NovelToon NovelToon
Dinginmu, Hangatku

Dinginmu, Hangatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:359
Nilai: 5
Nama Author: Elvandem Putra

Arsenia Valen, CEO paling ditakuti di kota, hidup dengan aturan dingin:
“Perasaan adalah kelemahan.”
Sampai suatu hari, hidupnya berubah saat ia bertemu Raka—
seorang pria biasa yang bahkan tidak tahu siapa dia… dan memperlakukannya seperti manusia, bukan seorang ratu.
Dari pertemuan yang tak disengaja, muncul hubungan yang tak masuk akal.
Namun dunia mereka terlalu berbeda.
Dan ketika masa lalu Arsenia kembali menghancurkan segalanya,
pertanyaannya bukan lagi “apakah mereka saling mencintai”
—tapi apakah cinta cukup untuk bertahan.?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvandem Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Alasan yang Dicari-cari

Pagi di kota itu datang tanpa banyak perubahan.

Gedung-gedung tetap berdiri kaku. Jalanan tetap padat. Dan orang-orang tetap berlari mengejar sesuatu yang bahkan tidak semua dari mereka pahami.

Termasuk Arsenia Valen.

Ia berdiri di depan cermin besar di ruangannya.

Rapi. Sempurna. Tanpa cela.

Jas hitam yang pas di tubuhnya. Rambut yang tertata tanpa satu helai pun keluar dari tempatnya.

Semua terlihat seperti biasa.

Tapi tidak dengan pikirannya.

“Ada jadwal tambahan hari ini, Nona?”

Suara asistennya memecah keheningan.

Arsenia tidak langsung menjawab.

Matanya masih menatap pantulan dirinya sendiri.

Lalu perlahan—

ia berkata,

“Tidak.”

Satu detik.

Dua detik.

Lalu—

“Tambahkan satu.”

Asistennya sedikit terkejut. “Untuk apa?”

Arsenia berbalik.

Tatapannya kembali dingin.

“Survey lapangan.”

“Lokasi?”

Arsenia diam sejenak.

Lalu menyebutkan satu tempat.

Tempat yang sama seperti dua hari terakhir.

Asisten itu mengernyit halus.

Itu bukan area bisnis mereka.

Bukan lokasi penting.

Tidak ada proyek di sana.

Tapi—

ia tidak bertanya lebih jauh.

“Baik, Nona.”

Sementara itu, di sisi lain kota…

Raka sedang duduk di pinggir trotoar, memperbaiki sandal yang hampir putus.

Tangannya cekatan. Wajahnya santai.

Seolah tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Seolah hidup tidak pernah benar-benar berat.

Seorang anak kecil mendekat.

“Bang, bisa benerin ini juga?” katanya sambil menunjukkan mainan yang rusak.

Raka tersenyum.

“Coba sini.”

Ia mengambil mainan itu, memperbaikinya dengan alat seadanya.

Tidak lama.

Selesai.

Anak itu tersenyum lebar. “Makasih!”

Raka mengangguk. “Hati-hati ya.”

Tidak ada uang yang berpindah tangan.

Tidak ada imbalan.

Tapi tetap dilakukan.

Dan tepat saat itu—

sebuah mobil hitam berhenti tidak jauh dari sana.

Arsenia melihat semuanya.

Dari dalam mobil.

Tanpa keluar.

Tanpa suara.

Ia melihat bagaimana Raka berbicara.

Bagaimana ia tersenyum.

Bagaimana ia membantu… tanpa alasan jelas.

“Kenapa dia seperti itu…”

gumamnya pelan.

Bukan heran.

Lebih ke… tidak mengerti.

Di dunianya, semua ada harga.

Semua ada tujuan.

Semua ada imbalan.

Tapi pria itu—

tidak mengikuti aturan itu.

Arsenia membuka pintu mobil.

Keluar.

Langkahnya tetap tenang.

Tapi kali ini—

tidak seangkuh sebelumnya.

Raka belum menyadarinya.

Ia masih fokus merapikan sandal yang tadi ia perbaiki.

“Kalau rusak lagi, pakai tali ini dulu ya,” katanya pada dirinya sendiri.

