"Raka Laksana — yatim piatu, detektif gagal, ditertawakan semua orang. Sampai malam itu, sebuah sistem bangkit dalam dirinya: “Sistem Penghakiman”. Mata Dosa yang bisa membaca dosa siapa pun. Buku Penghakiman yang bisa menjatuhkan hukuman di hadapan seluruh negeri. Kekuatan yang tak dimiliki polisi, jaksa, atau hakim mana pun.
Menyamar sebagai konsultan biasa di Satreskrim Kota Elang Biru, Raka membongkar kasus demi kasus — pembunuhan, sindikat perdagangan manusia, konspirasi elite — sambil menyembunyikan identitas aslinya sebagai eksekutor bayangan. Sistem terus naik level, skill terus bertambah, dan setiap penjahat yang lolos dari hukum biasa... tidak akan lolos dari tangannya.
Tapi ada satu kasus yang tak pernah bisa ia lupakan: dua puluh tahun lalu, kedua orangtuanya difitnah dan dihancurkan oleh **Keluarga Halim** — konglomerat paling berkuasa di kota ini. Setiap kasus yang ia selesaikan membawanya selangkah lebih dekat pada kebenaran itu.
Dan pada hari penghakiman tiba, seluruh bangsa akan menyaksikan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Darma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Bab 3: Bau Kematian
"Dewi," bisik Raka nyaris tanpa suara. "Tunggu sebentar lagi."
Bus tua itu menurunkan mereka di halte kecil yang catnya sudah mengelupas. Siang di Desa Batu Giok terasa lengket. Udara panas bercampur bau tanah basah, asap dapur, dan sesSatu yang samar, terlalu tipis untuk disebut busuk, tapi cukup membuat tengkuk Raka menegang.
Ratih sudah menunggu di bawah pohon waru.
Perempuan itu memakai kerudung lusuh dan masker yang ditarik ke dagu. Matanya bengkak. Begitu melihat Raka dan Kribo turun, ia melangkah cepat, lalu berhenti seolah baru sadar bahwa harapannya hanya bertumpu pada dua orang asing dengan ransel tipis.
"Bang Raka?"
"Iya, Bu Ratih." Raka menjaga suaranya rendah. "Kami langsung ke rumah?"
Ratih mengangguk. "Mas Wisnu ada di rumah. Bu Marlina juga. Tolong... jangan bilang dulu soal video call tadi."
"Saya mengerti."
Kribo berjalan di sebelah Raka sambil berbisik, "Desa ini sunyi banget. Biasanya tempat sunyi punya dua kemungkinan: damai atau banyak orang pura-pura tidak lihat apa-apa."
"Catat kemungkinan kedua," jawab Raka.
Rumah Ratih berada di ujung jalan tanah, dekat kebun kosong dan rumpun bambu. Halamannya sempit. Di samping rumah ada saluran pembuangan kecil yang mengarah ke belakang. Beberapa tetangga menatap dari beranda, cepat-cepat masuk saat mata Raka menyapu mereka.
Seorang pria keluar dari pintu depan.
Wisnu Marpaung tersenyum terlalu cepat.
"Jadi ini Bang Raka, ya?" katanya, menjabat tangan Raka erat. "Ratih cerita ada orang dari live yang mau bantu. Maaf rumah kami berantakan. Kami semua masih kacau sejak Dewi hilang."
Suaranya hangat. Matanya basah. Cara berdirinya seperti suami yang lelah, takut, dan ingin dipercaya.
Lalu Mata Dosa menyala.
【WISNU MARPAUNG】
【INDEKS DOSA: 97/100】
【KETERKAITAN DENGAN KASUS AKTIF: SANGAT TINGGI】
Dunia di sekitar Raka seperti menyempit.
Sembilan puluh tujuh.
Lebih tinggi dari angka di sekitar Ratih. Lebih gelap dari apa pun yang pernah ia lihat. Di balik senyum Wisnu, Raka seolah melihat lapisan hitam pekat yang menempel di kulit pria itu.
Raka hampir menarik tangannya, tapi ia menahan diri.
"Saya hanya ingin membantu memastikan kronologi," katanya. "Kalau memang Dewi dibawa orang lain, semakin cepat semua detail jelas, semakin baik."
Senyum Wisnu tidak hilang, tapi rahangnya mengeras sepersekian detik. "Tentu. Kami juga ingin Dewi pulang."
Dari dalam rumah, seorang perempuan paruh baya muncul membawa lap. Ia menyeka telapak tangan berkali-kali, padahal tidak ada noda yang terlihat.
"Ini ibu saya, Bu Marlina," kata Wisnu.
Marlina mengangguk singkat. "Ratih itu terlalu panik. Tapi ya sudah, kalau mau lihat-lihat, silakan. Asal jangan bikin rumah makin kacau."
【MARLINA】
【INDEKS DOSA: 78/100】
【KETERKAITAN DENGAN KASUS AKTIF: TINGGI】
Kribo, yang tidak melihat panel itu, hanya memandang Raka dari sudut mata. Ia pasti membaca perubahan kecil di wajah Raka.
Raka menunduk sopan. "Terima kasih, Bu. Kami mulai dari kamar Dewi."
Kamar Dewi kecil. Ada kasur bayi, selimut tipis bermotif bunga, botol susu kosong, dan gantungan baju mungil di dinding. Ratih berhenti di ambang pintu. Tangannya gemetar memegang ujung kerudung.
