Niatnya mencari kontrakan murah.
Yang didapat justru desa yang dipenuhi hantu.
Endric belum sempat beradaptasi, sudah diajak berbicara oleh pocong. Ia juga belum sempat kabur, tetapi jalan di desa itu terus berputar tanpa arah. Belum sempat bersantai, namanya malah sudah masuk dalam daftar tumbal.
Di desa itu, aturan hidupnya sederhana, jangan pernah keluar malam, jangan menjawab saat dipanggil, dan jangan bersikap terlalu akrab dengan warga karena belum tentu mereka manusia.
Untungnya, Endric memiliki “teman”. Sayangnya, temannya adalah pocong.
Sekarang pilihannya hanya dua, kabur, yang hampir pasti gagal, atau bertahan sambil berpura-pura waras di desa paling tidak normal yang pernah ia temui.
Dan yang jadi masalahnya, besok malam adalah gilirannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dipanggil Pulang
Lantai rumah itu bergerak. Bukan bergetar seperti diinjak, melainkan naik turun perlahan, seolah ada sesuatu besar di bawahnya yang sedang bernapas. Suara gesekan terdengar dari segala arah, tidak lagi dari satu titik seperti sebelumnya, melainkan menyebar ke seluruh bagian rumah. Endric mundur hingga punggungnya menempel ke dinding.
"Ini bukan satu, ya," bisiknya.
"Ndak," jawab Gandhul pelan. "Ini banyak."
Suara itu semakin jelas. Gesekan kuku, tarikan, dan sesuatu yang terdengar seperti napas berat bercampur dengan bisikan yang saling tumpang tindih. Endric menelan ludah, mencoba menenangkan diri di tengah tekanan yang semakin terasa.
"Mereka manggil balik?" tanyanya.
Gandhul mengangguk.
"Yang di dalam lo mulai ketarik."
Endric langsung menatap tangannya. Bekas hitam itu bergerak lebih cepat dari sebelumnya. Garisnya seperti mencoba naik ke atas, menjalar ke pergelangan, lalu berhenti sejenak sebelum bergerak lagi.
"WOI," kata Endric cepat. "Jangan ikut!"
Garis itu berdenyut, seolah merespons.
"Kami ditarik," bisiknya.
Endric langsung panik.
"Ndak! Lo tetap di situ!"
Gandhul meliriknya.
"Lo lagi negosiasi sama isi tangan lo sendiri, ya?"
"Gue ndak punya pilihan!"
Suara dari bawah lantai semakin keras. Kayu mulai retak dengan bunyi krek yang memekakkan. Beberapa bagian lantai sedikit terangkat, seperti didorong dari bawah. Endric bisa melihat celah tipis yang memperlihatkan gelap pekat di bawahnya.
"Ndhul, gue ndak kuat kalau ini jebol," kata Endric.
"Lo harus tahan," jawab Gandhul cepat.
"Gimana caranya?!"
"Jangan kasih yang di dalam lo keluar!"
Endric langsung memegang tangannya dengan tangan lain, menekan seolah mencoba menahan sesuatu agar tetap di tempatnya. Napasnya memburu, sementara garis itu terus bergerak liar di bawah kulitnya.
"Lo denger gue?" bisiknya ke tangannya.
"Kami harus kembali."
Endric menggeleng keras.
"Ndak ada kembali! Lo di sini aja!"
Tiba-tiba suara dari bawah berubah. Lebih jelas dan lebih terarah, seperti satu komando yang dipaksakan serempak. Suara itu menggema, memenuhi ruangan hingga menusuk kepala.
"Kembali!"
"Kembali!"
"Kembali!"
Endric langsung menutup telinganya.
"ANJIR!"
"Jangan dengerin!" teriak Gandhul.
"Gue ndak mau juga!"
Namun suara itu tidak hanya datang dari luar. Sebagiannya terasa muncul dari dalam dirinya sendiri, dari tangannya, dari garis hitam itu yang terus bergerak tanpa henti.
"Kami pulang."
Endric menggertakkan gigi.
"Ndak ada pulang! Ini bukan rumah lo!"
Tiba-tiba lantai di tengah ruangan retak lebih lebar. Sebagian kayu terbuka, memperlihatkan kegelapan yang kini tampak lebih jelas. Dari sana muncul tangan, banyak, kurus, panjang, dan kotor.
"ANJIR BANGET!"
Tangan-tangan itu bergerak naik, meraba lantai, lalu mengarah ke Endric. Namun bukan ke tubuhnya, melainkan ke tangannya, tepat ke bekas hitam itu. Endric langsung mundur sambil mengangkat tangannya menjauh.
"Ndhul, mereka tahu," bisiknya.
"Iya. Mereka nyari yang di dalam lo."
"Ndak boleh!"
Tangan-tangan itu bergerak lebih cepat, merayap di lantai dengan suara gesekan yang membuat bulu kuduk berdiri. Gandhul melompat ke depan, mencoba menghalangi, meski tubuhnya tidak benar-benar bisa menyentuh apa pun.
