NovelToon NovelToon
Terjebak Pernikahan Dengan Gus

Terjebak Pernikahan Dengan Gus

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:231.2k
Nilai: 5
Nama Author: Julia And'Marian

Keira tidak pernah menyangka—keputusan sederhana untuk bersembunyi di sebuah rumah kosong justru mengubah seluruh jalan hidupnya. Niatnya hanya menghindar dari masalah yang mengejarnya, mencari tempat aman untuk sesaat. Namun takdir seolah punya rencana lain.
Sebuah kesalahpahaman terjadi.
Dan dalam hitungan waktu yang begitu singkat… Keira terikat dalam pernikahan dengan seorang pria yang bahkan belum pernah ia kenal sebelumnya.
Gus Zayn.
Pria yang datang ke rumah itu bukan untuk mencari masalah—melainkan hanya menjalankan permintaan temannya untuk mensurvei sebuah rumah yang akan dibeli. Ia tak pernah membayangkan, langkahnya hari itu justru menyeretnya ke dalam sebuah ikatan suci yang sama sekali tidak ia rencanakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 24

Keira langsung refleks menyembunyikan tangannya ke belakang.

“Nggak apa-apa...” gumamnya cepat.

Namun tatapan Gus Zayn justru semakin fokus pada wajah gadis itu.

“Tangannya kenapa?”

Suara pria itu tetap tenang, tapi ada nada khawatir samar di sana.

Ummi Halimah menghela napas kecil. “Jarinya sedikit kena pisau. Baru pertama belajar ngiris bawang malah terlalu semangat.”

Keira langsung malu setengah mati.

“Ummi...”

Sedangkan Gus Zayn berjalan mendekat tanpa banyak bicara. Langkahnya tenang, namun tatapannya tidak lepas dari tangan Keira yang masih disembunyikan.

“Coba saya lihat.”

“Saya nggak apa-apa, Gus.”

“Zaujati...”

Nada suaranya lembut.

Tapi cukup untuk membuat Keira pelan-pelan mengulurkan tangannya.

Ada luka kecil di ujung jarinya. Tidak besar sebenarnya, namun tetap membuat alis Gus Zayn sedikit berkerut.

“Sudah dibilang pelan-pelan.” gumam pria itu lirih.

Keira menunduk malu. “Saya tadi nggak fokus...”

“Memikirkan apa sampai tidak fokus?”

Pertanyaan itu membuat Keira langsung salah tingkah sendiri.

Mana mungkin ia bilang kalau sejak tadi terus teringat ucapan Gus Zayn semalam.

Ummi Halimah yang melihat ekspresi mereka diam-diam tersenyum kecil.

“Sebentar, Ummi ambilkan obat dulu.”

Setelah Ummi Halimah pergi ke lemari dapur, suasana mendadak terasa lebih sunyi.

Keira masih menunduk, sementara Gus Zayn tetap memegang pelan tangannya agar bisa melihat luka itu lebih jelas.

Jantung Keira langsung berdegup tidak karuan.

“Gus... nanti di orang lihat...”

“Lalu?”

Keira kehilangan kata-kata lagi.

Pria itu kemudian mengambil sapu tangan kecil dari sakunya dan membersihkan sedikit darah di ujung jari Keira dengan hati-hati.

Gerakannya pelan sekali.

Seolah takut membuat Keira kesakitan.

“Perih?” tanyanya rendah.

Keira menggeleng pelan. Padahal yang terasa justru bukan perih.

Melainkan gugup.

Tak lama kemudian Ummi Halimah kembali membawa kotak obat kecil.

“Nah sini, Ummi obati.”

Namun Gus Zayn lebih dulu menerima obat itu.

“Biar Zayn saja, Ummi.”

Keira langsung membelalak kecil. “Gus, nggak usah—”

“Diam zaujati...”

Lagi-lagi jawaban singkat itu membuat Keira tidak bisa membantah.

Dengan telaten, Gus Zayn mengoleskan obat pada luka kecil di jari Keira lalu menutupnya dengan plester.

Sementara Azizah yang ada di dapur diam-diam mulai saling melirik dengan ummi Halimah sambil menahan senyum.

Belum pernah mereka melihat Gus Zayn yang terkenal tenang dan sulit didekati memperlakukan seseorang selembut itu.

