NovelToon NovelToon
Sins Of The Playboy

Sins Of The Playboy

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Berbaikan / Roman-Angst Mafia
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

King Stone (27 tahun) bisa dengan mudah melupakan ratusan wanita yang pernah singgah di hidupnya selama menjadi playboy.

Namun, gadis di hadapannya ini adalah pengecualian mutlak.

Olivier Martinez merupakan cinta pertama sekaligus mantan kekasih King selama tiga tahun di masa high school—gadis yang dulu ia tinggalkan begitu saja demi ego remaja agar tidak terikat oleh seorang wanita di masa depan.

Kini, roda kehidupan berputar. Di dalam rumah sakit mewah miliknya sendiri, King sama sekali tidak memiliki kuasa atas Olivier.

Di hadapan sang mantan kekasih yang menatapnya penuh kebencian dan kini bersenjatakan sumpah medis sebagai dokter residen, King harus menghadapi kenyataan pahit. Ia sadar bahwa luka penyesalan di hatinya jauh lebih sulit disembuhkan daripada luka sayatan parah di perutnya.

Pertemuan tak terduga ini menjadi awal dari karma masa lalu yang siap menghancurkan keangkuhannya.

~~~~~
Happy reading 🦋🌷

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#34

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Malam kedua di Kastel Stone bergulir dengan keheningan yang jauh lebih pekat dan mendebarkan daripada malam sebelumnya.

Gemerlap lampu kota Chicago yang menembus jendela kaca patri besar di kamar utama seolah menciptakan siluet magis di atas lantai marmer hitam.

Di luar, angin malam berembus pelan, menggoyang dahan-dahan pohon ek tua yang mengelilingi benteng kastel, seolah ikut mengunci rahasia yang sebentar lagi akan membakar kamar itu dalam gairah mutlak.

King Stone duduk di tepi ranjang king-size bernuansa abu-abu gelap. Pria bertubuh monster itu hanya mengenakan celana tidur satin hitam panjang, membiarkan dada bidangnya yang dipenuhi rajahan tato terekspos bebas.

Di perut kanan bawahnya, perban medis yang membungkus jahitan barunya tampak bersih—bukti bahwa sepanjang hari ini ia benar-benar mematuhi perintah Olivier untuk tidak melakukan aktivitas fisik yang berat.

Namun, sepasang mata elang King sama sekali tidak mencerminkan ketenangan. Matanya berkilat tajam, terkunci penuh pada pintu kamar mandi yang perlahan terbuka.

Olivier Stone melangkah keluar. Rambut panjangnya yang basah dibiarkan tergerai pasrah, membingkai wajah cantiknya yang kini sepenuhnya bersih dari riasan medis.

Ia hanya mengenakan selembar gaun tidur sutra tipis berwarna hitam dengan potongan dada rendah dan tali spageti yang memperlihatkan kulit bahunya yang mulus—serta beberapa sisa bercak kemarahan dari kecupan King kemarin pagi yang kini mulai memudar.

Langkah kaki Olivier terasa begitu ringan namun sarat akan ketegasan saat ia berjalan mendekati ranjang.

Setiap ayunan langkahnya seolah menghantarkan detak jantung King ke batas maksimal. Ritual malam ini bukan lagi sekadar pemenuhan dahaga setelah sepuluh tahun berpisah; malam ini adalah pelunasan janji atas "hukuman" yang telah disepakati di bawah altar suci.

King bangkit berdiri, memperpendek jarak di antara mereka hingga Olivier harus mendongak demi bisa menatap sepasang mata elangnya. Atmosfer di sekitar mereka mendadak berubah menjadi sangat panas, dipenuhi oleh uap ketegangan murni yang memicu adrenalin.

Tangan kekar King yang dipenuhi urat-urat menonjol perlahan terangkat, meraba pipi lembut Olivier dengan ibu jarinya. Sentuhan itu begitu protektif, namun tubuh King bergetar hebat menahan gejolak gila yang selama sepuluh tahun ini ia kubur hidup-hidup di dasar jiwanya.

Sebelum melangkah lebih jauh ke dalam badai gairah yang sudah di depan mata, King mendadak menghentikan gerakannya. Sebuah keraguan yang teramat dalam, sebuah ketakutan masa lalu yang selama satu dekade ini menghantuinya, tiba-tiba menyeruak naik ke permukaan.

Rahang tegasnya mengeras, dan sepasang mata elangnya menatap Olivier dengan pandangan yang mendadak berubah menjadi sangat intens, sarat akan permohonan kebenaran.

