NovelToon NovelToon
Bencana Akhir Zaman: Seluruh Kota Tenggelam

Bencana Akhir Zaman: Seluruh Kota Tenggelam

Status: sedang berlangsung
Popularitas:21
Nilai: 5
Nama Author: Novi

Arga Bayu Pratama, mantan prajurit Kopassus, terbangun di kamar kosnya yang sempit.
Tanggal di ponselnya: 10 November 2040 — dua hari sebelum kiamat.
Di kehidupan sebelumnya, ia bertahan selama enam tahun di dunia yang hancur. Ia menyaksikan hujan api menghujani kota, zombie berkeliaran di jalanan, dan manusia saling membunuh demi segenggam beras. Ia mati sendirian, tanpa apa-apa, tanpa siapa-siapa.
Tapi sekarang ia kembali. Dengan seluruh ingatan masa depan di kepalanya. Dan satu kekuatan baru yang membuatnya bisa mendengar pikiran setiap orang di sekitarnya.
"Kali ini, aku tidak akan menjadi yang paling lemah."
Sambil membeli puluhan karung beras, air mineral, dan gas elpiji sebelum dunia runtuh, Arga mulai menyusun rencana: membangun tim terkuat, menguasai kota, dan mencari tahu siapa — atau apa — yang sebenarnya menyebabkan kiamat ini.
Karena kiamat bukan kebetulan. Seseorang sedang menonton dari atas sana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Bab 010 - Pembersihan Darah

Lift sudah mati.

Arga naik lewat tangga darurat.

Satu lantai.

Dua lantai.

Tiga lantai.

Di bawah kakinya, air kotor menggenang sampai anak tangga ketiga. Bau karat, darah Zombie, dan sisa asap Hujan Api bercampur menjadi satu. Dari lantai bawah terdengar geraman beberapa Zombie yang tersesat di lorong hotel.

Arga tidak berhenti.

Langkahnya stabil.

Tidak terburu-buru.

Orang marah biasanya berlari. Orang yang sudah memutuskan pembantaian justru berjalan pelan.

Telepati terbuka penuh.

Lantai 21 seperti peta yang menyala di kepalanya. Setiap kamar punya suara. Setiap suara punya warna.

Bang Jago sedang makan mi instan sambil tertawa.

Kepala Security menghitung bagian Aqua yang ia simpan sendiri.

Orang gendut pembongkar kunci menahan sakit di tangan, sambil memaki Kiara dalam hati.

Beberapa lelaki lain masih membanggakan diri karena tadi ikut mendobrak pintu.

Ada juga perempuan yang menangis diam-diam di kamar mereka, memeluk anak kecil dan merasa bersalah karena membawa satu bungkus biskuit.

Arga mengingat semuanya.

Di lantai 18, seekor Zombie Tingkat 1 muncul dari tikungan tangga. Mulutnya terbuka, giginya menghantam-hantam.

Arga tidak mencabut pedang.

Ia hanya menendang.

Punggung kaki menghantam dada Zombie itu.

KRAK.

Tubuh busuk itu terlempar ke dinding, tulang belakangnya patah, lalu jatuh tanpa bergerak.

Enam kali manusia biasa.

Bagi Zombie Tingkat 1, itu sudah seperti truk menabrak daging.

Arga terus naik.

Ketika ia mencapai lantai 21, koridor panjang itu hening.

Terlalu hening.

Karpet basah dipenuhi jejak kaki. Di dekat pintu suite, ada noda darah hitam milik orang gendut itu. Pintu utama suite miring, sofa di dalam terlihat terguling dari celah.

Arga berdiri di depan pintu itu selama dua detik.

Napas Kiara terdengar dari kamar tidur.

Patah.

Masih hidup.

Matanya semakin dingin.

Ia masuk.

Ruang tamu hancur.

Dus kosong, botol air tumpah, kursi patah, rak terbuka, bekas tangan kotor di dinding. Makanan yang tidak bisa mereka bawa diinjak sampai bercampur dengan air. Tempat yang semalam membuat Kiara tersenyum kini seperti luka yang dibiarkan terbuka.

Arga berjalan melewati semua itu.

Tok.

Ia mengetuk pintu kamar tidur.

Di dalam, sesuatu bergerak cepat. Koper tergeser. Napas Kiara berubah panik.

"Kiara."

Tidak ada jawaban.

"Ini aku."

Beberapa detik kemudian, suara kunci terdengar.

Pintu terbuka sedikit.

Dua mata merah menatap dari celah.

Kiara melihat Arga.

Pisau di tangannya jatuh ke lantai.

"Arga..."

Tubuhnya limbung.