Setelah selesai, Gus Zayn akhirnya melepaskan tangan Keira perlahan.

“Lain kali hati-hati.”

Keira mengangguk kecil. “Iya...”

“Kalau belum bisa, jangan dipaksa.”

Kalimat itu sederhana.

Namun entah kenapa terdengar begitu menenangkan di telinga Keira.

Ummi Halimah tersenyum hangat melihat keduanya.

“Zayn.”

“Hmm?”

“Mulai sekarang kayaknya Keira lebih nurut sama kamu daripada sama Ummi.”

Keira langsung panik. “Ummiii...”

Keira semakin salah tingkah karena godaan Ummi Halimah tadi. Gadis itu buru-buru kembali berdiri di depan meja dapur, berusaha terlihat sibuk meski pipinya masih merah.

Sedangkan Gus Zayn masih berdiri di dekatnya dengan tatapan tenang.

“Sekarang coba lagi ngirisnya.” ujar Ummi Halimah lembut.

Keira langsung menoleh panik. “Hah? Lagi?”

“Tadi cuma kena sedikit.”

“Tapi saya takut salah lagi, Ummi.”

Ummi Halimah tersenyum kecil sebelum akhirnya melirik putranya. “Ya sudah, diajari Zayn saja.”

Deg.

Keira spontan menoleh cepat ke arah Gus Zayn.

“G-gak usah repot—”

Namun pria itu sudah berjalan mendekat ke sampingnya.

“Geser sedikit.”

Keira menurut dengan gugup.

Kini posisi mereka terlalu dekat.

Sangat dekat malah.

Keira bahkan bisa mencium samar aroma kasturi dari tubuh Gus Zayn yang membuat napasnya mendadak tidak teratur.

Pria itu mengambil pisau perlahan dari tangan Keira.

“Pegangnya begini.” ucapnya tenang.

Lalu tanpa banyak bicara, Gus Zayn membimbing posisi tangan Keira dari belakang.

Tubuh gadis itu langsung menegang.

“Gus...” suaranya mengecil.

“Hmm?”

“Dekat banget...”

Tangan Gus Zayn sempat berhenti sebentar sebelum akhirnya terdengar tawa rendah dari bibirnya.

“Kalau jauh, nanti jarimu kena lagi.”

Keira langsung kehilangan jawaban.

Sedangkan Ummi Halimah yang melihat dari samping hanya tersenyum geli sambil pura-pura sibuk mengaduk masakan.

“Nah.” ujar Gus Zayn lembut. “Pisau jangan ditekan terlalu kuat.”

Keira berusaha fokus.

Sungguh.

Tapi bagaimana caranya fokus kalau suara Gus Zayn terdengar sangat dekat di telinganya seperti ini?

“Pelan-pelan.”

Kalimat itu lagi.

Dan entah kenapa setiap Gus Zayn mengucapkannya, hati Keira selalu terasa tenang.

Perlahan, potongan bawang mulai terlihat lebih rapi.

“Masha Allah, bisa ternyata.” puji Ummi Halimah hangat.

Keira sedikit membulatkan mata melihat hasil irisannya sendiri.

“Saya berhasil...”

Gus Zayn tersenyum kecil di sampingnya. “Kan sudah saya bilang.”

Keira menoleh sebentar.

Dan mendapati pria itu sedang menatapnya dengan sorot mata lembut yang membuat jantungnya kembali tidak aman.

Cepat-cepat Keira membuang muka.

Namun detik berikutnya—

“Ah!”

Mata Keira langsung berair karena aroma bawang mulai terasa perih.

Ia buru-buru mengusap matanya panik.

“Jangan diusap.” Gus Zayn langsung menahan pergelangan tangannya pelan. “Nanti makin perih.”

“Tapi pedih...” keluh Keira lirih.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Gus Zayn mengambilkan gelas air di dekatnya lalu menyerahkannya pada Keira.

“Cuci matamu pelan.”

Cara pria itu memperhatikannya lagi-lagi membuat ummi dan Azizah melirik sambil menahan senyum kecil.

"Masya Allah, abangku yang kaku itu rupanya penuh perhatian juga sama kakak iparku!!" celetuk Azizah membuat Keira menahan malu.

