NovelToon NovelToon
Cinta Lama, Dendam Baru

Cinta Lama, Dendam Baru

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / CEO
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Cilia

Tujuh tahun lalu, Kirana Ayu Pradipta ditinggalkan tanpa penjelasan oleh kekasihnya, Raditya Alamsyah Wibowo. Kirana pergi tanpa tahu kebenaran, membangun hidup dan kariernya dari nol, tumbuh jadi perempuan tegar yang tak lagi percaya cinta. Tujuh tahun kemudian, mereka bertemu kembali. Bukan sebagai sepasang kekasih, tapi sebagai rival bisnis dalam tender proyek properti terbesar di Jakarta. Radit yang dingin berusaha merebut kembali hati Kirana, sementara Kirana harus memilih antara membalas dendam, melindungi perusahaannya, atau membuka hatinya lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

IX - Luruh

Warning: Adegan Dewasa, 21+

Genggaman itu bertahan lebih lama dari yang seharusnya.

Kirana tahu ia seharusnya menarik tangannya. Tapi hujan di luar makin deras, gemuruhnya menelan setiap logika yang berusaha ia rangkai, dan kehangatan tangan Radit terasa seolah tujuh tahun terpisah tidak pernah benar-benar mengubah bagaimana tangan mereka seharusnya saling bertaut.

"Kirana." Suara Radit pelan, nyaris tenggelam suara hujan. Ia menoleh, dan dalam remang cahaya darurat itu, ia bisa melihat sesuatu di mata Radit yang belum pernah ia lihat sejak reuni mereka minggu lalu — bukan penyesalan, bukan rasa bersalah, tapi kejujuran yang selama ini tersembunyi di balik topeng CEO yang dingin.

"Jangan," Kirana berbisik, meski ia sendiri tidak yakin apa yang sedang ia larang.

"Aku nggak akan nyakitin kamu lagi," Radit berkata, suaranya begitu pelan hingga terasa lebih seperti janji pada dirinya sendiri daripada pada Kirana. "Aku tahu aku nggak berhak bilang itu. Tapi aku pengen kamu tahu."

Kirana mencari kebohongan di wajah itu. Namun, yang ia temukan cuma ketulusan, hingga sesuatu di dalam dirinya menyerah.

Ada begitu banyak alasan untuk berhenti di sini. Valerie. Tujuh tahun luka yang belum mendapatkan penjelasan. Rahasia yang masih Radit sembunyikan. Kirana menghafal semua itu satu per satu, daftar yang selalu ia ingat setiap kali bagian dari dirinya mulai lemah di depan pria ini.

Tapi malam ini, daftar itu terasa begitu jauh, dibandingkan kenyataan bahwa Radit sedang menatapnya seperti seseorang yang lama kehilangan sesuatu dan baru saja menemukannya kembali.

"Aku tahu aku seharusnya nggak lakuin ini," Kirana berbisik, lebih ke diri sendiri.

"Kalau gitu jangan lakuin," Radit menjawab, meski tangannya sendiri tidak menunjukkan tanda ingin menjauh, ibu jarinya mengusap pipinya dengan kelembutan yang bertentangan sepenuhnya dengan kata-katanya. "Aku nggak akan maksa kamu, Kirana. Nggak akan pernah."

Kirana menatap mata Radit sekali lagi, mencari alasan untuk mundur. Yang ia temukan justru sebaliknya — kejujuran yang membuat semua pertahanan yang tersisa runtuh dengan sendirinya.

Ia tidak ingat siapa yang bergerak lebih dulu. Yang ia ingat hanya tangan Radit yang berpindah dari genggamannya menuju wajahnya, napasnya yang tercekat sesaat sebelum jarak di antara mereka lenyap, dan bibir mereka bertemu dengan cara yang terasa seperti tujuh tahun kerinduan, akhirnya menemukan jalan pulang.

Ciuman itu berbeda dari yang pernah mereka bagi dulu, saat cinta terasa sederhana dan tanpa beban. Ciuman ini penuh dengan segala hal yang tidak pernah sempat mereka ucapkan.

"Radit," Kirana akhirnya berbisik di sela napas mereka yang memburu, "kalau ini terjadi, aku nggak akan bisa pura-pura lagi kalau aku nggak peduli."

