"Apakah namaku adalah sinonim dari kata perpisahan? Mengapa setiap tangan yang kugenggam, selalu berakhir dengan melepaskan?"
Dina mengira pelariannya ke sebuah kota kecil akan mengakhiri teror Rama, mantan kekasihnya yang obsesif dan kasar. Di sana, ia menemukan perlindungan pada sosok Letda Adrian, seorang perwira muda yang mencintainya dengan tulus tanpa syarat. Adrian adalah satu-satunya orang yang membuat Dina merasa "pulang". Namun, semesta seolah enggan melihat Dina bahagia. Tugas negara memanggil Adrian ke Papua, dan ia pulang dalam peti jenazah yang terbalut bendera. Sekali lagi, Dina ditinggalkan oleh satu-satunya alasan ia bertahan hidup.
Setahun berlalu, namun Dina masih hidup dalam bayang-bayang nisan Adrian. Penyakit lambung kronis akibat trauma batin membawanya pindah ke Bandung demi mencari udara baru. Di sebuah rumah sakit besar, ia kembali bertemu dengan dr. Arga, Sp.PD, dokter spesialis tampan yang dulu merawatnya di masa-masa paling rapuh. Arga jatuh hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BISIKAN YANG MENEMBUS TABIR
"Lo tadi ngobrol sama siapa?" tanya Sagara dengan gaya nyelenehnya, tangannya masuk ke saku jaket denim yang terlihat sangat kontras di tengah suasana rumah sakit yang steril. Arga hanya melirik sahabatnya itu sekilas sebelum menjawab datar, "Pasien." Namun, kening Arga segera berkerut saat menyadari penampilan Sagara yang terlalu santai. "Kenapa lo nggak pakai jas dokter? Jam praktik lo belum selesai, kan?"
Sagara justru terkekeh sinis, sebuah tawa yang terdengar hambar di telinga Arga. "Gue baru saja selesai kirim surat resign ke bokap lo, Dokter Baskara," jawabnya santai. Kalimat itu seketika membuat Arga menghentikan langkah. "Kenapa? Lo mau jadi pengangguran sekarang? Atau lo benar-benar mau berhenti jadi dokter karena dari dulu emang nggak suka profesi ini?" tanya Arga bertubi-tubi, merasa tidak habis pikir dengan keputusan nekat sahabat karibnya itu.
Sagara melangkah lebar menuju salah satu meja kantin yang kosong dan menghenyakkan tubuhnya di sana, sementara Arga menyusul dan duduk di hadapannya dengan tatapan menuntut penjelasan. "Gue nggak nyaman di sini, Ar. Gue nggak berhenti jadi dokter, gue cuma nggak suka berada di bawah satu atap dengan orang yang sudah memaksa gue jadi dokter juga," ucap Sagara dengan nada suara yang sarat akan luka lama yang belum mengering.
"Tapi dia itu bokap lo, Ga. Dia melakukan itu karena dia peduli," sela Arga mencoba menenangkan. Namun, Sagara justru menatapnya dengan sorot mata tajam yang penuh pemberontakan. "Gue nggak kayak lo, Ar. Gue nggak suka hirarki keluarga di mana semua orang harus jadi dokter dan gue dipaksa ikut arus itu. Gue nggak kayak kakak-kakak gue yang lain—Sadam, Saka, atau Sarah. Mereka mungkin bisa patuh dan menikmati jabatan mereka, tapi gue nggak mau. Sekarang gue memang sudah jadi apa yang dia mau, tapi bukan berarti gue harus terus-terusan jadi bayangannya."
Sagara menyandarkan punggungnya ke kursi dengan kasar, matanya menatap langit-langit kantin seolah sedang membuang rasa sesak. "Gue cuma pindah rumah sakit, Ar. Ke tempat di mana Ibu gue, Dokter Lisna, praktik. Gue mau lihat dia, walau sebenarnya gue benci karena dulu dia diam saja dan nggak nahan suaminya waktu maksa gue masuk kedokteran. Setidaknya di sana gue bisa lihat dia sebagai rekan kerja saja. Kalau di sini? Setiap kali gue lihat bokap gue jalan ke ruang praktik dengan wajah penguasanya itu, rasanya gue muak."
Sagara terdiam sejenak, matanya yang tadi penuh api pemberontakan kini meredup, menyisakan sorot tajam yang sangat jujur. Ia menatap Arga dengan saksama, seolah sedang membedah isi kepala sahabatnya itu tanpa bantuan pisau bedah.
