Ye Tian Bertransmigrasi ke dunia seni bela diri, namun sistem yang seharusnya menuntunnya Tidak Berfungsi,. Tanpa roh bela diri, ia dianggap sampah dan hanya bisa hidup sebagai manusia biasa.
Namun, siapa sangka rumah sederhana tempat ia tinggal ternyata penuh dengan benda-benda suci, dan air mandinya sendiri adalah mata air spiritual.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Adik Baru Kelinci Giok
Maoqiu perlahan membuka matanya, masih bingung dengan sekelilingnya.
Ranjang yang ditidurinya dipenuhi Pola Dao. Tikar di bawahnya memancarkan energi spiritual yang kental. Lukisan di dinding seperti punya dunianya sendiri. Dan obat yang baru diminumnya jauh lebih kuat dari apa pun yang pernah dia rasakan.
**Bum, bum, bum...**
Kultivasinya melonjak cepat, seolah dia sedang menaiki roket. Dalam sekejap, dia mencapai apa yang orang lain butuhkan ratusan tahun untuk raih.
*"Kekuatan Guru ini benar-benar tidak masuk akal,"* Maoqiu tercengang.
Di luar, Ye Tian baru selesai membasuh wajahnya dengan air dingin, mencoba menenangkan diri. Dia berdiri di halaman, memandang jauh ke arah cakrawala, tenggelam dalam pikirannya sendiri.
"Senior... Senior..."
Suara lemah dari belakang membuat Ye Tian tersadar. Dia menoleh dan melihat seorang gadis kecil, pakaiannya tidak pas badan, kakinya telanjang, menatapnya malu-malu. Wajahnya halus seperti boneka porselen, matanya besar dan berair.
"Adikku, kau sudah bangun?" Ye Tian langsung berlari menghampirinya, girang.
"Terima kasih banyak, Senior, karena menyelamatkan hidupku!" Maoqiu berlutut, bersujud sebagai tanda hormat.
"Bangun, cepat bangun, tanahnya dingin," Ye Tian membantunya berdiri, khawatir. "Masih sakit?"
Maoqiu menggeleng takut-takut.
"Siapa namamu? Bagaimana kau sampai di sini?" tanya Ye Tian.
Mata Maoqiu memerah. "Namaku Maoqiu. Aku diculik, mau dijual di Kota Nanlin. Aku kabur saat mereka lengah, terus berlari sampai melihat rumah ini. Setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi, sampai bangun di sini."
Ye Tian meninju batu di sampingnya, marah mendengar itu. *Pedagang manusia sialan!*
Menahan amarahnya, dia bertanya lembut, "Di mana orang tuamu?"
Maoqiu menunduk lama, lalu terisak. "Ibuku sudah meninggal."
"Ayahmu?"
Maoqiu hanya menggeleng, tidak bicara sama sekali.
Ye Tian menghela napas. *Dia mungkin bahkan tidak tahu siapa ayahnya. Kalau tidak, dia pasti sudah cerita.* Rasa kasihannya makin dalam.
"Kerabat lain?" tanyanya lagi.
Maoqiu menggeleng lagi tanpa suara.
"Maoqiu, bagaimana kalau kau tinggal di sini saja? Jadi adikku. Aku akan melindungimu, tidak ada yang akan berani mengganggumu lagi," kata Ye Tian.
Maoqiu mendongak, menatapnya dengan mata berkaca-kaca, lalu langsung memeluknya erat sambil menangis. "Kak! Sekarang Maoqiu punya kakak! Tidak akan ada yang berani menindas Maoqiu lagi!"
Ye Tian memeluknya balik, air matanya sendiri mengalir tanpa bisa ditahan. Sejak dia datang ke dunia ini sepuluh tahun lalu, dia selalu sendirian. Sekarang, dia punya adik.
Betapa bahagianya rasanya.
---
"Maoqiu, sini, duduk. Kakak akan buatkan pakaian dan sepatu untukmu," Ye Tian tersenyum.
"Kakak bisa membuatnya?" Maoqiu bertanya bingung.
"Lihat saja," Ye Tian menyentil hidungnya, tersenyum misterius.
Saat dia mulai menjahit, Dao bergemuruh di sekelilingnya. Setiap jarum dan benang seolah menggerakkan langit dan bumi. Satu jam kemudian, sebuah set pakaian lengkap muncul—sempurna, dipenuhi Pola Dao.
Maoqiu terpaku menyaksikannya. Pakaian ini bukan sekadar pakaian—rasanya seperti mengenakan kekuatan langit dan bumi itu sendiri. Dia yakin, tidak ada pakaian di dunia ini yang bisa menandingi ini.
Sepatunya juga aneh—Ye Tian menyebutnya "sepatu kanvas". Begitu Maoqiu memakainya, rasanya seperti menginjak awan. Energi spiritual terus mengalir masuk lewat sepatu itu, membuat kultivasinya berkembang tanpa dia perlu berlatih sengaja.
"Kakak, meskipun ini semua hanya bagian dari akting Kakak, aku tetap berterima kasih," Maoqiu berkata pelan, tapi ada sesuatu yang aneh di matanya.
Sebenarnya, sejak beberapa saat lalu, dia sudah menyadari sesuatu. Waktu Daudau memperingatkannya soal Guru yang "berpura-pura jadi orang biasa untuk menempa hatinya", Maoqiu langsung berpikir cepat: kalau begitu, dia harus berperan sebagai gadis malang yang teraniaya, biar Guru terharu dan mau menerimanya.
Tapi tangisan Ye Tian barusan waktu merawatnya—terlalu nyata untuk sekadar akting. Air mata itu, kesedihan itu, semua terasa asli.
*"Jangan-jangan Guru sedang membalas akting palsuku dengan aktingnya yang jauh lebih hebat? Dia sudah tahu aku berbohong, dan sekarang dia berpura-pura tidak tahu, biar aku tidak malu?"*
Maoqiu menahan napas. *Level akting Guru sudah di luar jangkauanku. Lebih baik aku tetap main peran ini sampai akhir.*
"Kau orang pertama selain ibuku yang membuatkan pakaian untukku," lanjutnya, suaranya bergetar—kali ini emosinya benar-benar nyata. "Kau membuatku merasakan kehangatan keluarga yang sudah lama hilang. Aku tidak tahu bagaimana membalas kebaikan ini, bahkan kalau aku jadi hewan pembajak seumur hidup pun tidak akan cukup."
Ye Tian hanya tersenyum, tidak menyadari sedikit pun kecurigaan Maoqiu. Baginya, gadis kecil ini benar-benar mengingatkan pada adiknya di Bumi—sama-sama imut, sama-sama rapuh.
Maoqiu menekan semua pikirannya, mengenakan pakaian dan sepatu barunya, lalu menari kecil di depan Ye Tian, tertawa riang seperti lonceng perak.
Melihat itu, senyum hangat terpancar di wajah Ye Tian.