NovelToon NovelToon
- Believe In Magic -

- Believe In Magic -

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Akademi Sihir / Reinkarnasi
Popularitas:226
Nilai: 5
Nama Author: bidadari

Sihirnya tajam, hampir terlalu sempurna untuk usianya. Mantra yang lain pelajari selama bertahun-tahun, ia pahami hanya dalam hitungan detik. Namun, setiap kilau kekuatan yang ia tunjukkan justru menjadi bayangan yang menjauhkannya dari yang lain.

Mereka menyebutnya dingin.
Mereka menyebutnya sombong.

Padahal, yang tak pernah mereka lihat adalah badai sunyi yang ia peluk sendirian.

Evelyn tidak pernah memilih untuk menjadi berbeda. Tapi sihir di dalam dirinya… terasa seperti sesuatu yang hidup—berdenyut, berbisik, seolah menyimpan rahasia yang bahkan ia sendiri takut untuk sentuh.

Dan di balik tatapan tenangnya, tersembunyi pertanyaan yang terus mengendap:

Apakah ia mengendalikan sihir itu… atau justru sedang perlahan dikuasai olehnya?


- Believe in magic -

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 Nama yang Dihapus

Malam sudah benar-benar jatuh ketika Evelyn Edison tiba di rumahnya.

Rumah itu tidak besar. Terletak di ujung jalan yang jarang dilalui orang, sepi seperti sengaja menjauh dari dunia. Lampu di dalamnya menyala redup, menciptakan bayangan panjang di dinding kayu yang sunyi.

Evelyn membuka pintu perlahan.

Klik.

Suara itu terdengar lebih keras dari biasanya.

Ia masuk, menutup pintu, lalu bersandar sejenak.

Sunyi.

Tak ada suara siapa pun.

Tak ada langkah lain selain miliknya.

“Lebih baik begini…” gumamnya pelan. “Tidak ada yang perlu dijelaskan.”

Ia berjalan ke meja kecil di dekat jendela, meletakkan buku “Gerbang yang Terlupakan” dengan hati-hati, seolah benda itu bisa pecah jika disentuh terlalu kasar.

Namun anehnya…

Semakin ia mencoba memperlakukannya seperti buku biasa, semakin terasa bahwa buku itu… bukan sekadar buku.

Evelyn duduk.

Tangannya ragu sejenak di atas sampul.

Lalu—

Ia membukanya.

Halaman demi halaman ia balik. Tulisan-tulisan kuno itu tampak berubah-ubah jika dilihat terlalu lama, seolah huruf-hurufnya hidup dan memilih kapan ingin dibaca.

“Kenapa terasa seperti… aku yang sedang dibaca?” bisiknya pelan.

Tak ada jawaban.

Hanya suara kertas yang bergesek.

Hingga akhirnya—

Tangannya berhenti.

Di sebuah halaman yang berbeda.

Lebih gelap.

Lebih… berat.

Di sana tertulis sebuah nama.

Mr. Emerson Fanny

Evelyn mengernyit.

“Siapa… dia?”

Ia membaca lebih lanjut.

Tulisan di bawah nama itu tidak panjang. Justru terlalu singkat untuk seseorang yang tampaknya penting.

Seorang penyihir dengan kekuatan luar biasa.

Pernah menjadi pengajar di Sekolah Sihir Everton.

Dikeluarkan dari dunia sihir.

Hanya itu.

Tidak ada penjelasan.

Tidak ada alasan.

Tidak ada cerita.

“Dikeluarkan?” ulang Evelyn pelan.

Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap halaman itu lebih lama.

“Bagaimana mungkin seseorang… dikeluarkan dari dunia sihir?”

Ia berdiri tiba-tiba, berjalan mondar-mandir di ruangan kecil itu.

“Kalau dunia ini tersembunyi…” gumamnya, “berarti tidak mudah untuk keluar.”

Ia berhenti.

“Dan kalau dia bisa keluar…”

Matanya kembali ke buku.

“Berarti… memang ada cara.”

Jantungnya berdetak lebih cepat.

Ia kembali duduk, membalik halaman berikutnya dengan cepat.

Namun—

Kosong.

Halaman itu kosong.

Ia membalik lagi.

Masih kosong.

“Tidak mungkin…” bisiknya.

Ia kembali ke halaman sebelumnya.

Nama itu masih ada.

Mr. Emerson Fanny.

Namun ketika ia menyentuh tulisan itu—

Cahaya samar muncul.

Tulisan di bawahnya berubah.

Evelyn terkejut, tapi tidak menarik tangannya.

Sebaliknya… ia mendekat.

Tulisan baru perlahan muncul, seperti tinta yang meresap dari dalam kertas.

Ia mencari sesuatu yang tidak seharusnya dicari.

