NovelToon NovelToon
SATU -SATUNYA BUANGA DI TENGAH HUTAN.

SATU -SATUNYA BUANGA DI TENGAH HUTAN.

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Karir / Persahabatan
Popularitas:249
Nilai: 5
Nama Author: Komiatun Atun

hidup ini seringkali begitu kejam dan Mestrius. ada yang lah dalam kemewahan, ada yang tumbuh dalam hangatan kasih sayang. namun, takdir berkata lain bagiku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Komiatun Atun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN" BAB 29: BERKAH SHOLAWAT DAN LANGKAH B

 

"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN"

BAB 29: BERKAH SHOLAWAT DAN LANGKAH BARU

Keesokan harinya, seperti biasa, kegiatan pagiku sudah dimulai sejak matahari mulai mengintip malu-malu dari balik bukit. Sejak sebelum masuk jam sekolah, aku sudah sibuk di halaman belakang rumah, menanam sayur dan membersihkan rumput liar yang tumbuh sembarangan. Walau aku selalu mengenakan baju muslim dan jilbab yang tak pernah lepas dari kepalaku—kecuali saat tidur—semua itu tak pernah menghalangi tanganku untuk bekerja dan bergerak gesit. Dengan telaten dan penuh kasih sayang, aku menanam kacang panjang, sawi hijau, dan kacang buncis. Tanah di sekitar rumah kami memang cukup luas dan subur, apa saja yang ditanam pasti tumbuh dengan baik, jadi aku bisa bercocok tanam apa saja sesuka hati kami.

Sambil menanam dan mencabut rumput, bibirku tak henti-hentinya bergerak pelan. Aku terus bersholawat, melantunkan pujian kepada Nabi Muhammad SAW di setiap gerakanku. Bunda yang berada di dalam rumah bisa mendengar suara lembut itu, dan hati Bunda pun terasa sejuk, damai, dan adem mendengar anak perempuannya selalu mengingat Allah dan Rasul-Nya dalam segala hal yang dilakukan.

Tak jauh dari rumah, para warga desa sedang berjalan lewat, hendak pergi bekerja ke kebun kopi. Beberapa orang mendengar suara sholawat yang terdengar jelas dan merdu itu. Mereka berhenti sejenak, menoleh ke arahku yang masih sibuk bekerja tanpa sadar ada yang memperhatikan.

"Subhanallah... Luar biasa sekali anak itu," gumam Pak RT sambil tersenyum kagum. "Rajin, pintar, sholehah pula. Langka sekali anak sebaik dan sesabar dia di zaman sekarang."

Aku sama sekali tidak menyadari perhatian mereka, aku terus saja fokus bekerja dan bersholawat, hatiku senang dan tenang sekali.

Tak lama kemudian, suara azan Dhuhur berkumandang menggema memecah kesibukan pagi itu. Segera kutinggalkan pekerjaanku, masuk ke rumah, membersihkan diri, dan bersiap mandi. Selesai mandi, aku dan Bunda pun sholat berjamaah berdua di dalam rumah, menyempatkan diri beristirahat sejenak mengumpulkan tenaga.

Selesai makan siang dengan menu sederhana namun nikmat, Bunda menatapku sambil tersenyum.

"Nak, istirahatlah dulu ya. Nanti sore habis Maghrib, Bastian mau mulai belajar sama kamu lho ya. Jangan sampai lupa atau terlambat ya."

Aku mengangguk mantap. "Iya Bun, Insyaallah. Nanti habis Maghrib Ria ke sana. Eh Bun, nanti Ria mau tanya sama Bastian langsung deh pas di musala, mau belajarnya di rumahnya atau gimana ya Bun? Biar jelas dari awal."

Tiba-tiba mataku melotot sedikit, hampir saja lupa satu hal penting.

"Eh Bun... hampir lupa nih! Hari ini Ria disuruh ke rumah Bu Sri, disuruh bantuin gosok baju. Kemarin Bu Sri sudah bilang sama Ria, cuma kemarin lupa Ria sampaikan ke Bunda."

Bunda menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum miris tapi penuh kasih sayang. "Ya Allah Nak... Gimana kamu gak kurus coba? Badan mungil begini tapi mulut gak pernah diam, tangan pun gak mau istirahat sebentar saja. Kamu tuh ya..."

Aku langsung tertawa terbahak-bahak, suaraku ceria sekali. "Hahaha... Nanti aja Bun kalau mau gemuk, nanti kalau Ria udah kaya raya baru deh Ria gemuk! Hahaha..."

Bunda pun akhirnya ikut tertawa melihat tingkah polah dan kejahilanku yang tiba-tiba itu, hati Bunda terhibur sekali.

"Aduh anak ini... Dasar kamu ya..."

