NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Di Antara Dua Kakakku.

Terjebak Cinta Di Antara Dua Kakakku.

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:228
Nilai: 5
Nama Author: Andinirhein

Aku hanya ingin memiliki keluarga. Namun, takdir justru menyeretku ke dalam cinta yang mustahil. Terjebak di antara pria yang kucintai dan kakak angkat yang diam-diam menginginkanku, aku dipaksa menghadapi rahasia kelam yang selama bertahun-tahun disembunyikan. Saat kebenaran terungkap, bukan hanya hatiku yang hancur, tetapi seluruh hidupku ikut berubah. Akankah cinta menjadi penyelamat... atau justru awal dari kehancuranku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andinirhein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Arti Sebuah Mimpi.

Aku melepaskan pelukannya.

"Oh ya, Oppa. Aku ingin meminta izin. Lusa Eun Dam mengajakku untuk bertemu dengan orang tuanya di Daegu, dan mungkin kami akan menginap selama dua hari di sana," ujarku.

Hwi Sol tampak terdiam sebentar.

Ia menarik napas pelan dan mengembuskannya.

"Baiklah. Oppa akan mengizinkannya. Tapi ada syaratnya," jawabnya.

"Apa syaratnya?" tanyaku penasaran.

"Selalu kabari Oppa dan jaga dirimu, Seolhwa," ucapnya dengan lembut.

"Siap, Tuan Hwi Sol!" balasku sambil bercanda dan memberinya hormat.

Lusa akhirnya datang juga.

Perjalanan dari Seoul ke Daegu menempuh waktu sekitar tiga jam menggunakan mobil.

Daun-daun mulai bertebaran di mana-mana. Udara sejuk dengan angin yang berembus dari luar jendela mobil, ditemani cinta pertamaku yang kini sedang menyetir dengan wajah tampannya, membuatku semakin bersemangat menjalani hari-hariku di Daegu.

"Mampir ke rest area dulu, ya? Kita makan siang dulu," ucap Eun Dam sambil tersenyum manis padaku.

"Iya, boleh," jawabku.

Setelah mobilnya terparkir di sebuah rest area yang cukup besar, kami pun turun dari mobil. Di sana terdapat banyak sekali makanan enak, mulai dari makanan ringan hingga makanan berat. Tak hanya itu, di dalamnya juga terdapat semacam pusat perbelanjaan.

Aku dan Eun Dam berjalan perlahan sambil melihat-lihat sekeliling.

"Kamu ingin makan apa, Cantik?" tanyanya sambil menoleh ke arahku.

"Hmm. Sepertinya aku ingin makan odeng," jawabku.

"Kalau kamu?"

"Aku ingin kimbap."

Kami pun membeli dua porsi makanan dan minuman yang berbeda.

Aku dan Eun Dam mencari tempat duduk di luar, dekat taman kecil.

Karena hari ini hari libur, aku melihat cukup banyak keluarga yang singgah di sini. Di taman itu juga terdapat beberapa anak kecil yang sedang bermain.

Sambil menikmati makananku, senyumku tak henti-hentinya mengembang saat memandang anak-anak itu.

Eun Dam melirik ke arahku.

"Ada apa, Seolhwa? Apa yang kamu pikirkan hingga membuatmu tersenyum seperti itu?" tanyanya.

"Aku sedang berpikir. Apa aku bisa menjadi seorang ibu? Apa aku bisa mempunyai anak-anak yang lucu seperti mereka?"

Eun Dam terdiam sebentar.

"Tentu. Tentu bisa. Tidak ada yang tidak mungkin jika Tuhan sudah berkehendak. Kamu akan memiliki anak dariku nanti."

Aku menoleh terkejut ke arahnya.

"Mengapa kamu sepercaya diri itu bisa menikah dengan tuan putri ini?" kataku sambil memiringkan kepala dan mendekatkan wajahku ke arahnya.

"Hmm. Karena aku tampan?" balasnya dengan nada jahil.

Aku hanya bisa terkekeh pelan mendengar ucapannya itu.

Di sela-sela obrolan kami, Eun Dam mengeluarkan ponselnya.

"Ayo kita foto. Aku ingin menjadikan foto ini sebagai kenang-kenangan karena ini adalah perjalanan pertama kita."

