Budi, seorang karyawan kantor biasa yang gaji bulanannya selalu numpang lewat karena harus melunasi utang warisan orang tuanya, tiba-tiba mendapatkan sebuah sistem aneh bernama 'System Lempar Dadu Monopoly'.
Sistem ini menampilkan papan permainan hologram mirip Monopoli lengkap dengan avatar chibi dirinya di atasnya, di mana setiap lemparan dadu bisa memberikannya reward uang dan item ajaib, atau hukuman memalukan yang harus ia jalani di dunia nyata.
Kini, hidup Budi berubah drastis menjadi sebuah pertaruhan harian di mana setiap petak yang ia injak perlahan-lahan mengangkatnya dari kemiskinan, asalkan ia bisa bertahan dari "kejutan" konyol yang disiapkan oleh sistem tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Sinar mentari pagi menyapa Jakarta dengan kehangatan yang pas.
Budi terbangun dengan senyum yang sudah terukir di wajahnya sejak matanya terbuka.
Hari ini perasaannya jauh lebih tenang dan tajam dibandingkan hari hari sebelumnya.
Berkat Buku Panduan Hukum Bisnis Manipulatif semalam, otaknya kini terasa seperti perpustakaan hukum yang berjalan.
Semua celah hukum, jebakan kontrak, dan pasal pasal penggelapan dana terekam jelas di ingatannya tanpa perlu dihafal.
"Pak Anton, mari kita lihat siapa yang akan menangis di akhir bulan nanti."
Budi bergumam pelan sambil bangkit dari kasurnya menuju kamar mandi luar.
Selesai mandi, Budi tidak lagi mengambil kemeja kusamnya yang sudah menipis di bagian kerah.
Dia mengambil salah satu kemeja lengan panjang berpotongan pas badan yang baru dibelinya kemarin.
Kemeja berwarna biru muda itu terlihat sangat rapi dan menonjolkan postur tubuh Budi yang sebenarnya cukup tegap.
Dipadukan dengan celana bahan hitam pekat yang baru, penampilan Budi hari ini berubah seratus delapan puluh derajat.
Dia menatap pantulan dirinya di cermin retak itu dengan perasaan bangga.
"Ternyata kalau aku berpakaian seperti ini, aku tidak terlihat seperti pecundang sama sekali."
Sebelum berangkat, Budi menyempatkan diri untuk memanggil sistem kesayangannya.
Ting.
Layar hologram biru muncul membelah udara pagi di kamarnya.
Mata Budi langsung menatap deretan angka hijau di pojok kanan atas.
Saldo Sistem saat ini adalah empat juta dua ratus tujuh puluh lima ribu rupiah.
Kedai Kopi Senja rupanya langsung menyumbang keuntungan pasif sebesar seratus lima puluh ribu rupiah di hari pertamanya.
Sedangkan Kedai Pak Mamat memberikan keuntungan stabil di angka lima ratus ribu rupiah untuk pendapatan hari biasa.
"Uang ini mengalir seperti air kran yang lupa ditutup."
Budi tertawa kecil lalu mematikan layar sistemnya untuk segera berangkat kerja.
Perjalanan di dalam bus kota terasa sedikit berbeda hari ini.
Beberapa penumpang wanita yang berdiri di dekat Budi sesekali mencuri pandang ke arahnya.
Penampilan Budi yang rapi dan bersih dipadukan dengan aura kepercayaan diri barunya ternyata cukup menarik perhatian.
Sesampainya di ruang divisi administrasi, suasana masih terbilang lengang.
Budi melangkah masuk dengan tegap dan langsung duduk di mejanya.
Reno yang sedang merapikan laci langsung menghentikan gerakannya saat melihat Budi.
"Buset Bud, kau mau pergi kondangan atau mau melamar anak direktur hari ini."
Reno menatap sahabatnya itu dari atas sampai bawah dengan mulut sedikit terbuka.
Budi hanya tertawa renyah sambil menyalakan komputernya.
"Kan aku sudah bilang kemarin Ren, ini namanya investasi penampilan."
"Gila, kemeja baru itu benar benar mengubah auramu jadi seperti manajer eksekutif Bud."
Tepat saat Reno memuji Budi, pintu ruangan terbuka dan Siska melangkah masuk.
Siska yang biasanya selalu sibuk dengan ponselnya kini langsung terdiam mematung di ambang pintu.
Matanya melebar menatap Budi yang duduk dengan tenang di balik komputernya.
Kemeja biru muda itu membuat wajah Budi terlihat jauh lebih cerah dan segar.
"Selamat pagi Siska, tumben langkahmu berhenti di pintu begitu."
Budi menyapa dengan nada santai tanpa melepaskan pandangannya dari layar monitor.
Siska gelagapan dan wajahnya sedikit memerah karena ketahuan sedang memandangi Budi.
"Pagi Bud."
Siska menjawab singkat dengan nada ketus yang dipaksakan lalu buru buru berjalan ke mejanya.
Dia sama sekali tidak mengeluarkan sindiran pedas seperti biasanya pagi ini.
Reno menyikut lengan Budi sambil menahan tawa melihat reaksi Siska.
"Kau lihat itu Bud, si nenek lampir sampai kehabisan kata kata melihat gaya barumu."
Tidak lama kemudian, Pak Anton keluar dari ruangan kacanya dengan wajah berwibawa.
Dia berjalan lurus ke arah meja Budi tanpa memedulikan tatapan karyawan lain.
"Budi, bagaimana dengan dokumen pengajuan dana kemarin, sudah masuk ke bagian keuangan."
"Sudah Pak Anton, kemarin siang langsung saya serahkan ke loket pendaftaran berkas."
Budi menjawab dengan sangat sopan sambil menatap langsung ke mata bosnya itu.
Pak Anton tersenyum puas dan menepuk bahu Budi pelan.
"Kerja bagus Budi, saya pastikan namamu akan bersih jika ada audit internal nanti."
Pak Anton mengatakan itu dengan makna ganda yang sangat licik, namun Budi sudah selangkah lebih maju.
"Tentu saja Pak, saya pastikan semuanya sudah sesuai prosedur hukum."
Budi membalas dengan senyuman misterius yang tidak bisa dibaca oleh Pak Anton.
Berkat pengetahuan hukum dari sistem, Budi telah melakukan manuver mematikan.
Di antara tumpukan dokumen tebal itu, Budi menyisipkan satu lembar Surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak yang dicetaknya sendiri.
Surat itu menyatakan bahwa seluruh nominal dana diajukan murni atas instruksi mutlak manajer divisi, yaitu Pak Anton.
Dan bagian terbaiknya adalah, Budi menyodorkan lembaran itu untuk diparaf oleh Pak Anton di bawah tumpukan nota tanpa disadari bosnya itu.
Tanda tangan Budi di dokumen utama pun sengaja dibuat sedikit berbeda sebagai bukti tambahan jika masalah ini masuk ke ranah pidana.
'Dengan surat itu, Pak Anton sudah menggantung lehernya sendiri di depan hukum perdata dan pidana.'
Sisa jam kerja hari itu berjalan dengan sangat mulus bagi Budi.
Dia bekerja dengan sangat efisien dan bahkan membantu Reno menyelesaikan beberapa laporan.