"Gue emang nggak kenal sama perempuan tadi," ucap Sagara pelan, suaranya kini terdengar lebih dewasa dan tenang. "Tapi lihat punggungnya, dan lihat cara lo menatap dia yang menjauh tadi... gue tahu satu hal, Ar. Lo pasti pengen dia sembuh dan melihat dia sebagai manusia utuh, bukan cuma sekadar nomor rekam medis atau pasien biasa."
Arga tertegun. Ia tidak menyangka sahabatnya yang biasanya bersikap ugal-ugalan dan penuh sarkasme itu bisa menangkap getaran emosi yang bahkan Arga sendiri coba sembunyikan di balik jas putihnya. Kata-kata Sagara barusan telak menghantam kesadaran Arga bahwa perasaannya terhadap Dina memang sudah melampaui batas profesionalisme yang selama ini diagung-agungkan ayahnya.
Arga menarik napas panjang, mencoba menguasai diri kembali. Ia menepuk bahu Sagara dengan mantap, sebuah gestur persaudaraan yang tulus meski mereka kini harus menempuh jalan yang berbeda di bawah atap rumah sakit yang berbeda pula.
"Gue juga berharap lo sukses di sana, Ga," ucap Arga dengan tulus. "Semoga lo jadi dokter bedah terbaik di rumah sakit Ibu Lisna. Tetaplah jadi dokter yang baik seperti saat lo di sini, meski gue tahu lo melakukannya dengan setengah hati karena paksaan."
Sagara hanya tersenyum miring, sebuah senyum tipis yang menunjukkan bahwa ia menghargai dukungan Arga. Ia tidak membalas dengan kata-kata puitis, melainkan hanya mengangguk kecil sebelum berbalik dan melangkah pergi meninggalkan kantin.
Arga menatap punggung Sagara yang menjauh, menyadari bahwa hari ini ia tidak hanya kehilangan rekan kerja terbaiknya, tapi juga mulai menyadari bahwa perjuangannya untuk menyembuhkan Dina akan menjadi perjalanan yang jauh lebih personal daripada yang pernah ia bayangkan.
Dina melangkah masuk ke dalam kosannya yang sepi. Di kota sebesar Bandung, kamar ini adalah satu-satunya benteng pertahanan yang ia miliki, namun sore ini, benteng itu terasa menyesakkan. Kesunyian di sana justru membuat "suara-suara" itu terdengar semakin kencang, memantul di dinding kamar yang hanya dihiasi beberapa foto lama. Adrian masih di sana. Pria itu berdiri di dekat jendela, bayangannya tampak nyata tersorot lampu jalan yang mulai menyala di luar.
"Kalian bisa diam nggak?!" sentak Dina tiba-tiba, suaranya pecah di tengah kesunyian kamar. Ia menutup telinganya dengan kedua tangan, mencoba mengusir kebisingan batin yang terus-menerus mendiktenya.
Bayangan Adrian bergerak mendekat. Ia menatap Dina dengan sorot mata yang begitu teduh, namun sarat akan duka yang mendalam—sebuah cermin dari apa yang Dina rasakan. "Kamu sakit, Din. Kamu harus ke dokter," ucap Adrian pelan. Suaranya terdengar seperti embusan angin yang sejuk sekaligus menyayat hati. "Aku sudah nggak ada, Mas sudah pergi... tapi kamu masih terus melihat Mas di sini. Hati Mas sakit melihat kamu terus-terusan seperti ini, terjebak dalam ruang yang seharusnya sudah tertutup."
Dina mendongak, air matanya mulai mengalir tanpa bisa dibendung lagi. "Aku sudah ke dokter, Mas... Aku bahkan sudah ikut ke rumah sakit tadi. Dokter Arga yang merawatku," sahut Dina dengan suara bergetar, seolah sedang membela diri di depan sosok yang paling ia cintai.
Adrian menggeleng perlahan, seolah tahu bahwa kunjungan ke dokter saja tidak akan cukup selama hati Dina masih tertinggal di masa lalu. Ia mengulurkan tangan, meski Dina tahu ia tidak akan bisa merasakan sentuhan fisik itu. "Kamu harus kembali kerja, Dina. Kembali jadi Dina yang kuat, seperti sebelum kamu kenal Mas. Jangan biarkan hidupmu berhenti di titik di mana Mas berhenti bernapas."
Kalimat itu menghantam Dina telak. Ia teringat masa-masa sebelum seragam tentara itu masuk ke dalam hidupnya—masa di mana ia adalah wanita ambisius yang mencintai pekerjaannya di bidang logistik. Namun sekarang, melihat meja kerjanya yang penuh debu saja ia tidak sanggup.
