Rosline gadis berusia 20 tahun yang terlahir bukan dari keluarga berada. Dia memiliki hidup yang sulit, bukan hanya menanggung beban hidupnya sendiri, tapi juga menanggung beban keluarganya. Suatu ketika Rosline mendapat tawaran kerja partime di salah satu rumah mewah untuk menjaga kakek tua, tapi tanpa diduga rumah itu ternyata rumah seorang Mafia kejam...
Rosline semakin bingung harus bertahan atau harus pergi dari sana. Sementara dia sangat butuh uang untuk keluarganya....
Apa yang terjadi selanjutnya dengan Rosline?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27 : Membuat Bara penasaran
Di mansion Alexander…
Suasana rumah besar itu jauh dari kata tenang. Beberapa pria keamanan masih berjaga di berbagai sudut dengan wajah serius. Monitor CCTV di ruang keamanan terus menyala tanpa henti, memperlihatkan seluruh area mansion yang kini dijaga dua kali lebih ketat dari biasanya.
Sedangkan di ruang kerja utama, Bara berdiri membelakangi ruangan sambil menatap gelap ke arah jendela besar. Jas hitamnya masih rapi, namun sorot matanya jauh lebih dingin dari biasanya.
“Jalur pelabuhan timur mulai bergerak lagi, Tuan.” lapor salah satu anak buahnya hati-hati. “Dan kemungkinan besar… itu memang kelompok Black Viper.”
Bara tidak langsung menjawab. Pria itu hanya memutar pelan gelas whiskey di tangannya sebelum akhirnya berkata pelan, “Victor mulai keluar dari sarangnya.”
Ruangan langsung sunyi. Edwin yang sejak tadi bersandar di meja akhirnya menatap Bara serius. “Sudah kuduga,” gumamnya. “Gaya permainan psikologis seperti ini memang khas dia.”
Tatapan Bara berubah tajam. “Dia sengaja mengirim kotak itu.”
“Untuk memancing reaksimu.” sambung Edwin santai.
Bara terdiam beberapa detik. “Dan dia berhasil.” jawabnya dingin.
Edwin langsung menoleh.
Jarang sekali Bara Alexander mengakui sesuatu seperti itu. Namun sebelum Edwin sempat bicara lagi, pintu ruang kerja tiba-tiba terbuka pelan.
Semua tatapan langsung mengarah ke sana. Rosline berdiri di ambang pintu sambil menggenggam ujung sweaternya gugup. Wajahnya masih sedikit pucat, namun gadis itu tampak memaksa dirinya tenang.
“A-aku…” Rosline menelan ludah kecil. “Maaf mengganggu.”
Tatapan Bara langsung berubah berbeda saat melihatnya. Tidak sedingin tadi, namun justru itu yang membuat Edwin diam memperhatikan.
Bara berjalan mendekatinya perlahan. “Kenapa kau keluar kamar?” tanyanya rendah.
Rosline langsung sedikit menunduk. “Aku takut… sendirian di kamar.”
Kalimat sederhana itu justru membuat ruangan mendadak hening. Kali ini, mereka melihat sorot mata Bara berubah jauh lebih lembut dari biasanya.
Pria itu menghela napas kecil lalu melepas jas hitamnya pelan dan menyampirkannya ke pundak Rosline.
“Mulai malam ini.” ucapnya rendah. “Kau tidak boleh berjalan sendirian di mansion.”
Rosline langsung mengangkat wajahnya pelan. “Tapi aku tidak mau merepotkan...”
“Kau sudah menjadi target.” Suara Bara kali ini dingin dan tegas.
Rosline langsung diam.
Sedangkan Edwin yang melihat interaksi itu perlahan mulai menyipitkan mata. Kini ia benar-benar mengerti kenapa Victor mulai tertarik pada Rosline. Karena Bara Alexander, memperlakukan Rosline seperti kekasihnya.
Bara lalu menoleh pada seluruh pria di ruangan. “Tambahkan penjagaan lantai dua.”
“Baik, Tuan.”
“Dan tidak seorang pun boleh mendekati Rosline tanpa izinku.”
“Siap.”
Rosline langsung terlihat makin tidak enak hati. “Sebenarnya aku bisa menjaga diri send...”
“Tiga pria bersenjata tadi sore hampir masuk ke area minimarket.” potong Bara dingin. “Jadi jangan membantah.”
Rosline langsung terdiam.
Namun beberapa detik kemudian, gadis itu pelan berkata, “Siapa sebenarnya Victor itu?”
Ruangan langsung terasa lebih berat. Edwin menoleh pelan ke arah Bara.
Sedangkan Bara sendiri terdiam cukup lama sebelum akhirnya berkata, “dia ketua Black Viper.”
“Dia sangat berbahaya.” lanjutnya dingin. “Dan mulai sekarang… kau harus menjauhi apa pun yang berhubungan dengannya.”
Rosline menggigit bibir bawahnya pelan. Entah kenapa, cara Bara mengucapkan itu terdengar bukan hanya seperti peringatan. Melainkan ancaman bagi siapa pun yang mencoba menyentuhnya.
Suara alarm di ruang keamanan masih menggema beberapa detik sebelum tiba-tiba seluruh monitor kembali normal. Tulisan merah di layar menghilang begitu saja. Ruangan langsung hening.
