Bagi Bagas, surga ada di telapak kaki ibu. Namun sayang, baktinya buta. Sebagai anak keenam dari tujuh bersaudara, Bagas selalu memaksakan diri membayar iuran Bagi Rata yang dituntut kakak pertamanya demi menyenangkan sang Ibu. Ia menutup mata bahwa ekonomi mereka pas-pasan, jauh di bawah kakak-kakaknya yang sukses.
Keuangan rumah tangga terkuras habis. Beruntung, Adinda sang istri adalah wanita tangguh. Lewat usaha katering rumahan dan kue online yang dibangunnya dari nol, Adinda berhasil membeli sebuah rumah sederhana satu kamar untuk tempat mereka berteduh bersama anak laki-laki mereka yang kini sudah SMP.
Bukannya sadar, Bagas justru menjadikan kemandirian Adinda sebagai tameng untuk terus menyetor uang ke keluarga besarnya. Puncaknya, modal katering Adinda dikuras sepihak, dan rumah mungilnya itu mulai diincar untuk kenyamanan sang mertua.
Saat anak laki-lakinya mulai ikut menderita dan berontak, Adinda akhirnya menyalakan mode tegas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAKTI BUTA SUAMIKU
Malam kian larut ketika deru mesin mobil MPV hitam baru milik Bagas berbelok memasuki halaman rumah ibunya. Suara mesin yang halus itu terhenti tepat di bawah temaram lampu teras yang kekuningan. Pintu kemudi terbuka, dan Bagas turun dengan langkah yang terburu-buru. Wajahnya yang siang tadi tampak begitu pongah saat memamerkan mobil baru di pinggir jalan, kini berubah menjadi kusut, tegang, dan dipenuhi gumpalan kekesalan yang tertahan.
Bagas melangkah ke pintu bagasi belakang mobilnya. Dengan gerakan kasar, ia menarik keluar dua buah koper kain tua dan beberapa kantong plastik besar yang berisi seluruh pakaian serta barang-barang pribadinya yang tersisa di kontrakan lama. Ia tidak sudi meninggalkan satu helai benang pun miliknya di rumah yang sudah dikosongkan oleh Adinda. Bagas ingin memastikan bahwa ketika pemilik kontrakan mengambil alih tempat itu, tidak ada lagi jejak seorang Bagas yang tertinggal di sana.
Brak!
Bagas mendorong pintu depan rumah ibunya dengan siku, karena kedua tangannya repot membawa tumpukan baju dan koper. Suara gedebuk koper yang diletakkan di lantai ruang tamu seketika mengejutkan ibunya yang sedang merapikan toples camilan di meja.
"Astaga, Gas! Kamu ini bikin kaget Ibu saja," seru ibunya, mengelus dada. Namun, begitu pandangan matanya jatuh pada tumpukan pakaian dan koper di lantai, kening wanita tua itu langsung berkerut dalam penuh kebingungan.
"Lho... lho, ini baju-baju siapa, Gas? Kok kamu bawa koper banyak begini dari kontrakan? Katanya cuma mau mengambil berkas kantor?"
Bagas tidak langsung menjawab. Ia menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa, mengembuskan napas kasar seolah membuang seluruh beban di dadanya. "Baju Bagas, Bu. Bagas angkut semua dari kontrakan lama. Mulai malam ini, Bagas tinggal di sini saja sama Ibu."
Ibunya semakin bingung, melangkah mendekat dengan mata menyelidik. "Tinggal di sini? Terus si Dinda dan Dimas gimana? Mereka kamu tinggal sendirian di kontrakan?"
Tepat saat pertanyaan itu terlontar, pintu samping yang menghubungkan ruang tamu dengan paviliun belakang terbuka. Muncul sosok laki-laki paruh baya bertubuh tambun dengan kaos singlet dan sarung yang melilit pinggangnya. Dia adalah Mas Broto, kakak kandung tertua Bagas yang kebetulan sedang berkunjung dan menginap di rumah ibunya sejak dua hari lalu. Mas Broto adalah tipikal anak sulung yang memiliki sifat kaku, kolot, dan selalu merasa paling tahu tentang aturan hidup keluarga.
"Ada apa ini ribut-ribut malam-malam?" tanya Mas Broto dengan suara seraknya, berjalan mendekati sofa lalu duduk di sebelah Bagas. Matanya melirik tumpukan baju di lantai. "Kamu habis minggat dari rumah, Gas?"
Melihat kehadiran kakak tertuanya, otak Bagas yang manipulatif dan penuh penyangkalan langsung berputar cepat. Rasa malu karena mendapati rumah kontrakannya kosong melompong tadi malam, ditambah rasa terhina karena ucapan dingin Dimas di pinggir jalan tadi siang, seketika berkumpul menjadi satu. Bagas tahu, ia tidak boleh terlihat sebagai pihak yang kalah atau dicampakkan oleh istrinya di depan keluarga besarnya. Harga dirinya sebagai laki-laki sukses yang baru mendapat bonus mobil tidak boleh runtuh.