Arga menangkapnya sebelum ia jatuh. Kiara menggenggam baju Combat Suit Arga dengan kedua tangan. Kuku-kukunya hampir mencakar bahan hitam itu.

"Mereka masuk," bisiknya. "Aku sudah tahan pintunya. Aku sudah tusuk tangannya. Tapi mereka banyak sekali."

"Aku tahu."

"Mereka ambil semuanya."

"Aku tahu."

"Aku takut."

Kali ini Arga diam.

Kiara menunduk. Air matanya jatuh ke dada Arga.

"Aku takut mereka masuk ke kamar."

Tangan Arga berhenti di punggungnya.

Satu detik.

Lalu ia berkata, "Mereka tidak akan punya kesempatan kedua."

Kiara mendongak.

Arga mengeluarkan lima Kristal dari Cincin Dimensi. Cahaya pucatnya memantul di mata Kiara. Lalu ia meletakkan dua belati Hi-Tech di atas meja rias. Bilahnya lebih pendek dari Pedang Hi-Tech, ringan, hitam perak, ujungnya dingin seperti es.

"Ambil."

Kiara menatap benda-benda itu.

"Ini..."

"Hasil Airdrop Box pagi ini. Satu Kristal kamu pakai sekarang untuk memulihkan luka. Empat lainnya simpan. Belati itu milikmu."

Kiara mengambil satu Kristal dengan jari gemetar.

"Aku belum bisa..."

"Kamu bisa."

Arga menggenggam tangannya dan menutup jari Kiara di sekitar Kristal.

"Mulai sekarang, kamu tidak perlu takut pada siapa pun."

Kiara menelan napas.

"Bahkan pada mereka?"

"Terutama pada mereka."

Ia menuntun Kiara duduk di ranjang, lalu menyuruhnya menggigit Kristal perlahan. Energi dingin masuk ke tubuh Kiara. Wajahnya memucat, lalu sedikit memerah. Luka di lengannya masih ada, tapi nyeri tajamnya mereda. Napasnya mulai stabil.

Belum menjadi Evolver.

Belum cukup.

Tapi cukup untuk membuatnya berdiri lagi.

Arga mengambil satu belati Hi-Tech dan meletakkannya di tangan kanan Kiara. Satu lagi di tangan kiri.

Genggaman Kiara masih gemetar.

"Ikut aku," kata Arga.

Kiara membeku. "Ke luar?"

"Ya."

"Aku..."

Arga menatapnya.

"Kalau kamu tetap di kamar ini, rasa takut itu akan tinggal di sini bersamamu."

Kiara menggigit bibir.

"Kalau kamu keluar, rasa takut itu akan tahu siapa pemiliknya."

Ia tidak memberi kata manis atau janji kosong.

Tapi kalimat itu menancap lebih dalam daripada pelukan.

Kiara berdiri.

Kakinya lemah.

Namun ia berdiri.

Arga membuka pintu suite.

Koridor lantai 21 masih kosong. Di beberapa kamar, orang-orang yang ikut merampok sedang menyembunyikan makanan. Mereka mengira pintu yang tertutup bisa menahan dosa.

Kamar pertama berada di sebelah kiri.

Di dalamnya ada dua lelaki dan satu perempuan tua. Dua lelaki tadi ikut mendorong pintu. Pikiran mereka masih panas.

Harusnya kita ambil cewek itu juga.

Kalau Arga datang, pukul ramai-ramai.

Perempuan tua itu hanya duduk di sudut, memeluk dua bungkus mi dan menangis.

Arga mengangkat kaki.

BOOM.

Pintu kamar terlepas dari engsel.

Dua lelaki di dalam terlonjak.

"Arga!"

Yang pertama mencoba mengambil kaki kursi.

Pedang Hi-Tech menyala tipis.

Satu garis.

Lelaki itu jatuh sebelum sempat berdiri penuh.

Yang kedua mundur, wajahnya pucat. "Tunggu! Kami cuma ambil makanan! Semua orang juga ambil!"

Arga menatapnya.

Telepati membuka pikirannya.

Tadi dia harusnya tidak cuma ditakuti. Sayang sekali.

Pedang Arga bergerak.

Lelaki kedua jatuh di samping yang pertama.

Perempuan tua itu menjerit.

Arga tidak mengangkat pedang ke arahnya.

"Tiga bungkus mi. Dua botol air. Ambil itu untuk tiga hari. Sisanya taruh di koridor."

Perempuan tua itu gemetar. "Saya... saya..."

"Sekarang."

Ia langsung merangkak, mengeluarkan barang curian dari bawah ranjang. Bukan karena mengerti keadilan.