"Aku nggak minta kamu pura-pura," Radit menjawab, keningnya menempel pada kening Kirana. "Aku udah capek pura-pura, Kirana."

Kegelapan basement itu, yang tadinya terasa seperti jebakan, kini terasa seperti perlindungan. Dunia kecil yang hanya berisi mereka berdua, terpisah sejenak dari segala kerumitan yang menunggu di luar sana.

Radit berdiri, menariknya lembut untuk ikut berdiri. Mereka berjalan bersama menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari sana, jemari tetap bertaut erat, diiringi suara hujan dan detak jantung mereka sendiri.

Di dalam mobil, Radit berhenti sejenak, menatap Kirana seolah masih tidak percaya bahwa ini nyata. Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya mengecup punggung tangan Kirana sekali, pelan, seperti sedang memastikan pada dirinya sendiri bahwa perempuan di sampingnya bukan bagian dari salah satu mimpinya.

Kirana merasakan napasnya sendiri berubah tidak teratur ketika tangan Radit berpindah dari punggung tangannya ke rahangnya, mengangkat wajahnya perlahan hingga pandangan mata mereka bertemu.

"Kamu yakin?" Radit bertanya, suaranya nyaris berbisik.

Kirana tidak menjawab dengan kata-kata. Ia meraih kerah jas Radit, menariknya lebih dekat, membiarkan tindakannya menjawab pertanyaan yang dilontarkan.

Ciuman kali ini tidak lagi lembut seperti tadi. Ada keputusasaan di dalamnya, ada rasa takut kehilangan, ada tujuh tahun rindu yang tumpah. Radit menggeram pelan di tenggorokannya, satu tangannya mencengkeram pinggang Kirana erat hingga tak ada celah lagi di antara tubuh mereka, tangan lain menyelip di balik lehernya, memperdalam sentuhan bibir mereka seolah ingin menelan setiap napas yang keluar dari mulut gadis itu.

Kaca mobil mulai berembun perlahan, mengaburkan cahaya lampu yang sempat menembus masuk. Kirana merasakan dinginnya kaca jendela di punggungnya saat Radit menekannya perlahan ke sana, tapi dingin itu langsung hilang ditelan panas tubuh pria itu yang menempel rapat di depannya. Jari-jarinya menjalar naik dari pinggang, menyusuri lekuk tulang rusuknya di balik kain kemeja tipis yang ia kenakan, berhenti sejenak di tulang selangka sebelum naik lagi, mengusap sisi lehernya yang berdenyut kencang.

"Radit..." desah Kirana pecah, kepalanya terlempar ke belakang saat bibir pria itu berpindah ke rahangnya, lalu ke lekuk lehernya, menghisap kulitnya dengan lembut, meninggalkan rasa hangat yang menjalar ke seluruh tulang. Tangannya mencengkeram bahu jas Radit erat, lalu naik menyelip ke dalam rambut hitamnya, menariknya lebih dekat seolah masih belum merasa cukup dekat.

Radit berhenti sejenak, napasnya memburu di telinga Kirana, jemarinya menyibakkan rambut gadis itu yang menutupi leher.

"Boleh?" tanyanya pelan, suaranya berat dan parau, menunggu jawaban sebelum tangannya bergerak lebih jauh lagi. Kirana hanya bisa mengangguk cepat, terlalu sesak untuk mengeluarkan kata-kata, dan itu cukup untuknya.

Kancing kemeja Kirana terbuka satu per satu dengan gerakan yang penuh perhatian, seolah Radit takut merusak barang paling berharga yang baru saja ia dapatkan kembali. Setiap sentuhan kulitnya yang dingin di kulit Kirana membuat gadis itu menggigil kecil, bukan karena kedinginan, tapi karena setiap usapan terasa seperti jawaban atas semua malam yang ia lalui sendirian selama tujuh tahun. Radit mencium setiap inci kulit yang baru saja terbuka, dari tulang selangka turun ke tengah dadanya, pelan, seolah sedang menghafal kembali setiap lekuk tubuh perempuan yang pernah menjadi seluruh dunianya.