Bagas memajukan posisi duduknya, memasang wajah yang sengaja dibuat sedih, teraniaya, dan penuh beban yang tersakiti.
"Bukan Bagas yang minggat, Mas," mulai Bagas dengan nada suara yang sengaja dilembutkan agar terdengar seperti korban. "Tapi Dinda. Dinda yang sudah keterlaluan dan ndak tahu diri."
Ibunya langsung duduk di kursi sebelah Mas Broto, wajahnya menegang. "Keterlaluan gimana, Gas? Cerita yang jelas sama Ibu dan Masmu!"
Bagas menarik napas dalam-dalam, lalu mulai merangkai cerita bohong yang sudah ia karang sebagian di dalam kepalanya selama perjalanan pulang. "Jadi begini, Mas, Bu... Selama ini kan Bagas selalu berusaha jadi suami yang baik. Gaji Bagas dari kantor selalu Bagas usahakan cukup buat rumah tangga. Tapi akhir-akhir ini, karena kebutuhan kantor banyak dan Bagas juga sering menyisihkan uang untuk membantu Ibu di sini, Bagas sesekali minta Dinda untuk patungan. Maksud Bagas kan baik, uang dari kateringnya itu dipakai sedikit buat menutupi kekurangan sewa kontrakan atau bayar listrik. Namanya juga suami istri, harusnya kan saling membantu."
Bagas menjeda kalimatnya, menggeleng-gelengkan kepala dengan raut wajah kecewa yang dibuat-buat. "Tapi ternyata... di belakang Bagas, Dinda itu ndak pernah ridho, Mas. Dia ndak ikhlas sama sekali setiap kali memberikan uang patungan itu. Dia selalu mengungkit-ungkit keringat subuhnya, merasa kalau dia yang paling berjasa membiayai rumah. Kemarin siang waktu Bagas cuma telat sarapan sedikit karena buru-buru ke kantor, dia langsung meledak. Dia marah-marah besar, memaki Bagas, dan bilang kalau dia sudah lelah membiayai hidup Bagas."
Mendengar penuturan Bagas, wajah Mas Broto seketika berubah menjadi merah padam. Rahangnya mengeras, dan tangannya mengepal kuat di atas lutut serungnya. Sebagai laki-laki yang menganut paham patriarki kolot, mendengar ada seorang istri yang berani mengungkit uang di depan suaminya adalah sebuah penghinaan besar yang tidak bisa ditoleransi.
Gebrak!
Mas Broto memukul meja kopi di depannya dengan keras hingga toples di atasnya bergetar. "Kurang ajar! Istri macam apa itu?!" seru Mas Broto dengan suara baritonnya yang meninggi penuh kemurkaan. "Dia pikir uang kateringnya itu bisa membuat dia berkuasa di atas kepala suaminya? Dia ndak tahu diuntung namanya! Kalau bukan karena statusnya sebagai istrimu, dia itu ndak akan punya nama di kota ini!"
Mas Broto menoleh ke arah ibunya, lalu kembali menatap Bagas dengan sorot mata yang tajam dan menghakimi. "Gas, dengar Masmu ini baik-baik. Kamu itu anak laki-laki! Di dalam hukum keluarga kita, anak laki-laki itu selamanya adalah milik ibunya! Sampai kapan pun, baktimu yang utama adalah kepada Ibumu yang sudah melahirkanmu, bukan kepada perempuan asing yang baru kamu nikahi belasan tahun! Kalau Dinda ndak ridho uangnya dipakai untuk membantumu, apalagi kalau uang itu secara ndak langsung dipakai untuk menyenangkan Ibumu di sini, berarti dia sudah durhaka kepada suami dan mertua!"
Ibunya ikut memanaskan suasana, wajah tuanya tampak dipenuhi rasa geram. "Betul kata Masmu, Gas! Ibu dari awal sudah bilang, perempuan kampung seperti Dinda itu hatinya sempit! Dia pasti iri setiap kali melihat kamu memberikan uang jajan atau membelikan barang untuk Ibu. Dia mau menguasai semua uangmu sendiri! Rasain sekarang, begitu dia pergi, Gusti Allah malah memberikanmu rezeki mobil baru ini! Itu bukti kalau dia memang pembawa sial dalam hidupmu!"
Bagas diam-diam tersenyum puas di dalam hatinya melihat hasutannya berhasil membakar emosi ibu dan kakaknya. Dukungan penuh dari keluarga besarnya ini membuat egonya kembali tegak berdiri. Ia merasa keputusannya untuk memutarbalikkan fakta adalah langkah yang sangat jenius.