Karena ia tahu kematian sedang berdiri di depan pintu.

Arga melangkah keluar.

Kiara mengikuti di belakangnya.

Wajahnya pucat melihat dua mayat pertama.

Tapi ia tidak muntah.

Kamar kedua.

Satu keluarga dengan dua anak kecil. Ayahnya ikut mengangkat Aqua, tapi tidak mendobrak pintu. Pikirannya penuh takut, malu, dan lapar. Ibunya memeluk anak-anak sambil berpikir bahwa ia akan mengembalikan barang kalau Arga datang.

Arga tidak menendang pintu.

Ia mengetuk sekali.

Ketika pintu terbuka, ayah keluarga itu langsung berlutut.

"Pak, saya salah. Saya cuma ambil air. Anak saya..."

"Berapa?"

"Empat botol. Satu biskuit."

"Simpan dua botol dan biskuit. Kembalikan sisanya."

Lelaki itu menangis sambil mengangguk.

Kiara menatap Arga.

Ia mulai mengerti.

Amarahnya punya daftar.

Ini pembersihan.

Kamar ketiga berbeda.

Begitu pintu terbuka karena tendangan, tiga lelaki di dalam sudah menunggu dengan pipa besi. Mereka menyerang bersamaan.

Bagi Kiara, gerakan mereka cepat.

Bagi Arga, mereka lambat.

Pipa pertama ditangkap. Arga memutar pergelangan tangan. Tulang lawan patah dengan suara kering. Pedang bergerak pendek. Lelaki itu jatuh.

Yang kedua mencoba menusuk perut Arga dengan pecahan kaca.

Combat Suit menahan ujung kaca, lalu lutut Arga menghantam rahangnya. Gigi beterbangan. Sebelum tubuhnya jatuh, pedang sudah menyelesaikan sisanya.

Yang ketiga berlari ke jendela, ingin kabur ke balkon luar.

Arga melempar pipa besi yang ia rebut.

Pipa itu menembus betisnya.

Lelaki itu jatuh sambil berteriak.

Arga berjalan mendekat.

"Tadi kamu yang bilang ingin masuk ke kamar Kiara."

Mata lelaki itu membesar.

"Kamu... kamu dengar?"

"Aku tahu."

Pedang turun.

Jeritan berhenti.

Dari ujung koridor, pintu-pintu mulai terbuka sedikit. Wajah-wajah pucat mengintip. Begitu melihat darah, mereka langsung menutup pintu lagi.

Tapi pintu tidak berguna.

Arga tahu siapa yang bersembunyi di baliknya.

Satu demi satu kamar dibersihkan.

Lelaki yang ikut mendobrak pintu, memukul sofa, dan berniat menyerang Kiara, mati.

Orang yang hanya mengambil sedikit makanan karena dipaksa kerumunan, diberi tiga hari jatah dan disuruh mengembalikan sisanya.

Anak-anak dibiarkan.

Perempuan yang tidak ikut menyentuh pintu dibiarkan.

Tapi siapa pun yang dalam pikirannya masih menyimpan kalimat "besok ambil kamarnya juga" tidak mendapat malam berikutnya.

Koridor lantai 21 berubah menjadi garis panjang berwarna merah gelap.

Barang curian menumpuk di tengah koridor. Dus Aqua, Indomie, biskuit, lilin, baterai, makanan kaleng. Semua kembali ke depan suite, satu demi satu.

Kiara berjalan di belakang Arga.

Awalnya ia hanya menggenggam belati.

Lalu ia mulai melihat wajah-wajah itu.

Wajah orang yang tadi tertawa.

Wajah orang yang mendobrak pintu.

Wajah orang yang melihatnya gemetar dan tetap maju.

Tangan Kiara berhenti gemetar perlahan.

Di kamar ujung, orang gendut pembongkar kunci bersembunyi di balik lemari.

Telepati Arga menangkapnya bahkan sebelum pintu ditendang.

Jangan bunuh gue. Gue cuma buka kunci. Bang Jago yang suruh. Tangan gue sakit. Perempuan sialan itu...

BOOM.

Pintu terbang.

Orang gendut itu jatuh terduduk, tangan kanannya dibalut kain kotor.

"Bukan gue!" teriaknya. "Gue cuma disuruh!"

Arga menoleh ke Kiara.

"Dia yang membuka pintu."

Napas Kiara tersangkut.

Orang gendut itu langsung merangkak. "Mbak, maaf! Saya salah! Saya lapar! Saya cuma buka pintu!"

Kiara menatap tangannya yang terluka.

Tangan itu yang masuk melalui celah pintu.

Tangan itu yang hampir membuat semuanya selesai.