Aku dan Eun Dam mengambil foto selfie bersama. Wajah kami terlihat cerah dengan senyuman yang mengembang. Eun Dam bahkan tidak berhenti melihat foto itu.

Aku baru ingat, ini memang foto pertama kami.

"Seolhwa... Aku lupa. Aku ingin mengatakan ini padamu. Sejak pertama bertemu, aku merasa wajah kita ada kemiripan. Apa kamu tidak menyadarinya? Coba lihat ini," katanya bersemangat sambil menunjukkan hasil foto kami.

Aku pun memperhatikan foto kami berdua sejenak.

"Hahaha. Tidak sama sekali, Eun Dam..."

Setelah sekitar empat puluh menit beristirahat di rest area, aku dan Eun Dam kembali melanjutkan perjalanan. Kami hanya memiliki sisa perjalanan sekitar satu jam lagi sebelum tiba di Daegu.

Tak terasa, akhirnya kami sampai di tujuan.

Mobil yang dikendarai Eun Dam perlahan memasuki halaman sebuah rumah besar yang berdiri megah di tengah hamparan lahan yang luas. Di bagian belakang rumah tampak perkebunan yang membentang sejauh mata memandang.

"Wah, rumahmu besar juga, ya," ucapku kagum sambil menoleh ke arahnya.

Eun Dam terkekeh pelan.

"Tapi rumah owner muda ini jauh lebih besar, kan?" godanya.

Aku hanya menggeleng sambil tertawa kecil.

Tak lama kemudian, pintu rumah terbuka. Seorang wanita paruh baya dan seorang pria yang tampak berwibawa berdiri di ambang pintu dengan senyum hangat yang langsung membuatku merasa disambut.

Begitu melihat Eun Dam, ibunya segera menghampiri kami.

"Anakku..." ucapnya haru sambil memeluk putranya erat.

Ia lalu memegang kedua bahu Eun Dam dan memperhatikan wajah serta tubuhnya dari atas hingga bawah.

"Kamu benar sudah baik-baik saja, Nak?"

"Iya, Eomma. Aku sudah baik-baik saja," jawab Eun Dam lembut.

Melihat interaksi mereka membuat sudut bibirku ikut terangkat. Aku bisa merasakan betapa besar kasih sayang yang dimiliki ibunya untuk Eun Dam.

Namun ternyata sambutan hangat itu tidak hanya ditujukan untuknya.

Tanpa kuduga, Ibu Eun Dam beralih menatapku. Senyumnya semakin lebar sebelum ia menarikku ke dalam pelukan hangat.

"Calon menantuku..."

Aku membeku selama beberapa detik.

Pipiku terasa menghangat karena malu, tetapi di saat yang bersamaan ada rasa bahagia yang sulit dijelaskan memenuhi dadaku.

Meski begitu, bukan panggilan "calon menantu" yang paling membekas di hatiku.

Melainkan pelukan hangat itu.

Pelukan yang terasa begitu tulus, begitu penuh kasih sayang, hingga tanpa sadar membuatku merindukan seseorang.

Eomma...

Aku merindukan Eomma.

Orang tua Eun Dam pun mempersilakan kami masuk ke dalam rumah.

Sesekali aku mengamati setiap sudut rumah itu. Beberapa foto keluarga terpajang rapi di dinding, memperlihatkan kenangan mereka dari tahun ke tahun.

Mereka benar-benar keluarga yang hangat, gumamku dalam hati.

Kami berbincang dengan sangat menyenangkan hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam.

"Kamu tahu, Seolhwa? Waktu kecil Eun Dam pernah membuat temannya mimisan karena diejek 'mata singa'. Tapi setelah itu dia malah menangis karena tidak tega melihat temannya mimisan. Hahaha..." ujar Appa sambil tertawa.

Kami pun ikut tertawa bersama, kecuali Eun Dam. Ia tampak berusaha menahan malu karena aib masa kecilnya dibongkar oleh Appanya sendiri.

Tapi memang benar sih, pikirku. Mata Eun Dam memang sangat tajam, seperti mata seekor singa.

Setelah mengobrol panjang dan melepas rindu, kami pun menikmati makan malam bersama.

Di meja makan keluarga yang cukup besar telah tersaji berbagai macam lauk yang menggugah selera.

Dan ya, semua hidangan itu disiapkan sendiri oleh Eomoni.