"Baju terakhirnya warna pink," katanya lirih. "Ada gambar kelinci. Saya yang pakaikan sore itu."
Raka berjongkok di samping kasur. Ia tidak menyentuh apa pun sembarangan. Matanya menyapu lantai, kolong ranjang, sudut lemari.
Di bawah tempat tidur bayi, terselip bungkus kecil berwarna bening dengan sisa gambar buah.
Kribo ikut jongkok. "Jelly?"
Raka mengambilnya dengan tisu dari saku, lalu panel sistem berkedip.
【Barang bukti terdeteksi】
【Objek: Bungkus jelly】
【Klasifikasi awal: SENJATA PEMBUNUHAN】
Napas Raka tertahan.
Jelly?
Bayi delapan bulan belum seharusnya diberi makanan seperti itu. Tapi senjata pembunuhan? Bagaimana caranya?
"Apa Dewi biasa makan jelly?" tanya Raka, tetap menatap bungkus itu.
Ratih langsung menggeleng. "Tidak. Saya tidak pernah kasih. Dewi masih bubur halus."
Wisnu tertawa kecil dari belakang, terlalu kering. "Namanya rumah, Bang. Bisa saja bungkus lama. Anak-anak tetangga sering main."
"Anak tetangga main sampai bawah ranjang bayi?" Kribo bertanya tanpa melihatnya.
Wisnu terdiam.
Marlina cepat menyela. "Kalau sudah selesai, silakan ke ruang depan. Kamar ini bikin Ratih sedih."
"Sebentar, Bu." Raka berdiri. "Saya boleh pakai kamar mandi bawah?"
Lap di tangan Marlina berhenti bergerak.
"Rusak," katanya cepat. "Pakai yang atas saja."
"Rusaknya bagian apa?"
"Ya rusak. Airnya mampet. Tidak usah dilihat."
Terlalu cepat. Terlalu tegang.
Raka menatap pintu kecil di dekat dapur. Dari celah bawahnya, ada bau kaporit samar.
Mereka keluar ke halaman belakang dengan alasan memeriksa akses dari kebun. Rumput di sana tinggi sebagian, tapi jalur menuju lubang septik tampak lebih bersih, seolah baru sering dilewati. Bau samar yang Raka cium sejak turun bus muncul lagi, kali ini lebih jelas.
Kribo menutup hidung. "Bro... lo nyium?"
"Iya."
Marlina mendadak berdiri lebih dekat ke lubang septik. "Belakang rumah memang bau. Saluran lama. Jangan terlalu dekat, nanti kotor."
"Kalau saluran lama, kapan terakhir dibuka?" tanya Raka.
Marlina terdiam. Wisnu langsung mengambil alih.
"Sudah, Bang. Polisi juga sudah lihat sekitar sini. Tidak ada apa-apa." Ia meraih bahu Ratih, seolah menenangkan istrinya, tapi jari-jarinya menekan terlalu kuat. Ratih meringis kecil.
Dari pagar bambu, dua tetangga berbisik. Salah satunya berkata cukup keras, "Orang kota datang-datang bongkar rumah orang. Kasihan keluarga sudah sedih."
Raka mendengar. Wisnu juga mendengar, dan untuk sesaat senyumnya kembali penuh. Ia tahu desa ada di pihak orang yang tampak paling menderita.
Saat pria itu bicara, mata Raka menangkap gerakan di kejauhan.
Di tepi rumpun bambu, seorang pemuda bertubuh besar berdiri memandangi rumah. Wajahnya polos, matanya gelisah. Di tangannya ada sesSatu yang diremas-remas.
Bungkus jelly.
"Siapa itu?" tanya Raka.
Ratih menoleh. "Jono. Dia sering bantu tetangga. Anak baik."
Begitu sadar diperhatikan, Jono mundur satu langkah, lalu menghilang di balik bambu.
Raka menyimpan semua potongan itu di kepala: Wisnu 97, Marlina 78, bungkus jelly, kamar mandi bawah, jalur bersih menuju septik, Jono dengan bungkus yang sama.
Malam turun lebih cepat daripada yang ia inginkan.
Marlina memasak dengan wajah kaku. Wisnu terus memainkan peran suami yang cemas. Ratih hampir tidak menyentuh makanan. Raka menunggu sampai rumah mulai sunyi, lalu keluar diam-diam melalui pintu samping.
Kribo berbisik dari tikar ruang tamu, "Lo mau ke mana?"
"Lihat belakang. Kalau lima menit aku belum balik, bangunkan Ratih."
"Itu kalimat yang tidak pernah membawa kabar baik."
Raka tidak menjawab.
Halaman belakang gelap. Hanya ada lampu dapur yang bocor dari jendela. Bau itu kini menusuk lebih kuat. Raka berjalan mendekati lubang septik, menahan napas, lalu menyorotkan lampu ponsel ke celah beton yang retak.
Permukaannya hitam. Diam.
Lalu sesSatu bergerak pelan di bawah cahaya.
Sepotong kain kecil berwarna pink mengapung di permukaan air kotor.
Di kain itu, samar tapi jelas, ada gambar kelinci.
Darah Raka terasa turun ke kaki.
Suara sistem berbunyi tanpa belas kasihan.
【Konfirmasi lokasi jasad.】
【Bayi Dewi berada di dalam lubang septik.】