Salah satu hacker keluarga Alexander segera mengetik cepat di keyboardnya. “Tuan… sistem yang tadi menyusup sudah keluar sendiri.”
Edwin mengernyit. “Keluar?”
“Ya.” pria itu terlihat bingung. “Mereka memutus koneksi sendiri.”
Tatapan Bara berubah semakin tajam.
Beberapa detik kemudian, salah satu monitor utama kembali menyala. Namun kali ini hanya muncul simbol ular hitam milik Black Viper, lalu perlahan menghilang.
Seolah sengaja meninggalkan pesan. Victor menghentikan permainannya malam ini.
Edwin mendecak kecil. “Dia sengaja membuatmu tetap waspada.”
“Tentu saja.” jawab Bara dingin.
Pria itu berjalan mendekati meja monitor sambil memperhatikan titik-titik CCTV pelabuhan yang kini kembali tenang.
Namun justru itu yang membuatnya semakin tidak suka. Karena Bara mengenal Victor terlalu baik. Pria itu tidak pernah benar-benar berhenti. Victor hanya mundur sementara untuk melihat reaksi lawannya.
Salah satu hacker kembali bicara, “Kami berhasil memutus seluruh jalur komunikasi yang tadi disadap Black Viper, Tuan.”
“Bagaimana dengan sistem mansion?”
“Sudah aman untuk sementara.”
Bara mengangguk tipis.
Sedangkan di sisi lain ruangan, Rosline masih terlihat pucat setelah kejadian tadi. Bara menoleh pelan ke arahnya.
“Kembali ke kamar.”
Rosline langsung menatapnya ragu. “Tapi...”
“Malam ini aman.” potong Bara rendah. “Aku sudah pastikan itu..”
Sorot mata pria itu terlalu serius untuk dibantah. Akhirnya Rosline mengangguk pelan sebelum salah satu pelayan wanita mengantarnya keluar dari ruang kerja menuju lantai atas. Begitu pintu tertutup, suasana ruangan kembali berat.
Edwin berjalan pelan mendekati Bara. “Jadi sekarang apa yang ingin kau lakukan?”
Bara mengambil pistol hitam dari meja lalu memeriksa pelurunya dengan tenang. “Kita ke pelabuhan.”
Tatapan Edwin langsung berubah serius. “Sekarang?”
“Victor pasti masih di sana.”
“Kau yakin?”
Bara tersenyum tipis tanpa kehangatan. “Victor suka menonton kekacauan yang dia buat sendiri.”
Edwin menghela napas kecil sambil menyandarkan tubuh ke meja. “Apa itu tidak berbahaya jika kau harus menjumpai Victor langsung?”
Bara memasukkan pistolnya kembali ke balik jas hitam. “Aku harus mengajaknya bicara.”
“Bicara?” Edwin tertawa kecil tidak percaya. “Sejak kapan kalian bisa menyelesaikan sesuatu dengan bicara?”
Tatapan Bara berubah dingin. “Aku tidak bisa terus menghindar.”
Ruangan langsung sunyi.
Beberapa detik kemudian, Bara mengambil kunci mobil di meja lalu berjalan menuju pintu. “Siapkan tim.” perintahnya rendah. “Aku ingin seluruh area pelabuhan timur diperiksa malam ini.”
“Baik, Tuan.”
Namun tepat sebelum Bara keluar dari ruangan…
Edwin kembali berkata pelan, “Hati-hati.”
Langkah Bara berhenti sebentar.
“Victor bukan hanya ingin menyerang bisnis keluarga Alexander.” lanjut Edwin serius. “Dia ingin menghancurkanmu secara pribadi.”
Tatapan Bara perlahan berubah gelap. “Aku tahu ity.”
Lalu pria itu melanjutkan langkahnya keluar dari ruang kerja.
Sedangkan di lantai atas mansion, Rosline berdiri diam di balik pintu kamarnya yang sedikit terbuka. Gadis itu tanpa sengaja mendengar sebagian percakapan tadi.
Dan entah kenapa, perasaannya tiba-tiba menjadi sangat tidak tenang saat mendengar Bara akan pergi menemui Victor.
Malam semakin larut saat beberapa mobil hitam keluar satu per satu dari halaman belakang mansion Alexander.
Lampu kendaraan itu menembus jalanan kota yang mulai sepi menuju area pelabuhan timur.
Di dalam mobil utama…
Bara duduk diam di kursi belakang sambil menatap keluar jendela. Wajahnya dingin tanpa ekspresi. Sedangkan Edwin duduk di seberangnya sambil memperhatikan pria itu sejak tadi.
“Kau terlihat terlalu tenang.” gumam Edwin akhirnya.
Bara tidak langsung menjawab. “Aku hanya berpikir.” ucapnya rendah.
“Tentang Victor?”
Tatapan Bara perlahan berubah tajam. “Tentang kenapa dia tiba-tiba berhenti malam ini.”
Edwin menyandarkan tubuhnya pelan. “Bukankah itu bagus?”
“Tidak.” Jawaban Bara terdengar cepat dan dingin. “Victor tidak pernah mundur tanpa alasan.” lanjutnya pelan. “Kalau dia menghentikan permainannya sekarang, berarti dia sedang menyiapkan sesuatu yang lebih besar.”