Ia menemukan sesuatu yang tidak seharusnya ditemukan.

Evelyn menelan ludah.

“Apa maksudnya ini…?”

Tulisan itu belum selesai.

Dan karena itu… ia dihapus.

Evelyn menarik tangannya.

“Dihapus?”

Ia berdiri lagi, kali ini lebih gelisah.

“Dihapus itu maksudnya apa?!”

Tak ada jawaban.

Hanya detak jantungnya sendiri.

Ia kembali mendekat ke buku.

“Kalau dia dihapus… kenapa namanya masih ada?”

Ia menyentuh halaman itu lagi.

Kali ini tidak ada perubahan.

“Kenapa hanya ini yang ditulis?” gumamnya kesal. “Kenapa tidak ada penjelasan?!”

Ia menghela napas panjang.

Lalu—

“Kalau dia pernah jadi guru…”

Ia berhenti.

Matanya menyipit.

“Berarti… ada orang yang pernah mengenalnya.”

Pikiran itu seperti percikan api.

“Guru Ameli…”

Nama itu keluar pelan dari bibirnya.

“Dia pasti tahu sesuatu.”

Namun…

Ia teringat kembali kata-kata wanita itu.

“Jangan dibuka.”

Evelyn menatap buku itu.

“Kalau aku tidak membuka… aku tidak akan tahu apa-apa.”

Ia duduk kembali, lebih dekat kali ini.

“Dan kalau aku tidak tahu…” suaranya melemah sedikit, “aku akan tetap seperti ini.”

Sendiri.

Terasing.

Tidak mengerti kenapa ia berbeda.

Tangannya perlahan menyentuh nama itu lagi.

“Mr. Emerson Fanny…” bisiknya. “Apa yang sebenarnya kamu lakukan…?”

Tak ada jawaban.

Namun—

Sihir di dalam dirinya bergetar.

Lebih kuat dari sebelumnya.

Seolah nama itu… memanggil sesuatu.

Evelyn memejamkan mata sejenak.

Lalu membuka lagi.

“Kalau kamu bisa keluar dari dunia ini…” katanya pelan, tapi tegas, “aku juga bisa.”

Ia tersenyum tipis.

Bukan senyum bahagia.

Lebih seperti tekad yang mulai terbentuk.

“Tapi aku tidak akan dihapus.”

Angin malam masuk melalui jendela yang sedikit terbuka, mengibaskan halaman buku itu.

Flap.

Halaman kosong yang tadi ia lihat… tiba-tiba berubah.

Tulisan baru muncul.

Evelyn langsung membungkuk, matanya membesar.

“Ini…?”

Tulisan itu berbeda dari sebelumnya.

Lebih berantakan.

Lebih… pribadi.

Seperti catatan seseorang.

Jika kau membaca ini, berarti kau sudah melangkah terlalu jauh.

Evelyn menahan napas.

“Ini… tulisannya dia?”

Dunia ini bukan satu-satunya.

Dan batas itu… bukan sesuatu yang tak bisa ditembus.

Evelyn berbisik pelan, “Jadi benar… ada cara…”

Namun setiap gerbang memiliki harga.

Ia mengernyit.

“Harga…?”

Dan tidak semua yang keluar… bisa kembali.

Sunyi.

Evelyn menatap tulisan itu lama.

“Aku tidak peduli,” katanya akhirnya.

Suaranya pelan, tapi tidak goyah.

“Aku tidak ingin kembali.”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Tanpa ia rencanakan.

Tanpa ia pikirkan.

Namun begitu terucap…

Ia sadar.

Itu adalah kebenaran.

Ia tidak ingin kembali ke dunia yang menganggapnya dingin.

Yang melihatnya sebagai sesuatu yang harus dijauhi.

Yang tidak pernah mencoba mengerti.

Evelyn menutup buku itu perlahan.Matanya masih menatap kosong ke depan.

“Kalau dunia manusia benar-benar seperti yang mereka bilang…”

Ia berdiri, berjalan ke jendela.Langit malam terlihat luas, dipenuhi bintang yang tampak lebih dekat dari biasanya.

“Kalau mereka takut pada penyihir…”

Ia menyentuh kaca jendela.

“Lalu… apakah mereka juga akan takut padaku?”

Pertanyaan itu menggantung.

Tidak ada jawaban.Namun untuk pertama kalinya—Evelyn tidak mundur dari pertanyaan itu. Ia justru… mendekat.

“Manusia…”

Ia tersenyum tipis lagi.

“Aku ingin melihat sendiri.”

Di belakangnya, buku “Gerbang yang Terlupakan” terbuka sedikit dengan sendirinya.

Halamannya bergetar pelan.Seolah… setuju. Atau mungkin— Menyambut langkah yang baru saja ia pilih.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!