Keadaan berubah ketika Nowi memergoki kekasihnya berselingkuh tepat di atas ranjang mereka sendiri. Baru saat itulah ia menyadari bahwa seluruh kenyamanan yang selama ini dinikmatinya tak lagi miliknya. Padahal sebelumnya Nowi memiliki segalanya. Karier cemerlang, kehidupan berkecukupan, dan pasangan yang berparas tampan.
Kini, semuanya telah sirna. Tak ada lagi tempat tinggal, tak ada lagi sumber penghasilan, dan satu-satunya jalan keluar yang tersisa adalah menjual rumah warisan orang tuanya di kota Batu. Tempat yang sangat dibencinya, sarat akan kenangan pahit, serta menyimpan satu rahasia besar yang telah ia kubur dalam-dalam sejak masa remaja.
Kehancuran hidupnya itu pun memaksanya kembali menghadapi masa lalu yang telah ia tinggalkan sepuluh tahun silam, serta satu-satunya pria yang mencintainya sepenuh hati, sekaligus sosok yang paling menderita karenanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Banyak Hal yang Telah Berubah
Vito memiringkan kepala menatapnya sebentar, lalu menerima jawaban itu dan tidak bertanya hal lain lagi.
“Kalau kamu mau langsung pulang atau pergi ke tempat lain, kita langsung jalan sekarang,” kata Vito pelan. “Atau kamu tunggu di sini aja, aku masuk sebentar beli pesanan terus kita pergi. Semua terserah kamu.”
Nowi menggeser kakinya karena gelisah, sementara jari tangannya saling bertaut dan dipilin-pilin. Vito menunduk melihat kebiasaan itu, lalu langsung memegang kedua tangan Nowi dan menggenggamnya erat agar ia berhenti.
“Aku nggak bakal ngelakuin apa pun yang bikin kamu gak nyaman, dan aku nggak bakal biarin hal buruk apa pun terjadi ke kamu. Entah itu fisik, perasaan, atau hal lain apa aja. Tapi sejujurnya aku pengin banget ngajak kamu masuk, minum kopi dan makan ketan bareng aku.”
Nowi tiba-tiba merasa sangat ingin memakan ketan hangat dan minum kopi susu. Ia juga sadar sebenarnya ia sanggup melewati semua ini. Ia lahir dan tumbuh besar di kota ini.
“Oke deh.” Nowi menarik napas dalam sekali lagi untuk mengumpulkan keberanian. “Ayo masuk.”
“Nah gitu dong.”
Vito hanya melepas satu tangan Nowi, lalu berbalik badan sambil tetap menarik tangan gadis itu melangkah melewati jalan berbatu menuju pintu masuk kedai. Bu Ninik duduk santai di kursi depan pintu sambil memangku seekor anak anjing kecil berbulu putih.
“Wah, tontonan tadi keren banget. Jadi kamu udah kembali, Nowi?”
Nowi kehilangan kata-kata. Ucapan wanita tua itu terlalu terus terang.
“Selamat pagi juga, Bu Ninik,” sapa Vito santai.
Anjing kecil di pangkuan Bu Ninik langsung melompat turun. Hewan itu menggeram lalu menggigit kaki dan pergelangan kaki Vito berulang kali.
“Serius, Bu Ninik? Harus begini terus tiap aku beli kopi? Anjing itu butuh tali kekang!” gerutu Vito.
“Namanya Blacky, dasar bodoh. Dia nggak butuh tali, dia jadi nakal cuma kalau kamu datang.”
Nowi terkekeh mendengar ucapan itu. Vito langsung menatapnya dengan wajah kesal. Nowi melepas genggaman tangan Vito lalu berjongkok di depan anjing itu. Dia mengulurkan telapak tangan agar diendus.
“Hai Blacky, hai cantik.”
Anjing itu berjalan mendekat secara perlahan. Ia mengendus tangan Nowi lalu menjilatnya beberapa kali sambil mengibaskan ekor dengan kencang. Blacky tetap diam saat Nowi menggendongnya. Hewan itu bersandar nyaman di dada Nowi dan membiarkan bulunya dibelai.
“Blacky manis banget, Bu Ninik. Ini aku balikin ya.”
Nowi meletakkan anjing itu kembali ke pangkuan wanita tua itu. Ia melihat Vito sedang menggelengkan kepala melihat kelakuannya.
Vito membuka pintu Ketan Legenda. Begitu masuk, Nowi langsung terkesan dengan perubahan tampilan ruangan yang tampak baru.
Tulisan nama toko terpasang di atas meja kasir dengan huruf berbentuk lengkungan yang indah. Tanaman gantung menghiasi langit-langit di beberapa sudut, sementara tanaman lain diletakkan di dalam keranjang rotan berukuran besar.
