Siham tahu suaminya tidak pernah mencintainya. Dia tahu ada nama wanita lain yang masih bertahta di hati Dewangga. Namun, menemukan kotak berisi sajak-sajak cinta Dewangga untuk masa lalunya adalah luka yang tak bisa lagi ia toleransi. Siham memutuskan untuk pergi, tapi tidak dengan tangan kosong. Dia meninggalkan satu sajak luka setiap harinya sebagai 'hadiah' perpisahan. Saat Dewangga akhirnya mulai merasa kehilangan, Siham sudah menjadi puisi yang tak sanggup lagi ia baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAJAK LUKA UNTUK MAS DEWANGGA
Pagi itu, Jakarta menyambut Siham dengan polusi yang menyesakkan, seolah ingin mengingatkan bahwa masa tenang di desa sudah berakhir. Siham duduk di kursi kerjanya di kantor penerbitan, menatap layar monitor yang berkedip. Wajahnya terlihat jauh lebih kurus, tulang pipinya menonjol, dan sorot matanya yang biasanya hangat kini redup, seolah cahaya di dalamnya sudah padam sejak tanah menutupi keranda ayahnya.
Maya editor junior di kantornya datang dan meletakkan secangkir cokelat hangat di meja Siham. "Bu Siham, kalau masih lemas, biar saya yang pegang draf bab ini dulu. Ibu terlihat sangat pucat."
Siham hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak mencapai matanya. "Enggak apa-apa, Maya. Ini satu-satunya hal yang membuatku merasa masih hidup."
Siham tidak sedang berbohong. Baginya, mengetik adalah cara ia bernapas. Hari ini, ia tidak menyentuh naskah penulis lain. Ia membuka akun media sosial rahasia milik Aksara Renjana. Sebuah akun yang tidak mengikuti siapa pun, namun diikuti oleh jutaan orang yang haus akan kejujuran emosi.
Jari-jarinya yang gemetar mulai mengetik di ponsel pribadinya. Bukan bab panjang, melainkan sebuah kutipan sebuah tamparan halus bagi dunia rumah tangga yang selama ini dianggap sebagai tempat berlabuh.
"Rumah tangga bukan tentang siapa yang paling lama bertahan di dalam satu atap, melainkan tentang siapa yang paling mahir menyembunyikan luka di balik pintu yang terkunci rapat. Aku sedang tidur di samping seseorang yang memeluk masa lalunya begitu erat, hingga tak sadar bahwa lengan yang ia gunakan untuk mendekap itu perlahan mencekik nyawaku. Pernikahan ini bukan tempat pulang, melainkan tempatku belajar bagaimana caranya mati tanpa perlu dikubur." — Aksara Renjana.
Siham menekan tombol Post.
Hanya dalam hitungan menit, jagat maya meledak. Notifikasi di ponsel rahasia Siham bergetar tanpa henti di dalam tasnya. Kutipan itu dibagikan ribuan kali. Kolom komentar penuh dengan spekulasi, simpati dan kengerian.
"Siapa sebenarnya Aksara Renjana? Kenapa tulisannya selalu terasa seperti darah yang masih segar?" tulis salah satu netizen.
"Sesakit apa hidupnya? Dia bicara tentang kematian di dalam rumah. Aku menangis membacanya," sahut yang lain.
"Bagaimana dia bisa bertahan jika setiap hari dia merasa dicekik oleh suaminya sendiri?"
Siham mematikan layar ponselnya. Ia merasakan nyeri yang menusuk di ulu hati, namun ia abaikan. Di ruangannya yang sunyi, ia merasa puas. Ia sedang memberikan suara pada luka yang selama lima tahun ini ia bungkam demi martabat seorang Dewangga.
Di tempat lain, di lantai paling atas sebuah gedung pencakar langit, Dewangga sedang duduk di ruang rapat yang dingin. Rapat belum dimulai, dan beberapa kolega bisnisnya sedang berkerumun, menatap layar ponsel mereka dengan wajah serius.
