NovelToon NovelToon
LOOP ZERO

LOOP ZERO

Status: tamat
Genre:Action / Sistem / Fantasi / Tamat
Popularitas:792
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Vero terjebak dalam Time Loop. Dia adalah satu-satunya orang yang mengingat ledakan itu. Dia harus menemukan pelakunya, menjinakkan bom, dan menyelamatkan seisi kota Jakarta. Namun, takdir memiliki aturan main yang kejam: Setiap kali Vero gagal dan mati, waktu yang dimilikinya berkurang satu menit.
​Loop pertama: 60 menit.
Loop kedua: 59 menit.
Loop ketiga: 58 menit.
​Dengan waktu yang terus tergerus, Vero dipaksa belajar menjadi detektif, tentara, dan penyusup dalam hitungan jam yang berulang. Di tengah kepanikan massal dan teror psikologis, dia menyadari satu hal mengerikan: Pelakunya mungkin bukan orang asing, dan ledakan ini hanyalah permulaan.
​Ketika hitungan mundur mendekati nol, Vero tak hanya bertaruh nyawa—dia bertaruh pada keberadaan itu sendiri.
​Bisakah dia menghentikan kiamat kecil ini sebelum waktunya habis total?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: JUDI RUSIA

08:05:10

Jari telunjuk Vero menempel pada pelatuk dingin senapan runduk itu.

Melalui lensa teleskop, wajah Maya terlihat begitu jelas. Air mata, ketakutan, dan gerakan bibirnya yang berulang-ulang: "Adrian menjebakku."

Di belakang Vero, Adrian berdiri dengan senyum kemenangan.

"Tiga detik, Vero. Sebelum dia masuk ke dalam kereta dan membawa virus itu pergi."

Vero menarik napas dalam.

Otaknya memproses dua narasi yang bertentangan.

Narasi A (Adrian): Maya adalah Pasien Nol. Dunia akan kiamat karena virus. Adrian adalah pahlawan tragis yang harus membunuh demi kebaikan.

Narasi B (Maya): Adrian menjebaknya. Maya adalah korban. Adrian adalah manipulator.

Vero membedah logika Adrian.

Jika Adrian adalah Looper yang sudah mengulang ini 50 kali... kenapa dia butuh aku?

Kenapa dia tidak menembak Maya sendiri dari awal?

Kenapa dia berada di Ruang Kontrol, tepat di atas zona ledakan?

Seorang Looper yang ingin menyelamatkan dunia akan memposisikan dirinya di tempat aman untuk memantau hasil, bukan di zona kematian. Kecuali... kematian Adrian adalah bagian dari pemicunya?

Tidak. Adrian menekan tombol Pause tadi. Dia ingin hidup. Dia ingin melihat hasilnya.

Dan soal Dead Man's Switch (Pemicu Detak Jantung)?

Jika Adrian mati, bom meledak.

Itu terdengar seperti gertakan dari seseorang yang takut dibunuh.

"Satu detik," desak Adrian.

Vero membuat keputusannya.

Bukan Opsi A. Bukan Opsi B.

Dia memilih berjudi.

Vero menggeser laras senapan itu dengan gerakan kilat.

Bukan ke arah Maya di peron bawah.

Tapi memutar 180 derajat ke belakang, tanpa melihat melalui teleskop, menembak dari pinggang (no-scope).

DOR!

Suara letusan senapan laras panjang itu menggelegar di ruang tertutup.

Peluru kaliber 7.62mm tidak menghantam dada atau kepala Adrian.

Peluru itu menghancurkan paha kanan Adrian.

"ARGHHH!"

Adrian menjerit, tubuhnya ambruk ke lantai. Darah segar menyembur dari arteri femoralisnya.

Tangan kanannya yang memegang pemicu jarak jauh terlepas karena syok rasa sakit.

Alat pemicu itu jatuh bergemerincing di lantai marmer.

Sarah menjerit, menutup telinganya.

Vero menahan napas. Matanya terpejam.

Menunggu ledakan.