Keira buru-buru menunduk setelah mendengar ucapan Azizah tadi. Rasanya wajahnya sudah panas sekali sampai tidak berani menatap siapa pun.

Sedangkan Gus Zayn terlihat tetap tenang seperti biasa.

Namun samar-samar, ada senyum tipis di sudut bibir pria itu.

Setelah kegiatan memasak selesai, Ummi Halimah meminta Keira mengantarkan beberapa gelas teh hangat ke serambi depan ndalem tempat beberapa santri putra sedang membantu menata kitab dan meja pengajian. Sedangkan Gus Zayn sedang menelpon seseorang.

Keira sempat ragu.

“Tapi Ummi... saya?”

“Iya kamu sama Azizah.” Ummi Halimah mengangguk lembut. “Tidak apa-apa. Mereka juga sudah seperti anak sendiri.”

Keira akhirnya menurut pelan.

Dengan nampan di tangan, ia berjalan hati-hati menuju serambi depan.

Beberapa santri putra yang sedang duduk langsung berdiri sopan saat melihat Keira datang.

“Nuwun sewu, Ning...” ujar salah satu dari mereka sambil membantu mengambil gelas teh dari nampan.

Keira langsung gugup. “I-iya...”

Ia menunduk kecil, berusaha tidak terlalu banyak menatap mereka.

Namun saat hendak kembali ke dapur, salah satu santri putra yang usianya mungkin tak jauh darinya tiba-tiba memanggil pelan.

“Ning Keira.”

Keira menoleh bingung. “Iya?”

Santri itu terlihat ragu sesaat sebelum akhirnya mengambil sebuah kitab kecil bersampul hijau dari tumpukan di dekatnya.

“Ini... tadi saya lihat panjenengan belum punya kitab dasar buat belajar.”

Keira membelalak kecil. “Hah?”

“Saya ada kitab lebih.” lanjut santri itu sopan. “Kalau Ning berkenan, ini buat dipakai belajar.”

Keira langsung salah tingkah.

“E-eh nggak usah repot—”

“Tidak repot, Ning.”

Santri itu tersenyum kecil lalu mengulurkan kitab tersebut dengan penuh hormat.

Keira bingung harus bagaimana.

Azizah yang ada di samping Keira menyenggolnya. "Ambil aja mbak, lumayan." Bisik Azizah usil. Ia ingin melihat singa yang ada di belakangnya mengamuk.

Tes tes, coba saja, tidak ada salahnya bukan? Kapan lagi membuat abangnya yang kaku itu marah.

"Ini nggak apa-apa?" Tanya Keira.

"Nggak dong. Kenapa emangnya? Dia baik juga." Ucap Azizah.

Keira menatap pemuda itu yang tengah tersenyum malu-malu. Tangannya terulur ingin mengambil kitab itu, namun tiba-tiba..

“Kitab siapa itu?”

Suara rendah dan tenang itu mendadak terdengar dari belakang.

Deg.

Jantung Keira langsung melonjak kecil.

Para santri putra spontan menegang dan buru-buru menundukkan kepala.

“G-Gus...” ujar mereka hampir bersamaan.

Keira menoleh perlahan.

Dan benar saja.

Gus Zayn berdiri di ambang pintu serambi dengan tatapan datar yang entah kenapa terasa begitu tajam pagi itu.

Pria itu melangkah mendekat dengan tenang.

Tatapannya bergantian pada kitab di tangan santri tersebut lalu pada Keira.

“Untuk apa?”

Santri itu langsung gugup. “I-ini Gus... saya cuma mau memberikan kitab untuk Ning Keira belajar.”

Hening beberapa detik.

Keira bahkan ikut menahan napas.

Namun Gus Zayn akhirnya mengangguk kecil.

“Niatanmu baik.”

Santri itu sedikit lega.

“Tapi untuk urusan belajar Keira,” lanjut Gus Zayn tenang, “biar saya yang membimbing.”

Deg.

Keira langsung menatap pria itu cepat.

Sementara para santri putra hanya mengangguk patuh. “I-iya Gus.”

Gus Zayn lalu mengambil kitab kecil itu perlahan. Sorot matanya jelas menunjukkan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.

“Terima kasih.” ucapnya sopan pada santri tersebut. “Kitabnya akan tetap dipakai, tapi saya yang pakai.”

