"Ugh..
aku harus..."
Theo seorang pemuda yang sedang bersepeda, menemukan sebuah cafe di daerah bukit bernama Bukit Dingin.
tiba-tiba, terjadi hal yang aneh pada Theo yang membawanya ke dunia lain.
cerita ini mengisahkan perjalanan Theo di dunia lain.
penasaran dengan perjalanan Theo?
segera baca kelanjutannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShAdOwFaNg, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 16 : Manusia Anjing?
Duar!
Terdengar suara ledakan dari Rubanah Suci.
"Apa yang terjadi?" Theo dan Robertus segera berlari meninggalkan ruang makan.
Sesampainya mereka di lorong rubanah, terlihat lorong itu dipenuhi asap putih.
"Aneh, pada dasarnya pintu rubanah telah aku pasang pelindung sehingga bisa menghalau semua serangan musuh. Hmm... Apa yang terjadi?"
Dari kejauhan, terdengar derap langkah mendekat ke rubanah.
Drap!
Drap!
Drap!
"Gawat! Kalo sampe kuil tau perbuatanku, bisa-bisa aku diusir dari kuil," ucap Robertus dengan penuh kebingungan.
"Robert, bisa kamu urus para kesatria itu?"
"Apa? Aku? Kamu bercanda. Memang gimana caranya?"
Robertus memandang mata Theo dengan sangat panik.
Semakin dekat, hanya tersisa sedikit jarak antara mereka dengan asal suara langkah itu.
"Terserah kamu, yang penting kamu bilang aja kaya eksperimenmmu meledak atau apalah. Pake jabatanmu tuh. Kamu kan sangat dihormati Silas."
"Ahh... Benar juga, ok, tapi nanti yang ngurus di dalem siapa?"
"Aku," Theo segera mengambil pisau lempar dan belati.
"Ok, sampai jumpa. Tolong urus apapun yang ada di situ."
Robertus segera berlari ke arah kesatria kuil yang mendekat, sedangkan Theo segera masuk ke rubanah.
Hancur, begitu Theo masuk ia hanya bisa melihat kekacauan dan debu dimana-mana.
"Sial."
Groaarr!
Suara raungan mengisi rubanah, menggetarkan udara yang ada.
Sebuah sosok keluar dari gemuruh debu dan asap di tengah ruangan.
Seekor anjing, berwarna hitam, dan mata yang merah.
"Hah? Werewolf? Kobold? Bagaimana bisa anjing itu berdiri?"
Anjing itu segera melompat ke arah Theo.
Zraak!
Sebuah bekas cakaran terbentuk di tembok belakang Theo. Beruntung Theo dapat menghindari serangan itu.
Belum selesai, anjing itu segera lompat dan melayangkan cakaran.
Swush
Kratak!
Theo segera melompat, lalu ia menusukkan belatinya ke arah mata anjing itu.
Graooo!
Grrr!
Anjing itu segera menutup matanya dengan kedua tangannya.
"Sialan, tidak ada White di sini."
Theo berlari memanfaatkan momen anjing itu menutup matanya.
"Matilah!"
Theo melompat dan hendak menghunuskan belatinya di jantung makhluk tersebut.
Krak!
Sebuah cakaran melayang ke arah Theo menghalanginya untuk menghunuskan belati.
"Sial, tidak sempat."
Sayangnya Theo tidak sempat menghindari cakaran itu.
Craak!
Theo terlempar dengan tubuh yang penuh darah. Di punggungnya terukir luka cakar yang dalam dari anjing tersebut.
"Ugh..."
Anjing itu segera meluncur ke arah Theo.
"Diam!"
Tiba-tiba waktu berhenti, Theo dapat merasakan bahwa selain dirinya waktu berhenti.
"Oh Dewi yang berbelas kasih, kiranya kau berkati kami untuk melawan mahluk yang menyimpang ini."
Dua buah cakram melayang dan memotong tangan anjing itu.
"In sanguis et necrosis, et Ignis. Mortis inferni."
Tangan-tangan hitam melayang menuju anjing itu. Merobek anjing itu, dan seketika membunuhnya.
"Theo!" Robertus segera mendatangi Theo, lalu ia melihat luka di punggung Theo.
"Tidak, dia sudah mati." Robertus tidak dapat merasakan nadi Theo.
"In sanguis et terra, et Ignis. Sphera vitae"
Sebuah bola berwarna merah darah muncul di tangan Robertus. Ia segera menempelkan bola itu ke perut Theo.
Perlahan bola itu terlihat mengecil, lalu menghilang.
"Gasp...
Ugh..." Sedikit demi sedikit Theo mendapatkan kesadarannya.
"Aku... Masih hidup?" Theo meraba punggungnya.
"Ya, kau masih hidup. Untung lukanya nggak begitu parah."
Robertus mengambil sebuah ramuan dan memberikannya kepada Theo.