Menunggu stasiun runtuh karena jantung Adrian yang berpacu kencang atau pemicu yang terlepas.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Hening.

Hanya suara erangan kesakitan Adrian yang memecah kesunyian.

Stasiun masih berdiri. Tanah tidak berguncang.

Vero membuka mata, lalu membuang senapan itu ke lantai. Dia mencabut Glock 19 dari pinggangnya dan berjalan mendekati Adrian yang menggeliat kesakitan.

"Gertakan," kata Vero dingin. "Tidak ada Dead Man's Switch. Kau cuma takut mati."

Adrian menatap Vero dengan mata nyalang, wajahnya pucat pasi, giginya gemeretuk menahan sakit.

"Kau... bajingan gila..." desis Adrian. "Kau mempertaruhkan jutaan nyawa demi insting?"

"Aku mempertaruhkannya demi logika," balas Vero. Dia menendang alat pemicu itu jauh-jauh. "Looper sejati tidak akan mengikat nasibnya pada detak jantung. Kita terlalu sering mati untuk mempercayai jantung kita sendiri."

Vero berjongkok, menekan laras Glock ke dahi Adrian.

"Sekarang, cerita yang sebenarnya. Siapa Maya? Dan kenapa kau sangat ingin dia mati sampai harus merekrut orang lain?"

Adrian tertawa di sela erangannya. Darah mulai menggenang di sekitar kakinya.

"Kau pikir kau menang? Lihat jamnya, jenius."

Vero menoleh ke dinding.

08:06:00.

Tombol Pause yang ditekan Adrian tadi berkedip merah.

SYSTEM RESUMING IN 04:00.

"Aku tidak bohong soal bomnya," kata Adrian tersengal. "Aku cuma bohong soal pemicunya. Bom di fondasi itu punya timer independen. Aku menundanya 10 menit. Sekarang tinggal 4 menit lagi sebelum Auto-Resume."

"Batalkan!" bentak Vero.

"Tidak bisa," Adrian menyeringai darah. "Hanya bisa ditunda. Tidak bisa dibatalkan tanpa kode biometrik Maya. Itu ironinya, Vero. Maya adalah kuncinya. Sistem keamanan Triad dikunci dengan DNA-nya. Aku butuh dia mati agar sistemnya reset karena kehilangan admin, atau aku butuh dia hidup untuk membuka kuncinya."

Vero tertegun.

"Jadi kau membunuhnya bukan karena virus..."

"...tapi karena dia satu-satunya orang yang bisa mengakses Vault (Brankas Data) Triad," potong Adrian. "Aku sudah mencoba memaksanya membuka di loop sebelumnya. Dia menolak. Dia lebih memilih mati. Jadi aku memutuskan: kalau aku tidak bisa memiliki datanya, tidak ada yang boleh memilikinya."

"Data apa?"

"Project Zero. Cetak biru mesin waktu," bisik Adrian. "Alat yang membuat kita terjebak di sini."

Dunia Vero berhenti berputar sejenak.

Mesin waktu.

Triad Industries bukan sekadar kontraktor militer. Mereka sedang membangun mesin waktu.

Dan Loop ini... adalah efek samping dari eksperimen mereka?

"Maya mencuri kunci enkripsinya," lanjut Adrian, suaranya makin lemah. "Dia membawanya di dalam tas itu. Bukan virus. Tapi Drive berisi kode sumber."

Vero berdiri.

Situasinya berubah 180 derajat.

Maya bukan ancaman. Maya adalah solusi.

Maya memegang kunci untuk menghentikan Loop ini secara permanen.

"Sarah!" teriak Vero. "Ikat dia! Tekan lukanya biar dia tidak mati kehabisan darah! Kita butuh dia hidup untuk informasi nanti!"

Sarah, yang masih syok, mengangguk patah-patah. Dia merobek kemeja mayat penjaga untuk membuat torniket darurat di paha Adrian.

Vero berlari ke jendela pecah.

Dia melihat ke bawah. Ke Peron 3.