Santri itu langsung lesu. “Baik Gus.”

Setelah itu, Gus Zayn menoleh pada Keira.

“Ayo.” Ajak Gus Zayn.

Sedangkan Azizah terkikik geli melihat ekspresi kesal abangnya..

"Hahahaha.. Gitu mau di rahasiain, udah tau kakak iparku itu spek bidadari. Rasain.."

#Ini udah banyak... Jangan lupa komentarnya ya.. Kalau suka kasih bintangnya dong... Likenya juga.. terimakasih

1
Cah Dangsambuh
astaghfirllah al kenapa aktifnya sudah terbentuk dari balita ya 🤣🤣🤣 nah lho mas ojol kena hukuman dari al lagian kenapa ikutan main mobilan juga
Cah Dangsambuh
obrolan hangat penghantar tidur
Cah Dangsambuh
allahu akbar ya allah ya karim kenapa adik mo di kasih nama ayam atau ojol sih al kamu tuh lucu atau memang lagi ngelawak🤣 tar manggilnya ning ayam /gus ojol bapakmu aja kalo manghil ibumu bikin lumer seantero jagat mosok kamu mo manggil adiknya ayam/ojol 🤣🤣🤣
Julia and'Marian: hahaha
total 1 replies
Dokkan Battle
GUS GUS AGUS
Cah Dangsambuh
iiiih seneng banget masih ada panggilan zaujati kirain dah bener bener pergi kata kata yang bikin candu🤭,,,semangat kak
Cah Dangsambuh
ga papa kak toh endingnya dah pas bertata ga ngegantung,semoga kisah alfian lebik seru dari abinya ,tapi gus zayn jangan di bikin tua kak🤭 aku suka banget debgan karakternya baiknya pol polan sabarnya kelewatan romantisnya bikin ikutan edan🤭🤭🤭💪💪💪💪💪
Cah Dangsambuh
yasalaam al kamu nyaman ya tidul sama mas ojol sampe kebawa ngimpi,,,keyra anakmu kwi lho ga mau kasih kesempatan mas ojolnya zizah buat icip icip dikit🤭
Marini Suhendar
Awas Ya Al..pagi" d omelin abi sama umi😄
Cah Dangsambuh
kak mo nanya,,kemarin notif up dari jam 1 siang tapi bolak balik di bukablum ada nah ada bisa ku baca tadi malam trus ini ada notif up lagi lagi lum nongol apa hpku yang lemot atau gimana kak aku ga sabar buka tapi nihil terus,,maaf soalnya aku gaptek banget🙏🙏🙏🙏
Cah Dangsambuh: oke makasih berarti hpku yg tua🤣🤣🙏
total 3 replies
Cah Dangsambuh
al kamu ganggu bibi ya tar malah umi sama abi kamu yang punya malam panjang,atau jangan jangan ini ide abi kamu supaya kamu gangguin bibi🤣🤣🤣
Marini Suhendar
aihh...aku yg senyum "😄😄😄
Cah Dangsambuh
ahirnya oenantian panjang walaupun banyak rintangan takdir allah tetap memilih dan mereka tetap bersatu dalam takdirnya,di jum'at hari yang begitu agung mereka mengikrarkan janji di hadapan allah SWT yuk yang nunggu nunggu beberapa hari kita langsung meluncur kondangan👍👍👍💪💪💪
Cah Dangsambuh
ya allah saking groginya sampe berulang ulang. awas raka besok harus lancar ya🤭🤭👍
Cah Dangsambuh
yuk kita siapin baju yang bagus uang yang banyak buat kondangan ke umi
Cah Dangsambuh
kurang kak,ujug ujug berganti bulan padahal pingin juga tau proses sadar dan pemulihan sampe ke persiapan lamaran tapi yowislah ga papa masih terima kasih mas ojolnya selamat dan menepati janjinya untuk mbanya💪💪💪🙏
𝐈𝐬𝐭𝐲
Alhamdulillah rasanya ikutan dag-dig-dug....
𝐈𝐬𝐭𝐲
semoga ada keajaiban...
dewi
mewek AQ thor bacanya.....
Rio Mario
Alhamdulillah
pdm
baca smp bab ini kok ikut mewek... pdhl blm tau permasalahannya apa. berasa lg motong bawang merah /Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!