itu, berdiri seorang pria bule bertubuh sangat tinggi besar dengan bekas luka tembak di lehernya.
Pria itu adalah Kapten Boris, pemimpin regu elit Kartel Taring Beruang yang kebetulan sedang berpatroli jauh dari kamp saat insiden halusinasi terjadi.
"Hanya seorang pemuda kampung kurus yang membuat semua kekacauan gila di markasku ini?" tanya Kapten Boris dengan nada sangat meremehkan.
"Jangan menilaiku dari penampilanku yang kotor ini Tuan Bule, aku baru saja membersihkan monster penjaga di dalam sana untuk kalian," jawab Rizky tersenyum santai.
"Tutup mulutmu bocah, di mana harta karun kuno yang ada di dalam gua itu sekarang?" bentak Kapten Boris menodongkan pistol besarnya.
"Bos besar kami sudah membayar mahal untuk informasi tempat ini, serahkan barangnya atau kau akan kami buat berlubang seperti saringan tahu."
Rizky merentangkan kedua tangannya lebar-lebar dengan gaya yang sangat mengejek dan tidak memedulikan puluhan moncong senjata di depannya.
"Barang yang kalian cari itu kebetulan sudah menyatu secara permanen dengan tubuhku beberapa menit yang lalu."
"Jadi kalau kalian memang menginginkannya, kalian harus membedah dadaku dan mengambilnya sendiri dengan tangan kalian."
Kapten Boris meludah ke tanah dengan kasar dan menatap anak buahnya dengan raut wajah sangat marah.
"Pemuda ini rupanya sudah gila karena terlalu lama di dalam gua beracun, tembak kedua kakinya sekarang juga."
"Jangan bunuh dia dulu, kita akan mengulitinya hidup-hidup untuk mencari tahu apa yang dia sembunyikan," perintah Kapten Boris kejam.
Belasan tentara bayaran itu langsung menurunkan moncong senapan mereka mengarah ke lutut Rizky dan bersiap menarik pelatuk.
Namun Rizky tidak panik sama sekali, ia justru melihat ini sebagai kesempatan emas yang sangat sempurna.
"Sistem, aku ingin mencoba kemampuan Alkimia Tubuh ini sekarang juga di medan tempur yang sesungguhnya," batin Rizky cepat.
"Gunakan sisa endapan racun kecubung halusinasi di dalam darahku dan ubah menjadi gas pelumpuh otot saraf."
[Perintah diterima. Mengaktifkan Alkimia Tubuh Tingkat Dasar.]
[Proses sintesis senyawa pelumpuh otot melalui kelenjar keringat dimulai dalam hitungan mundur tiga detik.]
Tubuh Rizky tiba-tiba memancarkan hawa panas yang sangat kuat hingga membuat udara di sekitarnya bergetar seperti fatamorgana di siang bolong.
Dari seluruh pori-pori kulitnya, keluar sebuah uap tipis berwarna putih keabu-abuan yang sama sekali tidak berbau menyengat.
WUSH.
Angin malam pegunungan dengan cepat meniup uap putih tersebut ke arah barisan tentara bayaran yang sedang bersiap menembak.
"Tembak dia sekarang, apa yang kalian tunggu lagi bodoh," teriak Kapten Boris menyadari ada sesuatu yang tidak beres dengan uap putih itu.
DOR DOR DOR.
Tiga peluru pertama sempat meletus dari senapan salah satu tentara, namun arah tembakannya melenceng jauh menabrak dinding batu di atas kepala Rizky.
"Ugh, ada apa dengan tanganku ini? Kenapa senjataku terasa sangat berat," keluh tentara itu sambil menjatuhkan senapannya ke tanah.
Satu per satu dari belasan tentara terlatih itu mulai kehilangan kendali atas sistem motorik tubuh mereka sendiri.
Lutut mereka lemas tak bertenaga dan mereka berjatuhan ke tanah berlutut seperti sekelompok orang cacat yang tidak bisa berdiri.
BRUK BRUK.
"Racun apa yang kau lepaskan barusan bocah iblis? Tubuhku tidak bisa digerakkan sama sekali," geram Kapten Boris yang juga sudah jatuh telungkup di atas tanah lumpur.
Rizky berjalan perlahan menghampiri Kapten Boris sambil memandang uap putih yang terus keluar dari tubuhnya dengan rasa takjub.
"Ini bukan racun biasa Kapten, ini adalah mahakarya alkimia dari dalam aliran darahku sendiri yang dirancang khusus untuk kalian."
"Kalian tidak akan mati, tapi otot saraf kalian akan lumpuh total selama tiga hari tiga malam tanpa bisa digerakkan satu inci pun."
Rizky berjongkok di sebelah Kapten Boris dan mengambil pistol besar milik pria bule itu lalu membuangnya jauh ke semak-semak.
"Kau tidak bisa melakukan ini padaku, Kartel Taring Beruang akan memburumu sampai ke ujung dunia," ancam Kapten Boris dengan sisa suara yang ia miliki.
"Biarkan saja bos besar kalian datang mencariku, aku selalu terbuka menyambut siapa saja yang ingin menjadi kelinci percobaan obat baruku."
Rizky menepuk pipi Kapten Boris pelan dengan senyum sinis yang sangat merendahkan harga diri sang tentara bayaran elit tersebut.
"Sekarang tidurlah dengan nyenyak di tengah hutan ini Kapten, dan berdoalah semoga kantong semar raksasa tidak menemukan tubuh lumpuh kalian besok pagi."
Rizky berdiri dan meninggalkan Kapten Boris yang membelalakkan matanya ngeri membayangkan dimakan hidup-hidup oleh tanaman monster.
Rizky berjalan santai melewati barisan mayat tentara bayaran lainnya dan menuju jalur tebing tempat anak buahnya berjaga.
"Kekuatan ini benar-benar melebihi ekspektasiku, aku tidak perlu lagi meracik obat dengan tangan kosong jika aku bisa membuatnya langsung dari darahku," batin Rizky sangat puas.
Jalan menuju puncak kekuasaan sebagai Raja Obat kini terbuka semakin lebar dengan fondasi kekuatan dewa yang baru saja ia kuasai.