"El..." panggil King, suaranya terdengar begitu serak dan berat, bergetar di ujung tenggorokan. "Sebelum kita melangkah sejauh ini... jawab jujur pertanyaanku."

Olivier menaikkan sebelah alisnya, merasakan perubahan emosi suaminya. "Apa?"

King menelan ludahnya dengan susah payah, mencengkeram pinggang ramping Olivier dengan lembut namun posesif. "Selama sepuluh tahun ini... selama aku tidak ada di sisimu di luar sana... apa... apa hanya aku?" tanya King, suaranya mencicit lirih, dipenuhi oleh rasa cemburu yang teramat murni sekaligus ketakutan jika ada pria lain yang pernah menyentuh kanvas suci milik wanitanya.

"Apa hanya aku pria yang pernah menyentuhmu, Olivier?"

Olivier Martinez menatap lurus ke dalam sepasang mata elang yang sedang menanti vonis itu. Ia bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana seorang King Stone yang perkasa bisa tampak begitu rapuh hanya karena sebuah jawaban darinya.

Perlahan, sebuah senyuman tipis yang teramat lembut dan tulus terukir di bibir ranum Olivier.

Olivier mengangguk pelan, membawa tangan kanan King untuk menyentuh dadanya, tepat di mana jantungnya berdegup konstan.

"Hanya dirimu, King," jawab Olivier dengan nada suara yang sangat tenang namun mengunci mati seluruh keraguan King. "Hanya dirimu. Aku tidak pernah bersama siapapun selama ini. Sejak hari di mana kau Meninggalkanku, seluruh hidup, tubuh, dan hatiku hanya kugunakan untuk membesarkan Nora dan mengejar karierku. Tidak ada tempat untuk pria lain setelah seorang King Stone menghancurkanku."

Mendengar pengakuan murni yang keluar dari bibir istrinya, benteng pertahanan terakhir di dalam diri King Stone runtuh sepenuhnya.

Sebuah rasa syukur yang teramat magis dan luar biasa besar meledak di dalam dadanya, membuat matanya seketika berkaca-kaca oleh kebahagiaan yang teramat instan.

"Terima kasih... Terima kasih, Sayang..." bisik King, suaranya pecah emosional. Ia menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajah tampannya di ceruk leher Olivier, menghirup aroma vanila khas tubuh istrinya dengan rakus.

"Aku berjanji... aku berjanji akan pelan malam ini. Aku tidak akan menyakitimu, El."

Olivier terkekeh pelan, sebuah tawa renyah yang menghantarkan ketenangan di tengah badai gairah. Ia memegangi bahu tegap King, lalu mendorong tubuh monster itu dengan perlahan hingga King kembali terduduk di atas ranjang.

"Ya, kau memang harus pelan, Tuan Stone," ucap Olivier dengan nada menuntut seorang dokter, menunjuk ke arah perban di perut kanan King dengan sudut matanya yang cerdas.

"Lihat perutmu itu. Jahitanmu baru saja diperbaiki kemarin lusa. Aku tidak mau kau pingsan di atasku hanya karena nekat bergerak terlalu liar malam ini."

King Stone mendongak, menatap istrinya dengan senyuman miring khasnya yang kini tampak begitu mesum sekaligus konyol.

Gairah yang menyala-nyala di dalam dirinya membuat otak taktis mafianya langsung menemukan celah negosiasi yang teramat menguntungkan.

"Kalau begitu... bagaimana kalau kau saja yang mengambil alih malam ini, Sayang?" bisik King dengan suara bariton yang teramat rendah dan seksi, menepuk pahanya sendiri sembari menatap Olivier dengan pandangan menantang.

"Kau yang memegang kendali di atas, dan aku akan menjadi pelayanmu yang paling patuh di bawah. Dengan begitu, jahitan di perutku akan aman dari guncangan."

Plak!

Olivier dengan cepat memukul bahu tegap King dengan telapak tangannya, wajah cantiknya dalam sekejap berubah memerah sempurna sampai ke batas leher karena malu yang luar biasa akibat tawaran suaminya.

"Aku malu, King! Kau gila!" pekik Olivier, memalingkan wajahnya ke samping, mencoba menyembunyikan rona merah yang kian matang di pipinya.

King Stone meledak dalam tawa kecil yang teramat seksi, suara tawanya menggema rendah di dalam kamar yang temaram. Ia meraih kedua tangan Olivier, menarik wanita itu hingga terduduk di atas pangkuannya, mengunci tubuh ramping istrinya tanpa celah.

"Untuk apa malu, Wifey? Kita sudah sah menjadi suami istri di hadapan Tuhan," goda King, mengecup ujung hidung Olivier dengan gemas.

