"Aku tidak mau menikah dengan laki-laki itu, Kak. Tolong gantikan aku."
Violet tahu ia seharusnya menolak. Tapi dua puluh dua tahun ia menjadi anak pungut di rumah orang mengajarinya satu hal: hutang budi tidak pernah benar-benar lunas.
Maka ia berdiri di pelaminan itu. Mengenakan gaun yang bukan untuknya, membawa nama yang bukan miliknya sejak lahir, menikahi laki-laki yang bahkan tidak menoleh padanya sampai akad selesai diucapkan.
Jenderal Muda Adriel Voss. Kejam, dingin, dan menyimpan kehancuran di balik setiap keputusannya. Pernikahan ini seharusnya menjadi awal penderitaan Violet.
Yang tidak ia duga, justru di rumah laki-laki itulah untuk pertama kali ada seseorang yang melihatnya sebagai manusia, bukan sekadar bayangan yang mengisi ruang kosong.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#18
Nyonya Ayln tinggal di sebuah rumah kecil yang halamannya penuh bunga di kawasan perumahan yang tenang dan tidak jauh dari pusat kota.
Violet datang sendirian pagi itu, mengetuk pintu dengan sedikit gugup yang ia sendiri tidak mengerti sumbernya.
Ya, akhirnya Violet memutuskan untuk menemui pengasuh Adriel tersebut setelah banyak pertimbangan yang ia pikirkan dengan matang.
Diam sejenak untuk mengatur napas, Violet sontak terkesiap begitu daun pintu yang diketuk perlahan bergerak.
Dan perempuan yang membuka pintu di sana itu usianya mungkin awal enam puluhan, rambut putihnya disanggul rapi, wajahnya hangat dengan kerutan di sudut mata yang terbentuk bukan dari kesedihan tapi dari terlalu sering tersenyum. Ia menatap Violet beberapa detik dengan ekspresi yang seolah sedang memproses sesuatu.
"Kamu Violet," katanya. Itu bukan pertanyaan, dan wajahnya memancarkan kehangatan yang membuat gugup Violet perlahan merasa lega.
"Iya, Nyonya. Maaf kalau kedatangan saya tidak direncanakan—"
"Masuk." Nyonya Ayln membuka pintu lebih lebar. "Saya sudah lama ingin bertemu kamu."
Dan ketika nyonya Ayln tersenyum hingga ke matanya, Violet merasa dia sudah diterima dengan baik.
****
Ketika masuk Violet di sambut dengan ruang tamu yang begitu rapi dan tertata.
Rumah itu kecil tapi nyaman dengan cara yang langsung membuat bahu Violet turun satu senti begitu masuk. Ada foto-foto di dinding, tanaman di sudut-sudut ruangan, dan bau masakan yang samar dari arah dapur.
Mereka kemudian duduk di ruang tamu, dengan teh panas di antara keduanya yang sudah dihidangkan nyonya Ayln sebelumnya.
Mereka terdiam untuk beberapa saat dalam keadaan yang canggung, Violet sedang memikirkan harus memulai dari mana, sedangkan Nyonya Ayln menatap Violet dengan tatapan yang menilai tapi tidak mengintimidasi. "Jadi kamu yang akhirnya tinggal di kediaman itu. "
Satu pernyataan, yang Violet bisa langsung peka jika nyonya Ayln sudah mengetahui kabar pernikahan dengan pengantin wanita nya yang sudah ditukar.
"Iya." Violet tidak tahu harus menjelaskan lebih lanjut.
"Bagaimana kondisinya? Adriel baik-baik saja?" tanya nyonya Ayln.
Violet diam memilih kata-katanya. "Dia... tidak berubah banyak dari yang saya kira."
Nyonya Ayln tertawa kecil, hangat. "Artinya masih dingin seperti kulkas ya."
Violet tidak bisa menahan senyumnya. "Agak begitu."
"Itu bukan salahnya." Nada nyonya Ayln berubah sedikit, lebih serius. "Anak itu sudah belajar sejak kecil bahwa menunjukkan perasaan itu berbahaya." Ia berdiri sebentar, masuk ke kamar, dan kembali membawa sebuah album foto yang sampulnya sudah agak lusuh. "Sini, lihat ini dulu sebelum kita bicara lebih jauh."