Suara hujan di luar makin kencang, menutupi setiap desahan kecil, setiap panggilan nama yang saling terbisik di antara napas yang memburu. Ruang sempit di dalam mobil itu terasa makin panas, makin sempit.

Setiap gerakan Radit penuh dengan kelembutan. Ia tidak terburu-buru, tidak kasar, seolah tahu betapa rapuhnya pertahanan yang baru saja runtuh di hadapannya, seolah takut satu gerakan salah akan membuat Kirana menghilang lagi. Dan Kirana membiarkannya — membiarkan dirinya hanyut, melepaskan semua rasa takut, semua penyesalan, semua pertahanan yang telah ia bangun bertahun-tahun, untuk satu malam ini saja menyerah pada laki-laki yang masih ia cintai lebih dari apa pun.

Kaca mobil makin lama makin buram, sampai tidak ada lagi yang bisa dilihat dari luar. Suara dunia luar perlahan menghilang, menyisakan hanya detak jantung mereka yang saling berkejaran, napas yang saling bersahutan, dan bisikan-bisikan rindu yang akhirnya menemukan cara untuk diungkapkan, bukan dengan kata-kata, tapi dengan setiap sentuhan, setiap tarikan napas, setiap gerakan yang menyatukan mereka lebih dalam dari sebelumnya.

Waktu terasa berhenti berputar di dalam ruang sempit itu. Tidak ada lagi Valerie, tidak ada lagi tujuh tahun perpisahan, tidak ada lagi luka dan rahasia yang menunggu di luar. Yang ada cuma mereka berdua: Radit dan Kirana, yang setelah sekian lama terpisah, akhirnya menemukan jalan pulang ke dalam pelukan masing-masing.

Dan perlahan, semua suara, semua gerakan, semua panas yang menyelimuti mereka, melebur menjadi satu keheningan, tenggelam dalam kegelapan malam, sampai tidak ada lagi yang tersisa selain detak jantung yang saling berirama, dan hujan yang perlahan mulai reda di luar sana.

...****************...

Pagi menjelang, dan Kirana terbangun dari tidurnya. Untuk sesaat, sebelum ingatan kejadian semalam sepenuhnya kembali, ia merasakan kedamaian yang begitu ia rindukan — kulitnya masih terasa hangat di tempat-tempat yang disentuh Radit semalam, posisi tubuh mereka masih saling melingkupi seperti tidak ingin dipisahkan.

Lalu ia melihat Radit, masih terjaga, menatapnya dengan senyum lembut yang belum pernah ia lihat sejak tujuh tahun lalu.

"Selamat pagi," Radit berbisik, tangannya masih membelai rambutnya pelan, ibu jarinya sesekali menyusuri garis pipi Kirana seolah tidak ingin berhenti menyentuhnya.

Kirana tersenyum, meski di dalam dirinya, kekhawatiran mulai merayap kembali.

Sebelum ia sempat mengucapkan apa pun, layar ponsel Radit yang tergeletak di dashboard menyala terang.

Radit meraihnya, dan Kirana melihat perubahan di wajahnya. Lebih kaku, lebih dingin, seolah dunia luar baru saja menerobos masuk ke dalam gelembung kecil yang mereka ciptakan semalam.

"Ada apa?" Kirana bertanya, meski sebagian dari dirinya sudah bisa menebak jawabannya.

Radit menatap layar ponselnya lama, rahangnya mengeras, sebelum akhirnya memutar layar itu agar Kirana bisa melihat sendiri.

Radit, jangan lupa Sabtu depan. Ayah dan Ibu udah konfirmasi tanggal lamaran kita ke semua kerabat. Nggak sabar nunggu!

Kirana menatap layar itu dalam diam, merasakan kehangatan yang baru saja mereka bagi semalam perlahan mendingin, digantikan kenyataan yang sudah menunggu di luar sana — kenyataan yang tidak pernah benar-benar hilang, hanya tertunda oleh satu malam dan kegelapan yang membuat mereka lupa sejenak bahwa dunia di luar tidak pernah berhenti berputar.