"WOI! SANTAI SEDIKIT!"
Salah satu tangan mencoba meraih Gandhul, tetapi menembus begitu saja.
"Ya ampun, gue ndak kepake di sini," gumam Gandhul.
Endric hampir tertawa di tengah panik.
"HILANG AJA SEKALIAN LO!"
"GUE JUGA MAU!"
Situasi makin kacau. Tangan-tangan itu kini hampir mencapai kaki Endric. Ia langsung naik ke kursi, mencoba menjauh dari jangkauan mereka.
"Ini kenapa jadi rame begini sih!"
"Karena lo bawa isi ke atas!" jawab Gandhul.
Endric menatap tangannya lagi. Garis hitam itu kini bergerak sangat cepat, naik hampir mencapai siku. Ia langsung menekan tangannya ke meja dengan keras.
"Diam!"
"Kami keluar," bisik suara itu.
"Ndak ada keluar!"
Tiba-tiba salah satu tangan dari bawah berhasil menjebol lantai tepat di bawah meja. Tangan itu muncul lebih tinggi, hampir menyentuh kaki Endric.
"ANJIR!"
Endric langsung meloncat ke samping. Kursi jatuh, meja bergeser, dan ruangan terasa semakin sempit oleh pergerakan tangan-tangan itu.
"JANGAN PANIK!" teriak Gandhul.
"GUE SUDAH PANIK DARI TADI!"
Tangan-tangan itu kini memenuhi setengah ruangan, merayap dan terus mengarah ke Endric. Ia mundur hingga kembali menempel ke dinding, napasnya makin tidak teratur.
"Gue harus ngapain?!"
Gandhul berpikir cepat, lalu berkata,
"Lo harus bikin mereka berhenti narik."
"Gimana?!"
"Yang di dalam lo!"
Endric langsung menatap tangannya.
"Lo bisa berhentiin mereka?" tanyanya cepat.
Beberapa detik berlalu. Garis itu bergerak.
"Kami bisa."
"Gimana caranya?!"
"Lepaskan."
Endric langsung mengumpat.
"Ndak ada lepas!"
Garis itu berdenyut lebih kuat.
"Kami panggil mereka kembali."
Endric terdiam. Gandhul menoleh cepat ke arahnya.
"Rek."
Endric menelan ludah.
"Kalau mereka yang di dalam gue manggil balik..."
Gandhul mengangguk pelan.
"Yang di luar bisa berhenti."
Endric menghela napas panjang, mencoba menerima pilihan yang tidak benar-benar ia inginkan.
"Risikonya?"
Gandhul terdiam sejenak sebelum menjawab pelan.
"Lo makin dalam."
Endric tertawa pendek.
"Ya sudah. Gue udah setengah tenggelam juga."
Tangan-tangan itu makin dekat, hampir menyentuh kakinya.
"OKE!" teriak Endric. "LO PANGGIL!"
Garis itu langsung bergerak cepat, naik lebih liar dari sebelumnya. Endric menahan napas, menatap tangannya tanpa berkedip.
"Kami panggil."
Tiba-tiba semua tangan berhenti. Mendadak diam, seolah membeku di tempat. Endric ikut membeku, tidak berani bergerak sedikit pun.
"Eh?"
Beberapa detik kemudian, tangan-tangan itu bergerak lagi. Namun bukan ke atas, melainkan ke bawah, mundur dengan cepat seolah ditarik kembali oleh sesuatu yang lebih kuat.
"Berhasil?"
Gandhul mengangguk.
"Berhasil."
Dalam hitungan detik, semua tangan menghilang. Lubang di lantai perlahan menutup, dan kayu kembali seperti semula. Rumah itu kembali sunyi, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Endric berdiri diam. Napasnya berat, keringat dingin mengalir di pelipisnya. Ia mencoba memastikan dirinya masih utuh.
"Gue hidup lagi," katanya pelan.
"Iya," jawab Gandhul.
Endric tertawa kecil.
"Gue udah berapa kali hampir mati, sih."
Namun tawanya berhenti. Perlahan ia menatap tangannya. Garis hitam itu kini tidak lagi berhenti di siku, melainkan sudah mencapai bahu, lebih tebal dan lebih jelas.
"Ndhul," katanya pelan.
"Iya."
Endric menelan ludah.
"Kayaknya gue salah pilih tadi."
Gandhul tidak langsung menjawab. Ia menatap garis itu dengan ekspresi yang sulit dibaca.
"Bukan salah."
Endric menatapnya.
"Terus?"
Gandhul menghela napas.
"Cuma lebih cepat."
Endric terdiam beberapa detik.
"Lebih cepat jadi apa?"
Garis itu bergerak lebih halus, lebih tenang, seolah telah menemukan ritmenya sendiri. Dari dalam, suara itu muncul lagi, kali ini jauh lebih jelas.
"Wadah."