Ghazali Atharrazka adalah perwujudan dari presisi dan kedinginan yang sempurna. Sebagai Kapten termuda dengan rekam jejak tanpa celah, hidupnya diatur oleh jam dinding dan hukum militer yang kaku. Baginya, kesalahan adalah aib dan kecerobohan adalah gangguan yang harus dimusnahkan. Dia adalah pria dengan tatapan sedingin es yang mampu membungkam satu batalion hanya dengan satu kata.
Lalu hadir seorang bernama Keyra Azzahra
Seorang mahasiswi tingkat akhir yang hidupnya adalah definisi dari kata chaos, Sebuah insiden memaksa mereka tinggal di bawah atap yang sama di lingkungan barak. Di antara derap sepatu laras dan aroma mesiu, mampukah si mahasiswi perusuh mencairkan hati sang Kapten yang membeku? Ataukah markas ini akan meledak karena ulah Keyra yang selalu di luar kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia Seleb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SUMPAH DI BALIK RIMBA
Suara gemuruh dari pangkalan yang hancur perlahan menjauh, digantikan oleh simfoni hutan yang tidak bersahabat. Daun-daun lebar meneteskan sisa air hujan, membasahi wajah Keyra yang sudah penuh dengan tanah dan sisa riasan yang luntur. Di depannya, punggung tegap Ghazali bergerak dengan waspada, sesekali berhenti untuk memastikan tidak ada ranting patah yang menandakan keberadaan musuh.
"Ghaz, istirahat sebentar. Napasmu sudah tidak teratur," bisik Keyra, ia menarik ujung kaos kargo Ghazali agar pria itu berhenti di balik sebuah pohon raksasa yang akarnya melilit seperti rahim bumi.
Ghazali menyandarkan punggungnya pada batang pohon. Keringat dingin mengucur dari pelipisnya. Luka di bahunya yang terkena serpihan kayu saat menahan reruntuhan tempo hari kini kembali berdenyut hebat akibat aktivitas fisik yang ekstrem.
"Kita tidak punya banyak waktu, Key. Unit pemburu kiriman Ayah tidak akan berhenti sebelum mereka mendapatkan chip ini... atau kepalaku," ujar Ghazali dengan suara parau.
Keyra tidak mempedulikan protes itu. Ia membuka tas medisnya yang sudah kusam, mengambil botol antiseptik dan kain kasa. "Kalau kamu pingsan karena infeksi di tengah hutan ini, chip itu tidak akan sampai ke mana-mana. Duduk."
Perintah Keyra yang tegas membuat Ghazali akhirnya menyerah. Ia duduk di antara akar pohon, membiarkan Keyra merobek sedikit bagian seragamnya untuk menjangkau luka. Dalam remang cahaya bulan yang menembus kanopi, Keyra bekerja dengan telaten. Jemarinya yang biasanya memegang nail art cantik kini dengan stabil membersihkan luka bernanah di bahu sang Kapten.
"Sakit?" tanya Keyra pelan saat melihat rahang Ghazali mengeras.
"Tidak sesakit saat aku mengira kehilanganmu di bawah longsor kemarin," jawab Ghazali singkat, namun matanya menatap Keyra dengan intensitas yang membuat gadis itu mendongak.
Hening sejenak. Hanya ada suara jangkrik dan deru angin di pucuk pohon. Di tengah situasi hidup dan mati ini, perasaan yang mereka pendam sejak di paviliun memuncak. Ghazali meraih tangan Keyra yang sedang memegang kasa, menghentikan gerakannya.
"Keyra... jika kita berhasil keluar dari hutan ini hidup-hidup, aku tidak ingin kembali ke status kita yang dulu," ucap Ghazali. Suaranya rendah, bergetar oleh emosi yang tulus.
Keyra terpaku. "Maksudmu?"
Ghazali merogoh saku kecil di celana taktisnya. Ia mengeluarkan sebuah benda kecil bukan cincin permata mewah, melainkan sebuah cincin sederhana yang terbuat dari jalinan kabel tembaga halus dari alat komunikasi yang sudah rusak.
"Aku tidak punya berlian di sini. Tapi kabel ini adalah penyambung nyawaku selama bertahun-tahun di militer. Aku ingin kamu yang memegangnya," Ghazali menatap mata Keyra dalam-dalam. "Jadilah tunanganku. Bukan karena paksaan Ayah, bukan karena perjodohan bisnis, tapi karena aku ingin kamu menjadi satu-satunya alasan aku harus tetap hidup di setiap misi."
Air mata Keyra jatuh, menghapus debu di pipinya. Ia tidak menyangka di tengah hutan perbatasan yang ganas, di bawah ancaman senapan peredam musuh, ia akan mendapatkan lamaran paling nyata dalam hidupnya.
"Kamu kaku, menyebalkan, dan selalu memberiku hukuman lari," isak Keyra pelan sembari tersenyum. "Tapi ya, Ghazali. Aku mau. Aku akan memegang kabel ini sampai kamu menggantinya dengan sesuatu yang lebih layak nanti."
Ghazali menyematkan cincin kabel itu di jari manis Keyra. Rasanya kasar dan dingin, namun bagi Keyra, itu jauh lebih berharga daripada semua barang mewah yang pernah ia inginkan.
Baru saja Ghazali hendak menarik Keyra ke dalam pelukannya, suara Bastian terdengar dari radio panggil di pundaknya, memecah momen sakral itu.
"Kapten! Izin melaporkan, ada pergerakan sensor panas sekitar 500 meter di arah jam 2. Mereka menggunakan anjing pelacak. Kita harus bergerak sekarang!"
Ghazali langsung berdiri, kembali ke mode tempur. Ia mengecup dahi Keyra dengan cepat. "Simpan cincin itu baik-baik di balik sarung tangan medismu. Jangan sampai hilang."
"Siap, KaptenKu," jawab Keyra dengan keberanian baru.
Mereka mulai berlari lagi, menembus lebatnya hutan menuju sungai perbatasan. Namun, di depan sana, sebuah tebing curam menghalangi jalan mereka, dan suara gonggongan anjing pelacak terdengar semakin dekat, memburu aroma darah yang masih segar dari bahu Ghazali.
---
keyra...
Bastian...
yudha....
kamu dimana....