"Gila, Aksara Renjana baru saja posting lagi. Kali ini benar-benar gila," ucap salah satu rekan bisnis Dewangga, seorang pria perlente yang biasanya hanya bicara soal saham.
Dewangga yang semula sibuk dengan berkasnya, mengangkat kepala. Nama itu lagi. Aksara Renjana. Nama yang akhir-akhir ini selalu muncul di setiap sudut percakapan, seolah sosok misterius itu adalah selebritas paling berpengaruh di negeri ini.
"Apa katanya?" tanya Dewangga, pura-pura tidak tertarik namun rasa penasarannya tak terbendung.
"Ini, dengarkan," kolega itu membacakan kutipan yang baru saja diposting Siham. "Aku sedang tidur di samping seseorang yang memeluk masa lalunya begitu erat, hingga tak sadar bahwa lengan yang ia gunakan untuk mendekap itu perlahan mencekik nyawaku."
Darah Dewangga seolah berhenti mengalir sesaat. Kalimat itu... entah kenapa terasa seperti sebuah peluru yang melesat tepat ke arahnya. Ia teringat bagaimana semalam ia membiarkan Siham demam tinggi sendirian, sementara ia asyik bernostalgia dengan foto lama di ruang kerjanya.
"Penulis ini pasti sedang mengalami neraka di rumahnya," lanjut rekannya itu. "Bayangkan, dia bisa menulis seindah itu tapi isinya sangat mematikan. Aku penasaran, kalau dia pingsan atau mati sekarang, dunia literasi kita pasti berkabung nasional. Orang-orang bingung, bagaimana dia masih bisa bertahan dan menulis sesempurna ini dalam kondisi mental yang hancur?"
Dewangga terdiam. Ia mengambil ponselnya sendiri dan mencari nama Aksara Renjana. Ia membaca kutipan itu berulang-ulang. Ada rasa tidak nyaman yang merayap di tengkuknya. Kalimat tentang "memeluk masa lalu" seolah sedang menelanjangi rahasianya sendiri.
"Siapa penulis ini? Tidak mungkin?." batin Dewangga. Pikiran itu membawanya pada sosok Siham. Namun, dengan cepat ia menggelengkan kepala. Tidak mungkin Siham. Siham itu editor, dia hanya mengurus tulisan orang lain. Lagipula, dia tidak sepintar ini dalam merangkai kata-kata yang menusuk.
Sore hari jakarta terasa gerah, seolah-olah awan mendung yang menggantung di langit enggan menumpahkan hujan. Siham pulang ke rumah dengan langkah yang sangat berat. Tubuhnya terasa seperti mesin yang dipaksa bekerja melampaui batas; panas di dalam dadanya tidak kunjung padam, dan rasa nyeri di punggungnya kini mulai menjalar hingga ke belikat. Namun, ia harus tetap tegak. Ia tidak boleh terlihat rapuh, setidaknya tidak di depan Dewangga.
Setibanya di rumah, ia melihat mobil Dewangga sudah terparkir rapi. Itu artinya, suaminya pulang lebih cepat. Siham menarik napas panjang, mencoba menata wajahnya agar terlihat normal sebelum melangkah masuk.
Di ruang tengah, Dewangga duduk dengan kaki bersilang, menyesap kopi hitamnya sembari menatap layar tablet. Begitu Siham masuk, Dewangga tidak menyapa, ia langsung melempar tabletnya ke atas meja kaca hingga menimbulkan bunyi dentuman yang cukup keras.
"Siham, sini," panggil Dewangga. Suaranya rendah, namun mengandung otoritas yang tidak bisa dibantah.
Siham mendekat, ia meletakkan tas kerjanya di kursi samping. "Ada apa, Mas?"
Dewangga menunjuk ke arah layar tablet yang menampilkan postingan kutipan terbaru dari Aksara Renjana yang sedang viral. Sebagai suami, Dewangga tahu betul bahwa Siham adalah editor yang menangani penulis misterius itu di kantor Pak Hendra.
