NovelToon NovelToon
Kupu-Kupu Malam Sang Ceo

Kupu-Kupu Malam Sang Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Romansa
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Zenaaa

Di siang hari, Renata adalah seorang gadis biasa yang bekerja sebagai pustakawati polos berkacamata tebal. Namun, saat malam tiba dan lampu kota Jakarta mulai menyala, ia berubah menjadi "Papillon" (Kupu-Kupu)—gadis hostess paling misterius dan mahal di Kupu-Kupu Bar, sebuah kelab malam eksklusif rahasia para konglomerat.
​Renata tidak mencari uang demi kemewahan. Ia menjebak dirinya di dunia malam demi mengungkap misteri kematian kakak perempuannya yang tewas mengenaskan setelah melayani seorang pria berkuasa dari Dirgantara Group.
​Rencananya berjalan mulus hingga malam itu tiba. Adrian Dirgantara, CEO dingin dan pewaris tunggal Dirgantara Group, masuk ke bar dan langsung memilih Papillon. Adrian tidak mencari hiburan, melainkan seorang "istri sewaan" untuk memenuhi wasiat kakeknya demi mempertahankan takhta perusahaan.
​Satu kesepakatan di bawah lampu remang-remang bar mengubah segalanya. Renata melangkah masuk ke sarang musuh sebagai istri Adrian, sementara Adrian tidak pernah t

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zenaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Sandiwara Dua Identitas

Matahari pagi baru saja menyembul di ufuk timur, menyiram kota Jakarta dengan cahaya keemasan yang hangat. Di sebuah rumah susun sederhana di pinggiran kota, Renata terbangun dengan napas yang sedikit terengah-engah. Mimpi buruk tentang malam kematian kakaknya kembali datang, menyisakan keringat dingin di pelipisnya.

​Ia segera mendudukkan diri di tepi ranjang, menatap nanar ke arah meja kecil di sudut kamar. Di sana terletak kacamata bulat tebal berbingkai hitam, sweter rajut berwarna cokelat pudar yang longgar, dan sebuah kartu identitas kerja sebagai pustakawati honorer. Di tempat ini, ia adalah Renata yang tak kasat mata. Namun, di dalam tas jinjingnya yang tersembunyi di bawah lemari, terdapat sebuah dokumen pernikahan kontrak berlogo emas yang akan mengubah seluruh hidupnya hari ini.

​"Hari ini semuanya dimulai," bisik Renata pada dirinya sendiri. Tatapan matanya yang semula layu seketika berubah menjadi tajam dan penuh tekad.

​Tepat pukul delapan pagi, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam metalik berhenti di depan gang sempit menuju rumah susun Renata. Keberadaan mobil mengilat itu tentu saja menarik perhatian para tetangga sekitar yang sedang beraktivitas. Dari dalam mobil, turun seorang pria paruh baya berpakaian rapi dengan setelan jas abu-abu. Ia adalah Baskara, asisten pribadi kepercayaan Adrian Dirgantara selama belasan tahun.

​Baskara memeriksa arloji di tangannya, lalu melihat ke arah pintu gang. Tak lama kemudian, seorang gadis berjalan keluar. Baskara sempat tertegun dan mengerutkan keningnya. Gadis yang berjalan ke arahnya mengenakan rok panjang plisket berwarna krem, sweter rajut longgar, rambut yang dicepol berantakan dengan jepit plastik, dan sepasang kacamata bulat yang sangat tebal hingga membuat matanya terlihat kecil.

​‘Apakah ini benar wanita yang dimaksud oleh Tuan Adrian?’ batin Baskara ragu. Di dalam kepalanya, ia membayangkan sosok "Papillon", sang primadona Kupu-Kupu Bar yang digosipkan sangat glamor, seksi, dan memikat. Namun, gadis di depannya ini lebih terlihat seperti seorang mahasiswi tingkat akhir yang sedang stres menyusun skripsi.

​"Nona Papillon?" tanya Baskara memastikan, suaranya tetap formal dan sopan.

​Renata membetulkan posisi kacamatanya yang sedikit melorot di hidung, lalu tersenyum canggung sebuah akting yang sudah ia latih di depan cermin. "Panggil saja saya Renata, Pak. Itu... nama asli saya."

​Baskara mengangguk profesional, meskipun batinnya masih dipenuhi rasa heran. "Baik, Nona Renata. Saya Baskara, asisten pribadi Tuan Adrian. Mulai hari ini, saya yang akan mengurus seluruh keperluan Anda selama masa kontrak berlangsung. Silakan masuk, Tuan Adrian sudah menunggu di butik."

​Renata melangkah masuk ke dalam mobil mewah tersebut. Begitu pintu tertutup dan mobil mulai melaju membelah jalanan ibu kota, Renata menatap keluar jendela. Ia tahu, begitu ia menginjakkan kaki di dunia Adrian, tidak akan ada jalan untuk kembali.