"Lagipula... bukankah dulu, kau sangat menyukai posisi itu? Kau selalu suka memegang kendali atas diriku saat kau sedang kesal."

Mendengar King mengungkit kembali memori nakal masa muda mereka saat masih di masa high school, Olivier mendadak memutar bola matanya jengkel.

Kilat ketegasan seorang singa betina Martinez seketika terbit di sepasang mata bulatnya. Ia mencengkeram kerah celana tidur King dengan erat, lalu menundukkan kepalanya, mendekatkan bibirnya tepat di depan bibir King dengan senyuman misterius yang teramat seksi namun mematikan.

"Kau mau aku merobek perutmu malam ini, Kingston?" desis Olivier dengan nada suara yang teramat manis namun sarat akan ancaman medis yang nyata. "Jika kau banyak bicara lagi dan terus menggodaku, aku bersumpah akan menekan jahitan di perutmu ini sampai kau menjerit meminta ampun."

King Stone justru semakin melebarkan senyuman miringnya, sama sekali tidak takut dengan ancaman tersebut. Bagi King, ancaman dari Olivier malam ini adalah musik paling indah yang menandakan bahwa ratunya telah kembali berkuasa sepenuhnya atas hidup dan tubuhnya.

"Lakukan sesukamu, Dokter," bisik King tepat sebelum ia meredam seluruh kalimat Olivier dengan satu lumatan bibir yang teramat dalam, posesif, dan menuntut.

Malam itu, di bawah pendar temaram Kastel Stone, ritual percintaan yang sempat tertunda selama sepuluh tahun akhirnya pecah dalam keheningan yang teramat sakral.

Tanpa ada lagi batasan masa lalu, tanpa ada lagi ketakutan akan perpisahan, King Stone menyerahkan seluruh otoritas tubuh dan jiwanya di bawah kendali jemari lembut Olivier, memulai babak baru penyatuan darah murni klan mereka dengan cara yang paling intens dan tak terlupakan seumur hidup.

1
Yunie
seru nih
Ros 🌷🦋: hallo kak 🫶
total 1 replies
ida wati
wkwkwkwk drama persepupuan....jodoh nih kayaknya 🤣
Ros 🌷🦋: Wkwkwk masih rahasia ya kak 🤭🤣🤣
total 1 replies
ida wati
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
ida wati
wkwkwkwk jngan kebanyakan gaya lu King, lu tuh budak nya El 🤣🤣🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: wkwkwk🤣
total 1 replies
ida wati
yakin lu King??

mudah2an si Nora tiap malem minta tidur sm emak bapaknya 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: Ya Tuhan ngakak aku kak🤣🤣🤭
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
tendang aja oliv si king🤣
Ros 🌷🦋: ngakak 🤣
total 1 replies
ida wati
pake belm aja El biar gak malu wkwkwk 🤣🤣🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: wkwkw🤭
total 3 replies
ida wati
huaaaa othor motong bawanggg 😭😭😭
Ros 🌷🦋: huhuhu 😭
total 1 replies
nayla tsaqif
Nora xander masih ada ikatan darah thor,, emg boleh berjodoh,,!!?? 🤔
Ros 🌷🦋: Mereka sepupuan kak🤭
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
apa Nora jodohnya Xander?
Ros 🌷🦋: kalo direstuin reader 🤭🤣🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
sekarang giliran Ken yg muntah liat tingkah king🤣🤣
Ros 🌷🦋: hahaa biar kebagian muntah triplek K🤣🤣
total 1 replies
Moes Rifah
Thor episodenya 41 kok cuma 29
Ros 🌷🦋: ada 41 episode kak🙏🏻
total 1 replies
ida wati
wakakakaaka aku bahagiaaa 🤣🤣🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: Hehehe 🤭
total 1 replies
ida wati
siram pake air keras aja biar kaku sekalian wkwkwk 🤣🤣🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: Ngakak 🤭🤣
total 1 replies
ida wati
grandmam suntik obat tidur aja kalo perlu suntik mati 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: ma'aciww kak🫶
total 5 replies
ida wati
ahhh Noraaa kau membuatku mewekkk 😩😩😩😩😩😭
Ros 🌷🦋: bayangkan sepuluh tahun kak baru ketemu ayahnya 🤭
total 1 replies
ida wati
thorrr sembako dibawa bawa 😩😩😩😩
Ros 🌷🦋: hihihi Author juga emak2 kak 🤭🤣
total 3 replies
Agus Hidayat
😍😍😍😍😍😍
Ros 🌷🦋: Ma'aciww kak reader, Komentar adalah semangat Author 🤭🤣
total 1 replies
Moes Rifah
ayo Thor lanjut, saya suka ceritax
Ros 🌷🦋: siap kak🫶
total 1 replies
Moes Rifah
lanjut Thor smpe dr martinez hamil anak kedua
Ros 🌷🦋: Hehe siap ya kak🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!