"Tapi ada yang lebih parah lagi, Mas, Bu," lanjut Bagas, sengaja menambahkan minyak ke dalam api yang sedang berkobar. "Tadi waktu Bagas pulang ke kontrakan buat mengambil berkas kantor... rumah sudah kosong melompong. Dinda sudah mengangkut semua barang-barangnya dan barang-barang Dimas."
"Apa?!" ibunya memekik histeris. "Dia kabur? Bawa Dimas juga?"
"Iya, Bu. Dan yang bikin Bagas pusing, Bagas ndak tahu sekarang mereka tinggal di mana. Tadi siang Bagas ndak sengaja berpapasan dengan Dimas di dekat perempatan pasar induk. Dimas sedang jalan kaki menuntun sepedanya. Bagas turun dari mobil baru, niatnya mau tanya baik-baik dan ajak dia pulang. Tapi Dimas malah pasang badan, bicaranya ketus sekali dan ndak mau kasih tahu alamat rumah baru mereka. Dimas bilang urusan mereka sama Bagas sudah selesai," cerita Bagas, menyembunyikan fakta bahwa Dimas sebenarnya merasa muak dengan tabiatnya.
Mas Broto mendengus kasar, geleng-geleng kepala dengan pandangan menghina. "Pasti Dinda yang sudah meracuni otak anakmu itu, Gas. Perempuan kalau sudah emosi memang suka bertindak bodoh. Paling-paling mereka sekarang mengontrak di tempat kumuh pinggiran pasar untuk melanjutkan kateringnya. Biarkan saja! Ndak usah kamu cari-cari!"
"Bukan cuma kabur, Mas... Dinda juga meninggalkan surat pendek di laci kamar," ucap Bagas, suaranya agak merendah saat menyampaikan bagian ini. "Di surat itu, dia mengancam akan mengirimkan surat resmi dari pengadilan. Dia bilang... dia mau menggugat cerai Bagas."
Mendengar kata cerai, suasana ruang tamu itu sempat hening sejenak. Namun, alih-alih terkejut atau cemas seperti yang ditakutkan Bagas semalam, Mas Broto dan ibunya justru memberikan reaksi yang sangat mengejutkan. Ibunya malah mendecih remeh, sementara Mas Broto tertawa meremehkan.
"Menggugat cerai?" Mas Broto mengibaskan tangannya di udara dengan pandangan sangat meremehkan. "Halah! Biarkan saja dia menggugat, Gas! Jangan kamu takuti ancaman perempuan seperti dia. Kamu itu sekarang sudah jadi orang sukses di kantor, punya fasilitas mobil baru, jabatanmu sebentar lagi naik. Kalau dia mau cerai, silakan! Keluarga kita akan dukung penuh keputusanmu untuk pisah dari dia!"
Mas Broto berdiri dari duduknya, menepuk pundak Bagas dengan kuat, memberikan legitimasi atas keangkuhan adiknya. "Laki-laki mapan seperti kamu ini, Gas, kalau menduda jangankan satu atau dua bulan, dalam hitungan minggu juga bisa dapat wanita yang jauh lebih cantik, lebih berkelas, dan pastinya tahu cara menghormati suami dan mertua! Bukan perempuan penjual nasi kotak yang kerjanya cuma bisa mengeluh dan mengungkit uang patungan! Biarkan dia urus surat cerainya, kita hadapi di pengadilan dengan kepala tegak. Jangan kasih dia sepeser pun harta dari kamu nanti!"
Ibunya ikut mengangguk dengan senyum kemenangan yang terukir di wajah keriputnya. "Betul, Gas. Ibu dukung kamu seratus persen. Biarkan Dinda tahu rasa bagaimana rasanya hidup melarat jadi janda di luar sana tanpa ada nama besar suaminya yang menopang. Kamu tinggal di sini saja sama Ibu, kita nikmati mobil barumu ini tanpa ada gangguan dari perempuan pembawa sial itu!"
Bagas menarik napas dalam-dalam, merasakan dadanya yang kini terasa begitu lapang dan dipenuhi oleh rasa percaya diri yang meluap-luap. Semua rasa panik, cemas, dan bayangan ketakutan akan surat pengadilan yang sempat menghantuinya di jalan tadi kini menguap sepenuhnya tanpa bekas, digantikan oleh dinding kesombongan baru yang dibangun bersama keluarga besarnya malam itu. Pria egois itu merasa dirinya telah berada di puncak dunia, didukung penuh oleh ibu dan kakaknya, tanpa pernah menyadari bahwa di luar sana, berkas gugatan yang sesungguhnya telah resmi berjalan untuk menghancurkan seluruh hidupnya yang penuh dengan kepalsuan.