Apa yang menyebabkan seseorang Putra Kedua sang Raja menjadi sang Kultivator yang paling hebat?
____
So Guys! ini kisahlah kisah Qinar sang Kultivator kita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neon Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19
Gema ledakan Qi dari dalam goa tadi masih berdenging di telingaku, namun anehnya, suasana di sekitarku mendadak menjadi sangat sunyi. Cahaya biru dari sisa-sisa petirku perlahan memudar, meninggalkan kegelapan yang seharusnya pekat dan membutakan. Namun, bagiku, kegelapan itu tidak lagi ada.
Aku mengerjapkan mata. Sesuatu yang luar biasa terjadi.
Dinding-dinding goa yang tadinya hitam kelam kini tampak memiliki garis-garis energi yang berpendar lembut. Aku bisa melihat aliran air yang merembes di balik celah batu, aku bisa melihat partikel debu yang menari di udara, bahkan aku bisa melihat serat-serat halus pada jubah Ki Kusumo yang berdiri beberapa langkah di depanku.
"Ki... mataku," bisikku tak percaya. "Aku bisa melihat semuanya. Gelap ini... seolah-olah tidak ada."
Ki Kusumo berhenti melangkah. Ia berbalik, menatap mataku lekat-lekat. Dalam penglihatan baruku, aku bisa melihat pupil mataku sendiri terpantul di matanya—pupilku bukan lagi hitam bulat sempurna, melainkan memiliki guratan cahaya perak vertikal yang tipis, mirip dengan mata kobra gunung yang pernah menggigitku.
"Mata Sukma Rembulan," gumam Ki Kusumo, suaranya bergetar antara kagum dan ngeri. "Kau benar-benar monster, Qinar. Menembus Level 3 biasanya hanya memberikan kekuatan fisik dan ketajaman indra, tapi kau... kau baru saja membangkitkan kemampuan penglihatan tingkat tinggi karena berhasil menghancurkan halusinasi ketakutanmu tadi."
Beliau mendekat, menyentuh keningku. "Kegelapan bukan lagi musuhmu. Sekarang, kau adalah penguasa malam."
Aku mengepalkan tangan. Rasa lemas yang tadi menyerangku menguap seketika, digantikan oleh gelombang energi yang dingin namun sangat stabil. Aku merasa seperti baru saja keluar dari cangkang lama yang sempit.
"Ayo, Ki. Pasukan Bayangan Matahari itu... mereka masih ada di luar, kan?" tanyaku. Suaraku kini terdengar lebih berat, penuh dengan kepercayaan diri yang baru.
"Masih ada enam orang yang tersisa di lereng bawah. Mereka sedang menyisir area air terjun. Kau ingin mencoba kemampuan barumu?" Ki Kusumo menyeringai, menantangku.
"Biar aku yang bereskan. Kau cukup menonton dari atas, Ki," jawabku datar.
Aku melesat keluar dari goa. Kecepatanku kini meningkat drastis. Setiap kali kakiku menyentuh tanah, aku tidak lagi menimbulkan suara bug yang berat, melainkan hanya getaran halus yang menyatu dengan alam.
Di luar, badai masih mengamuk di kaki Gunung Sandaran. Hujan deras mengguyur, membuat jarak pandang manusia normal mungkin hanya terbatas beberapa meter. Tapi bagiku, semuanya tampak terang benderang.
Aku melihat mereka. Enam bayangan hitam bergerak taktis di antara pepohonan. Mereka berkomunikasi dengan isyarat tangan, sangat profesional. Detak jantung mereka dingin, hampir tidak beriak—tanda bahwa mereka adalah pembunuh bayaran yang sudah mati rasa.
Deg... deg... deg...
Aku mengunci posisi mereka semua dalam satu sapuan pandangan.
Sret!
Aku melompat dari dahan pohon, meluncur seperti bayangan hantu. Salah satu prajurit, yang posisinya paling belakang, tidak sempat menyadari kehadiranku. Sebelum dia bisa menoleh, telapak tanganku sudah menyentuh punggungnya.