"Jelaskan padaku, kenapa penulis ini semakin hari semakin keterlaluan tulisannya?" Dewangga bertanya dengan nada menuntut. "Kutipan terbarunya sore ini tentang rumah tangga yang mencekik... apa dia sedang berusaha memicu keributan massal di kalangan pembaca?"
Siham menatap layar itu datar. Di balik wajah diamnya, ia merasakan kepuasan yang aneh melihat Dewangga terusik. "Tugas editor hanya mengarahkan tulisan agar layak terbit, Mas. Bukan mengatur perasaan penulisnya. Aksara Renjana hanya menulis apa yang ia rasakan."
Dewangga tertawa sinis, ia berdiri dan mendekati Siham, menatapnya dengan pandangan meremehkan. "Apa yang ia rasakan? Atau apa yang ingin ia jual? Kesedihan? Penderitaan?"
Siham membalas tatapan itu, kali ini tidak ada ketakutan di matanya. "Kenapa kamu terlalu penasaran dengan sosok itu, Mas? Apa ada hal yang membuat kamu merasa terusik? Atau... kamu merasa kutipan itu sedang membicarakan dirimu?"
Pertanyaan Siham membuat suasana ruangan mendadak membeku. Rahang Dewangga mengeras. Ia merasa harga dirinya tersentil oleh sindiran istrinya sendiri.
"Cukup, Siham! Aku tidak tertarik sama sekali dengan sosok itu!" bentak Dewangga, suaranya menggelegar di ruang tengah yang sunyi. "Aku hanya muak melihat namamu ada di balik terbitnya karya-karya semacam itu. Aku katakan padamu, tulisan Aksara Renjana itu sampah! Itu hanya sampah yang menjual air mata murahan untuk menarik simpati orang-orang yang kurang kerjaan!"
Siham merasakan dadanya sesak, bukan karena penyakitnya, tapi karena penghinaan suaminya terhadap karya yang ia tulis dengan sisa-sisa nyawanya. Namun, ia tidak diam kali ini. Ia menolak untuk dipatahkan lagi.
"Sampah, Mas?" Siham tertawa kecil, tawa yang penuh dengan luka. "Kalau itu sampah, kenapa jutaan orang merasa hidupnya terselamatkan oleh tulisan itu? Kalau itu sampah, kenapa kamu sampai perlu mengonfrontasi aku hanya karena satu kutipan singkat?"
"Karena kamu editornya!" Dewangga menunjuk wajah Siham. "Kamu ini harusnya cari penulis yang punya kualitas! Penulis yang punya visi besar, bukan penulis cengeng yang cuma bisa mengeluh tentang rumah tangga di balik nama samaran! Kamu menghabiskan waktumu di kantor hanya untuk mengurusi sampah semacam ini? Kamu memalukan posisimu sendiri sebagai editor senior!"
"Punya kualitas menurut standarmu?" Siham maju satu langkah, menantang dominasi Dewangga. "Standar kualitasmu itu apa, Mas? Sesuatu yang mewah? Sesuatu yang terlihat sempurna dari luar tapi busuk di dalam? Aksara Renjana memiliki kualitas yang tidak kamu miliki yaitu Kejujuran. Dia berani jujur bahwa pernikahan bisa menjadi penjara, sementara kamu? Kamu hanya berani bersembunyi di balik jas mahalamu dan masa lalu yang kamu dekap erat-erat!"
"DIAM KAMU!" Dewangga nyaris melayangkan tangannya, namun ia menahannya di udara. Napasnya memburu. "Kamu tidak tahu apa-apa soal kualitas. Kamu hanya editor yang sedang terobsesi pada kesedihan karena hidupmu sendiri menyedihkan!"