Aku pun bangkit berdiri, sudah siap berangkat. "Ya sudah Bun, Ria berangkat ke rumah Bu Sri dulu ya. Assalamualaikum..."

"Waalaikumsalam, Nak... Hati-hati ya," jawab Bunda lembut.

Sepanjang jalan menuju rumah Bu Sri, bibirku tak henti bersholawat lagi. Aku sama sekali tidak peduli dengan pandangan orang, ada saja yang bisik-bisik atau ngomong ini-itu tentang aku, tapi aku terus berjalan santai, hatiku damai dan riang.

Sesampainya di depan rumah Bu Sri, aku mengetuk pintu pelan.

Tok... Tok... Tok...

"Assalamualaikum, Bu Sri... Ini Ria Bu..."

"Waalaikumsalam Ria... Masuk aja Nak, Ibu baru saja mau sholat Dhuhur nih," jawab Bu Sri dari dalam.

Aku langsung masuk, tidak menunggu disuruh. Aku tahu persis letak keranjang baju kotor yang sudah siap digosok. Dengan rajin dan terampil, aku mulai bekerja. Di rumah Bu Sri ini, aku biasa menggosok baju menggunakan arang bekas batok kelapa, cara kuno tapi ampuh banget bikin baju jadi bersih, licin, dan wangi. Selama dua jam penuh aku duduk tekun menggosok satu per satu baju itu sampai selesai semua, tak ada yang tertinggal.

Setelah selesai, aku meregangkan pinggangku yang terasa sedikit pegal, lalu beranjak bangkit. Di sana sudah tersedia segelas air putih dingin yang disiapkan Bu Sri buatku. Aku minum sepuasnya, lalu berniat pamit pulang.

"Bu Sri... Ria sudah selesai semua pekerjaannya nih. Kalau gak ada yang kurang, Ria izin pulang dulu ya Bu," kataku sopan.

"Tunggu sebentar ya Ria, Nak..." jawab Bu Sri, lalu beliau masuk ke dalam kamar sebentar.

Tak lama kemudian Bu Sri keluar membawa sekeranjang kecil beras dan beberapa bungkus kue atau roti. Beliau menyerahkannya kepadaku dengan senyum tulus.

"Ini Nak Ria... Ibu ada sedikit beras, ada sedikit roti dari wali murid Ibu kemarin. Ibu sisihkan buat kamu ya Nak, semoga bermanfaat buat kamu dan Bunda di rumah."

Mata aku langsung berkaca-kaca, hatiku bergetar haru. "Ya Allah... Terima kasih ya Allah atas rezeki-Mu yang datangnya gak disangka-sangka..."

"Terima kasih banyak ya Bu Guru... Semoga Allah membalas kebaikan Ibu sekalian, semoga Ibu dan keluarga selalu sehat, panjang umur, dan rezekinya makin berlimpah ruah ya Bu..." ucapku dengan suara bergetar menahan haru.

"Aamiin... Nah ini ada sedikit uang jajan buat kamu Nak, beli apa saja yang kamu suka ya. Dan ingat Nak... Kalau Ibu butuh bantuan lagi, kamu masih mau bantu Ibu kan?" kata Bu Sri lembut sambil menyodorkan selembar uang.

Akhirnya aku tak kuasa menahan tangis, air mataku jatuh juga membasahi pipi. Aku terharu sekali diperlakukan sebaik ini oleh Bu Sri.

"Hik... hik... Insyaallah Bu Guru... Kalau Ria bisa bantu, pasti Ria bantu Bu... Ria ikhlas kok. Terima kasih banyak ya Bu..." jawabku sambil mengusap air mata.

"Sama-sama ya Nak, sudah pulang sana, Bunda pasti menunggu," kata Bu Sri sambil mengelus kepalaku.

"Baiklah Bu Guru... Assalamualaikum..."

"Waalaikumsalam, Nak..."

Aku pulang dengan hati yang luar biasa senang dan riang. Dalam hatiku bersyukur tak terhingga: "Inilah kebesaran-Mu ya Allah... Kalau kita tak pernah putus bersholawat dan berbuat baik, pasti ada jalan, pasti ada rezeki yang datangnya tak terduga, tak disangka-sangka, dan pasti ada keajaiban."

Sesampainya di rumah, aku langsung menyapa. "Assalamualaikum Bun..."

"Waalaikumsalam Nak... Udah pulang ya? Gimana tadi?" tanya Bunda menyambutku.

"Udah Bun... Alhamdulillah, lihat nih Bun, ada rezeki dikit dari Bu Sri. Dikasih beras sama roti juga Bun," kataku sambil memperlihatkan bawaanku.