Maya masih di sana, terlihat bingung karena kereta belum berangkat (efek gangguan sinyal yang dibuat Adrian di ruang kontrol). Dia sedang celingukan mencari jalan keluar.

"Kita harus menjemputnya," kata Vero. "Kita punya 3 menit 30 detik sebelum stasiun ini runtuh."

"Vero!" panggil Sarah. "Pintu!"

Vero menoleh.

Di layar monitor CCTV koridor, terlihat satu peleton pasukan Unit Delta sedang berlari menaiki tangga menuju Ruang Kontrol. Mereka tahu bos mereka diserang.

"Sial," umpat Vero.

Jalan masuk sudah diblokir.

Satu-satunya jalan keluar adalah lewat jendela.

Vero melihat ke bawah. Tinggi lantai 2 ke peron sekitar 6 meter. Di bawahnya adalah atap kios makanan.

"Sarah, lupakan Adrian!" perintah Vero. "Dia cuma pengalih perhatian sekarang. Kita harus turun. Kita harus dapatkan Maya sebelum bom meledak atau pasukan Triad membunuhnya."

"Turun lewat mana?!" Sarah melongok ke jendela dan wajahnya makin pucat.

"Lewat gravitasi," kata Vero.

Dia mengambil gulungan selang pemadam kebakaran dari kotak di dinding, mengikatkan satu ujungnya ke pilar beton.

"Ayo!"

Vero memeluk pinggang Sarah dengan satu tangan, tangan lainnya memegang selang.

"Tahan napas."

Mereka melompat keluar jendela tepat saat pintu baja Ruang Kontrol diledakkan oleh pasukan Unit Delta.

DUAR!

Vero dan Sarah meluncur turun, bergelantungan pada selang, sementara peluru mulai berdesing di atas kepala mereka dari jendela yang pecah.

Mereka mendarat keras di atap kios Roti 'O', lalu berguling jatuh ke lantai peron yang keras.

"Aduh!" Sarah meringis, lututnya lecet.

Vero langsung bangkit, menarik Sarah berdiri.

"Lari! Cari wanita jaket denim! Tas medis!"

Kerumunan di peron mulai panik melihat ada dua orang jatuh dari langit dan suara tembakan dari atas. Kekacauan massal terjadi.

Vero menyeruak kerumunan.

Waktu tersisa: 2 Menit.

Di tengah lautan manusia, Vero melihatnya.

Maya.

Wanita itu terhimpit di dekat pilar, memeluk tasnya erat-erat, matanya liar ketakutan.

Vero berlari mendekat.

"MAYA!"

Maya menoleh. Melihat Vero yang berdarah-darah dan membawa pistol.

Wajah Maya berubah horor. Dia mengira Vero adalah pembunuh kiriman Adrian.

"JANGAN MENDEKAT!" Maya berteriak, lalu nekat melompat turun dari peron ke rel kereta api untuk melarikan diri.

"SIALAN!" teriak Vero. "JANGAN LARI KE REL!"

Di kejauhan, lampu sorot Kereta Bandara yang masuk terlihat semakin dekat.

Dan dari arah tangga, pasukan Unit Delta mulai menuruni peron, senjata terarah.

Ini bukan lagi misi penyelamatan.

Ini adalah balapan maut di tengah stasiun yang 120 detik lagi akan menjadi kawah raksasa.

...****************...

...Bersambung.......

...Terima kasih telah membaca📖...

...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...

...****************...

1
yumin kwan
keren.... serasa menonton film. ga kebayang mengulang waktu terus, matinya kena bom pula. Terima kasih Kak author....
Ai Emy Ningrum
Vero yg mati berkali kali..aku yg capek 😅😅 time loop kek di pilem Hollywood...
about a time,project almanac ,edge of tomorrow,the butterfly effect,until dawn dsb...time loop sendiri didunia nyata mustahil terjadi ..🤔🤔🤔
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
masih loading kejadian yg menimpa vero
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
mati berulang kali ver
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!