​Mobil berhenti di depan sebuah butik haute couture eksklusif di kawasan Menteng. Butik itu telah dikosongkan secara khusus pagi ini atas perintah Adrian. Begitu Renata masuk dibimbing oleh Baskara, ia langsung melihat sosok pria yang semalam menemuinya di bar.

​Adrian Dirgantara berdiri di tengah ruangan, sedang mematangkan beberapa berkas di tabletnya. Ia mengenakan setelan jas formal abu-abu gelap yang melekat sempurna pada tubuh tegapnya. Aura dominan dan dingin yang dipancarkannya membuat beberapa pelayan butik di sekitarnya menunduk tak berani menatap langsung.

​Mendengar suara langkah kaki, Adrian mendongak. Begitu matanya menangkap sosok Renata, jemarinya yang sedang mengetik di layar tablet seketika terhenti. Rahang tegas Adrian mengeras. Mata elangnya menatap Renata dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan tidak percaya yang bercampur dengan kilat kekesalan.

​"Baskara," suara Adrian terdengar berat dan berbahaya, bergema di dalam butik yang sunyi itu. "Siapa yang kamu bawa ke sini? Aku menyuruhmu menjemput Papillon, bukan membawa seorang gadis magang yang tersesat."

​Baskara membungkuk hormat, merasa keringat dingin mulai membasahi punggungnya. "Maaf, Tuan tapi wanita ini memang Nona Papillon. Beliau mengatakan bahwa Renata adalah nama aslinya."

​Adrian melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka. Langkah kakinya yang berat terasa seperti ketukan vonis mati bagi siapa saja yang mendengarnya. Ia berhenti tepat satu langkah di depan Renata, menunduk untuk menatap langsung ke balik lensa kacamata tebal gadis itu.

​Renata bisa merasakan embusan napas Adrian di keningnya. Jantungnya berdegup kencang, namun ia memaksakan dirinya untuk tetap terlihat gemetar ketakutan—seperti reaksi yang seharusnya diberikan oleh seorang gadis polos.

​"Buka kacamatamu," perintah Adrian dingin, nadanya tidak menerima bantahan.

​Dengan tangan yang sengaja dibuat sedikit bergetar, Renata melepaskan kacamata bulatnya. Begitu kacamata itu terlepas, Adrian tertegun untuk kedua kalinya. Di balik lensa tebal yang mengaburkan pandangan itu, terdapat sepasang mata yang sangat indah. Mata jernih dengan bulu mata lentik yang persis sama dengan tatapan berani milik "Papillon" di bawah topeng renda semalam.

​"Jadi... ini wajah asli di balik topengmu?" bisik Adrian, suaranya melembut sesaat sebelum kembali berubah menjadi datar dan skeptis. "Transformasi yang luar biasa. Di bar kamu terlihat seperti dewi yang bisa menjerat pria mana pun, tapi di siang hari kamu terlihat seperti... wanita yang bahkan tidak tahu cara memakai lipstik dengan benar."

​Renata menundukkan kepalanya, memasang raut wajah terluka yang palsu. "Maaf Tuan Dirgantara, Di bar saya harus memakai topeng dan pakaian seperti itu untuk melindungi diri saya sendiri. Saya tidak ingin kehidupan malam saya mencemari kehidupan nyata saya. Jika Anda merasa saya membohongi Anda, kita bisa membatalkan kontrak ini sekarang juga."

​Adrian terdiam sejenak. Ia berjalan mengitari Renata, memperhatikannya sekali lagi. Alih-alih marah, sebuah seringai tipis muncul di sudut bibir sang CEO.

​"Membatalkan?" Adrian mendengus pelan. "Tidak. Ini justru jauh lebih baik dari yang aku harapkan."

​Renata mendongak, berpura-pura bingung. "Maksud Anda?"

​"Sepupuku, Arsen, dan para pemegang saham tua di perusahaan sedang mengawasiku. Mereka mengharapkan aku menikahi wanita dari keluarga terpandang yang bisa mereka selidiki latar belakangnya untuk mencari celah kelemahanku," jelas Adrian sambil berjalan menuju sofa butik. "Jika aku membawa seorang wanita malam yang glamor, mereka akan menggunakan itu untuk menjatuhkan namaku. Tapi jika aku membawa wanita biasa, polos, dan terlihat 'tidak berbahaya' sepertimu, mereka akan meremehkanmu. Dan saat mereka meremehkanmu, mereka tidak akan waspada."

​Adrian menatap tajam ke arah perancang busana butik yang sejak tadi berdiri diam di sudut. "Ubah dia. Buat dia terlihat seperti wanita dari kalangan atas, tapi pertahankan kesan polos dan anggunnya. Aku ingin dia siap dalam waktu satu jam."