"Kirana," Radit memulai, suaranya mendadak penuh kepanikan yang berusaha ia sembunyikan, "biar aku jelasin —"

"Nggak perlu." Suara Kirana sendiri terdengar jauh lebih tenang, seolah bagian dari dirinya sudah otomatis kembali ke mode bertahan yang selama tujuh tahun terakhir menyelamatkannya. "Kamu nggak perlu jelasin apa-apa ke aku. Aku bukan siapa-siapa, Radit. Bukan tunanganmu, bukan pacarmu. Cuma..." Ia mencari kata yang tepat, meski setiap pilihan kata terasa menyakitkan. "Cuma seseorang yang kebetulan kejebak hujan bareng kamu semalam."

"Jangan bilang gitu," Radit berkata, suaranya lebih tajam sekarang. "Kamu tahu semalam bukan sekadar kebetulan."

Kirana menatapnya, dan untuk sesaat, tatapan yang sama yang membuatnya luluh semalam kembali terlihat di mata Radit. Tapi kali ini, tatapan itu tidak cukup untuk menahan kenyataan yang baru saja muncul di layar ponselnya.

Ia merapikan pakaiannya yang lecek, langsung keluar dari mobil Radit, langkahnya tegas dan cepat menuju mobilnya sendiri. Ia tidak menoleh ke belakang, takut kalau ia melakukannya, tembok yang baru saja ia bangun akan kembali runtuh secepat ia mendirikannya.

...****************...

Sesampainya di apartemen, ia mengunci pintu kamar, lalu merosot duduk di lantai dengan punggung menempel ke pintu. Untuk pertama kalinya sejak semalam, ia membiarkan dirinya menangis sesenggukan. Bukan karena Radit, tapi karena satu kenyataan yang jauh lebih menakutkan dari segalanya.

Ia belum berhenti mencintai Raditya Wibowo.

Dan mungkin, ia tidak akan pernah bisa berhenti.

Ia meraih ponselnya, membuka pesan lama dari Nadia yang belum ia balas sejak semalam, jarinya ragu di atas layar sebelum akhirnya mengetik satu kalimat pendek

Gua di rumah. butuh waktu sendiri dulu.

Lalu ia meletakkan ponsel itu di lantai, memeluk lututnya sendiri, membiarkan tangis itu pecah dan mengisi keheningan di dalam kamar apartemennya.

1
m.marsela
kalau masih sayang, kenapa melepaskan sih duit, kepo banget sama alasannya ninggalin kirana
Ade Chubi
Radit hebat 👍
Ade Chubi
selalu nyerang pihak perempuan nya ,kalo menyerang Radit , Valerie tau akan konsekuensinya 😂😂
Cilia: Radit punya kuasa ka😂
total 1 replies
m.marsela
padahal ada orang baru yang siap untuk selalu ada
tapi orang yang pernah memberi luka justru masih selalu memenangkan ruang di hati.
Cilia: Terlsdang masa lalu selalu menang ka… huhu
total 3 replies
Raudhatul Zannah
buat penasaran kak ceritanya, semangat ya kak
Ery Sithi Badriyyah
seru bgt ceritanya
Ery Sithi Badriyyah
seru ceritanya lanjut yuk
white star ⭐
bikin ketagihan membacanya
mary dice
Nah gitu dong Kirana 🔥🔥 ditunggu gebrakan-gebrakanya melawan m
para musuh 💪💪
Arni Arlinawati pratiwi
semangat anak ku sayang..
helena
lanjut thoor
m.marsela
Fix lanjut baca, penasaran banget
Putri Ayu/PqxxyZ
Sangat merekomendasi ceritanya... Yang belum baca wajib baca sih ini
Cilia
Penjelasannya bisa dibaca di bab-bab selanjutnya! Makin seru loh😆
Putri Ayu/PqxxyZ
terjadi salah paham ya...tapi kenapaa gak dijelasin sih malah ilang 😊
Putri Ayu/PqxxyZ
yuk bisa yuk cari cowok selain Raditya...💪💪 🤭
Cilia
Terimakasih atas dukungannya kak❤️
Raudhatul Zannah
semangat kak
Wawan
Satu iklan dan mawar buat mu Thor 💪
Wawan
Clue nya menarik 👍
Cilia: Terimakasih, kak! Bab-bab berikutnya akan lebih menarik! Ditunggu, ya😆
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!