"Aku nggak tahu caranya kembali, Mas..." bisik Dina lemas, merosot duduk di pinggiran tempat tidur.
Bayangan Adrian tersenyum manis, senyum gagah yang dulu selalu menjadi bahan bakar semangat Dina. "Pelan-pelan, Sayang. Besok, cobalah untuk sekadar membuka laptopmu. Kerjakan apa yang bisa kamu kerjakan. Jadilah anak kebanggaan Ibu Mirna dan Bapak yang sehat. Kamu janji kan tadi di telepon?"
Dina terdiam, teringat janjinya pada Bu Mirna di kantin tadi. Perlahan, bayangan Adrian mulai memudar seiring dengan redupnya cahaya senja, meninggalkan Dina sendirian dengan bungkusan makanan dingin dari kantin dan sebuah tekad kecil yang mulai tumbuh di tengah reruntuhan hatinya.
Baru saja bayangan Adrian memudar di sudut kamar, ponsel Dina yang tergeletak di atas kasur bergetar hebat. Nama "Ibu Mirna" berkedip di layar, membuat jantung Dina berdegup kencang. Dengan tangan gemetar, ia menggeser tombol hijau dan menempelkan benda dingin itu ke telinganya.
"Halo, Ibu..." suara Dina nyaris tak terdengar, serak karena sisa tangisnya tadi.
Di seberang sana, suara lembut namun penuh kecemasan khas seorang ibu menyapa pendengaran Dina. Suasana hening di latar belakang telepon itu menandakan Bu Mirna memang baru saja menyelesaikan urusannya dengan Sang Pencipta.
"Nduk... Ibu baru saja selesai shalat Maghrib," ucap Bu Mirna pelan, ada getaran aneh dalam nadanya. "Tiba-tiba saja, saat Ibu melipat mukena, telinga Ibu seperti mendengar suara Adrian... Jelas sekali, Nduk. Dia bilang, 'Bu, tolong telepon Dina, dia sedang sakit.' Ibu langsung kepikiran, apa benar kamu sakit lagi, Cah Ayu?"
Dina tertegun. Ia menatap kursi kosong yang beberapa saat lalu "diduduki" oleh Adrian. Air matanya kembali luruh, namun kali ini bukan karena sesak, melainkan karena takjub betapa kuatnya ikatan batin antara seorang ibu dan anaknya, bahkan melampaui dimensi dunia yang berbeda.
"Ibu..." Dina terisak kecil, mencoba mengatur napasnya agar tidak membuat wanita di ujung telepon itu semakin khawatir. "Tadi... tadi Dina memang sempat ke rumah sakit, Bu. Asam lambung Dina kambuh lagi. Tapi sekarang sudah di kosan, sudah minum obat juga kok."
"Ya Allah, benar kan firasat itu," desah Bu Mirna di seberang sana. Dina bisa membayangkan ibunda Adrian itu sedang mengelus dadanya. "Adrian itu dari dulu memang paling nggak bisa lihat kamu susah sedikit saja, Nduk. Biarpun dia sudah di sana, mungkin jiwanya masih sering mampir ke kamu. Tapi kamu jangan begini terus, ya? Ibu jadi ikut perih kalau tahu kamu nggak jaga kesehatan."
Dina meremas sprei kasurnya, menunduk dalam-dalam. "Maafkan Dina ya, Bu. Dina janji akan lebih rajin makan. Tadi Dokter Arga juga sudah marahin Dina karena makannya cuma sedikit."
"Dokter Arga?" tanya Bu Mirna, nadanya sedikit berubah, seperti mencoba mengingat sesuatu. "Oh, dokter yang dulu di puskesmas itu ya? Yang pindah ke Bandung? Bagus kalau dia yang pegang kamu, dia anak baik. Tapi ingat pesan Ibu, obat paling ampuh itu ada di hati kamu sendiri, Nduk. Kamu harus ikhlas, supaya Adrian juga tenang di sana, nggak perlu lagi 'bisikin' Ibu buat nyariin kamu karena kamu sakit."
Dina terdiam lama, meresapi setiap kata-kata Bu Mirna. Seolah-olah lewat telepon itu, Adrian sedang meminjam suara ibunya untuk memberikan pelukan terakhir yang paling nyata bagi Dina malam ini.
-gagal move on
-Penjelajah waktu, hidup di zaman ajaib