"Ya! Hidupku memang menyedihkan, Mas! Dan tahukah kamu siapa sutradaranya?" suara Siham meninggi, ia tidak peduli lagi jika suaranya terdengar hingga ke luar rumah. "Sutradaranya adalah pria yang sedang berdiri di depanku sekarang! Pria yang menghina karya orang lain sebagai sampah, tanpa sadar bahwa dia sendiri adalah alasan kenapa sampah itu tercipta! Kamu membenci Aksara Renjana karena dia adalah cermin yang memperlihatkan keburukanmu, Dewangga!"
Dewangga tertegun. Ia belum pernah melihat Siham semarah ini. Keberanian Siham membuatnya merasa terancam. Gengsinya terluka parah.
"Aku tidak peduli," ucap Dewangga dengan suara yang bergetar karena amarah yang ditahan. "Setelah naskah ini selesai, aku mau kamu berhenti menjadi editor dia. Cari penulis lain yang lebih bermartabat. Aku tidak mau namamu dikaitkan lagi dengan tulisan-tulisan depresi seperti itu."
"Aku tidak akan berhenti," jawab Siham tegas. "Naskah ini akan terus berjalan sampai titik terakhir. Dan kamu, Mas... kamu harus bersiap. Karena saat naskah ini terbit secara utuh nanti, sampah yang kamu maksud ini akan menjadi satu-satunya hal yang membuatmu tidak bisa tidur seumur hidupmu."
Siham menyambar tasnya dan berjalan menuju kamar dengan langkah tegap, meskipun setiap langkahnya terasa seperti menginjak duri. Ia menutup pintu kamar dan langsung menguncinya.
Di dalam kamar yang gelap, Siham luruh di balik pintu. Ia memegangi dadanya yang terasa sangat sesak. Napasnya memburu, dan tiba-tiba ia batuk hebat. Ia segera menutup mulutnya dengan tisu, dan saat ia menjauhkannya, gumpalan darah merah segar mengotori tisu putih itu.
Siham menatap darah itu dengan senyum miring.
Sampah, Mas? batinnya. Sampah ini adalah darahku. Sampah ini adalah sisa hidupku. Dan sampah inilah yang akan menjadi satu-satunya warisanku yang akan kau baca berulang-ulang saat aku sudah tidak ada lagi untuk kau hina.
Di ruang tengah, Dewangga masih berdiri mematung. Kata-kata Siham tentang cermin yang memperlihatkan keburukan terus terngiang di telinganya. Ia mencoba meraih kopinya lagi, namun tangannya gemetar. Ia tidak tahu kenapa, tapi ia merasa sangat terusik. Ia merasa bahwa Aksara Renjana sedang mengawasinya dari kejauhan, menertawakan kemunafikannya melalui jari-jari Siham.
Dewangga bersumpah akan mencari tahu siapa sebenarnya Aksara Renjana dan menghancurkannya, tanpa menyadari bahwa orang yang ingin ia hancurkan sedang meregang nyawa di kamar sebelah, sedang mengetik bab selanjutnya tentang kebusukan hatinya.
Malam itu, perdebatan hebat itu meninggalkan luka yang lebih dalam dari biasanya. Tembok pemisah di antara mereka semakin tinggi. Siham sudah selesai dengan rasa takutnya, dan Dewangga... dia baru saja memulai perjalanannya menuju penyesalan yang paling dalam.
gk bhgia gk samawa lah.
ortu dewangga kl mau nikah in anak biar move on dulu biar gk ngrusak orang lain.
yg laki blm move on yg wanita kecintaan dah Wes.
2th sdh cukup lah. kcuali pingin jd orang kaya walau sakit ttp bertahan. enak ortumu sdh mati semua, km sendiri an sakit tinggal nunggu Hari mati.
hidup sekali di sia sia kan. kl wanita Pinter mah ogah lah, pasti milih cepat cerai Dan berobat biar hidup lbih berguna. gk bucinin suami yg jelas jelas mncintai wanita lain.
kalaupun gk bisa ninggalin warisan hrse gk ninggalin penderitaan. ortu siham ki ortu gagal. demi mantu kaya Raya dng Alasan balas budi.
kenapa di buat semenderita itu thor