​"Baik, Tuan Dirgantara," jawab sang desainer dengan sigap.

​Satu jam berlalu seperti badai bagi Renata. Tubuhnya dipijat, rambut cokelatnya yang berantakan kini dicuci dan ditata menjadi gelombang lembut yang jatuh dengan indah di bahunya. Riasan wajahnya dibuat sangat natural yang justru menonjolkan kecantikan alaminya yang murni, kulitnya yang seputih porselen, pipinya yang merona alami, dan bibirnya yang berwarna merah muda lembut.

​Terakhir, ia dipakaikan sebuah gaun terusan selutut berwarna putih gading dengan potongan sederhana namun sangat berkelas, dipadukan dengan sepasang sepatu hak rendah yang senada. Kacamata tebalnya telah digantikan oleh lensa kontak yang nyaman.

​Ketika Renata melangkah keluar dari ruang ganti, Adrian yang sedang membaca dokumen langsung terpaku. Untuk pertama kalinya, sang CEO dingin itu kehilangan kata-kata.

​Wanita di depannya tidak lagi terlihat seperti pustakawati yang murung, tidak juga terlihat seperti hostess malam yang menggoda. Renata saat ini terlihat seperti seorang putri dari keluarga bangsawan yang suci, murni, dan memancarkan keanggunan yang tidak dibuat-buat. Ada daya tarik magis yang membuat Adrian tidak bisa mengalihkan pandangannya selama beberapa detik.

​"Bagaimana, Tuan? Apakah ini sudah sesuai dengan keinginan Anda?" tanya Renata lembut, menyembunyikan senyum kemenangan di dalam hatinya saat melihat reaksi Adrian.

​Adrian berdeham, berusaha menguasai kembali ekspresi wajahnya yang sempat goyah. Ia berdiri, merapikan jasnya, lalu berjalan mendekati Renata.

​"Cukup baik," ujar Adrian pendek, menyembunyikan pujian aslinya. Ia kemudian merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kotak beludru hitam kecil. Ketika dibuka, di dalamnya terdapat sebuah cincin berlian dengan potongan emerald yang sangat besar dan berkilau mewah.

​Adrian mengambil tangan kanan Renata. Jemari pria itu yang hangat dan besar menggenggam tangan Renata yang mungil, lalu perlahan menyematkan cincin itu di jari manisnya. Sentuhan fisik yang tiba-tiba itu membuat jantung Renata berdegup aneh—sebuah sensasi yang langsung ia tepis dengan cepat.

​"Mulai detik ini, di depan publik dan keluargaku, kamu adalah Renata Dirgantara, tunanganku yang aku temui saat kunjungan kerja di luar kota. Kamu adalah gadis yatim piatu yang bekerja keras, dan aku jatuh cinta pada kesederhanaanmu. Ingat skenario ini dengan baik di dalam kepalamu," bisik Adrian di dekat telinga Renata.

​"Saya mengerti, Tuan," jawab Renata patuh.

​"Satu hal lagi," Adrian menatap mata Renata dengan sangat dalam, memberikan penekanan pada setiap kalimatnya. "Malam ini, ada perjamuan makan malam keluarga besar di kediaman utama Dirgantara. Kakekku, pamanku, dan sepupuku Arsen akan ada di sana. Mereka akan mengujimu, mengintimidasi dirimu, dan mencari tahu apakah kamu hanya seorang wanita matre yang mengincar hartaku. Jika kamu mengacaukannya, kontrak kita berakhir malam ini juga."

​Mendengar nama Arsen disebut, kilat kebencian yang dingin melintas di mata Renata selama sepersekian detik sebelum akhirnya ia menunduk untuk menyembunyikannya.

​‘Aku tidak akan mengacaukannya, Adrian,’ batin Renata sambil menggenggam erat gaun putihnya. ‘Justru karena ada Arsen di sana, aku akan memainkan peran ini dengan sangat sempurna. Aku akan memastikan monster itu membayar apa yang telah dia lakukan pada kakakku.’

​"Saya tidak akan mengecewakan Anda, Tuan Adrian. Saya bisa berakting dengan sangat baik," ucap Renata dengan nada suara yang terlampau tenang.

​Adrian menatap tunangan kontraknya itu dengan kening berkerut. Ia merasakan ada sesuatu yang ganjil dari ketenangan Renata, seolah-olah gadis itu tidak takut sama sekali menghadapi keluarga konglomerat yang paling ditakuti di negeri ini. Namun, Adrian mengabaikan firasat itu. Baginya, Renata hanyalah selembar kertas putih yang ia sewa untuk mengamankan takhtanya.

​Adrian tidak pernah tahu bahwa kertas putih yang ia bawa pulang malam ini adalah sebuah bom waktu yang siap meledakkan seluruh kekaisaran bisnis Dirgantara Group dari dalam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!