“Kamu selalu memperbaiki hal yang bukan milikmu?”

Suara itu—

langsung membuat Raka menoleh.

Arsenia.

Lagi.

Raka menghela napas pelan.

“Wah… datang lagi.”

Nada suaranya bukan kesal.

Tapi jelas tidak terkejut lagi.

Arsenia menyilangkan tangan.

“Kamu tidak kerja?”

Raka mengangkat alis.

“Ini kerja.”

Arsenia melihat sekeliling.

Trotoar.

Barang sederhana.

Orang-orang biasa.

“Ini bukan kerja,” katanya dingin. “Ini buang waktu.”

Kalimat itu—

berat.

Tajam.

Dan kali ini—

Raka tidak langsung tersenyum.

Ia berdiri perlahan.

Menghadap Arsenia.

Tatapannya masih tenang.

Tapi lebih serius.

“Kalau bantu orang itu buang waktu…”

katanya pelan,

“berarti waktu saya memang murah.”

Hening.

Kalimat itu tidak marah.

Tidak menyerang.

Tapi justru itu yang membuatnya terasa lebih dalam.

Arsenia menatapnya.

Untuk beberapa detik.

Dan lagi—

ia tidak bisa langsung membalas.

“Aku tidak bilang begitu,” katanya akhirnya.

“Barusan Anda bilang.”

Sederhana.

Tapi tidak bisa diputar.

Arsenia menghela napas pelan.

Kesal.

Bukan pada Raka—

tapi pada situasi ini.

Ia tidak terbiasa…

dikoreksi.

“Dunia tidak berjalan dengan kebaikan saja,” katanya akhirnya.

“Kalau kamu terus seperti ini… kamu tidak akan ke mana-mana.”

Raka tersenyum kecil.

“Enggak apa-apa.”

“Tidak apa-apa?”

“Iya.”

“Kenapa?”

Raka menatapnya lurus.

“Karena saya enggak lari ke mana-mana.”

Dan lagi—

kalimat sederhana itu…

menghantam sesuatu dalam diri Arsenia.

Ia diam.

Lebih lama kali ini.

Angin sore lewat di antara mereka.

Membawa sisa dingin dari hujan kemarin.

“Kenapa Anda datang lagi?” tanya Raka tiba-tiba.

Langsung.

Tanpa basa-basi.

Pertanyaan itu—

yang sebenarnya sudah ada sejak tadi.

Arsenia terdiam.

Sepersekian detik.

Ia bisa saja menjawab dengan alasan apa pun.

Bisnis.

Kebetulan.

Lewat.

Tapi entah kenapa—

semuanya terasa… tidak cukup.

“Aku…”

ia berhenti.

Ini pertama kalinya—

ia tidak punya jawaban yang siap.

Raka menunggu.

Tidak mendesak.

Tidak membantu.

Hanya… menunggu.

Dan akhirnya—

Arsenia berkata,

“Aku tidak tahu.”

Hening.

Jawaban paling jujur—

yang bahkan ia sendiri tidak rencanakan.

Raka tidak tertawa.

Tidak heran.

Ia hanya mengangguk pelan.

“Ya udah.”

Tidak ada penilaian.

Tidak ada tekanan.

Dan justru itu—

yang membuat Arsenia semakin… tidak nyaman.

Karena untuk pertama kalinya—

ia tidak perlu jadi siapa-siapa.

Dan ia tidak tahu harus bagaimana dengan itu.

Di kejauhan—

seseorang memperhatikan.

Seorang pria dengan jas rapi.

Salah satu staf perusahaan Arsenia.

Tatapannya tajam.

Curiga.

“CEO… di tempat seperti ini?”

gumamnya pelan.

Dan saat matanya beralih ke Raka—

ekspresinya berubah.

Tidak suka.

Masalah—

mulai mendekat.

Perlahan.

Tanpa mereka sadari.

Sementara itu—

di antara dua orang yang berdiri di trotoar itu—

sesuatu yang kecil mulai tumbuh.

Bukan cinta.

Belum.

Tapi cukup untuk—

mengganggu.

Dan cukup untuk—

mengubah arah hidup mereka.

Tanpa jalan kembali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!