"Anjing itu?" Theo yang masih setengah sadar segera panik mengingat anjing itu belum ia kalahkan.
"Tenang saja, sudah aku kalahkan."
"Kakak, kamu masih hidup?" White melingkar di leher Theo, khawatir dengan kondisinya.
"White! Maafkan aku," ujar Theo sambil memeluk White dengan erat.
"Tenang saja, aku tidak apa-apa."
"Syukurlah kak, tadi waktu aku lagi memakan inti sihir ikan itu. Tiba-tiba ruangan menjadi kacau, hawa keberadaan kakak melemah. Jadi White keluar."
"Hehehe maaf ya, aku udah mengganggu waktu makan, mu."
Di sudut matanya, Theo dapat merasakan bahwa Robertus menatapnya dengan raut wajah yang aneh.
"Ada apa?"
"Hmm... Tidak apa-apa. Hanya saja... Matamu menjadi merah."
Theo terkejut mendengar kabar tersebut, "Apa?!"
Robertus memberikan cermin kepada Theo, "Lihat."
Ketika Theo melihat cermin yang diberikan Robertus, ia kaget melihat mata kirinya telah berubah merah darah.
"Hah? Kok bisa?"
Theo memegangi matanya yang semerah darah.
"Maaf itu adalah efek samping dari sihirku," ucap Robertus dengan sedikit nada kekhawatiran.
Karena dia tidak merasakan sedikitpun berubah dari tubuhnya, Theo segera menghiraukan kondisinya.
"Ok gapapa lah mataku merah gini. Toh juga nggak ada efek apapun."
"Oh iya, gimana kabar para kesatria kuil?"
"Aman," ucap Robertus mengacungkan jempol.
Theo kemudian membantu Robertus membereskan segala kekacauan di rubanah itu.
"Theo!" Silas dan Lucy datang ke arah Rubanah Suci.
"Tenang aja, aku aman nggak ada luka."
"Ehm."
"Salam Hormat kepada Tuan Robertus, Semoga Dewi Solina memberkati anda."
Lucy dan Silas menundukkan kepala mereka, menghormati Robertus.
"Sudah, sudah, berdiri saja. Berkah Dewi Solina selalu mendampingi kalian."
"Hei, Theo. Matamu?"
"Anu... Itu ulahku." Robertus mengangkat tangannya.
"Oiya, Theo. Tolong panggil aku Robert kaya tadi ya. Kayanya aku lebih suka itu."
Theo hanya mengangguk, lalu ia meminta Silas dan Lucy mengantarnya ke penginapan.
Sesampainya di penginapan, Theo segera mandi, mencuci bajunya dan berbaring.
"Haah... Waktunya beristirahat, oiya aku mau membuat cuka dan alkohol."
Theo masuk ke ruang jiwanya, di lehernya masih terikat White yang sedang bersiaga.
"Kakak, boleh White makan lagi?"
"Tentu." Theo segera membiarkan White berjalan ke arah inti sihir Leviathan yang sudah habis setengah.
"Wah... Buah manis ini sudah masuk waktunya panen."
Theo melihat di depannya ada banyak buah yang sudah matang, dan mulai mengeluarkan aroma harum madu.
Setelah selesai memanen buah, Theo segera menghaluskannya dengan tangan.
Theo menyimpan jus buah manis ke dalam dua buah tong kayu.
"Waktunya fermentasi. Oiya, aku belum punya bibit alkohol."
Theo menuangkan botol cuka yang ia punya, lalu mengatur rasio waktu di sekitar tong tersebut. Ia membiarkan tong tersebut terbuka, dengan tujuan membiarkan tong itu berubah menjadi cuka.
Segera Theo keluar dari ruang jiwanya, "Hei! White, aku keluar sebentar."
Theo pergi ke lantai dasar, berdiri kursi dan meja serta sebuah meja bar panjang di tengahnya.
"Paman Paul, boleh aku minta sedikit endapan bir?"
"Oh, Ayo."
Paman Paul merangkul Theo dan membawanya menuju sebuah gudang penuh tong besar.
"Ini." Paman Paul memberikan sebuah botol kepada Theo.
"Pakai ini, oiya buat agak banyak dan jangan lupa selalu tutup tongnya, atau kau akan mendapatkan bir yang asam."
"Baik."
Theo segera pergi ke kamarnya, dan berbaring serta masuk ke ruang jiwa.
"Kakak... White udah habisin inti sihir Leviathan. Sekarang, White sudah merasa sangat kenyang. Ha..."
Dari ujung mulut White terlihat ada cairan emas kehijauan yang menetes deras.
"White!" Theo menunjuk ujung mulutnya.
...****************...
End Ch. 16 : Manusia Anjing
Makasih semuanya udah baca karyaku, jangan lupa like, comment, dan favorit ya.
Kritik dan saran terbuka bagiku karena aku masih belajar.
Makasih semuanya.