Ia meletakkan sebuah album itu di pangkuan Violet.
Album itu tampak tua namun begitu terawat.
Violet menatap nyonya Ayln yang matanya mengisyaratkan gadis itu untuk membukanya.
Violet lantas membukanya perlahan.
Dan hampir saja ia memekik tertahan, matanya spontan berbinar melihat foto- foto yang ada disana, foto masa- masa perjalanan Adriel sejak kecil.
Foto paling pertama menampilkan seorang bocah laki-laki usia mungkin empat atau lima tahun, berdiri di halaman rumah dengan kaos oblong putih dan celana pendek, rambut sedikit berantakan, dan senyum yang... sangat tidak Adriel.
Lebar dan tulus, dengan tampak gigi depannya yang ompong satu.
Violet menatap foto itu lama. Mengusap ujungnya pelan, melihat foto anak kecil itu dan membandingkan Adriel yang sekarang, rasanya sungguh tak percaya jika ini adalah gambaran Adriel kecil.
"Itu Adriel waktu lima tahun," seru Nyonya Ayln sambil menyeruput tehnya. "Waktu itu ibunya masih ada. Dia masih bisa senyum seperti itu."
Violet menatap nyonya Ayln sebentar, rumor tentang ibu Adriel memang sudah beredar luas, banyak gosip yang mengatakan jika dia kabur bersama pria lain. Pantas senyum anak kecil yang tulus ini sudah tidak ada lagi di wajah Adriel sekarang.
Violet lalu membalik halamannya.
Foto berikutnya, Adriel mungkin berusia delapan tahun, sedang bersembunyi di balik punggung Nyonya Ayln dengan wajah yang setengah tersembunyi tapi matanya masih kelihatan, mata yang sama persis dengan sekarang tapi masih menyimpan kilat yang berbeda.
Masih hidup dalam cara yang berbeda dari sekarang.
"Gemasnya," gumam Violet tanpa sadar.
Nyonya Ayln tersenyum. "Anak yang paling penurut yang pernah saya asuh. Mau disuruh apa saja, asal yang menyuruh adalah orang yang ia percaya."
Violet membalik halaman lagi. Adriel yang berusia sepuluh, dua belas, dan empat belas tahun. Wajahnya berubah di setiap foto, pelan-pelan kilat yang tadi ada di matanya mulai redup, diganti sesuatu yang lebih tertutup, lebih hati-hati.
Di usia empat belas, wajah Adriel sudah tidak lagi dihiasi senyum. rautnya berubah seperti yang selalu ia lihat sekarang.
"Grayson mulai intensif melatihnya waktu itu," kata Nyonya Ayln pelan. "Bukan latihan militer biasa. Lebih ke..." ia berhenti sebentar, memilih kata. "Lebih ke cara Grayson mendefinisikan kekuatan. Yang sakit tidak boleh menangis. Yang jatuh tidak boleh minta tolong dan yang lemah tidak layak dihormati. Begitu lah Grayson mendidiknya. "
Violet mendengarkan dengan hati yang mulai terasa berat.
"Luka-luka di tubuh Adriel," lanjut Nyonya Ayln, hening sejenak, suaranya lebih pelan dari tadi, "hampir delapan puluh persen bukan dari medan perang atau latihan di camp." Ia menatap Violet langsung. "Tapi dari ayahnya sendiri."
Violet berhenti membalik halaman.
"Grayson percaya rasa sakit adalah guru terbaik." Nyonya Ayln menggenggam cangkir tehnya. "Dan Adriel terlalu keras kepala untuk menunjukkan bahwa ia kesakitan, jadi Grayson selalu menambah dosis pelajarannya."
Violet menatap foto Adriel usia empat belas itu lagi. Wajah yang sudah tidak tersenyum. Bahu yang sudah mulai tegak dengan cara yang terlihat seperti siap menerima pukulan kapan saja.