Etalase kaca terisi penuh oleh aneka kue dan roti yang tampak lezat. Pemandangan ini sangat berbeda dengan Ketan Legenda yang sering ia kunjungi saat masa kanak-kanak dulu.
“Kamu bakal butuh suntik vaksin rabies habis pegang hewan liar kayak gitu,” bisik Vito persis di sebelah telinganya.
Tangan Vito menekan lembut punggungnya melalui jaket kulit yang dipakainya. Rasa hangat menjalar ke seluruh tubuh dan membuat jantungnya berdebar kencang.
Nowi segera menyingkirkan perasaan itu dari pikirannya lalu menepuk dada Vito secara pelan.
“Aduh, berisik deh kamu. Itu kan cuma anak anjing, dasar!”
“Bukan sekadar anak anjing. Makhluk satu itu aneh, nyebelin, dan beneran bikin emosi kalau ketemu.”
“Ah masa sih? Badannya aja cuma segede sepatu kamu, Vito. Sebegitu bahayanya emangnya?”
“Nanti kamu bakal kaget sendiri kalau tahu sifat aslinya.”
Mereka berjalan mendekati meja kasir. Nowi hampir tidak kuat menahan air liur melihat tumpukan kue di hadapannya.
“Hei, Vito!”
Suara perempuan terdengar ceria dari arah belakang. Nowi langsung menoleh dan secara refleks menatap wajah Vito. Jelas sekali, lelaki setampan Vito pasti pernah dekat dengan banyak perempuan, namun Nowi belum siap bertemu dengan salah satu dari mereka.
“Hei, Enni! Pesanan yang biasa ya, tapi kali ini buat dua porsi,” jawab Vito santai.
“Siapa tuh?” tanya Nowi sambil menatap dengan rasa penasaran.
“Aku tunggu sampai otak kamu nyambung dulu deh.”
“Sialan … Jangan bilang ini Anggraini ya?”
“Nah gitu dong, akhirnya sadar juga,” kata Vito sambil menyengir.
Nowi langsung memukul lengan lelaki itu menggunakan punggung tangannya. Anggraini datang membawa kantong kertas putih lalu meletakkannya di atas meja. Wanita itu belum menyadari kehadiran Nowi di sana.
Rambut Anggraini diwarnai cokelat terang dan ditata bergelombang hingga sebahu. Di sepanjang lengannya tampak gambar bunga rumit berupa tato yang tampak masih baru.
“Ini dua bungkus ketan. Kopinya bentar lagi siap ya,” kata Anggraini sambil berbalik badan menuju mesin pembuat kopi.
Nowi menatap ke arah Vito dan mendapati lelaki itu sudah menatapnya sejak tadi. Tangannya mulai bergerak gelisah dan jari-jarinya saling terkait tanpa disadari.
Vito segera menggenggam kedua tangan Nowi agar tenang.
“Pesanan biasanya?” tanya Nowi lagi.
“Iya.”
“Sejak kapan sih kamu suka makan ketan?”
“Sejak hari kamu pergi ninggalin kota ini.”
Nowi menatap tajam manik mata lelaki itu, berusaha memahami maksud di balik ucapannya. Vito kembali mendekatkan mulutnya ke telinga Nowi, “Dan satu hal lagi, aku nggak pernah bilang aku suka kue itu.”
Mata Nowi langsung berkaca-kaca mendengar ucapan itu. Belum sempat air mata jatuh, Anggraini sudah kembali membawa dua gelas kopi panas.
Anggraini berhenti melangkah tepat saat melihat sosok Nowi di hadapannya. Nowi menegakkan badannya lalu tersenyum dengan perasaan malu dan ragu.
“Hai Anggraini.”
Nowi belum mengetahui bagaimana tanggapan warga kota ini atas kepulangannya. Batu merupakan kota yang sangat kecil. Menyakiti satu orang di sini rasanya sama dengan menyakiti satu kota.
“Nowi?”
Mulut Anggraini terbuka sedikit. Ia melirik ke arah Vito meminta kepastian.
“Iya Enni, dia beneran Nowi. Datang kemarin sore. Sementara ini dia bakal tinggal di rumahku, tapi tolong jangan sebarin berita ini dulu ya, kita mau rahasiain sebentar,” jelas Vito.
“Ya Tuhan … beneran kamu yang balik?”
“Mama!” Seorang anak perempuan kecil berlari keluar dari ruang belakang sambil mengulurkan tangannya ke arah Anggraini.
“Mama?” Mata Nowi terbelalak kaget. “Ya ampun Anggraini, kamu udah punya anak?”
“Banyak banget hal yang berubah di sini selama kamu pergi,” jawab Anggraini santai.