Belati Hi-Tech di tangan kanannya terasa berat.

Arga tidak bergerak.

"Kiara."

Ia hanya memanggil namanya.

Orang gendut itu menangis. "Jangan! Jangan!"

Kiara maju satu langkah.

Air matanya jatuh.

"Aku sudah bilang jangan masuk."

Belati menusuk.

Tidak dalam.

Terlalu ragu.

Orang gendut itu menjerit dan mencoba mendorongnya.

Sebelum tangannya menyentuh Kiara, Arga menginjak pergelangan tangannya.

KRAK.

"Lagi," kata Arga.

Kiara menggigil.

"Aku..."

"Dia akan bangun kalau kamu berhenti di tengah."

Kalimat itu kejam.

Tapi benar.

Kiara memejamkan mata sebentar.

Lalu membuka.

Belati kedua masuk ke dada orang gendut itu.

Jeritan berubah menjadi suara tersedak.

Tubuhnya berhenti bergerak.

Kiara mundur dua langkah. Wajahnya basah.

Arga tidak memeluknya.

Belum.

"Ingat rasanya," katanya. "Jangan menikmatinya. Jangan lupakan juga. Kalau kamu lupa, dunia ini akan membuatmu menjadi korban lagi."

Kiara mengangguk pelan.

Mereka berjalan ke kamar terbesar di ujung koridor.

Di sanalah Bang Jago menunggu.

Pintunya tidak terkunci.

Begitu Arga masuk, kursi terbang ke arahnya.

Arga menebas.

Kursi terbelah dua.

Bang Jago dan tiga anak buahnya sudah bersiap. Satu membawa pipa besi, satu membawa kaki meja tajam, satu membawa pisau dapur curian. Bang Jago sendiri memegang parang pendek yang entah ia temukan dari mana.

"Akhirnya balik juga," kata Bang Jago, tapi suaranya tidak setenang tadi siang.

Di belakang keberaniannya, pikirannya berisik.

Kenapa dia tidak takut?

Darah di koridor itu darah siapa?

Kalau ramai-ramai masih bisa.

Arga melangkah masuk.

"Tiga detik."

Bang Jago mengerutkan kening. "Apa?"

"Waktu kalian untuk jatuh."

Anak buah pertama menyerang.

Detik pertama.

Arga menghindar setengah langkah. Siku menghantam tenggorokan lawan. Tubuh itu jatuh sambil memegang leher.

Detik kedua.

Pipa besi datang dari kiri. Arga menangkapnya, menarik, lalu menendang lutut penyerang. Kaki itu melipat ke arah yang salah.

Detik ketiga.

Pisau dapur menusuk dari belakang. Arga berputar, mematahkan lengan, lalu membanting tubuh penyerang ke meja.

Bang Jago belum sempat mengayunkan parang.

Lehernya sudah berada dalam cengkeraman Arga.

Arga mengangkatnya dari lantai.

Kaki Bang Jago menendang kosong.

"Kamu bilang aku cuma satu orang," kata Arga.

Bang Jago menggertakkan gigi. "Lepas... kita bisa bagi..."

Arga melemparkannya ke lantai.

KRAK.

Punggung Bang Jago menghantam ubin.

Ketiga anak buahnya merintih di lantai, tidak ada yang bisa berdiri.

Arga mengambil parang Bang Jago, lalu melemparkannya ke depan Kiara.

Bilah itu berputar sekali dan berhenti di dekat kakinya.

Kiara menatap parang itu.

Lalu menatap Bang Jago.

Wajah lelaki itu berubah.

"Hei, Dek. Jangan bodoh. Tadi abang cuma bercanda. Kalau bukan abang, orang-orang lain sudah masuk kamar kamu."

Kiara tidak bergerak.

Bang Jago mencoba tertawa. "Kamu cantik. Dunia begini keras. Kamu butuh orang kuat."

Arga berkata pelan, "Dia tahu apa yang ingin kamu lakukan."

Tawa Bang Jago berhenti.

Kiara membungkuk mengambil parang.

Tangannya kembali gemetar.

Air mata kembali turun.

"Aku dulu cuma ingin hidup," bisiknya.

Bang Jago mundur dengan siku. "Semua orang juga ingin hidup!"

"Tapi kamu ingin membuatku lebih buruk daripada mati."

Ruangan hening.

Kiara mengangkat parang.

Pukulan pertama masuk ke dada Bang Jago.

Tidak rapi.

Tidak kuat.

Tapi cukup membuatnya menjerit.

Kiara menangis lebih keras.

Pukulan kedua lebih dalam.

Pukulan ketiga membuat jeritan itu putus.