"Seolhwa..." bisik Eomoni pelan dari kursi di sampingku.

Aku menoleh kepadanya.

"Setelah makan nanti, Eomoni ingin bicara sesuatu padamu."

"Baik, Eomoni," balasku sambil mengangguk sopan.

Di sebuah kamar tamu yang rapi dengan arsitektur bergaya Korean modern vintage, aku dan Eomoni duduk berdampingan di atas ranjang yang cukup besar dan empuk.

"Seolhwa... Eun Dam sudah menceritakan tentang niatnya untuk menjalani hubungan yang serius denganmu," ujarnya lembut.

Aku sedikit terkejut mendengarnya.

Setahuku, Eun Dam bukanlah seseorang yang suka bercerita tentang dirinya sendiri, apalagi mengenai masalah pribadinya. Namun ternyata, ia begitu terbuka kepada ibunya mengenai hubungan kami.

Aku menatap Eomoni dengan saksama.

"Kami sebagai orang tua tentu sangat senang jika kalian akhirnya menikah," lanjutnya. "Tapi apakah Seolhwa sudah benar-benar yakin pada Eun Dam? Dan kalau boleh tahu, apa yang membuatmu menyukai putraku?"

Nada bicaranya terdengar serius, tetapi tatapannya tetap hangat.

Aku terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab.

"Sejujurnya, Eun Dam adalah cinta pertamaku. Aku tidak pernah menjalin hubungan dengan pria mana pun sebelumnya."

Aku menarik napas pelan.

"Dan jika Eomoni bertanya mengapa aku menyukainya, jawabanku sederhana. Karena Eun Dam adalah Eun Dam."

Aku tersenyum kecil saat mengingat sosok pria itu.

"Dia tetap mempertahankan warnanya sendiri ketika banyak orang rela mengubah warna mereka demi orang yang mereka cintai. Dia tidak pernah berpura-pura menjadi orang lain hanya untuk diterima. Dan mungkin... itulah yang membuatku menyukainya."

Mata Eomoni tampak berkaca-kaca mendengar jawabanku.

"Terima kasih sudah menerima putraku," ucapnya pelan.

Ia menggenggam tanganku sebelum melanjutkan perkataannya.

"Maafkan dia jika suatu hari nanti melakukan kesalahan. Tapi Eomoni mohon... jangan tinggalkan dia."

Suaranya mulai bergetar.

"Karena Eomoni tahu, dia sangat mencintaimu."

Setelah mengatakan itu, Eomoni menarikku ke dalam pelukannya.

Pelukan hangat yang sekali lagi membuat dadaku terasa sesak oleh kerinduan.

Kerinduan pada sosok ibu yang sudah lama tidak bisa kupeluk.

Malam itu, aku merasa sangat nyaman berada di tengah keluarga yang sebenarnya baru kukenal.

Entah mengapa, rasanya seperti aku sudah mengenal mereka sejak lama. Seolah-olah aku telah menjadi bagian dari keluarga ini jauh sebelum hari ini.

Perasaan hangat itu membuatku tertidur dengan mudah setelah hari yang panjang dan melelahkan.

Namun di tengah tidurku, sebuah mimpi datang menghampiri.

Mimpi yang terasa begitu nyata.

Mimpi yang membuat dadaku terasa sesak.

Aku terbangun dengan napas terengah-engah.

Keringat dingin membasahi pelipis dan tengkukku. Jantungku berdegup tidak beraturan seolah baru saja berlari sangat jauh.

Aku langsung duduk di atas ranjang sambil memegangi dada.

"Mimpi apa itu...?" gumamku pelan.

Bayangan-bayangan dari mimpi tadi masih terlintas samar di kepalaku, meninggalkan perasaan sedih yang sulit dijelaskan.

"Mengapa aku bisa bermimpi seperti itu?"

Aku menggeleng kuat-kuat, berusaha mengusir rasa takut yang mulai merayapi hati.

"Tidak. Itu hanya mimpi. Hanya bunga tidur."

Aku menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan.

"Sudah, Seolhwa. Jangan dipikirkan lagi. Ayo tidur."

Aku kembali membaringkan tubuhku di atas ranjang dan memejamkan mata, berusaha meyakinkan diriku bahwa semuanya akan baik-baik saja.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!