Bunda menatap bawaanku, matanya ikut berkaca-kaca haru. "Ya Allah... Alhamdulillah ya Nak... Masih banyak sekali orang baik dan mulia hatinya di desa ini. Bersyukur kita ya Nak..."

"Bun, Ria mau bersih-bersih diri dulu ya, habis itu mau langsung ke musala sebentar," kataku.

"Iya Nak, sana ganti baju dulu," jawab Bunda lembut.

Tak lama kemudian, aku sudah sampai di musala. Di sana sudah ramai anak-anak yang ada, ada yang sedang berjalan-jalan di halaman, ada yang sudah duduk rapi bersiap belajar mengaji.

"Assalamualaikum semuanya..." sapaku ramah dan ceria.

"Waalaikumsalam, Kak Riaaa..." jawab mereka serentak riang.

"Nah, sebelum kita mulai belajar, ayo kita baca doa dulu biar lancar ilmunya dan berkah ya," kataku sambil tersenyum.

"Siap Kak!" jawab mereka antusias.

"Bagas, Pipin... Ayo kalian yang memimpin doa ya, bergantian biar nanti semuanya bisa dan hafal," perintahku lembut. Aku selalu membiasakan anak-anak agar berani maju ke depan dan mandiri.

Bagas pun berdiri tegak memimpin doa dengan suara lantang dan jelas. Setelah selesai, semua anak belajar bergiliran. Bu Rini pun ikut duduk di sampingku, kami bekerja sama mengajari mereka sampai selesai semua.

Di tengah kesibukan itu, aku memanggil pelan. "Bastian... Sini sebentar Nak..."

"Iya Kak Ria... Ada apa Kak?" jawab Bastian mendekat.

"Kakak mau tanya nih... Apa Bastian beneran mau les dan belajar sama Kakak? Beneran mau kan Kakak ajari?" tanyaku memastikan sekali lagi. Aku tidak mau memaksa kalau anak itu sebenarnya tidak mau.

Bastian mengangguk semangat. "Insyaallah mau banget Kak Ria... Mau banget kok!"

"Nah kalau mau... Mau belajarnya di mana? Di rumah Bastian atau di sini atau di rumah Kakak? Pilih saja ya, Kakak kasih pilihan, Kakak gak mau paksa. Kalau dipaksa nanti gak enak hatinya, gak nyaman, dan nanti gak masuk ilmunya lho," kataku. Prinsipku selalu begitu, aku selalu memberi pilihan, biar mereka merasa dihargai dan mau dengan kemauan sendiri.

"Kalau di rumah Bastian, Kakak mau gak ke sana?" tanya Bastian polos.

"Baiklah kalau begitu... Nanti habis Maghrib Kakak ke rumah Bastian ya. Siap-siap ya, jangan lupa bawa buku tulis sama alat tulisnya ya," kataku tersenyum.

"Horeee... Siap Kak! Terima kasih ya Kak Ria mau terima Bastian belajar," jawab Bastian senang bukan main.

"Sama-sama ya Bastian, semangat ya..."

 

Menjelang malam, tepat setelah kami selesai sholat Maghrib berjamaah di rumah, aku berniat berpamitan mau berangkat ke rumah Bastian. Baru saja aku mau melangkah keluar, Bang Arifin yang duduk di beranda langsung bangkit berdiri dengan sigap.

"Ayo... Abang anterin ya Dik. Abang tungguin di luar atau di beranda sampai selesai kamu ngajar, Abang gak mau kamu sendirian malam-malam gini," kata Bang Arifin tegas tapi penuh kasih sayang.

Aku kaget tapi langsung tersenyum lebar senang sekali. "Beneran Bang mau anterin Ria? Asikkk... Hahaha... Terima kasih ya Abangku sayang, Abangku baik... Ria senang banget deh!"

Hatiku penuh rasa syukur dan bahagia. Dalam hati aku berdoa tulus: "Ya Allah... Semoga Allah mempermudah dan melancarkan semuanya ya Allah... Ilmu yang Ria punya itu kan titipan-Mu ya Allah, biarkan Ria bisa berbagi sama sesama yang membutuhkan. Jadikanlah setiap langkah Ria ini berkah dan bermanfaat bagi siapa saja."

Langkah kakiku terasa ringan sekali malam itu, ditemani perlindungan Abang tercinta, siap berbagi ilmu yang sederhana namun penuh ketulusan.

1
KOMIATUN
"alhamdulillah,.... terimakasih banyak ya kak atas dukungan nya senang banget deh ada yang mampir dan kasih saya semangat, rasanya capek pulang kerja jadi hilang seketika lho, nanti kalau ada waktu luang pasti saya kunjungi profil nya kakak ya. sihat selalu dan sukses terus buat kakak. 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!