Bang Jago mati dengan mata terbuka.

Kiara berdiri terpaku.

Tiga anak buah Bang Jago menatapnya seperti melihat hantu.

Arga menaruh satu belati Hi-Tech kembali ke tangannya.

"Mereka memilih berdiri di belakangnya."

Kiara mengerti.

Satu.

Dua.

Tiga.

Setiap kali belati masuk, sebagian dari gadis yang dulu menari di studio UNDIP mati sedikit.

Tapi sesuatu yang lain lahir.

Lebih sunyi.

Lebih tajam.

Ketika Kiara selesai, ia tidak menjatuhkan belati.

Ia hanya berdiri, napas tersengal, darah di pipi bercampur air mata.

Arga menatapnya.

Di kehidupan sebelumnya, Kiara menjadi Bayangan, pembunuh yang bahkan musuh tingkat tinggi takut sebut namanya.

Ternyata benihnya bukan darah dingin.

Benihnya adalah rasa takut yang dipaksa berubah menjadi pisau.

"Bagus," kata Arga pelan.

Kiara menoleh.

Satu kata itu membuat bahunya runtuh.

Ia maju dan memeluk Arga kuat-kuat. Kali ini Arga tidak menahan jarak. Ia membiarkan tubuh Kiara bergetar di dadanya.

"Aku membunuh orang," bisik Kiara.

"Mereka juga akan membunuhmu."

"Aku takut."

"Takut boleh."

Arga menatap mayat Bang Jago di lantai.

"Berhenti tidak boleh."

Kiara memejamkan mata.

Mereka keluar dari kamar Bang Jago beberapa menit kemudian.

Masih ada satu orang.

Kepala Security.

Ia tidak berada di kamar biasa. Ia bersembunyi di ruang servis kecil dekat tangga, tempat panel listrik mati dan gudang handuk berada. Di depannya, beberapa dus Aqua dan makanan kaleng ditumpuk rapi.

Untuk dirinya sendiri.

Arga membuka pintu ruang servis tanpa menendang.

Kepala Security langsung mengangkat kedua tangan.

"Pak Arga! Saya bisa jelaskan!"

Wajahnya basah oleh keringat.

Telepati tidak butuh penjelasan.

Kalau bisa lolos, turun ke lantai 20. Kalau dia lengah, tusuk leher. Kalau tidak, salahkan Bang Jago.

Arga melangkah masuk.

"Kamu menjual informasi kamarku."

"Saya hanya bilang ada makanan! Saya pikir demi warga!"

"Kamu menunjuk pintu."

"Mereka memaksa saya!"

"Kamu menghitung bagianmu sendiri."

Wajah Kepala Security memucat.

"Pak, tolong. Saya masih berguna. Saya tahu jalur hotel. Saya tahu gudang. Saya bisa bantu Anda."

Arga berhenti di depannya.

"Orang lapar masih bisa diberi kesempatan."

Kepala Security melihat harapan.

Lalu Arga berkata, "Pengkhianat tidak."

Pedang Hi-Tech masuk dari bawah rusuk.

Mata Kepala Security membelalak.

"Pengkhianat," kata Arga, "mati."

Tubuhnya jatuh di antara dus Aqua yang ia sembunyikan.

Pembersihan lantai 21 selesai saat malam turun.

Arga memaksa semua penghuni yang dibiarkan hidup keluar dari kamar, mengembalikan barang curian ke depan suite. Tidak ada yang berani menatap matanya. Mereka mengambil jatah tiga hari yang ia tetapkan, lalu menutup pintu masing-masing seperti orang yang baru lolos dari pengadilan.

Yang bersalah berat sudah tidak punya pintu untuk ditutup.

Koridor penuh darah.

Arga berdiri di tengahnya, Pedang Hi-Tech masih menetes.

Kiara berdiri di sampingnya. Dua belati Hi-Tech berada di tangannya. Bilahnya merah, tapi genggamannya tidak lagi gemetar.

Di luar jendela koridor, awan retak perlahan membuka celah.

Bulan pertama sejak kiamat naik di atas Semarang.

Cahayanya pucat.

Dunia di bawah masih banjir, hangus, dan penuh Zombie.

Tapi lantai 21 telah menjadi milik Arga sepenuhnya.

Arga menatap kota gelap di kejauhan.

"Besok pagi kita keluar."

Kiara mengangkat wajah.

"Ke mana?"

"Mencari Airdrop Box."

Ia menoleh pada Kiara. Untuk pertama kalinya sejak kembali, ada sesuatu selain dingin di matanya.

"Kiara, keberuntunganmu jauh lebih bagus daripada yang kamu kira."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!