Krak!
Tanpa ledakan besar, aku menyalurkan Qi petir langsung ke jantungnya. Dia ambruk seketika tanpa sempat mengeluarkan suara.
"Satu," bisikku.
Lima orang lainnya menyadari ada yang salah. Mereka segera membentuk formasi lingkaran, pedang mereka terhunus, memancarkan cahaya merah yang jahat.
"Siapa di sana?! Tunjukkan dirimu, Tikus Gunung!" teriak pemimpin mereka.
Aku tidak menjawab. Aku bergerak melingkari mereka di tengah kegelapan hutan. Bagi mereka, aku hanyalah desir angin dan suara tetesan hujan. Tapi bagiku, mereka adalah mangsa yang gerakannya sangat lambat.
Wush!
Aku muncul di tengah-tengah mereka. Dua prajurit menyerang secara bersamaan. Pedang mereka membelah udara, namun aku sudah tidak ada di sana. Aku merunduk, lalu dengan gerakan "Membelah Batu", aku menghantamkan sikutku ke lutut salah satu dari mereka dan telapak tanganku ke dada yang lainnya.
Brak! Jleg!
Dua orang tumbang dengan tulang yang hancur.
"Dia bukan manusia! Dia iblis!" teriak prajurit ketiga yang ketakutan. Dia mencoba melepaskan kembang api pemberi isyarat ke langit.
Aku tidak membiarkannya. Aku memusatkan Qi ke ujung jariku, melepaskan seberkas kilatan petir kecil—jret!—yang memutus tali kembang api itu sebelum sempat meledak. Dalam satu detik berikutnya, aku sudah berada di depannya, mencengkeram lehernya.
"Siapa yang mengirim kalian?" tanyaku dingin. Mataku yang berpendar perak menatap langsung ke dalam matanya yang gemetar.
"Ka-Kaisar... sang Kaisar ingin kepalamu..." rintihnya.
Aku mempererat cengkeramanku hingga dia pingsan. Aku membuangnya ke semak-semak. Dua orang sisanya mencoba lari, tapi mereka tidak lebih cepat dari "Napas Petir"-ku. Hanya dalam beberapa kejap, seluruh pengejar itu tergeletak tak berdaya di atas tanah yang becek.
Aku berdiri di tengah hujan, napasku teratur. Tidak ada setetes pun darah mereka yang mengenai jubahku. Aku menengadah ke langit, merasakan air hujan membasuh wajahku.
Ki Kusumo muncul dari balik bayang-bayang pohon, bertepuk tangan pelan. "Luar biasa. Delapan tahun usia, Level 3 puncak, dan penglihatan Sukma Rembulan. Kau benar-benar keluar sebagai pemenang malam ini, Qinar."
Beliau berjalan mendekat, menatap mayat-mayat itu. "Tapi ingat, ini baru pion-pion kecil. Jika Kaisar Geedapa sudah mengirim Pasukan Bayangan, berarti dia benar-benar terobsesi untuk melenyapkanmu."
"Biarkan dia datang, Ki," kataku sambil menatap ke arah utara, ke arah istana yang jauh di sana. "Aku tidak lagi takut pada gelap. Dan mulai sekarang, dialah yang harus takut padaku."
Aku berbalik dan mulai mendaki kembali menuju puncak Gunung Sandaran. Malam ini, aku telah membuktikan bahwa meskipun aku dibuang ke tempat paling gelap, aku akan selalu menemukan cara untuk melihat dan menangkap cahaya.
"Ayo pulang, Ki. Aku lapar. Dan kali ini, aku ingin ubi yang paling besar," ujarku sambil tersenyum tipis.
Ki Kusumo tertawa terbahak-bahak, suaranya membelah keheningan lereng gunung. "Itu baru muridku! Ayo, Monster Kecil!"