"Seharusnya kamu sudah bisa melihatnya," kata Nyonya Ayln secara tiba-tiba dengan nada yang berbeda, lebih ringan, hampir seperti menggoda. "Di malam pertama kalian."
Violet langsung mengangkat wajah. "Nyonya--"
"Bukan itu maksud saya." Nyonya Ayln tertawa kecil. "Maksud saya, bekas lukanya. Di punggung dan bahunya." Ia mengetuk bahunya sendiri. "Ada di sana."
Wajah Violet sontak memerah sampai ke telinga. Bukan karena apa yang Nyonya Ayln pikirkan terjadi tentang malam pertama itu, tapi karena penjelasan itu sendiri terasa seperti pengingat bahwa pernikahan mereka bukan seperti yang nyonya Ayln mungkin bayangkan.
"Kami..." Violet menunduk, memainkan ujung jarinya. "Pernikahan kami hanya formalitas, Nyonya, sepertinya anda sendiri sudah tahu berita itu. Saya disini hanya pengganti. Pengganti adik saya yang seharusnya ada di sana."
Hening sebentar.
Nyonya Ayln lalu meletakkan cangkirnya.
"Violet."
Violet mengangkat wajah.
"Saya sudah tua dan sudah cukup lama hidup untuk tahu satu hal." Perempuan itu menatapnya dengan mata yang hangat tapi juga tidak main-main. "Tidak ada yang namanya pengganti kalau orang yang menggantikan justru yang lebih tepat berada di sana."
Violet membuka mulutnya.
"Dan satu hal lagi." Nyonya Ayln menunjuk ke arah album foto yang masih di pangkuan Violet. "Kamu tadi bilang dia tidak berubah banyak dari yang kamu kira. Tapi caramu bilang itu, caramu menatap foto-fotonya, caramu mendengarkan cerita tentangnya..." Ia memiringkan kepalanya sedikit. "Itu bukan cara seseorang yang bicara tentang orang asing atau tentang formalitas."
Violet menatap album itu.
Foto Adriel berusia lima tahun dengan senyum ompong itu masih terbuka di sana.
"Saya hanya..." Violet berusaha mencari kata-kata yang tepat tetapi tidak menemukannya.
"Kamu tidak harus menjelaskan." Nyonya Ayln mengambil cangkir tehnya lagi. "Tapi kamu perlu jujur pada diri sendiri dulu sebelum bisa jujur pada orang lain." Ia menyeruput tehnya dengan tenang. "Sekarang, katakan apa yang membuat kamu datang ke sini."
Violet menarik napas pelan.
Lalu ia menceritakan soal surat Grayson, soal bagaimana Adriel menutup rapat setiap kali topik itu muncul, dan soal tenggat waktu yang tinggal beberapa hari lagi.
Nyonya Ayln mendengarkan semuanya tanpa menyela.
Ketika Violet selesai, perempuan itu diam sebentar sambil menatap taman kecil di luar jendela.
"Baik," katanya akhirnya. "Saya akan bicara dengan Adriel."
Violet sedikit terkejut dengan cepatnya jawaban itu. "Nyonya tidak perlu--"
"Saya mau." Nyonya Ayln memotong dengan lembut. "Bukan hanya karena kamu yang meminta. Tapi karena sudah terlalu lama anak itu membiarkan luka lama mengatur hidupnya." Ia berdiri, membawa cangkir kosong ke dapur, lalu berbalik dari ambang pintu dapur. "Dan karena sepertinya sekarang sudah ada seseorang di sampingnya yang layak untuk ia pertahankan."
Violet hendak menyangkal.
Tapi lagi- lagi, kata-katanya tidak keluar.
Ia hanya duduk di sofa kecil itu dengan album foto Adriel di pangkuannya, menatap foto bocah lima tahun dengan senyum ompong yang tidak ia kenal tapi entah kenapa terasa sangat familiar, dan membiarkan sesuatu yang sudah pelan-pelan bergerak di dadanya sejak lama akhirnya bergerak sedikit lebih jauh dari yang selama ini ia izinkan.
*****
BERSAMBUNG