Pernikahan impian yang sudah dibangun dengan asa dan cinta akhirnya kandas, tidak pernah terbayangkan oleh Clarissa bahwa hidup nya tak seperti orang diluar sana. Dulu berharap memiliki pernikahan yang abadi sampai maut memisahkan dengan lelaki pilihannya. Perceraian tak terelakkan hingga membuat jiwanya terguncang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon introvert girl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah Paham
Semenjak mengikuti olahraga membuatnya tidak mudah jenuh dan punya teman baru, teman di tempat yoga dan teman di tempat pilates. Sesekali mereka mengobrol sederhana saat bertemu namun masih enggan jika diajak untuk bepergian.
Ethan tidak mempermasalahkan jika istrinya punya kesibukan dan bertemu temannya. Semenjak menikah dan pindah ke kota ini, Clarissa memang tidak memiliki teman. Sangat jarang bertemu teman semasa sekolah atau kuliah. Hal itu yang kadang membuatnya malas pergi keluar atau lebih sering meluangkan waktu sendiri. Tak pernah merasa risih jika berjalan sendiri dan menikmati waktu di cafe atau di Mall
Sepulang olahraga Clarissa menyempatkan untuk berkeliling supermarket untuk membeli daging segar yang akan diolahnya nanti. Lagi-lagi waktu mempertemukannya dengan temannya seperti seminggu lalu. Kali ini Clarissa yang terlebih dulu melihatnya dan menyapa.
"David, kita ketemu lagi"
"Hai.... Long time no see, lagi ngapain?" Balas David yang bersemangat dan mengeluarkan obrolan selingan.
Mereka bercengkerama diselingi tawa sembari berpindah dari rak satu ke rak yang lain. Sesekali tawa mereka pecah tanpa malu meski sesekali mereka dilirik pengunjung lain.
David baru saja selesai dengan urusannya dan berniat mampir sejenak di supermarket itu, sejak SMA dia dikenal sebagai sosok yang ramah dan mudah berbaur.
David mengajak Clarissa untuk mampir di cafe yang pernah mereka singgahi dan melanjutkan pembicaraannya. Clarissa lebih banyak mendengar tentang David yang akan merencanakan pernikahan bersama kekasihnya yang juga berada di kota itu.
Langit senja mulai merona dan mereka berpisah di parkiran, David sempat membantu Clarissa memasukkan barang belanjaan ke bagasi mobil.
"Sampai ketemu lagi kapan-kapan ya, thanks untuk sarannya" ucap David dengan senyum mengembang.
"Iya, semoga lancar ya rencananya" Balas Clarissa dan mereka melakukan high five sama seperti jaman sekolah dulu.
Clarissa mengendarai mobilnya dengan santai karena kondisi jalan belum macet seperti pada biasanya.
...****************...
Tiba dirumah Ethan terlihat dengan wajahnya yang tak bersahabat, Clarissa menyambut dengan ramah dan membantu membawa tas kerjanya.
"Tadi kamu pergi kemana?" Tanya Ethan yang masih sibuk berdiri didepan cermin sembari melepas kemejanya
"Pergi ke tempat yoga" Balas Clarissa yang merasa tidak ada yang salah.
"Selain itu, kemana lagi"
"Tadi mampir sebentar ke supermarket untuk beli keperluan dapur"
"Terus...."
Clarissa tampak bingung dengan perkataan yang menggantung itu, menelisik ingatan memorinya sejak tadi pagi sampai hari ini dan tidak ada yang salah, dia hanya melakukan kegiatan itu sepanjang hari ini.
"Hanya itu..." Balas Clarissa yang tampak menerka apa yang dipikirkan suaminya.
"Tidak perlu berbohong, Sa" Balasnya yang mencampakkan dengan kasar kemejanya.
"Aku tidak bohong"
"Siapa lelaki yang kamu temui tadi, kalian tampak menikmati waktu dicafe itu"
"Oh Itu dia cuma teman" balas Clarissa yang mulai paham meski bingung karena bagaimana suaminya bisa tahu.
Sebuah tamparan mendarat setelah mendengar jawaban yang menambah rasa jengkel di hati Ethan. Sepanjang hari ini dia cukup lelah dan mengalami masalah dengan pekerjaannya ditambah dengan jawaban yang terkesan remeh dimulut istrinya.
Clarissa tertegun dan menunduk sembari mengusap pipinya. Tak berani berkutik meski Ethan maju selangkah hingga tiada jarak tersisa.
"Aku kerja untuk kamu, tapi kamu malah enak-enakan dengan lelaki lain?"
"Bukan seperti itu Mas"
"Kamu berbohong, dari tadi aku tanya tapi tidak jujur" potong Ethan dengan nada yang menggema di seisi kamar.
Clarissa masih berusaha meluruskan kesalahpahaman yang bisa menjadi gemuruh panas nantinya. Dia mulai menceritakan awal pertemuannya dan tadi sore tanpa direncanakan.
"Ternyata sudah ketemuan dari seminggu lalu, tapi kamu tidak ada cerita"
"Aku pikir itu tidak penting Mas, Maaf ya"
"Kamu berubah, Sa. Sangat berubah, dulu kamu akan cerita apapun sekarang banyak yang kamu tutupi" Balas Ethan dengan perasaan yang kecewa.
"Maaf Mas, dia cuma teman dan kami hanya mengobrol singkat"
Namun semakin Clarissa memberi penjelasan kian menjadi membentuk cambuk yang siap mencederai tubuhnya. Bagi Ethan itu hanya alasan. Emosinya kian pecah dan menarik sabuk yang masih melekat di pinggangnya.
Suara tangisan dan rintihan keluar memohon ampun, namun kian melayang bertubi-tubi ke tubuh wanita itu. Tidak ada tubuh tabah hanya ada bayangan yang tumbang beralaskan lantai yang sesekali mengeluarkan air mata tanpa berani menatap kearah pemberi luka.
Ethan mengeluarkan air mata setelah selesai dengan amarahnya, dia merasa sangat kecewa dan dibohongi. Lalu bergegas ke arah lemari dan membukanya secara paksa dan memakai pakai yang baru kemudian pergi meninggalkan kamar itu. Menyisakan hati lain yang masih menghitung detik waktu hingga denyutan itu memudar.